Kuliah Akuntansi

Rerangka Konseptual

Posted on: 21 Maret 2009

Dalam perekayaasaan akuntansi, jawaban atas pertanyaan perekayasaan akan menjadi konsep-konsep terpilih yang dituangkan dalam dokumen resmi yang di Amerika disebut rerangka konseptual (conceptual framework).

Bila operasi akuntansi dianalogi dengan kegiatan kenegaraan, rerangka konseptual dapat dianalogi dengan konstitusi sedangkan prosesnya dapat dianalogi dengan proses pemikiran dalam pembuatan konstitusi Negara.
Rerangka konseptual sebagai dokumen resmi hasil perekayasaan sering disebut pula sebagai seperangkat prinsip umum (a set of broad principles), seperangkat doktrin (a body of doctrine), atau struktur konsep-konsep yang terpadu atau saling berkaitan (a structure or scheme of interrelated ideas).

Tanpa rerangka konseptual sebagai “konstitusi” akan sulitlah bagi penyususn standar untuk mengevaluasi argument bahwa perlakuan akuntansi tertentu lebih baik dalam menggambarkan realitas ekonomi atau untuk menilai bahwa perlakuan akuntansi tertentu lebih efektif daripada perlakuan yang lain dalam rangka mencapai tujuan sosial atau ekonomik.

Tiadanya rerangka konsepyual dapat mengakibatkan penyusunan standar akuntansi diperalat oleh pihak tertentu (vested-interest group) untuk menghasilkan standar yang menguntukan pihak tersebut. Sebagai sustu kesatuan konsep-konsep koheren yang menetapkan sifat dan fungsi pelaporan keuangan, Kam (1990) menguraikan manfaat-manfaat rerangka konseptual sebagai berikut:

(1) Memberi pengarahan atau pedomen kepada badan yang bertanggungjawab dalam penyususnan/penetap standar akuntansi.
(2) Menjadi acuan dalam memecahkan masalah-maslah akuntansi yang dijumpai dalam praktik yang perlakuannya belum diatur dalam standar atau pedoman spesifik.
(3) Menentukan batas-batas pertimbangan (bounds for judgment) dalam penyusunan statemen keuangan.
(4) Meningkatkan pemahaman pemakai statemen keuangan dan meningkatkan keyakinan terhadap statemen keuangan.
(5) Meningkatkan keterbandingan statemen keuangan antarperusahaan.

Apa yang dikemukakan Kam di atas sejalan dengan apa yang ditegaskan oleh FASB (Financial Acconting Standards Board) dalam tiap pengantar pernyataan konsep. FASB menegaskan bahwa FASB sendirilah yang banyak akan memanfaatkan rerangka konseptual karena rerangka konseptual akan memberi FASB suatu landasan umum dan penalaran dasar (a common foundation and basic reasoning) untuk mempertimbangkan keunggulan dan kelemahan alternative-alternatif dalam pengembangan akuntansi.

Model
Salah satu model yang banyak dikenal saat ini adalah kerangka konseptual yang dikembangkan oleh FASB yang memuat 4 komponen konsep penting yaitu:

(a) Tujuan pelaporan keuangan
Penentuan tujuan laporan keuangan merupakan langkah yang paling krusial dalam perekayasaan akuntansi. Tujuan pelaporan menentukan konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang relevan yang akhirnya menentukan bentuk, isi, jenis, dan susunan statemen keuangan. Most, menunjukkan dua pendekatan dalam menentukan tujuan penyediaan informasi (pelaporan keuangan) yaitu:

(1) Menyediakan informasi untuk sehimpunan pemakai umum yang mempunyai bermacam-macam kepentingan keputusan.
Pelaporan keuangan diarahkan untuk menghasilkan satu set data (satu set statemen keuangan) untuk berbagai pemakai dan kepentingan.
(2) Menyediakan informasi untuk kelompok pemakai tertentu yang mempunyai kepentingan tertentu yang diketahui (teridentifikasi).
Kelompok pemakai meliputi pemakai eksternal dan internal sehingga beberapa laporan tidak harus berupa statemen.

(b) Criteria kualitas informasi
Criteria yang menjadi pedoman kebijakan akuntansi sangat erat kaitannya dengan masalah apakah informasi suatu objek bermanfaat untuk pengambilan keputusan bagi pihak pemakai yang dituju. informasi akan bermanfaat kalau informasi tersebut terpaut dengan keputusan yang menjadi sasaran informasi. Informasi juga akan bermanfaat kalau pemakai mempercayai informasi tersebut.

(c) Elemen-elemen statemen keuangan
Elemen statemen keuangan adalah makna (meaning) atau konstruk (construct) yang sengaja ditentukan dalam perekayasaan akuntansi untuk menyimbolkan atau mempresentasi realitas kegiatan usaha suatu badan usaha sehingga orang dapat membayangkan realitas kegiatan tersebut secara keuangan tanpa harus menyaksikan sendiri secara fisis kegiatan tersebut.

(d) Pengukuran dan pengakuan
Penentuan dan pendefenisisan elemen berkaitan dengan masalah apa yang harus disajikan dalam statemen keuangan dan terdiri atas apa saja seperangkat penuh statemen keuangan (a full set of financial statements). Elemen dan pos menjadi bahan penyusunan seperangkat penuh statemen keuangan. Agar secara teknis penyususnan statemen keuangan dapat dilaksanakan dengan mudah, diperlukan sarana (berupa buku besar atau ledger ) untuk mencatat hasil pengukuran. Oleh karena itu, pos-pos yang harus disajikan dalam statemen keuangan menjadi basis untuk menamai akun-akuan (accounts) dalam buku besar. Bila suatu hasil pengukuran dicatat dalam system pembukuan, berarti informasi tersebut dengan sendirinya akan disajikan via statemen keuangan (incorporated into financial statements).

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 71 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: