Kuliah Akuntansi

1.1. Produk Bersama

Produk bersama adalah dua atau lebih produk yang dihasilkan dari pengolahan bahan dengan tenaga kerja dan fasilitas pabrik yang sama secara serentak. Nilai jual dari masing-masing produk bersama relatif sama. Contoh produk bersama adalah bensin, minyak tanah, dan minyak kerosin yang dihasilkan dari industri pengolahan minyak bumi.
Karakteristik produk bersama adalah:
1. Produk bersama mempunyai hubungan fisik satu dengan lainnya. Artinya jika satu produk bersama tertentu selesai diproses menjadi produk jadi maka pada saat yang sama juga telah selesai diproses produk bersama lainnya. Selain itu, jika dalam proses produksi kuantitas salah satu produk bersama ditambah maka produk bersama yang lain juga akan bertambah dengan jumlah yang proporsional.
2. Dalam memproses produk bersama selalu ada titik pisahnya (split-off point).
3. Setiap produk bersama mempunyai nilai yang relatif sama.

1.2. Biaya Bersama dan Titik Pisah

Biaya bersama adalah biaya untuk membuat produk bersama, yaitu berupa biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik. Biaya bersama ini dinikmati oleh produk-produk bersama tersebut secara bersamaan sehingga sulit untuk diidentifikasikan pada setiap produk bersama. Masalah utama yang dihadapi berkaitan dengan biaya bersama adalah pengalokasian biaya bersama pada setiap produk bersama.
Biaya bersama merupakan biaya produksi yang dikeluarkan dari awal proses produksi sampai dengan titik pisah. Titik pisah adalah saat dihasilkannya dua atau lebih produk bersama, dimana pada saat itu produk bersama bisa langsung dijual atau diproses lebih lanjut. Jika produk bersama akan diproses lebih lanjut maka dibutuhkan biaya untuk memproses lebih lanjut. Biaya yang terjadi setelah titik pisah ini umumnya dapat diidentifikasikan dengan produk bersama tertentu sehingga tidak menghadapi masalah pengalokasian biaya. Biaya setelah titik pisah dapat berupa biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik.

1.3. Akuntansi Produk Bersama

Biaya bersama harus dialokasikan pada setiap produk bersama. Ada tiga metode yang dapat digunakan untuk memisahkan biaya bersama, yaitu (1) metode satuan phisik (physical output method), (2) metode nilai pasar (market value at split-off method), dan (3) metode nilai realisasi neto (net realizable value method).
Dalam metode satuan phisik, alokasi biaya bersama didasarkan atas kuantitas produk yang dihasilkan. Kuantitas produk ini harus diukur dalam satuan yang sama, misal kg, ton, liter, atau galon. Jika satuan ukuran produk bersama yang dihasilkan berbeda maka harus ditentukan satuan ukuran yang ekuivalen. Karena metode satuan phisik hanya menerapkan syarat bahwa produk bersama harus mempunyai ukuran kuantitas yang sama maka kemampuan menghasilkan pendapatan (revenue-producing ability) menjadi terabaikan.
Dasar pertimbangan metode nilai pasar adalah terdapat hubungan yang nyata antara harga pokok dengan harga jual karena penentuan harga jual didasarkan atas harga pokoknya. Oleh karena itu, biaya bersama harus dialokasikan atas dasar harga jual masing-masing produk bersama. Kemampuan menghasilkan pendapatan menjadi pertimbangan di dalam mengalokasikan biaya bersama karena metode ini mengalokasikan biaya bersama atas dasar harga pasar. Dalam metode nilai pasar yang dimaksud dengan harga pasar adalah harga pasar pada titik pisah.
Jika harga pasar pada titik pisah tidak diketahui, karena untuk produk yang memerlukan proses lebih lanjut umumnya tidak mempunyai harga pasar pada titik pisah, maka untuk mengalokasikan biaya bersama digunakan metode nilai realisasi neto. Dalam metode ini alokasi biaya bersama didasarkan atas nilai realisasi neto, yaitu harga jual akhir setelah diproses lebih lanjut dikurangi tambahan biaya pemrosesan lanjutan dan biaya disposal.

1.4. Produk Sampingan

Produk sampingan adalah produk yang nilai jualnya relatif lebih rendah dibanding produk lain yang diproduksi bersama. Produk sampingan biasanya merupakan produk ikutan yang tidak bisa dihindari akan dihasilkan dari proses produksi dan produk sampingan ini bukan merupakan tujuan utama proses produksi.

1.5. Akuntansi Produk Sampingan

Masalah akuntansi terhadap produk sampingan adalah pengakuan terhadap adanya produk sampingan. Pengakuan adanya produk sampingan ini menyangkut perlakuan terhadap harga pokok produk sampingan, biaya untuk memproses produk sampingan, dan hasil penjualan produk sampingan. Ada dua metode (category) untuk mengakui keberadaan produk sampingan, yaitu (1) pada saat dijual dan (2) pada saat selesai diproduksi.
Jika digunakan category 1, produk sampingan akan diakui apabila produk sampingan tersebut sudah laku terjual. Pengakuan ini dilakukan karena nilai jual produk sampingan dianggap tidak material. Hasil penjualan dapat diakui sebagai (1) pendapatan: (a) penjualan lain-lain (other sales); atau (b) pendapatan lain-lain (other income), atau (2) pengurang harga pokok penjualan.
Jika digunakan category 2, produk sampingan diakui pada saat selesai diproses. Pengakuan produk sampingan pada saat selesai diproses karena nilai produk sampingan dianggap material. Dengan diakuinya produk sampingan pada saat selesai diproses maka pada saat itu dicatat adanya persediaan produk sampingan. Pengakuan persediaan produk sampingan ini mengakibatkan harga pokok produk utama berkurang. Ada dua metode untuk menentukan harga pokok produk sampingan, yaitu (1) metode nilai realisasi neto (net realizable value method) dan (2) metode biaya reversal (reversal cost method). Jika digunakan metode nilai realisasi neto, harga pokok produk sampingan dihitung sebesar taksiran harga jual produk sampingan dikurangi taksiran biaya produksi tambahan dan taksiran biaya administrasi dan pemasaran. Jika digunakan metode biaya reversal, harga pokok produk sampingan dihitung sebesar taksiran harga jual produk sampingan dikurangi taksiran biaya produksi tambahan dan taksiran laba kotor. Taksiran laba kotor adalah taksiran biaya administrasi dan pemasaran ditambah dengan taksiran laba bersih (laba setelah pajak).

Saham (stock) merupakan salah satu instrumen pasar keuangan yang paling popular. Menerbitkan saham merupakan salah satu pilihan perusahaan ketika memutuskan untuk pendanaan perusahaan. Pada sisi yang lain, saham merupakan instrument investasi yang banyak dipilih para investor karena saham mampu memberikan tingkat keuntungan yang menarik.

Saham dapat didefinisikan sebagai tanda penyertaan modal seseorang atau pihak (badan usaha) dalam suatu perusahaan atau perseroan terbatas. Dengan menyertakan modal tersebut, maka pihak tersebut memiliki klaim atas pendapatan perusahaan, klaim atas asset perusahaan, dan berhak hadir dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

Pada dasarnya, ada dua keuntungan yang diperoleh investor dengan membeli atau memiliki saham

1. Dividen

Dividen merupakan pembagian keuntungan yang diberikan perusahaan dan berasal dari keuntungan yang dihasilkan perusahaan. Dividen diberikan setelah mendapat persetujuan dari pemegang saham dalam RUPS. Jika seorang pemodal ingin mendapatkan dividen, maka pemodal tersebut harus memegang saham tersebut dalam kurun waktu yang relatif lama yaitu hingga kepemilikan saham tersebut berada dalam periode dimana diakui sebagai pemegang saham yang berhak mendapatkan dividen.
Dividen yang dibagikan perusahaan dapat berupa dividen tunai – artinya kepada setiap pemegang saham diberikan dividen berupa uang tunai dalam jumlah rupiah tertentu untuk setiap saham – atau dapat pula berupa dividen saham yang berarti kepada setiap pemegang saham diberikan dividen sejumlah saham sehingga jumlah saham yang dimiliki seorang pemodal akan bertambah dengan adanya pembagian dividen saham tersebut.

atau dengan kata lain bahwa Dividen saham hanya salah satu dari cara pembagian saham. Kalau pada pembagian dividen properti bisa berupa efek atau surat berharga perusahaan lain yang dimiliki perusahaan, efek atau surat berharga inilah yang nantinya dibagikan kepada investor sebagai dividen property. Namun pada dividen saham, efek atau saham yang akan dibagi kepada investor sebagai dividen saham adalah saham perusahaan itu sendiri.

Dengan adanya pembagian dividen saham untuk pemegang saham yang beredar maka saham yang beredar menjadi lebih banyak, dan ini berdampak pada adanya penurunan nilai per lembar karena secara total nilai saham tidak ada perubahan. Dampak buruk dari pembagian dividen saham ini adalah terjadinya dilusi atas nilai saham sehingga mau tidak mau sangat merugikan investor.

2. Capital Gain

Capital Gain merupakan selisih antara harga beli dan harga jual. Capital gain terbentuk dengan adanya aktivitas perdagangan saham di pasar sekunder. Misalnya Investor membeli saham ABC dengan harga per saham Rp 3.000 kemudian menjualnya dengan harga Rp 3.500 per saham yang berarti pemodal tersebut mendapatkan capital gain sebesar Rp 500 untuk setiap saham yang dijualnya.

Sebagai instrument investasi, saham memiliki risiko, antara lain:

1. Capital Loss

Merupakan kebalikan dari Capital Gain, yaitu suatu kondisi dimana investor menjual saham lebih rendah dari harga beli. Misalnya saham PT. XYZ yang di beli dengan harga Rp 2.000,- per saham, kemudian harga saham tersebut terus mengalami penurunan hingga mencapai Rp 1.400,- per saham.
Karena takut harga saham tersebut akan terus turun, investor menjual pada harga Rp 1.400,- tersebut sehingga mengalami kerugian sebesar Rp 600,- per saham.

2. Risiko Likuidasi

Perusahaan yang sahamnya dimiliki, dinyatakan bangkrut oleh Pengadilan, atau perusahaan tersebut dibubarkan. Dalam hal ini hak klaim dari pemegang saham mendapat prioritas terakhir setelah seluruh kewajiban perusahaan dapat dilunasi (dari hasil penjualan kekayaan perusahaan). Jika masih terdapat sisa dari hasil penjualan kekayaan perusahaan tersebut, maka sisa tersebut dibagi secara proporsional kepada seluruh pemegang saham.
Namun jika tidak terdapat sisa kekayaan perusahaan, maka pemegang saham tidak akan memperoleh hasil dari likuidasi tersebut. Kondisi ini merupakan risiko yang terberat dari pemegang saham. Untuk itu seorang pemegang saham dituntut untuk secara terus menerus mengikuti perkembangan perusahaan.

Di pasar sekunder atau dalam aktivitas perdagangan saham sehari-hari, harga-harga saham mengalami fluktuasi baik berupa kenaikan maupun penurunan. Pembentukan harga saham terjadi karena adanya permintaan dan penawaran atas saham tersebut. Dengan kata lain harga saham terbentuk oleh supply dan demand atas saham tersebut. Supply dan demand tersebut terjadi karena adanya banyak faktor, baik yang sifatnya spesifik atas saham tersebut (kinerja perusahaan dan industri dimana perusahaan tersebut bergerak) maupun faktor yang sifatnya makro seperti tingkat suku bunga, inflasi, nilai tukar dan faktor-faktor non ekonomi seperti kondisi sosial dan politik, dan faktor lainnya.

Saham Treasury

Saham treasuri merupakan saham milik perusahaan penerbit yang diperoleh kembali, dan saham yang diperoleh kembali tersebut dinamakan dengan saham treasuri. Saham treasuri yang sudah diperoleh dapat dilepas kembali atau ditarik.

Beberapa catatan saham treasuri:

· Saham treasuri tidak boleh dianggap sebagai aktiva, bahkan harus dilaporkan sebagai pengurang ekuitas.

· Tidak terdapat laba rugi dari kegiatan perolehan kembali atau pelepasan kembali.

· Laba ditahan dapat berkurang dari transaksi perolehan kembali saham namun laba ditahan tidak pernah bertambah dari transaksi ini.

Dua metode pencatatan saham treasuri, yaitu:

1. Cost Method

2. Par Value Method

Penerbitan Saham secara Tunai

Penerbitan saham sama seperti kegiatan penjualan biasa, diterima di akun kas disebelah debet dan mengkredit akun modal saham.

Kelebihan nilai penjualan terhadap nilai nominal akan mendatangkan agio saham dan akun agio saham dicatat sebesar kelebihannya. Modal saham dicatat hanya sebesar nilai nominalnya saja. Namun bilamana ada penarikan saham maka akun modal saham dan akun agio saham akan dihapus.

Ilustrasi:

Fajar, Co menerbitkan 1,000 lembar saham biasa dengan nominal $ 1 pada tanggal 1 Mei 20A dengan nilai sebesar $ 20,000 tunai.

Solusi:

Dengan menyimak ilustrasi diatas maka kita melakukan jurnal untuk mencatat kejadian penerbitan tersebut.

D: Kas $ 20,000

K: Saham biasa $ 1,000

K: Agio Saham $ 19,000

Masalah akuntansi dalam produk bersama adalah masalah alokasi biaya bersama. Alokasi tersebut bertujuan untuk penetuan harga pokok dan penentuan nilai persediaan. Denga kata lain tujuan akhir alokasi biaya bersama adalah untuk memberikan informasi kepada manajemen baik untuk kepentingan penyusunan laporan keuangan maupun kepentingan pengambilan kepentingan.

Ada beberapa metode untuk mengalokasikan biaya bersama:

1.Metode harga pasar / nilai harga jual (sales value method)
2.Metode unit kuantitas / unit fisik (quantitative unit method)
3.Metode harga pokok per unit (unit cost method)

Metode Nilai Harga Jual

Menurut merode ini, biaya bersama dialokasikan menurut nilai jual dari masing – masing atau jenis produk. Dasar pemikiran untuk mengalokasikan atas dasar nilai harga jual ini adalah bahwa ada hubungan langsung yang erat antara harga pokok dengan harga jual dari suatu produk. Harga jual suatu produk akan sangat ditentukan oleh harga pokok untuk memproduksi produk tersebut. Oleh sebeb itu, biaya bersama sudah selayaknya dialokasikan atas dasar harga jualnya.

Metode ini lebih populer dibandingkan kedua metode yang lain. Menurut metode ini pengalokasian biaya bersama dapat menimbulkan situasi :

1.Harga jual sudah diketahui saat split off
2.Harga jual belum diketahui saat split off

Berikut ini dikemukakan kedua kemungkinan tersebut:
1.Harga jual sudah diketahui setelah split off

Bila harga jual sudah diketahui saat split off maka biaya bersama dialokasikan ke masing – masing jenis produk dengan cara membagi total nilai harga jual setiap produk dengan total nilai jual seluruh produk yang diproduksi yang akan menghasilkan rasio dari mesing – masing jenis produk. Rasio ini kemudian di kalikan dengan total biaya bersama

2.Harga jual tidak diketahui pada saat split-off

Harga jual produk bersama pada saat split-off sangat mungkin tidak diketahui terutama sekali bila produk tersebut masih memerlukan proses produksi lebih lanjut. Dalam keadaan ini harga jual produk tersebut pada saat menjadi produk selesai tetap harus diketahui. Harga jual dari produk bersama dalam hal ini disebut harga jual “ Hipotesis “. Harga jual hipotesis adalah harga jual produk selesai dikurangi biaya yang dikeluarkan untuk memproses lebih lanjut produk bersama yang telah terpisah ( split-off )
Bila harga jual sudah diketahui saat split off maka biaya bersama dialokasikan ke masing – masing jenis produk dengan cara membagi total nilai harga jual setiap produk dengan total nilai jual seluruh produk yang diproduksi yang akan menghasilkan rasio dari mesing – masing jenis produk. Rasio ini kemudian di kalikan dengan total biaya bersama.

BIAYA OVERHEAD PABRIK

BOP adalah semua biaya produksi selain biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung. Karakteristik BOP yaitu jumlahnya tidak proporsional dengan volume produksi, sulit ditelusur dan diidentifikasi langsung ke produk atau pesanan. Alokasi BOP ke produk menggunakan BOP sesungguhnya dan BOP dibebankan. BOP sesungguhnya adalah BOP yang benar-benar terjadi, sedangkan BOP dibebankan adalah BOP dengan menggunakan tarif yang ditentukan dimuka. BOP sesungguhnya sulit diterapkan disebabkan adanya kendala-kendala seperti jumlahnya baru dapat diketahui pada akhir tahun, adanya fluktuasi BOP karena jenis biaya tertentu yang hanya terjadi pada suatu periode, sulit menelusuri BOP ke pesanan atau produk tertentu. Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan tarif BOP terdiri atas tingkat kapasitas produksi. Kemampuan pabrik untuk berproduksi ada 4 tingkatan yaitu kapasitas teoritis, praktis, normal dan harapan. Kapasitas teoritis adalah kapasitas produksi maksimum (100%) tanpa mempertimbangkan kemacetan yang mungkin terjadi. Kapasitas praktis adalah kapasitas produksi dengan mempertimbangkan kemungkinan kemacetan. Kapasitas normal adalah kapasitas produksi praktis yang disesuaikan dengan permintaan barang jangka panjang, dan kapasitas harapan adalah kapasitas produksi praktis jangka pendek
Penggolongan BOP
1. BOP menurut sifatnya
a. biaya bahan penolong
b. biaya reparasi dan pemeliharaan
c. biaya tenaga kerja tidak langsung
d. biaya yang timbul sebagai akibat penilaian terhadap aktiva tetap
e. biaya yang timbul sebagai akibat berlalunya waktu
f. BOP lain yang secara langsung memerlukan pengeluaran uang tunai
2. BOP menurut perilakunya dalam hubungan dengan perubahan volume produksi
a. BOP tetap
BOP tidak berubah dalam kisar perubahan volume kegiatan tertentu contoh : biaya asuransi
b. BOP variable
BOP yang berubah sebanding dengan perubahan volume kegiatan contoh : biaya bahan penolong
c. BOP semi variable
BOP yang berubah tidak sebanding dengan perubahan volume kegiatan contoh : biaya bahan bakar kendaraan
3. BOP menurut hubungannya dengan departemen
a. BOP langsung departemen
BOP yang terjadi dalam departemen tertentu dan manfaatnya hanya dinikmati oleh departemen tersebut.

b. BOP tidak langsung departemen
BOP yang manfaatnya dinikmati oleh lebih dari satu departemen.
Dasar Pembebanan BOP terhadap Produk
a. satuan produk
taksiran BOP
: tariff BOP persatuan
taksiran jumlah satuan produk yang dihasilkan
contoh :
taksiran BOP selama satu tahun anggaran : Rp. 4.000.000
taksiran BOP jml produk yang dihasilkan selama th anggaran tsb : 8.000 unit
tariff BOP sebesar : (4.000.000) : (8.000) ; Rp. 500 perunit produk
b. biaya bahan baku
taksiran BOP
x 100% : % BOP dari BBB yang dipakai
taksiran BBB yang dipakai
contoh :
taksiran BOP selama 1 tahun anggaran : Rp.4.000.000
taksiran BBB selama 1 tahun anggaran : Rp. 8.000.000
tariff BOP : 4.000.000 / 8.000.0000 x 100% = 50% dari BBB yang dipakai
c. biaya tenaga kerja
taksiran BOP
x 100% : % BOP dari BTKL
taksiran BTKL
contoh :
taksiran BOP selama 1 th anggaran : Rp. 4.000.000
taksiran BTKL selama 1 th anggaran : Rp. 10.000.000
tariff BOP sebesar : 4.000.000 / 10.000.000 x 100% : 40% dari BTKL
d. jam tenaga kerja langsung
taksiran BOP
: tariff BOP perjam tenaga kerja langsung
taksira jam tenaga kerja langsung
contoh :
taksiran BOP selama 1 tahun anggaran : Rp. 4.000.000
taksiran jam tenaga kerja langsung selama 1 th anggaran : 4.000 jam
tariff BOP sebesar : 4.000.000 / 4.000 : Rp. 1.000 perjam tenaga kerja lgs

e. jam mesin
taksiran BOP
: tariff BOP perjam kerja mesin
taksiran jam kerja mesin
taksiran BOP selama 1 th anggaran : Rp. 4.000.000
taksiran jam mesin selama th anggaran : 20.000 jam mesin
tariff BOP sebesar : Rp. 4.000.000 / 20.000 : Rp. 200 per jam mesin

Pembebanan BOP kepada Produk atas Dasar Tarif
Contoh :
PT AJP memproduksi berdasar pesanan. BOP dibebankan berdasar jam mesin. Anggaran BOP disusun pada kapasitas normal sebanyak 160.000 jam mesin. Waktu pengerjaan menghabiskan 150.000 jam mesin.
PT AJP
Anggaran BOP untuk tahun 19×1
Atas dasar kapasitas normal 160.000 jam mesin
Elemen biaya B. Tetap B. Variabel Jumlah
B. Bhn Penolong – 2.100.000 2.100.000
Biaya listrik – 3.000.000 3.000.000
B. Bhn Bakar – 2.000.000 2.000.000
BTKTL 4.000.000 3.000.000 7.000.000
B. Kesejahteraan Kary 3.000.000 – 3.000.000
Biaya reparasi 1.000.000 1.500.000 2.500.000
Biaya asuransi 1.200.000 – 1.200.000
Biaya depresiasi 1.600.000 – 1.600.000
Jumlah 10.800.000 11.600.000 22.400.000
Tariff BOP variable : 11.600.000 / 160.000 = Rp. 72,5 perjam mesin
Tariff BOP tetap : 10.800.000 / 160.000 = Rp. 67,5 perjam mesin
Tariff BOP total Rp. 140 perjam mesin
Pembebanan BOP
Rp. 140 x 150.000 = Rp. 21.000.000
BDP BOP Rp. 21.000.000
BOP yang dibebankan Rp. 21.000.000

Pengumpulan BOP ss
Misalkan BOP yang sesungguhnya terjadi adalah :
PT AJP
BOP ss terjadi tahun 19×1
Pada kapasitas sesungguhnya yang dicapai 150.000 jam mesin
Elemen biaya jumlah
B. Bhn Penolong 2.200.000
Biaya listrik 2.900.000
B. Bhn Bakar 1.500.000
BTKTL 7.000.000
B. Kesejahteraan Kary 3.000.000
Biaya reparasi 2.000.000
Biaya asuransi 1.200.000
Biaya depre mesin 1.600.000
Jumlah 21.400.000
BOP ss 21.400.000
Berbagai rekening 21.400.000
Perhitungan selisih
BOP yg dibebankan 150.000 jam mesin x Rp. 140 : 21.000.000
BOP ss : 21.400.000
Selisih BOP : 400.000

BOP dibebankan 21.000.000
BOP ss 21.000.000
Selisih BOP 400.000
BOP ss 400.000

Selisih anggaran
BOP ss 21.400.000
BOP dianggarkan
BOP tetap 10.800.000
BOP variable (150.000 x 72,5) 10.875.000 21.675.000
Selisih anggaran 275.000 (laba)
Selisih kapasitas
BOP tetap dianggarkan 10.800.000
BOP tetap dibebankan kpd produk 150.000 x 67,5 10.125.000
Selisih kapasitas 675.000
Perlakuan terhadap selisih BOP
1. dibagikan kepada rekening persediaan dan HPP
contoh :
persediaan produk dalam proses Rp. 800.000
persediaan produk jadi Rp. 1.200.000
HPP Rp.14.000.000
Jumlah Rp.16.000.000
Penyesuaian setelah adanya selisih BOP
PDP : 800.000 / 16.000.000 x 400.000 : 20.000
Pers Prod selesai : 1.200.000 / 16.000.000 x 400.000 : 30.000
HPP : 14.000.000 / 16.000.000 x 400.000 : 350.000
Saldo setelah penyesuaian
Pers. Prod dlm proses : 820.000
Pers. Prod Jadi : 1.230.000
HPP : 14.350.000
Jumlah 16.400.000

Pers Prod dlm Proses 20.000
Pers Prod Jadi 30.000
HPP 350.000
Selisih BOP 400.000

2. pengurang atau penambah rekening HPP
Harga Pokok Penjualan 400.000
Selisih BOP 400.000

Pengertian Akuntansi Biaya
Akuntansi biaya adalah proses pencatatan, penggolongan, peringkasan, dan penyajian biaya pembuatan dan penjualan produk atau jasa, dengan cara-cara tertentu, serta penafsiran terhadapnya. Objek kegiatan akuntansi biaya adalah biaya.

Pengertian Biaya Produksi
Dalam arti luas biaya adalah pengorbanan sumber ekonomi yang diukur dalam satuan uang, yang telah terjadi atau yang kemungkinan akan terjadi untuk tujuan tertentu. Sedangkan dalam arti sempit, biaya dapat diartikan sebagai pengorbanan sumber ekonomi untuk memperoleh aktiva.
Biaya produksi adalah biaya-biaya yang yang terjadi untuk mengolah bahan baku menjadi produk jadi yang siap untuk dijual. Menurut objek pengeluarannya, secara garis besar biaya produksi dibagi menjadi biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik (factory overhead cost).

Biaya Bahan Baku
Biaya bahan baku langsung adalah semua biaya bahan yang membentuk bagian integral dari barang jadi dan yang dapat dimasukkan langsung dalam kalkulasi biaya produk. Contoh bahan baku langsung adalah kayu untuk pembuatan meubel dan tanah liat untuk pembuatan genteng. Pertimbangan utama dalam mengelompokkan bahan ke dalam bahan baku langsung adalah kemudahan penelusuran proses pengubahan bahan tersebut sampai menjadi barang jadi. Sebagai contoh, paku untuk membuat peralatan meubel merupakan bagian dari barang jadi, namun agar perhitungan biaya meubel tersebut bisa dilakukan secara cepat, bahan ini dapat diklasifikasikan sebagai bahan baku tidak langsung.

Biaya Tenaga Kerja
Biaya tenaga kerja langsung adalah karyawan atau karyawati yang dikerahkan untuk mengubah bahan langsung menjadi barang jadi. Biaya untuk ini meliputi gaji para karyawan yang dapat dibebankan kepada produk tertentu.

Biaya Overhead Pabrik
Biaya overhead pabrik disebut juga biaya produk tidak langsung, yaitu kumpulan dari semua biaya untuk membuat suatu produk selain biaya bahan baku langsung dan tidak langsung.
Overhead pabrik pada umumnya didefinisikan sebagai bahan tidak langsung, pekerja tidak langsung, dan bahan pabrik lainnya yang tidak secara mudah diidentifikasikan atau dibebankan langsung ke pekerjaan produk atau tujuan akhir biaya.
Biaya overhead pabrik (FOH) terdiri dari biaya FOH tetap dan biaya FOH variabel. Biaya tetap adalah biaya yang jumlah totalnya tetap untuk tingkat volume kegiatan tertentu, biaya variabel adalah biaya yang jumlah totalnya berubah sebanding dengan perubahan volume kegiatan. Ada juga yang dinamakan biaya semi variabel adalah biaya yang berubah tak sebanding dengan perubahan volume kegiatan.

Penghitungan Harga Pokok Produksi
Di dalam akuntansi biaya yang konvensional komponen-komponen harga pokok produk terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik, baik yang bersifat tetap maupun variable. Konsep harga pokok tersebut tidak selalu relevan dengan kebutuhan manajemen. Oleh karena itu timbul konsep lain yang tidak diperhitungkan semua biaya produksi sebagai komponen harga pokok produk. Jadi di dalam akuntansi biaya, dimana perusahaan industri sebagai modal utamanya, terdapat dua metode perhitungan harga pokok yaitu Full/Absortion/Conventional Costing dan Variable/Marginal/Direct Costing. Perbedaan pokok diantara kedua metode tersebut adalah terletak pada perlakuan terhadap biaya produksi yang bersifat tetap. Adanya perbedaan perlakuan terhadap FOH Tetap ini akan mempunyai pengaruh terhadap perhitungan harga pokok produk dan penyajian laporan rugi-laba.

Metode Full Costing
Full Costing adalah metode penentuan harga pokok produk dengan memasukkan seluruh komponen biaya produksi sebagai unsur harga pokok, yang meliputi biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, biaya overhead pabrik variabel dan biaya overhead pabrik tetap. Di dalam metode full costing, biaya overhead pabrik yang bersifat variabel maupun tetap dibebankan kepada produk yang dihasilkan atas dasar tarif yang ditentukan di muka pada kapasitas normal atau atas dasar biaya overhead pabrik sesungguhnya. Oleh karena itu biaya overhead pabrik tetap akan melekat pada harga pokok persediaan produk selesai yang belum dijual, dan baru dianggap sebagai biaya (elemen harga pokok penjualan) apabila produk selesai tersebut tidak dijual.
Menurut metode full costing, karena produk yang dihasilkan ternyata menyerap jasa FOH Tetap walaupun tidak secara langsung, maka wajar apabila biaya tadi dimasukkan sebagai komponen pembentuk produk tersebut.

Metode Variable Costing
Variable Costing adalah metode penentuan harga pokok yang hanya memasukkan komponen biaya produksi yang bersifat variabel sebagai unsur harga pokok, yang meliputi biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik variabel.
Variable costing beranggapan bahwa FOH Tetap tadi tidak secara langsung membentuk produk, maka tidak relevan kalau dimasukkan sebagai komponen harga pokok. Sebaiknya FOH Tetap dimasukkan dalam kelompok period cost (biaya periode).

 Ekuitas pemegang saham menunjukkan:
1. Jumlah kontribusi dr para pemegang saham
2. Bagian yg dihasilkan & yg ditahan oleh perusahaan

 Laba adl pengembalian atas ekuitas (return on equity capital) & termasuk hanya arus kas masuk yg melebihi jumlah yg diperlukan utk mempertahankan modal.

SIFAT DASAR EKUITAS PEMEGANG SAHAM
 Kepentingan pemilik atau pemegang saham pd perusahaan bisnis adl suatu kepentingan sisa (residual interest).
 Sumber utama ekuitas
1. Kontribusi pemegang saham (modal disetor)
2. Laba (penghasilan) yg ditahan oleh perusahaan

 Modal adl bagian ekuitas pemegang saham yg disyaratkan mnrt anggaran dasar utk ditahan dlm perusahaan sbg perlindungan bagi kreditur.
 Umumnya modal dasar adl nilai pari semua saham yg diterbitkan, ttpi jika saham tanpa nilai pari diterbitkan, itu bisa berupa:
1. Total dr pembayaran utk saham tsb
2. Jumlah minimum yg ditetapkan dlm hukum perseroan yg berlaku
3. Jumlah yg diputuskan oleh dewan komisaris menurut kebijksanaannya.

 Modal kontribusi (modal disetor) adl jumlah uang yg dikeluarkan dimuka oleh pemegang saham utk dipakai dlm bisnis perusahaan.
 Modal yg dihasilkan adl modal yg terdiri dr semua laba yg belum dibagikan & tetap diinvestasikan pd perusahaan.

BENTUK PERSEROAN DR KESATUAN
 Tiga jenis utama organisasi bisnis
1. Perusahaan perorangan,
2. Firma, &
3. Perseroan, bentuk yg paling dominan

 Dr segi kepemilikan, Perseroan diklasifikasikan sbb:
1. Perseroan Sektor Masyarakat; unit-unit pemerintah atau operasi bisnis yg dimiliki unit-unit pemerintah (seperti Federal Deposit Insurance Corp)
2. Perseroan Sektor Swasta
a. Bukan Saham: bersifat nirlaba & tak menerbitkan saham (spt tempat ibadah, yayasan sosial & sekolah)
b. Saham: yg beroperasi utk mencari laba & menerbitkan saham
i. Perseroan tertutup (non-publik): saham dipegang oleh beberapa pemegang saham (mungkin satu keluarga) & tak tersedia utk pembelian umum.
ii. Perseroan terbuka; saham dijual scr luas & dipegang oleh masyarakat umum
(a). Perseroan terdaftar; saham diperdagangkan pd suatu bursa efek/stock exchange yg terorganisasi
(b). Perseroan tak terdaftar/paralel (over-the–counter corp): saham diperdagangkan pd suatu pasar dimana pialang surat berharga (securities dealers) membeli dr & menjual kpd publik.

 Bentuk perusahaan mempengaruhi akuntansi dr segi:
1. Pengaruh ketentuan hukum
2. Penggunaan saham modal atau sistem saham
3. Pengembangan berbagai kepentingan kepemilikan
4. Kewajiban terbatas pemegang saham
5. Formalitas pembagian laba

SAHAM MODAL ATAU SISTEM SAHAM
 Hak pemegang saham dari setiap lembar saham adl
1. Membagi laba & rugi scr proporsional
2. Ikut serta dlm manajemen (hak utk memilih direktur) scr proporsional
3. Membagi aktiva perusahaan bila tjd likuidasi scr proporsional
4. Ikut serta scr proporsional dlm penerbitan saham.

 Tiga hak pertama berlaku utk semua perusahaan, sdgkan hak ke-4 mrp hak istimewa utk melindungi pemegang saham dr kehilangan hak kepemilikan di luar kemauannya.
 Keuntungan dr sistem saham adl kemudahannya dlm pemindahan hak perusahaan dr seseorang ke orang lain. Orang yg memiliki saham dlm st perusahaan dpt menjual sahamnya ke pihak lain tiap saat dg harga ttt tanpa hrs meminta izin dr perusahaan atau pemegang saham.
 Oki, perusahaan menggunakan jasa registrars & transfer agents yg memberikan jasa pencatatan & pemindahtanganan saham

JENIS-JENIS HAK KEPEMILIKAN
 Common Stock adl hak perseroan tersisa yg menanggung risiko terbatas bila tjd kerugian & menerima manfaat bila tjd keuntungan.
 Prefered Stock adl sbg ganti utk preferensi khusus, pemegang saham sll mengorbankan bbrp hak yg terkandung pd saham modal

KEWAJIBAN PEMEGANG SAHAM YG TERBATAS
 Pemilik perseroan yi para pemegang shm yg menyumbangkan kekayaan/jasa kpd perush sbg ganti utk shm kepemilikan & kekayaan/jasa tsb mrp batas kerugian pemegang shm
 Nilai pari saham adl shm yg memiliki nilai tetap tercetak pd setiap lbr shm
 Saham pd nilai premi/agio atau diskonto/disagio adl saham modal perseroan diterbitkan di atas atau di bawah pari

 Kewajiban kontinjen pmg shm / shm yg dibeli pd harga di bawah nilai pari:
1. kewajiban kpd kreditur perush, bukan kpd perush itu sendiri.
2. menjadi kewajiban yg sebenarnya hanya jika jumlah di bawah pari hrs dikumpulkan utk membayar kreditur jika perush dibubarkan
3. tgg jwb pemegang sertifikat asli pd saat pembubaran perush kecuali oleh kontrak dimana tgg jwb ini dialihkan kpd pemegang lain.
FORMALITAS PEMBAGIAN LABA, hal yg perlu diperhatikan:
1. Pembagian kpd pemilik hrs mematuhi hukum perseroan,
2. Pembagian kpd pemegang saham hrs disetujui oleh dewan komisaris/direksi (board of directors),
3. Dividen hrs sesuai dg kontrak saham modal spt hal preferensi, partisipasi dll.

AKUNTASI UTK PENERBITAN SAHAM
Saham Nilai Pari
 Penerbitan saham dg nilai pari, sbb:
1. Saham disetor atau saham biasa, memperlihatkan nilai pari saham terbitan perseroan.
2. Modal disetor yg melebihi nilai pari atau tambahan modal disetor atau agio saham. Menunjukkan kelebihan atas nilai pari yg disetor oleh pemegang shm sbg ganti saham yg diterbitkan. Kelebihan di atas nilai pari mjd bagian modal disetor perush,
3. Diskonto atau Disagio Saham. Menunjukkan bhw saham diterbitkan di bawah nilai pari. Pemegang shm yg diterbitkan di bawah nilai pari dpt diminta membayar jumlah diskonto jika diperlukan utk melindungi kreditur dr kerugian bila perush dilikuidasi.
Contoh Colonial Corporation menjual seratus lbr saham dg harga Rp1.100 dg nilai pari Rp5 per saham. Pencatatan pembukuannya:
Kas 1.100
Saham Biasa 500
Modal Disetor yg Melebihi Nilai Pari (Agio Saham Biasa) 600

Jika diterbitkan saham pengganti senilai Rp300, maka pencatatnnya sbb:
Kas 300
Modal Disetor yg Melebihi Nilai Pari (Agio Saham Biasa) 200
Saham Biasa 500

 Pd kasus pencatatan jurnal scr resmi hrs dilakukan utk otorisasi saham, perlu memperhatikan hal berikut:
1. saham preferen atau saham biasa yg diotorisasi. Menunjukkan jumlah total dr saham modal yg diotorisisi.
2. saham preferen atau saham biasa yg belum diterbitkan. Menunjukkan total saham otorisasi yg belum diterbitkan. Jk shm yg blm diterbitkan dikurangkan dr jml shm otorisasi, diperoleh jml shm yg telah diterbitkan

SAHAM TANPA NILAI PARI
 Alasan penerbitan saham tanpa nilai pari:
1. menghindari kewajiban kontinjen yg mungkin timbul jika saham dg nilai pari diterbitkan dg disagio
2. jk shm tak mpy nilai pari, timbul kerancuan antara nilai pari & nilai wajar.
Contoh Video electronic corp didirikan dg 10.000 lembar saham biasa yg diotorisasi tanpa nilai pari. Tak ada pencatatan selain memo, yg perlu dibuat utk otorisasi karena tak ada jumlah uang yg terlibat. Jika 500 lembar saham kmd diterbitkan dg harga Rp10 per saham, pencatatannya sbb:
Kas 5.000
Saham Biasa – tanpa nilai pari 5.000
Jika 500 lbr shm lagi diterbitkan seharga Rp11 per saham, pencatatannya sbb:
Kas 5.500
Saham Biasa – tanpa nilai pari 5.500

 Saham tanpa nilai pari hrs dicatat pd harga penerbitannya tanpa tambahan modal disetor atau disagio.
 Nilai tetapan (stated value) adl nilai minimum dimana saham tak dpt diterbitkan di bawah nilai itu.
Contoh 1000 lbr shm, nilai tetapan Rp5 diterbitkan Rp15 per lbr & pembayaran tunai, pembukuannya sbb:
Kas 15.000
Saham Biasa 15.000
Atau
Kas 15.000
Saham Biasa 5.000
Tambahan Modal disetor yg melebihi Nilai Tetapan 10.000

SAHAM DIJUAL ATAS DASAR PESANAN (SUBSCRIPTION)
 Dilakukan jika:
1. perush kecil melakukan “go public”
2. perseroan menawarkan shm kpd pegawainya agar karyawan berpartisipasi dlm kepemilikan perush. Hanya dilakukan pembayaran sebagian & shm tak diterbitkan hingga harga pesanan penuh diterima.

 Akuntansi utk saham dipesan:
1. saham biasa atau preferen yg dipesan, menunjukkan kewajiban perseroan utk menerbitkan saham stlh pembayaran akhir saldo pesanan.
2. piutang pesanan (subscriptions receivable), menunjukkan jumlah yg hrs ditagih sblm saham pesanan akan diterbitkan.
 Pemesan yg telah menandatangani kontrak pesanan, memiliki hak & keistimewaan yg sama sbg pemegang saham yg mpy shm yg beredar
Contoh Lubradite Corp. menawarkan shm atas dsr pesanan pd masy ttt & berhak membeli 10 lbr shm (nilai pari Rp5) seharga Rp20 per shm. 50 org menerima tawaran perush & akan membayar 50% uang muka & 50% lagi pd akhir bulan keenam.
Pd tgl penerbitan
Piutang pesanan 10.000
Saham Biasa yg Dipesan 2.500
Tambahan Modal disetor yg Melebihi Nilai Pari 7.500
(utk mencatat penerimaan pesanan 500 lembar saham)
Kas 5.000
Piutang Pesanan 5.000
(utk menctt penerimaan angsuran I: 50% dr total jml tempo shm yg dipesan)

ketika pembayaran akhir diterima & saham diterbitkan, ayat jurnalnya adl:
Enam bulan kmd
Kas 5.000
Piutang pesanan 5.000
(utk mencatat penerimaan angsuran akhir shm pesanan)
Saham Biasa yg dipesan 2.500
Saham Biasa 2.500
(utk menctt penerbitan 500 lbr shm stlh penrimaan angsuran akhir dr pemesan)

SAHAM DITERBITKAN DLM GABUNGAN DG SURAT BERHARGA LAIN (LUMP SUM)
 Dua metoda alokasi:
1. Metoda Proporsional
2. Metoda Inkremental

Metoda Proporsional
 Jika nilai pasar atau dasar lain tersedia, maka nilai lump sum dialokasikan atas surat berharga scr proporsional, yaitu rasio surat berharga thdp total.
 Contoh 1000 lbr shm dg stated value Rp10 memiliki harga pasar Rp20 per shm & 1000 lbr shm preferen dg nilai Rp10 & harga pasar Rp12 per shm diterbitkan dg nilai lump sum Rp30.000; alokasi sbb:

Nilai pasar wajar saham biasa (1000 x Rp20) Rp20.000
Nilai pasar wajar saham prefren (1000 x Rp12) 12.000
Nilai pasar wajar agregat Rp32.000

Alokasi utk saham biasa = Rp20.000 x Rp30.000 = Rp18.750
Rp32.000
Alokasi utk saham preferen = Rp12.000 x Rp30.000 = Rp11.250
Rp32.000
Total Alokasi Rp30.000

Metoda Inkremental
 Jika nilai pasar wajar tak dpt ditentukan, metoda inkremental digunakan. Nilai pasar surat berharga digunakan sbg dasar alokasi nilai shm yg diketahui & sisanya dialokasikan pd shm yg nilai pasarnya tak diketahui.
 Contoh 1000 lbr shm biasa dg nilai tetapan Rp10 & harga pasar Rp20 per shm & 1000 lbr shm preferen dg nilai pari Rp10 tak memiliki harga pasar yg diterbitkan dg nilai lump sum Rp30,000, alokasi sbb:

Lump sum Rp30.000
Alokasi utk saham biasa (1,000 saham x nilai pasar Rp20) 20.000
Saldo yg dialokasikan utk saham preferen Rp10.000

Jika tak ada nilai pasar wajar yg dpt ditentukan utk setiap kelas saham yg terlibat dlm pertukaran sekaligus, alokasi hrs dilakukan scr arbitrer.
Arbitrer digunakan agar dpt dilakukan penyesuaian jika nilai pasar masa depan terbentuk.

SAHAM YG DITERBITKAN DLM TRANSAKSI BUKAN KAS
 Jika saham diterbitkan utk jasa/kekayaan selain kas, maka kekayaan/jasa dicatat pd nilai pasar wajar saham yg diterbitkan atau pd nilai pasar wajar saham dr penerimaan bukan kas, masa yg dpt ditentukan scr lebih jelas.

 Shm yg blm diterbitkan atau saham treasuri (shm diterbitkan yg telah dibeli kembali ttp blm ditarik) dpt ditukar dg kekayaan/jasa, dg memperhatikan:
1. Diket nilai pasar wajar shm treasuri, digunakan utk menilai kekayaan/jasa
2. Tak diket nilai pasar shm treasuri, digunakan nilai pasar wajar kekayaan/jasa

Contoh prosedur pencatatan penerbitan 10.000 lbr shm biasa dg nilai pari Rp10 yg diukur dg suatu paten.
1. Nilai pasar wajar paten blm dpt ditetapkan ttp nilai pasar wajar atas shm diket Rp140.000
Paten Rp140.000
Saham Biasa Rp100.000
Modal disetor yg Melebihi Nilai Pari Rp40.000

2. Nilai pasar wajar dr shm blm dpt ditentukan, ttp nilai pasar wajar dr paten ditetapkan Rp150.000
Paten Rp150.000
Saham Biasa Rp100.000
Modal disetor yg Melebihi Nilai Pari Rp50.000

3. Nilai pasar wajar dr shm maupun dr paten blm dpt ditentukan. Konsultan yg independen menetapkan nilai paten Rp125.000 & dewan komisaris setuju.
Paten Rp125.000
Saham Biasa Rp100.000
Modal disetor yg Melebihi Nilai Pari Rp25.000

PENILAIAN ATAS SAHAM
 Perusahaan dpt menilai/assessment pemegang saham pd jumlah tambahan di atas nilai kontribusi sebenarnya, kmd menetapkan apakah saham yg semula dijual pd disagio atau agio.
 Jika saham semula dinilai pd disagio, hasil tambahannya dikredit pd perkiraan disagio.
 Jika saham semula diterbitkan pd nilai agio, perkiraan Modal Disetor yg Berasal dr Penilaian dikredit.

BIAYA PENERBITAN SAHAM
 Biaya yg berkaitan dg akuisisi modal perush dr penerbitan surat berharga:
1. Biaya pengacara
2. Biaya akuntan publik
3. Biaya penjamin (underwriter) & komisi
4. Pengeluaran pencetakan & pengiriman sertifikat & laporan registrasi
5. Beban utk pengajuan pd SEC/bursa saham
6. Bebab administrasi & klerikal utk penyiapan
7. Biaya iklan penerbitan

 Dua metoda akuntansi utk biaya penerbitan awal
1. Memperlakukan biaya penerbitan sbg pengurangan atas jumlah yg disetor, krn tak berkaitan dg operasi perush
2. Memperlakukan biaya penerbitan sbg biaya pendirian
REAKUISISI SAHAM
 Sebab perush membeli kembali sahamnya yg beredar:
1. Utk memenuhi kontrak kompensasi saham karyawan atau memenuhi kebutuhan merger yg potensial
2. Menambah laba per saham dg mengurangi saham yg beredar.
3. Utk menghindari usaha pengambilalihan atau mengurangi jumlah pemegang saham
4. Membentuk pasar bagi saham.
5. Utk mengurangi operasi.

METODA AKUNTANSI UTK SAHAM TREASURI
 Dua metoda akuntansi utk shm treasuri
1. Metoda Biaya; mendebet saham treasuri utk biaya reakuisisi & dilaporkan sbg pengurang modal disetor & laba ditahan di neraca
2. Metoda Nilai Pari; menctt transaksi shm treasuri pd nilai pari & melaporkannya sbg pengurang atas saham modal

Saham Treasuri Diperhitungkan pd Biaya
 Perkiraan shm treasuri didebet utk biaya shm yg dibeli & dikredit ketika shm diterbitkan kembali.
 Dlm metoda biaya, harga yg diterima utk saham pd saat diterbitkan mula-mula tak mempengaruhi ayat jurnal utk menctt akuisisi & penerbitan kembali shm treasuri.

Contoh
1. 1000 lembar saham biasa dg nilai pari Rp100 diterbitkan dg harga Rp110
Kas Rp110.000
Saham Biasa Rp100.000
Modal disetor yg Melebihi Nilai Pari 10.000

2. 100 lembar saham biasa dibeli kembali pd harga Rp112
Saham Treasuri Rp11.200
Kas Rp11.200

3. 10 lembar saham treasuri diterbitkan kembali pd Rp112
Kas Rp1.120
Saham Treasuri (10 shm pd Rp112 per lbr) Rp1.120

4. 10 lembar saham treasuri diterbitkan kembali pd Rp130
Kas Rp1.300
Saham Treasuri (10 shm pd Rp112 per lbr) Rp1.120
Modal Disetor dr Saham Treasuri 180

5. 10 lembar saham treasuri diterbitkan kembali pd Rp98
Kas Rp980
Modal Disetor dr Saham Treasuri 140
Saham Treasuri (10 shm pd Rp112 per lbr) Rp1.120

6. 10 lembar saham treasuri diterbitkan kembali Rp105
Kas Rp1.060
Modal Disetor dr Saham Treasuri 40
Laba Ditahan 30
Saham Treasuri (10 shm pd Rp112 per lbr) Rp1.120

Saham Treasuri yg Dihitung pd Nilai Pari
 Dasar teori: pembelian atau akuisisi lainnya atas saham treasuri sebenarnya mrp penarikan konstruktif atas saham tsb
 Biaya akuisisi dr shm treasuri diperbandingkan dg jumlah yg diterima pd saat penerbitan awal
 Lebih bi akuisisi di atas harga penerbitan awal dibebankan pd Laba Ditahan
 harga penerbitan awal melebihi harga beli shm treasuri dibebankan pd Modal Disetor Saham Treasuri

Contoh
1. 1000 lembar saham biasa dg nilai pari Rp100 diterbitkan dg harga Rp110
Kas Rp110.000
Saham Biasa Rp100.000
Modal disetor yg Melebihi Nilai Pari 10.000

2. 100 lembar saham biasa dibeli kembali pd harga Rp112
Saham Treasuri (100 lb pd nilai pari Rp100) Rp10.000
Modal Disetor yg Melebihi Nilai Pari 1.000
Laba Ditahan 200
Kas Rp11.200

3. 100 lembar saham biasa dibeli kembali pd Rp98
Saham Treasuri (100 lb pd nilai pari Rp100) Rp10.000
Modal Disetor yg Melebihi Nilai Pari 1.000
Kas Rp9.800
Modal Disetor dr Saham Treasuri 1.200

4. 100 lembar saham biasa dibeli kembali pd Rp105
Saham Treasuri (100 lb pd nilai pari Rp100) Rp10.000
Modal Disetor yg Melebihi Nilai Pari 1.000
Kas Rp10.500
Modal Disetor dr Saham Treasuri 500

5. 100 lembar saham treasuri diterbitkan kembali pd Rp115
Kas Rp11.500
Saham Treasuri (100 shm pd nilai pari Rp100) Rp10.000
Modal Disetor yg Melebihi Nilai Pari 1.500

6. 100 lembar saham treasuri diterbitkan kembali Rp104
Kas Rp10.400
Saham Treasuri (100 shm pd nilai pari Rp100) Rp10.000
Modal Disetor yg Melebihi Nilai Pari 400

7. 100 lembar saham treasuri diterbitkan kembali Rp94
Kas Rp9.400
Modal Disetor dr Saham Treasuri 600
Saham Treasuri (100 shm pd nilai pari Rp100) Rp10.000

PENARIKAN SAHAM TREASURI
Contoh: penarikan 10 lb shm biasa dg nilai pari Rp100 yg diterbitkan pd Rp110

Metoda Biaya Metoda Nilai Pari
Jika saham treasuri dibeli pd Rp112
Saham Biasa 1.000
Modal Disetor yg
Melebihi Nilai Pari 100
Laba Ditahan 20
Saham Treasuri 1.120
Saham Biasa 1.000
Saham Treasuri 1,000
Jika saham treasuri dibeli pd Rp98
Saham Biasa 1.000
Modal Disetor yg
Melebihi Nilai Pari 100
Modal Disetor dr Penarikan
Saham Biasa 120
Saham Treasuri 980

Saham Biasa 1.000
Saham Treasuri 1.000

SAHAM TREASURI DI NERACA
 Pelaporan shm treasuri pd neraca berdasarkan metoda biaya atau nilai pari

Metoda Biaya Utk Melaporkan Saham Treasuri
Ekuitas pemegang saham
Saham biasa Rp1 pari; otorisasi 2jt lb; diterbitkan 1,5jt lb
Tambahan modal disetor
Total modal disetor
Laba ditahan
Total modal disetor & laba ditahan
Dikurangi: biaya saham treasuri (80.000 lb)
Total ekuitas pemegang saham
Rp1.500.000
3.600.000
5.100.000
4.781.484
9.881.484
(480.000)
Rp9.401.484

Metoda Nilai Pari Utk Melaporkan Saham Treasuri
Ekuitas pemegang saham
Saham biasa Rp1 pari; otorisasi 2jt lb; diterbitkan 1,5jt lb
Dikurangi: saham treasuri (80.000 lb pd nilai pari)
Saham biasa yg beredar
Tambahan modal disetor
Total modal disetor
Laba ditahan
Total ekuitas pemegang saham
Rp 1.500.000
(80.000)
1.420.000
3.200.000
4.620.000
4.781.484
Rp 9.401.484

KARAKTERISTIK SAHAM PREFEREN
 Saham preferen (SP) adl shm dg keistimewaan krn memiliki preferensi yg tak dimiliki oleh shm biasa
 Kelebihan SP (seringkali berkaitan dg penerbitan):
1. Preferensi atas deviden
2. Prefrensi atas aktiva pd saat likuidasi
3. Dapat dikonversi ke saham biasa
4. Dapat ditebus opsi perseroan
5. Tak mpy hak suara.

KEISTIMEWAAN SAHAM PREFEREN
1. Kumulatif. Dividen tak dibayar pd suatu th hrs dibayarkan th berikutnya sblm laba dpt dibagikan kpd pemegang shm biasa.
2. Partisipasi. Pemegang shm preferen partisipasi membagi rata dg pemegang shm biasa pd pembagian laba di luar tk yg ditentukan.
3. Konvertibel. Pemegang shm dpt menukar shm preferen dg shm biasa pd rasio yg telah ditentukan sblmnya, berdasarkan hak opsinya.
4. Dapat ditarik (callable). Perush penerbit shm dpt menarik atau menebus berdasar hak opsi, shm preferen yg beredar pd tgl ttt di masa depan & pd harga yg ditentukan.

TAMBAHAN MODAL DISETOR
 Transaksi dasar yg mempengaruhi tambahan modal disetor adl
Tambahan Modal Disetor
1. Disagio shm modal yg diterbitkan
2. Penjualan shm treasuri di bawah harga pokok
3. Penyerapan kekurangan dlm suatu rekapitulasi (kuasi-reorganisasi)
4. Pengumuman dividen likuidasi 1. Agio shm modal yg diterbitkan
2. Penjualan shm treasuri di atas harga pokok
3. Modal tambahan yg timbul pd rekapitalisasi atau revisi pd struktur modal (kuasi-reorganisasi)
4. Penilaian tambahan pd pmg shm
5. Konversi obligasi konvertibel atau shm preferen
6. Pengumuman dividen shm “kecil” (biasa)

POS-POS EKUITAS TAMBAHAN
MODAL DONASI & REVALUASI
 Pos lain yg dilaporkan pd ekuitas pmg shm sbg st bentuk modal tambahan:
1. modal donasi &
2. modal revaluasi atau modal apresiasi yg belum direalisasi.
 Modal donasi berasal dr hibah kpd perush oleh pmg shm & kreditur.
 Modal revaluasi berasal dr kenaikkan atau penurunan aktiva dr harga pokok

 Klasifikasi ekuitas pemegang saham hrs dibedakan:
1 Saham Modal 4 Modal Revaluasi
2 Tambahan Modal Disetor 5 Laba Ditahan
3 Modal Donasi

AKUNTANSI UNTUK PERSEKUTUAN
Kegiatan Belajar 1
Pembentukan Persekutuan dan Pembagian Laba atau Rugi Persekutuan
Perbedaan pokok antara perusahaan perseorangan dan persekutuan adalah dalam masalah transaksi modal. Oleh karena persekutuan merupakan perusahaan milik beberapa orang maka laba yang diperoleh juga harus dibagikan kepada seluruh pemilik. Ada berbagai cara dalam pembagian laba atau rugi ini. Agar tidak menimbulkan kesulitan di kemudian hari sebaiknya perjanjian pembagian laba harus diuraikan dengan jelas dalam bentuk tertulis. Bila tidak ada perjanjian yang menyangkut masalah pembagian laba atau rugi, maka dianggap pembagian laba atau rugi dilakukan dengan perbandingan yang sama.
Bila persekutuan dibentuk dari perusahaan yang sebelumnya sudah berjalan, biasanya nilai buku aktiva dari perusahaan sebelumnya menjadi tidak relevan lagi. Oleh karena itu pada umumnya nilai buku tersebut harus disesuaikan lebih dahulu. Persekutuan cukup mencatat nilai aktiva yang baru (yang disetujui bersama), tidak perlu memperhatikan harga perolehan aktiva ketika dulu dibeli oleh perusahaan sebelum menjadi persekutuan. Harga perolehan aktiva bagi persekutuan yaitu harga pada saat aktiva tersebut menjadi hak persekutuan.
Secara umum ciri-ciri persekutuan adalah:
1. umur yang terbatas
2. tanggung jawab anggota yang tidak terbatas
3. pemilikan harta bersama
4. partisipasi dalam pembagian laba atau rugi; dan
5. perjanjian tertentu.
Kegiatan Belajar 2
Akuntansi untuk Pembubaran Persekutuan dan Likuidasi Persekutuan
Salah satu sifat utama dari bentuk organisasi persekutuan adalah usianya yang terbatas. Setiap perubahan anggota persekutuan akan mengakibatkan pembubaran persekutuan. Dengan demikian masuknya anggota sekutu baru, keluarnya anggota sekutu lama dan meninggalnya salah seorang anggota persekutuan, akan membubarkan persekutuan yang ada.
Masuknya sekutu dalam persekutuan dapat dilakukan dengan dua cara yaitu:
1. dengan cara membeli hak pemilik sekutu lama;
2. dengan cara menyetorkan aktiva kepada persekutuan.
Perbedaan cara penerimaan sekutu baru akan mengakibatkan perbedaan dalam akuntansi. Pada cara pertama transaksi penerimaan sekutu baru hanya dilakukan dengan memindahkan akun modal sekutu lama ke akun sekutu baru. Dengan demikian tidak terjadi perubahan struktur aktiva maupun struktur modal. Pada cara kedua persekutuan akan mencatat penambahan aktiva dan penambahan modal. Jumlah aktiva yang dicatat tidak harus sama dengan jumlah modal sekutu baru. Adakalanya setoran modal dicatat lebih rendah atau lebih tinggi sehingga menimbulkan goodwill yang akan diberikan kepada sekutu lama atau sekutu yang baru masuk. Umumnya bila persekutuan akan menerima anggota baru diadakan penyesuaian lebih dahulu terhadap akun-akun yang ada. Sehingga buku besarnya dapat mencerminkan harga aktiva secara lebih layak. Laba atau rugi yang timbul karena adanya penilaian kembali ini kemudian akan dibagikan kepada para sekutu lama.
Bila persekutuan mau menghentikan kegiatannya, maka biasanya akan menjual seluruh aktivanya. Hal ini dilakukan untuk memudahkan pembagian kekayaan kepada para anggotanya. Proses pembubaran perusahaan ini dikenal dengan proses likuidasi. Adapun langkah-langkah dalam proses likuidasi adalah:
1. menyesuaikan dan menutup buku-buku yang ada;
2. menjual seluruh aktiva nonkas (realisasi);
3. melunasi seluruh utang perusahaan;
4. mengembalikan modal kepada para sekutu.
Oleh karena tanggung jawab anggota persekutuan tidak terbatas maka bila ada salah seorang anggota sekutu yang modalnya negatif mereka tetap harus menutup jumlah modal yang negatif tersebut. Seandainya sekutu tersebut dalam keadaan bangkrut, maka sekutu yang masih mampu harus menanggung defisit sekutu tersebut.
________________________________________
AKUNTANSI UNTUK PERSEROAN I
Kegiatan Belajar 1
Perseroan
Perseroan adalah badan hukum yang dapat memiliki harta kekayaan, menandatangani perjanjian, mengadakan utang-piutang dan hak serta kewajiban seperti orang-orang pribadi. Perseroan dikatakan sebagai perseroan tertutup bila saham-sahamnya hanya dimiliki oleh kalangan orang tertentu saja dan dikatakan sebagai perseroan terbuka kalau saham-sahamnya dapat dibeli oleh masyarakat bebas.
Modal saham perseroan dapat terdiri atas saham biasa dan saham prioritas (saham preferen). Saham prioritas adalah saham yang memiliki hak-hak lebih tertentu, seperti hak untuk memperoleh dividen lebih dahulu, hak suara, hak pembagian dividen yang pasti dan hak pembagian kekayaan lebih dahulu. Sehubungan dengan masalah pembagian dividen saham prioritas dapat dibedakan menjadi:
1. Saham prioritas yang kumulatif, partisipasi
2. Saham prioritas yang kumulatif, non-partisipasi
3. Saham prioritas yang non-kumulatif, partisipasi
4. Saham prioritas yang non-kumulatif, non-partisipasi.
Ciri-ciri yang membedakan bentuk perusahaan perseroan dengan persekutuan adalah sebagai berikut.
Perseroan merupakan badan hukum tersendiri, oleh sebab itu tanggung jawab harta kekayaan dan utang ada di tangan perseroan itu sendiri. Oleh karena itu, pemilik perseroan hanya bertanggung jawab terhadap jumlah uang yang telah ditanamkan di perseroan tersebut. Dalam hal ini tidak ada tanggung jawab renteng. Hak pemilikan perseroan yang ditandai dengan surat saham dapat dengan mudah dipindahtangankan, dengan demikian pemilikan perseroan lebih luwes dibandingkan dengan persekutuan. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah bahwa laba yang dibagikan kepada para pemilik akan dikenakan pajak dua kali. Pertama, pada saat laba diperoleh perseroan akan dikenakan pajak penghasilan untuk perseroan dan kedua, pada saat laba diterima pemegang saham akan dikenakan pajak penghasilan atas nama pemegang saham pribadi. Selain itu perseroan pada umumnya dikenakan peraturan-peraturan pemerintah yang lebih banyak dibandingkan dengan persekutuan atau perusahaan perseorangan. Namun bentuk perseroan lebih disukai oleh perusahaa-perusahaan besar dibandingkan dengan bentuk perusahaan yang lain.
Kegiatan Belajar 2
Transaksi Modal
Perseroan adalah merupakan badan hukum. Oleh sebab itu perseroan dapat bertindak (melakukan transaksi) atas namanya sendiri. Perseroan dapat memiliki aktiva atas nama sendiri dan perseroan dapat berutang juga atas namanya sendiri. Tanggung jawab pemilik (pemegang saham) terbatas pada jumlah uang yang telah mereka setorkan saja. Artinya bila suatu perseroan bangkrut, maka kreditur tidak berhak menagih (menuntut) harta pribadi pemilik perseroan. Pada umumnya pemilikan saham perseroan lebih mudah untuk diperjualbelikan tidak seperti halnya pada pemilikan dalam persekutuan.
Modal perseroan terdiri atas saham-saham, saham-saham ini dapat dibedakan menurut jenisnya yang dapat diikhtisarkan sebagai berikut.
Penyajian modal saham dalam neraca harus dapat menjelaskan berapa jumlah modal saham statutairnya dan berapa jumlah yang telah ditempatkan. Akun modal dalam perseroan dapat dibedakan menjadi:
1. jumlah nominal saham;
2. jumlah kelebihan setoran di atas nominalnya (agio saham); dan
3. jumlah laba yang belum dibagikan kepada para pemegang saham.
Bila perseroan menerbitkan saham tanpa nilai nominal maka harus ditentukan jumlah (nilai) yang ditetapkan. Nilai yang ditetapkan ini dianggap sebagai nilai nominalnya. Pada saat perseroan melakukan emisi saham, maka akun kas atau aktiva lain akan didebet, akun modal saham dikredit sebesar nominalnya (pari), dan kelebihan setoran dicatat dalam akun sendiri yang disebut akun agio saham.
Akun modal saham selain dipisahkan ke dalam akun modal saham dan agio saham juga harus diadakan akun modal untuk setiap jenis saham. Klasifikasi modal sendiri pada perseroan dapat dibedakan sebagai berikut.
Bila saham perseroan pada saat emisi ditukarkan dengan aktiva selain kas, maka aktiva yang diterima sebagai setoran tersebut dicatat sebesar harga pasarnya, selisih antara harga pasar aktiva tersebut dengan nominal saham dicatat sebagai agio atau disagio saham. Bila harga pasar aktiva tersebut tidak dapat ditentukan, aktiva tersebut dapat dicatat sebesar harga pasar dari saham perseroan pada saat pertukaran terjadi. Selisih harga pasar saham dengan nominalnya akan dicatat sebagai agio (disagio).
Dalam neraca selain disajikan jumlah modal secara keseluruhan, juga sering disajikan nilai buku per lembar saham. Nilai buku per lembar dihitung dengan cara membagi alokasi modal sendiri ke setiap jenis saham dengan jumlah lembar yang beredar untuk setiap jenisnya. Nilai buku ini menunjukkan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap harga pasar saham di bursa.
Biaya organisasi (biaya pendirian) adalah biaya-biaya yang dikeluarkan dalam rangka mendirikan perseroan. Biaya organisasi ini pada umumnya akan disajikan dalam neraca sebagai aktiva permanen. Bila dirasa biaya organisasi tidak akan bermanfaat, maka biaya organisasi diamortisasi dan dibebankan secara sistematis sebagai biaya.
________________________________________
AKUNTANSI UNTUK PERSEROAN II
Kegiatan Belajar 1
Klasifikasi Modal
Klasifikasi modal saham dalam neraca harus diungkapkan dengan jelas. Penyajian modal saham dalam neraca harus mengungkapkan berapa jumlah modal dasar, modal yang ditempatkan dan modal yang ada dalam portofolio. Selisih antara jumlah yang disetor pemegang saham dengan nominal saham dicatat sebagai Premium Modal Saham. Nama lain dari akun ini adalah Agio Modal Saham. Akun Modal Sumbangan digunakan untuk menampung sumbangan-sumbangan yang diterima perseroan. Aktiva yang diterima sebagai sumbangan dinilai sebesar harga pasar dari aktiva tersebut ketika diterima perusahaan.
Adanya pendapatan yang tidak dikenakan sebagai pajak dan biaya yang tidak dianggap sebagai beban oleh peraturan pajak mengakibatkan besarnya pajak menurut perhitungan akuntansi dan perpajakan berbeda. Bila perbedaan ini diakibatkan karena perbedaan waktu maka selisih yang terjadi dicatat dalam akun penangguhan utang PPh.
Sering kali terjadi untuk mencegah laba yang ditahan dibagikan sebagai dividen, perusahaan menyisihkan sebagian laba yang ditahan. Untuk penyisihan ini digunakan akun penyisihan laba yang ditahan (misalnya penyisihan untuk ekspansi) guna memindahkan jumlah dari akun laba yang ditahan ke akun penyisihan ini.
Kegiatan Belajar 2
Jenis Dividen
Perusahaan dapat membagikan dividen dalam bentuk kas, aktiva lain, atau saham bonus. Hal yang perlu diperhatikan dalam pembagian dividen adalah masalah:
1. Kapan utang dividen harus dicatat
2. Kepada siapa dividen akan diterimakan
3. Kapan pembayaran dividen akan dilakukan.
Agar perusahaan dapat membagikan dividennya, maka perusahaan tersebut harus:
1. Mempunyai saldo laba yang ditahan cukup besar
2. Jumlah kas yang cukup
3. Memutuskan secara resmi tentang pembagian dividen.
Dividen tunai tidak boleh dibagikan kepada pemilik saham treasury sedangkan dividen saham dapat dibagikan kepada pemilik saham treasury dapat pula tidak. Pembagian dividen tunai akan menyebabkan laba yang ditahan berkurang dan aktiva perusahaan berkurang. Sedangkan pembagian dividen saham tidak akan mengurangi jumlah modal saham. Pembagian ini hanya akan mengakibatkan perubahan bentuk modal dari laba yang ditahan menjadi modal saham. Pemecahan saham adalah usaha perseroan untuk menurunkan harga pasar sahamnya dengan cara menambah jumlah lembar saham yang beredar. Penambahan ini dilakukan dengan cara menurunkan nilai nominal saham. Kejadian i
Daftar Pustaka
1. Niswonger & Fees. (1977). Accounting Principles. Cincinnati, Ohio: South Western Publishing Co.
2. Slavin, Albert dan Reynold, Isaac N. (1975). Basic Accounting. Third Edition. Rinehart and Winston, Inc.
3. Thacker, Ronald J. (1979). Accounting Principles. Englewood Cliffs, NJ: Prentice Hall Internasional.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 66 pengikut lainnya.