Kuliah Akuntansi

Archive for the ‘Akuntansi Biaya’ Category

Masalah akuntansi dalam produk bersama adalah masalah alokasi biaya bersama. Alokasi tersebut bertujuan untuk penetuan harga pokok dan penentuan nilai persediaan. Denga kata lain tujuan akhir alokasi biaya bersama adalah untuk memberikan informasi kepada manajemen baik untuk kepentingan penyusunan laporan keuangan maupun kepentingan pengambilan kepentingan.

Ada beberapa metode untuk mengalokasikan biaya bersama:

1.Metode harga pasar / nilai harga jual (sales value method)
2.Metode unit kuantitas / unit fisik (quantitative unit method)
3.Metode harga pokok per unit (unit cost method)

Metode Nilai Harga Jual

Menurut merode ini, biaya bersama dialokasikan menurut nilai jual dari masing – masing atau jenis produk. Dasar pemikiran untuk mengalokasikan atas dasar nilai harga jual ini adalah bahwa ada hubungan langsung yang erat antara harga pokok dengan harga jual dari suatu produk. Harga jual suatu produk akan sangat ditentukan oleh harga pokok untuk memproduksi produk tersebut. Oleh sebeb itu, biaya bersama sudah selayaknya dialokasikan atas dasar harga jualnya.

Metode ini lebih populer dibandingkan kedua metode yang lain. Menurut metode ini pengalokasian biaya bersama dapat menimbulkan situasi :

1.Harga jual sudah diketahui saat split off
2.Harga jual belum diketahui saat split off

Berikut ini dikemukakan kedua kemungkinan tersebut:
1.Harga jual sudah diketahui setelah split off

Bila harga jual sudah diketahui saat split off maka biaya bersama dialokasikan ke masing – masing jenis produk dengan cara membagi total nilai harga jual setiap produk dengan total nilai jual seluruh produk yang diproduksi yang akan menghasilkan rasio dari mesing – masing jenis produk. Rasio ini kemudian di kalikan dengan total biaya bersama

2.Harga jual tidak diketahui pada saat split-off

Harga jual produk bersama pada saat split-off sangat mungkin tidak diketahui terutama sekali bila produk tersebut masih memerlukan proses produksi lebih lanjut. Dalam keadaan ini harga jual produk tersebut pada saat menjadi produk selesai tetap harus diketahui. Harga jual dari produk bersama dalam hal ini disebut harga jual “ Hipotesis “. Harga jual hipotesis adalah harga jual produk selesai dikurangi biaya yang dikeluarkan untuk memproses lebih lanjut produk bersama yang telah terpisah ( split-off )
Bila harga jual sudah diketahui saat split off maka biaya bersama dialokasikan ke masing – masing jenis produk dengan cara membagi total nilai harga jual setiap produk dengan total nilai jual seluruh produk yang diproduksi yang akan menghasilkan rasio dari mesing – masing jenis produk. Rasio ini kemudian di kalikan dengan total biaya bersama.

BIAYA OVERHEAD PABRIK

BOP adalah semua biaya produksi selain biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung. Karakteristik BOP yaitu jumlahnya tidak proporsional dengan volume produksi, sulit ditelusur dan diidentifikasi langsung ke produk atau pesanan. Alokasi BOP ke produk menggunakan BOP sesungguhnya dan BOP dibebankan. BOP sesungguhnya adalah BOP yang benar-benar terjadi, sedangkan BOP dibebankan adalah BOP dengan menggunakan tarif yang ditentukan dimuka. BOP sesungguhnya sulit diterapkan disebabkan adanya kendala-kendala seperti jumlahnya baru dapat diketahui pada akhir tahun, adanya fluktuasi BOP karena jenis biaya tertentu yang hanya terjadi pada suatu periode, sulit menelusuri BOP ke pesanan atau produk tertentu. Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan tarif BOP terdiri atas tingkat kapasitas produksi. Kemampuan pabrik untuk berproduksi ada 4 tingkatan yaitu kapasitas teoritis, praktis, normal dan harapan. Kapasitas teoritis adalah kapasitas produksi maksimum (100%) tanpa mempertimbangkan kemacetan yang mungkin terjadi. Kapasitas praktis adalah kapasitas produksi dengan mempertimbangkan kemungkinan kemacetan. Kapasitas normal adalah kapasitas produksi praktis yang disesuaikan dengan permintaan barang jangka panjang, dan kapasitas harapan adalah kapasitas produksi praktis jangka pendek
Penggolongan BOP
1. BOP menurut sifatnya
a. biaya bahan penolong
b. biaya reparasi dan pemeliharaan
c. biaya tenaga kerja tidak langsung
d. biaya yang timbul sebagai akibat penilaian terhadap aktiva tetap
e. biaya yang timbul sebagai akibat berlalunya waktu
f. BOP lain yang secara langsung memerlukan pengeluaran uang tunai
2. BOP menurut perilakunya dalam hubungan dengan perubahan volume produksi
a. BOP tetap
BOP tidak berubah dalam kisar perubahan volume kegiatan tertentu contoh : biaya asuransi
b. BOP variable
BOP yang berubah sebanding dengan perubahan volume kegiatan contoh : biaya bahan penolong
c. BOP semi variable
BOP yang berubah tidak sebanding dengan perubahan volume kegiatan contoh : biaya bahan bakar kendaraan
3. BOP menurut hubungannya dengan departemen
a. BOP langsung departemen
BOP yang terjadi dalam departemen tertentu dan manfaatnya hanya dinikmati oleh departemen tersebut.

b. BOP tidak langsung departemen
BOP yang manfaatnya dinikmati oleh lebih dari satu departemen.
Dasar Pembebanan BOP terhadap Produk
a. satuan produk
taksiran BOP
: tariff BOP persatuan
taksiran jumlah satuan produk yang dihasilkan
contoh :
taksiran BOP selama satu tahun anggaran : Rp. 4.000.000
taksiran BOP jml produk yang dihasilkan selama th anggaran tsb : 8.000 unit
tariff BOP sebesar : (4.000.000) : (8.000) ; Rp. 500 perunit produk
b. biaya bahan baku
taksiran BOP
x 100% : % BOP dari BBB yang dipakai
taksiran BBB yang dipakai
contoh :
taksiran BOP selama 1 tahun anggaran : Rp.4.000.000
taksiran BBB selama 1 tahun anggaran : Rp. 8.000.000
tariff BOP : 4.000.000 / 8.000.0000 x 100% = 50% dari BBB yang dipakai
c. biaya tenaga kerja
taksiran BOP
x 100% : % BOP dari BTKL
taksiran BTKL
contoh :
taksiran BOP selama 1 th anggaran : Rp. 4.000.000
taksiran BTKL selama 1 th anggaran : Rp. 10.000.000
tariff BOP sebesar : 4.000.000 / 10.000.000 x 100% : 40% dari BTKL
d. jam tenaga kerja langsung
taksiran BOP
: tariff BOP perjam tenaga kerja langsung
taksira jam tenaga kerja langsung
contoh :
taksiran BOP selama 1 tahun anggaran : Rp. 4.000.000
taksiran jam tenaga kerja langsung selama 1 th anggaran : 4.000 jam
tariff BOP sebesar : 4.000.000 / 4.000 : Rp. 1.000 perjam tenaga kerja lgs

e. jam mesin
taksiran BOP
: tariff BOP perjam kerja mesin
taksiran jam kerja mesin
taksiran BOP selama 1 th anggaran : Rp. 4.000.000
taksiran jam mesin selama th anggaran : 20.000 jam mesin
tariff BOP sebesar : Rp. 4.000.000 / 20.000 : Rp. 200 per jam mesin

Pembebanan BOP kepada Produk atas Dasar Tarif
Contoh :
PT AJP memproduksi berdasar pesanan. BOP dibebankan berdasar jam mesin. Anggaran BOP disusun pada kapasitas normal sebanyak 160.000 jam mesin. Waktu pengerjaan menghabiskan 150.000 jam mesin.
PT AJP
Anggaran BOP untuk tahun 19×1
Atas dasar kapasitas normal 160.000 jam mesin
Elemen biaya B. Tetap B. Variabel Jumlah
B. Bhn Penolong – 2.100.000 2.100.000
Biaya listrik – 3.000.000 3.000.000
B. Bhn Bakar – 2.000.000 2.000.000
BTKTL 4.000.000 3.000.000 7.000.000
B. Kesejahteraan Kary 3.000.000 – 3.000.000
Biaya reparasi 1.000.000 1.500.000 2.500.000
Biaya asuransi 1.200.000 – 1.200.000
Biaya depresiasi 1.600.000 – 1.600.000
Jumlah 10.800.000 11.600.000 22.400.000
Tariff BOP variable : 11.600.000 / 160.000 = Rp. 72,5 perjam mesin
Tariff BOP tetap : 10.800.000 / 160.000 = Rp. 67,5 perjam mesin
Tariff BOP total Rp. 140 perjam mesin
Pembebanan BOP
Rp. 140 x 150.000 = Rp. 21.000.000
BDP BOP Rp. 21.000.000
BOP yang dibebankan Rp. 21.000.000

Pengumpulan BOP ss
Misalkan BOP yang sesungguhnya terjadi adalah :
PT AJP
BOP ss terjadi tahun 19×1
Pada kapasitas sesungguhnya yang dicapai 150.000 jam mesin
Elemen biaya jumlah
B. Bhn Penolong 2.200.000
Biaya listrik 2.900.000
B. Bhn Bakar 1.500.000
BTKTL 7.000.000
B. Kesejahteraan Kary 3.000.000
Biaya reparasi 2.000.000
Biaya asuransi 1.200.000
Biaya depre mesin 1.600.000
Jumlah 21.400.000
BOP ss 21.400.000
Berbagai rekening 21.400.000
Perhitungan selisih
BOP yg dibebankan 150.000 jam mesin x Rp. 140 : 21.000.000
BOP ss : 21.400.000
Selisih BOP : 400.000

BOP dibebankan 21.000.000
BOP ss 21.000.000
Selisih BOP 400.000
BOP ss 400.000

Selisih anggaran
BOP ss 21.400.000
BOP dianggarkan
BOP tetap 10.800.000
BOP variable (150.000 x 72,5) 10.875.000 21.675.000
Selisih anggaran 275.000 (laba)
Selisih kapasitas
BOP tetap dianggarkan 10.800.000
BOP tetap dibebankan kpd produk 150.000 x 67,5 10.125.000
Selisih kapasitas 675.000
Perlakuan terhadap selisih BOP
1. dibagikan kepada rekening persediaan dan HPP
contoh :
persediaan produk dalam proses Rp. 800.000
persediaan produk jadi Rp. 1.200.000
HPP Rp.14.000.000
Jumlah Rp.16.000.000
Penyesuaian setelah adanya selisih BOP
PDP : 800.000 / 16.000.000 x 400.000 : 20.000
Pers Prod selesai : 1.200.000 / 16.000.000 x 400.000 : 30.000
HPP : 14.000.000 / 16.000.000 x 400.000 : 350.000
Saldo setelah penyesuaian
Pers. Prod dlm proses : 820.000
Pers. Prod Jadi : 1.230.000
HPP : 14.350.000
Jumlah 16.400.000

Pers Prod dlm Proses 20.000
Pers Prod Jadi 30.000
HPP 350.000
Selisih BOP 400.000

2. pengurang atau penambah rekening HPP
Harga Pokok Penjualan 400.000
Selisih BOP 400.000

Pengertian Akuntansi Biaya
Akuntansi biaya adalah proses pencatatan, penggolongan, peringkasan, dan penyajian biaya pembuatan dan penjualan produk atau jasa, dengan cara-cara tertentu, serta penafsiran terhadapnya. Objek kegiatan akuntansi biaya adalah biaya.

Pengertian Biaya Produksi
Dalam arti luas biaya adalah pengorbanan sumber ekonomi yang diukur dalam satuan uang, yang telah terjadi atau yang kemungkinan akan terjadi untuk tujuan tertentu. Sedangkan dalam arti sempit, biaya dapat diartikan sebagai pengorbanan sumber ekonomi untuk memperoleh aktiva.
Biaya produksi adalah biaya-biaya yang yang terjadi untuk mengolah bahan baku menjadi produk jadi yang siap untuk dijual. Menurut objek pengeluarannya, secara garis besar biaya produksi dibagi menjadi biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik (factory overhead cost).

Biaya Bahan Baku
Biaya bahan baku langsung adalah semua biaya bahan yang membentuk bagian integral dari barang jadi dan yang dapat dimasukkan langsung dalam kalkulasi biaya produk. Contoh bahan baku langsung adalah kayu untuk pembuatan meubel dan tanah liat untuk pembuatan genteng. Pertimbangan utama dalam mengelompokkan bahan ke dalam bahan baku langsung adalah kemudahan penelusuran proses pengubahan bahan tersebut sampai menjadi barang jadi. Sebagai contoh, paku untuk membuat peralatan meubel merupakan bagian dari barang jadi, namun agar perhitungan biaya meubel tersebut bisa dilakukan secara cepat, bahan ini dapat diklasifikasikan sebagai bahan baku tidak langsung.

Biaya Tenaga Kerja
Biaya tenaga kerja langsung adalah karyawan atau karyawati yang dikerahkan untuk mengubah bahan langsung menjadi barang jadi. Biaya untuk ini meliputi gaji para karyawan yang dapat dibebankan kepada produk tertentu.

Biaya Overhead Pabrik
Biaya overhead pabrik disebut juga biaya produk tidak langsung, yaitu kumpulan dari semua biaya untuk membuat suatu produk selain biaya bahan baku langsung dan tidak langsung.
Overhead pabrik pada umumnya didefinisikan sebagai bahan tidak langsung, pekerja tidak langsung, dan bahan pabrik lainnya yang tidak secara mudah diidentifikasikan atau dibebankan langsung ke pekerjaan produk atau tujuan akhir biaya.
Biaya overhead pabrik (FOH) terdiri dari biaya FOH tetap dan biaya FOH variabel. Biaya tetap adalah biaya yang jumlah totalnya tetap untuk tingkat volume kegiatan tertentu, biaya variabel adalah biaya yang jumlah totalnya berubah sebanding dengan perubahan volume kegiatan. Ada juga yang dinamakan biaya semi variabel adalah biaya yang berubah tak sebanding dengan perubahan volume kegiatan.

Penghitungan Harga Pokok Produksi
Di dalam akuntansi biaya yang konvensional komponen-komponen harga pokok produk terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik, baik yang bersifat tetap maupun variable. Konsep harga pokok tersebut tidak selalu relevan dengan kebutuhan manajemen. Oleh karena itu timbul konsep lain yang tidak diperhitungkan semua biaya produksi sebagai komponen harga pokok produk. Jadi di dalam akuntansi biaya, dimana perusahaan industri sebagai modal utamanya, terdapat dua metode perhitungan harga pokok yaitu Full/Absortion/Conventional Costing dan Variable/Marginal/Direct Costing. Perbedaan pokok diantara kedua metode tersebut adalah terletak pada perlakuan terhadap biaya produksi yang bersifat tetap. Adanya perbedaan perlakuan terhadap FOH Tetap ini akan mempunyai pengaruh terhadap perhitungan harga pokok produk dan penyajian laporan rugi-laba.

Metode Full Costing
Full Costing adalah metode penentuan harga pokok produk dengan memasukkan seluruh komponen biaya produksi sebagai unsur harga pokok, yang meliputi biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, biaya overhead pabrik variabel dan biaya overhead pabrik tetap. Di dalam metode full costing, biaya overhead pabrik yang bersifat variabel maupun tetap dibebankan kepada produk yang dihasilkan atas dasar tarif yang ditentukan di muka pada kapasitas normal atau atas dasar biaya overhead pabrik sesungguhnya. Oleh karena itu biaya overhead pabrik tetap akan melekat pada harga pokok persediaan produk selesai yang belum dijual, dan baru dianggap sebagai biaya (elemen harga pokok penjualan) apabila produk selesai tersebut tidak dijual.
Menurut metode full costing, karena produk yang dihasilkan ternyata menyerap jasa FOH Tetap walaupun tidak secara langsung, maka wajar apabila biaya tadi dimasukkan sebagai komponen pembentuk produk tersebut.

Metode Variable Costing
Variable Costing adalah metode penentuan harga pokok yang hanya memasukkan komponen biaya produksi yang bersifat variabel sebagai unsur harga pokok, yang meliputi biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik variabel.
Variable costing beranggapan bahwa FOH Tetap tadi tidak secara langsung membentuk produk, maka tidak relevan kalau dimasukkan sebagai komponen harga pokok. Sebaiknya FOH Tetap dimasukkan dalam kelompok period cost (biaya periode).

Pengertian Harga Pokok Produksi
Suatu perusahaan perlu mengetahui tentang besarnya harga pokok produksi yang dihasilkan karena informasi ini dapat dijadikan sebagai salah satu pedoman dalam menentukan harga jual maupun untuk memperkirakan berapa keuntunga yang akan diperoleh dari hasil penjualan barang tersebut.
Harga Pokok Produksi menurut Hansen dan Mowen dalam bukunya ”Management Accounting” adalah sebagai berikut : “Harga pokok produksi adalah mewakili jumlah biaya barang yang diseleseikan pada periode tertentu”.(2004 ; 48)

Sedangkan menurut Supriyono dalam bukunya ”Sistem Pengendalian Manajemen” adalah sebagai berikut :
“Harga pokok produksi adalah aktiva atau jasa yang dikorbankan atau diserahkan dalam proses produksi yang meliputi biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, biaya overhead pabrik dan termasuk biaya produksi”.
(2002 ; 11)

Dari pengertian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa harga pokok produksi adalah biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi suatu produk pada waktu tertentu yang terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, dan biaya overhead pabrik.

Fungsi Harga Pokok Produksi
Dalam perusahaan yang produksinya berdasarkan pesanan maupun masal, informasi harga pokok produksi bagi manajemen mempunyai fungsi yang cukup penting yang dikutip oleh Mulyadi dalam bukunya ”Akuntansi Manajemen” yaitu diantaranya :
“1. Menentukan harga jual
2. Memantau realisasi biaya produksi
3. Menghitung laba / rugi bruto periode tertentu
4. Menentukan harga pokok persediaan produk jadi dan produk dalam proses disajikan dalam neraca ”.
(2004 ; 48)
Berikut ini penjelasan dari kutipan diatas :
1. Menentukan harga jual
Dalam penetapan harga jual produk, biaya produksi merupakan salah satu data yang dipertimbangkan disamping data biaya lain serta data non biaya.
2. Memantau realisasi biaya produksi
Jika rencana produksi untuk jangka waktu tertentu telah diputuskan untuk dilaksanakan, manajemen memerlukan informasi biaya produksi yang sesungguhnya dikeluarkan didalam pelaksanaan rencana produksi tersebut.
3. Menghitung laba / rugi bruto periode tertentu
Untuk mengetahui perusahaan menghasilkan laba bruto atau mengakibatkan rugi bruto manajemen memerlukan informasi biaya produksi, informasi laba atau rugi bruto periodik diperlukan untuk mengetahui kontribusi produk dalam menutup biaya non produksi dan menghasilkan laba/ rugi.
4. Menentukan harga pokok persediaan produk jadi dan produk dalam proses disajikan dalam neraca
Pada saat manajemen dituntut untuk membuat pertanggungjawaban keuangan periodik, manajemen harus menyediakan laporan keuangan berupa neraca dan laporan laba / rugi didalam neraca. Untuk itu manajemen harus menyajikan harga persediaan produk jadi dan harga pokok produk yang pada tanggal neraca masih dalam proses.

Unsur-unsur Biaya Harga Pokok Produksi
Dalam penetapan harga transfer terdapat unsur-unsur biaya harga pokok produksi yang diantaranya adalah biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, dan biaya overhead pabrik.

Biaya Bahan Baku
Bahan baku merupakan bahan yang membentuk bagian menyeluruh produk jadi. Bahan baku yang diolah dalam perusahaan manufaktur dapat diperoleh dari pembelian lokal, impor, atau dari pengolahan sendiri.
Menurut Supriyono dalam bukunya ”Akuntansi Manajemen” adalah sebagai berikut :
“Biaya bahan baku adalah harga perolehan, berbagai macam bahan baku yang dipakai didalam kegiatan pengolahan produk”. (2000 ; 19)

Sedangkan menurut Mulyadi dalam bukunya ”Akuntansi Biaya” adalah sebagai berikut :
“Biaya bahan baku merupakan bahan yang membentuk bagian menyeluruh produk jadi”.(2000 ; 295)

Berdasarkan beberapa definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa biaya bahan baku biaya semua bahan yang digunakan untuk membentuk barang jadi dan dapat dimasukan kedalam perhitungan harga pokok produk jadi. Pertimbangan utama dalam menggolongkan suatu bahan kedalam bahan baku adalah mudahnya bahan baku tersebut dapat ditelusuri sampai barang jadi.

Biaya Tenaga Kerja Langsung
Biaya tenaga kerja adalah harga yang dibebankan untuk penggunaan tenaga kerja oleh manusia. Tenaga kerja merupakan usaha fisik atau mental yang dikeluarkan karyawan untuk mengolah produk.
Menurut Henry Simamora dalam bukunya ”Akuntansi Manajemen” adalah sebagai berikut :
“Biaya Tenaga Kerja Langsung adalah biaya tenaga kerja yang dapat ditelusuri secara fisik kedalam pembuatan produk dalam pembuatan produk dan bisa pula ditelusuri dengan mudah atau tampa banyak biaya”.
(2002 ; 37)

Sedangkan menurut Supriyono dalam bukunya ”Akuntansi Manajemen” adalah sebagai berikut:
“Biaya tenaga kerja langsung adalah balas jasa yang diberikan oleh perusahaan kepada tenaga kerja langsung ”.(2002 ; 194)

Biaya tenaga kerja dapat dibagi kedalam tiga golongan, yaitu:
1. Gaji dan upah reguler yaitu jumlah gaji dan upah bruto dikurangi dengan potongan-potongan seperti pajak penghasilan karyawan dan biaya asuransi hari tua.
2. Premi lembur
3. Biaya-biaya yang berhubungan dengan tenaga kerja

Biaya Overhead Pabrik
Biaya overhead pabrik merupakan biaya yang tidak berhubungan langsung dengan pembuatan suatu produk akan tetapi mempunyai prestasi, yang mana prestasinya dibutuhkan untuk membuat produk tersebut.
Menurut Henry Simamora dalam bukunya ”Akuntansi Manajemen” adalah sebagai berikut :
“Biaya overhead pabrik adalah meliputi semua biaya pabrikasi selain biaya bahan baku langsung dan biaya tenaga kerja langsung”.(2002 ; 38)

Sedangkan menurut Supriyono dalam bukunya ”Akuntansi Manajemen” adalah:
“Biaya overhead pabrik adalah semua elemen biaya produksi selain biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja”. (2000 ; 293)

Dalam hal ini unsur-unsur yang diperhitungkan dalam harga pokok produksi yaitu barang dalam proses awal ditambah biaya produksi selama periode tersebut yang terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja dan biaya overhead pabrik, yang akan menghasilkan harga pokok barang siap diproses. Jumlah ini dikurangi dengan harga pokok barang dalam proses akhir dan didapatlah Harga Pokok Produksi.

Metode Harga Pokok Produksi
Metode harga pokok produksi dalam perusahaan manufaktur tediri dari harga pokok proses (process costing) dan harga pokok pesanan (job order costing). Pemilihan harga pokok produk ini tergantung pada sifat kegiatan produksinya yang dijalankan oleh perusahaan. Karena yang menjadi objek penelitian adalah perusahaan manufaktur yang sifat kegiatan produksinya berdasarkan pesanan maka pembahasan harga pokok produksi dalam penelitian ini terfokus pada harga pokok pesanan (job order costing).
Menurut Mulyadi dalam bukunya ”Akuntansi Biaya”, dalam memeperhitungkan unsur-unsur biaya kedalam harga pokok produksi terdapat dua pendekatan yaitu : “Pendekatan Full Costing dan Variabel Costing”.
(Mulyadi, 2000;18)

Adapun penjelasan dari kutipan diatas adalah sebagai berikut :
1. Pendekatan Full Costing
Full Costng merupakan metode harga pokok produksi yang memperhitungkan semua unsur biaya produksi kedalam harga pokok produksi yang terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik.
Harga pokok produksi yang dihitung dengan pendekatan Full Costing terdiri dari unsur harga pokok produksi ditambah biaya non produksi.
2. Pendekatan Variabel Costing
Pendekatan VariabelCosting merupakanmetode harga pokok produksi yang hanya memperhitungkan biaya produksi yang berperilaku variabel kedalam harga pokok produksi, yang terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead variabel.

Hubungan Harga Transfer Dengan Harga Pokok Produksi
Menurut Henry Simamora dalam bukunya yang berjudul “Akuntansi Manajemen”memaparkan sebagai berikut:
“Tujuan lain penentuan harga transfer adalah untuk mengevaluasi kinerja, dengan demikian memotivasi divisi penjualan dan divisi pembelian menuju keputusan yang selaras dengan tujuan perusahaan secara keseluruhan”.
(2002 ; 288-289)

Yang dimaksud divisi penjual dan divisi pembeli pada kedua pemaparan diatas adalah suatu unit usaha, dimana bahwa dengan menetapkan harga transfer suatu unit usaha akan termotivasi untuk memaksimalkan labanya dengan mengendalikan pendapatan dan biaya sebaik-baiknya.
Harga pokok produksi yang merupakan informasi sebagai dasar dalam penilaian persediaan yang akan dipengaruhi oleh unsur yang membentuk harga pokok tersebut, dimana tujuan dari adanya perhitungan harga pokok produksi adalah untuk menentukan jumlah biaya dalam proses, selain itu juga dapat digunakan sebagai dasar untuk pengambilan keputusan bagi manajemen perusahaan. Pengaruh harga transfer terhadap harga pokok produksi sangat besar sekali, karena dengan adanya harga transfer maka akan terawasi dan terkendalikan karena satu sama lain berpengaruh besar terhadap jalannya proses produksi. Harga pokok produksi pada suatu perusahaan akan dipengaruhi oleh pendekatan yang digunakan dalam menentukan unsur-unsur biaya produksi yang diperhitungkan dalam harga pokok produksi, dimana pendekatan dalam penetapan harga pokok produksi tersebut adalah metode full costng dan metode variabel costing

Harga Transfer
Latar Belakang Timbulnya Harga Transfer
Masalah penentuan harga transfer dijumpai dalam perusahaan yang organisasinya disusun menurut pusat-pusat laba, dan antar pusat laba yang dibentuk terjadi transfer barang atau jasa. Latar belakang timbulnya masalah harga transfer dapat dihubungkan dengan proses diferensiasi bisnis dan perlunya integrasi dalam organisasi yang telah melakukan diferensiasi bisnis.

Menurut Mulyadi dalam bukunya “Akuntansi Manajemen: Konsep, Manfaat dan Rekayasa” adalah sebagai berikut:
“Diferensiasi adalah proses pembagian pekerjaan menjadi tugas-tugas yang diperlukan untuk mencapai sasaran organisasi.”
(2001 ; 376)

Diferensiasi dapat dilaksanakan sebagai pelaksanaan strategi diversifikasi. Diversifikasi merupakan proses pembentukan unit-unit organisasi untuk menghadapi berbagai lingkungan industri. Semakin berkembang usaha perusahaan, semakin kompleks lingkungan bisnis yang dihadapi oleh manajemen. Perkembangan usaha perusahaan seringkali didorong oleh perluasan pasar, baik perluasan dari sudut customer yang harus dilayani maupun perluasan daerah pemasaran yang harus dijangkau oleh perusahaan.
Dengan perluasan pasar, perusahaan perlu mengembangkan berbagai sumber daya. Strategi diversifikasi umumnya ditempuh manajemen puncak untuk menghadapi perkembangan tersebut. Mengapa diversifikasi dilakukan oleh manajemen? Tentunya ada alasannya, seperti yang di kemukakan menurut Mulyadi dalam bukunya “Akuntansi Manajemen: Konsep, Manfaat dan Rekayasa” adalah sebagai berikut:
“Alasan dilakukannya strategi diversifikasi adalah pertama keputusan dilakukan oleh manajer yang dekat dengan masalah yang dihadapi kedua diversifikasi dapat memotivasi manajer tingkat bawah untuk meningkatkan kinerjanya”.
(2001 ; 376 – 377)

Diversifikasi biasanya ditempuh melalui proses divisionalisasi, yang merupakan pembentukan divisi-divisi yang diberi peran sebagai pusat laba. Semakin luas tingkat diversifikasi yang dilakukan oleh suatu perusahaan, semakin besar kebutuhan manajemen puncak akan alat untuk mengintegrasikan berbagai divisi yang telah dibentuk. Pada dasarnya divisi-divisi yang telah dibentuk dalam proses divisionalisasi bukan merupakan bagian dari perusahaan yang diberi wewenang besar untuk memperoleh laba dibawah pengelolaan manajemen puncak, maka agar divisi dibentuk tidak bercerai berai, manajemen puncak memerlukan mekanisme integrasi berbagai divisi yang telah dibentuk. Salahsatunya adalah dengan mekanisme harga transfer.
Menurut Mulyadi dalam bukunya “Akuntansi Manajemen: Konsep, Manfaat dan Rekayasa” harga transfer memiliki peran ganda, diantaranya adalah sebagai berikut:
“Harga transfer mempunyai peran ganda :
1. Harga transfer mempertegas diversifikasi yang dilakukan oleh manajemen puncak. Harga transfer menetapkan dengan tegas hak masing-masing manajer divisi untuk mendapatkan laba. Dalam penentuan harga transfer, masing-masing divisi yang terlibat merundingkan berbagai unsur yang membentuk harga transfer, karena akan berdampak terhadap laba yang dipakai sebagai pengukur kinerja mereka
2. Harga transfer berperan sebagai salahsatu alat untuk menciptakan mekanisme integrasi. Harga transfer mendekatkan dua atau lebih divisi yang semula melakukan bisnis secara independent”.
(2001 ; 377)

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa harga transfer memberikan solusi yang baik bagi para manajer divisi untuk memanfaatkan kesempatan dan potensi internal yang mereka miliki sebagai otonomi divisi untuk meningkatkan laba masing-masing divisi, karena besar kecilnya laba tiap divisi atau unit usaha akan dapat memperlihatkan kinerja masing-masing divisi atau unit produksi tersebut. Selain itu juga harga transfer merupakan salahsatu alat untuk menciptakan mekanisme integrasi, dimana harga transfer memberikan cara untuk menyatukan beberapa divisi atau unit usaha untuk bekerjasama didalam satu perusahaan.

Pengertian, Karakteristik dan Tujuan Harga Transfer
Pada banyak organisasi yang melakukan strategi diversifikasi, melalui proses divisionalisasi output dari salah satu divisi mungkin digunakan sebagai input pada divisi lainnya atau dengan kata lain terjadi transfer barang antar divisi atau pusat laba, karena tidak seluruh unit usaha dilengkapi fasilitas yang sama dan mengingat adanya keterbatasan dalam kemampuan serta efisiensi.
Terdapat beberapa pengertian harga transfer diantaranya sebagai berikut menurut Mulyadi dalam bukunya “Akuntansi Manajemen: Konsep, Manfaat dan Rekayasa” adalah sebagai berikut:
”Dalam arti luas harga transfer meliputi harga produk atau jasa yang ditransfer antara pusat pertanggungjawaban. Dengan demikian pengertian harga transfer meliputi semua bentuk alokasi biaya dari departemen produksi dan harga ”jual” produk yang ditransfer antar pusat laba. Dalam arti sempit harga transfer merupakan harga barang dan jasa yang ditransfer antar pusat laba dalam perusahaan yang sama”.
(2001 ; 381)

Sedangkan menurut Bambang Hariadi dalam bukunya “Akuntansi Manajemen Suatu Sudut Pandang” mendefinisikan sebagai berikut:
“Harga transfer merupakan pertukaran barang dan jasa antar divisi dalam suatu organisasi yang sama dengan tujuan untuk diproses lebih lanjut”.(2002 ; 308)

Kemudian menurut Abdul Halim dalam bukunya “Akuntansi Manajemen” mengungkapkan pengertian harga transfer sebagai berikut:
“Harga transfer adalah nilai produk atau jasa dipertukarkan (diperjualbelikan) antar pusat pertanggungjawaban didalam perusahaan”.
(2005 ; 176)

Dari beberapa definisi diatas dapat diambil suatu kesimpulan bahwa penetapan harga transfer merupakan mekanisme yang mengatur pembagian pendapatan yang dihasilkan dari kegiatan yang dilakukan oleh dua pusat laba atau lebih secara bersama-sama didalam suatu perusahaan. Apabila pusat laba dari sebuah perusahaan saling membeli dan menjual, ada dua keputusan yang harus dibuat secara periodik untuk tiap produk yang sedang diproduksi oleh satu unit usaha dan dijual ke unit usaha lain:
1. Keputusan pemilihan sumber (Sourcing decision), yaitu penentuan dimana produk harus diproduksi, apakah diproduksi didalam perusahaan atau dibeli dari pemasok luar.
2. Keputusan penentuan harga transfer (transfer pricing decision). Jika produk diproduksi didalam perusahaan, keputusan berikutnya yang harus dibuat adalah pada harga transfer berapa produk tersebut ditransfer dari divisi penjual ke divisi pembeli.

Dalam penentuan harga transfer, ada dua divisi yang terlibat, yaitu divisi penjual yang mentransfer barang atau jasa, dan divisi pembeli yang menerima transfer barang atau jasa dari divisi penjual. Menurut Mulyadi dalam bukunya “Akuntansi Manajemen: Konsep, Manfaat dan Rekayasa harga transfer pada hakekatnya memiliki tiga karakteristik berikut ini:
“1.Masalah harga transfer hanya timbul jika divisi yang terkait diukur kinerjanya berdasarkan atas laba yang diperoleh dan harga transfer merupakan unsur yang signifikan dalam membentuk biaya penuh
2.Harga transfer selalu mengandung unsur laba di dalamnya
3.Harga transfer merupakan alat untuk mempertegas diversifikasi sekaligus mengintegrasikan divisi yang terbentuk .”(2002 ; 382)

Dari uraian diatas terlihat jelas karakteristik-karakteristik yang ada pada harga transfer. Oleh karena itu ada dua hal yang selalu rundingkan oleh divisi penjual dan divisi pembeli didalam menentukan harga transfer, diantaranya sebagai berikut:
a. Dasar yang digunakan sebagai landasan penentuan harga transfer, yaitu biaya dan harga pasar.
b. Besarnya laba yang diperhitungkan dalam harga transfer. Dua faktor yang harus dirundingkan dalam menentukan besarnya laba yang diperhitungkan dalam harga transfer adalah:
(1) Dasar yang digunakan untuk menentukan laba yang diperhitungkan dalam harga transfer, dan
(2) Besarnya laba yang digunakan dalam penentuan harga transfer.
Menurut Supriyono dalam bukunya yang berjudul “Sistem Pengendalian Manajemen” harga transfer harus dirancang sedemikian rupa sehingga dapat mencapai tujuan berikut ini:
“(1) Memberikan informasi yang relevan bagi para manajer
(2) Mencapai keselarasan tujuan
(3) Mengukur kinerja ekonomi divisi
(4) Mengukur kinerja divisi
(5) Sederhana dan mudah”.
(2005 ; 283)

Tujuan harga transfer sebisa mungkin harus dicapai, karena dengan tercapainya tujuan harga transfer tersebut akan mengurangi masalah-masalah yang timbul. Oleh karena itu, harga transfer harus memotivasi para manajer divisi untuk bertindak sebagaimana berrfungsi sebagai manajer perusahaan yang terpisah. Namun di lain pihak, manajer divisi harus bertindak untuk kebaikan perusahaan secara keseluruhan. Pencapaian tujuan yang satu biasanya mengakibatkan distorsi pencapaian tujuan lainnya.

Metode Penetapan Harga Transfer

Banyak metode penentuan harga transfer yang digunakan, namun tidak ada harga transfer yang sempurna. Setiap metode mempunyai keunggulan sekaligus memiliki kelemahan jika dibandingkan dengan metode harga ttransfer lainnya.

Menurut Supriyono dalam bukunya “Sistem Pengendalian Manajemen” terdapat beberapa pendekatan umum dalam penetapan harga transfer, yaitu:
“(1) Metode harga transfer berdasarkan harga pasar (market based transfer price)
(2) Metode harga transfer berdasarkan biaya (cost based transfer price)”.
(2000 ; 416)

Kedua metode tersebut mempunyai perbedaan yang masing-masing mempunyai keunggulan dan kelemahan, untuk lebih jelasnya akan diterangkan sebagai berikut:
1. Metode harga transfer berdasarkan harga pasar (market based transfer price), yaitu harga transfer yang harus dibayar oleh unit usaha apabila unit usaha tersebut membeli barangnya dari pemasok luar, dimana harganya itu ditentukan oleh pasar. Apabila terdapat pasar eksternal bagi barang atau jasa yang ditransfer, maka harga pasar merupakan dasar yang sesuai bagi penetapan harga barang atau jasa yang ditransfer antar pusat pertanggungjawaban.
2. Metode harga transfer berdasarkan biaya cost based transfer price, yang mensyaratkan bahwa seluruh transfer berdasarkan biaya yang akan dipertimbangkan adalah: (1) biaya penuh (2) biaya penuh ditambah mark up, dan (3) biaya variable ditambah biaya tetap.
Masing-masing metode memberikan kontribusi laba yang berbeda-beda baik untuk divisi penjual maupun untuk divisi pembeli, yang terpenting adalah bagaimana metode tersebut dapat memuaskan masing-masing unit usaha serta meningkatkan kinerja mereka

JUST-IN-TIME ( JIT )

1. Pengertian JIT
Dalam pengertian luas, JIT adalah suatu filosofi tepat waktu yang memusatkan pada aktivitas yang diperlukan oleh segmen-segmen internal lainnya dalam suatu organisasi.
JIT mempunyai empat aspek pokok sebagai berikut:

1. Semua aktivitas yang tidak bernilai tambah terhadap produk atau jasa harus di eliminasi.Aktivitas yang tidak bernilai tambah meningkatkan biaya yang tidak perlu,misalnya persediaan sedapat mungkin nol.
2. Adanya komitmen untuk selalu meningkatkan mutu yang lebih tinggi.Sehingga produk rusak dan cacat sedapat mungkin nol,tidak memerlukan waktu dan biaya untuk pengerjaan kembali produk cacat, dan kepuasan pembeli dapat meningkat.
3. Selalu diupayakan penyempurnaan yang berkesinambungan (Continuous Improvement)dalam meningkatkan efisiensi kegiatan.
4. Menekankan pada penyederhanaan aktivitas dan meningkatkan pemahaman terhadap aktivitas yang bernilai tambah.

JIT dapat diterapkan dalam berbagai bidang fungsional perusahaan seperti misalnya pembelian, produksi, distribusi, administrasi dan sebagainya.

A. Pembelian JIT
Pembelian JIT adalah sistem penjadwalan pengadaan barang dengan cara sedemikian rupa sehingga dapat dilakukan penyerahan segera untuk memenuhi permintaan atau penggunaan.
Pembelian JIT dapat mengurangi waktu dan biaya yang berhubungan dengan aktivitas pembelian dengan cara:

1. Mengurangi jumlah pemasok sehingga perusahaan dapat mengurangi sumber-sumber yang dicurahkan dalam negosiasi dengan pamasoknya.
2. Mengurangi atau mengeliminasi waktu dan biaya negosiasi dengan pemasok.
3. Memiliki pembeli atau pelanggan dengan program pembelian yang mapan.
4. Mengeliminasi atau mengurangi kegiatan dan biaya yang tidak bernilai tambah.
5. Mengurangi waktu dan biaya untuk program-program pemeriksaan mutu.
Penerapan pembelian JIT dapat mempunyai pengaruh pada sistem akuntansi biaya dan manajemen dalam beberapa cara sebagai berikut:
1. Ketertelusuran langsung sejumlah biaya dapat ditingkatkan.
2. Perubahan “cost pools” yang digunakan untuk mengumpulkan biaya.
3. Mengubah dasar yang digunakan untuk mengalokasikan biaya sehingga banyak biaya tidak langsung dapat diubah menjadi biaya langsung.
4. Mengurangi perhitungan dan penyajian informasi mengenai selisih harga beli secara individual
5. Mengurangi biaya administrasi penyelenggaraan sistem akuntansi.

B. Produksi JIT
Produksi JIT adalah sistem penjadwalan produksi komponen atau produk yang tepat waktu, mutu, dan jumlahnya sesuai dengan yang diperlukan oleh tahap produksi berikutnya atau sesuai dengan memenuhi permintaan pelanggan.
Produksi JIT dapat mengurangi waktu dan biaya produksi dengan cara:

1. Mengurangi atau meniadakan barang dalam proses dalam setiap workstation (stasiun kerja) atau tahapan pengolahan produk (konsep persediaan nol).
2. Mengurangi atau meniadakan “Lead Time” (waktu tunggu) produksi (konsep waktu tunggu nol).
3. Secara berkesinambungan berusaha sekeras-kerasnya untuk mengurangi biaya setup mesin-mesin pada setiap tahapan pengolahan produk (workstation).
4. Menekankan pada penyederhanaan pengolahan produk sehingga aktivitas produksi yang tidak bernilai tambah dapat dieliminasi.

Perusahaan yang menggunakan produksi JIT dapat meningkatkan efisiensi dalam bidang:
1. Lead time (waktu tunggu) pemanufakturan
2. Persediaan bahan, barang dalam proses, dan produk selesai
3. Waktu perpindahan
4. Tenaga kerja langsung dan tidak langsung
5. Ruangan pabrik
6. Biaya mutu
7. Pembelian bahan

Penerapan produksi JIT dapat mempunyai pengaruh pada sistem akuntansi biaya dan manajemen dalam beberapa cara sebagai berikut:
1. Ketertelusuran langsung sejumlah biaya dapat ditingkatkan
2. Mengeliminasi atau mengurangi kelompok biaya (cost pools) untuk aktivitas tidak langsung
3. Mengurangi frekuensi perhitungan dan pelaporan informasi selisih biaya tenaga kerja dan overhead pabrik secara individual
4. Mengurangi keterincian informasi yang dicatat dalam “work tickets”

2. Pemanufakturan JIT dan Penentuan Biaya Produk
Pemanufakturan JIT menggunakan pendekatan yang lebih memusat daripada yang ditemui dalam pemanufakturan tradisional.Penggunaan sistem pemanufakturan JIT mempunyai dampak pada:
1. Meningkatkan Keterlacakan (Ketertelusuran) biaya.
2. Meningkatkan akurasi penghitungan biaya produk.
3. Mengurangi perlunya alokasi pusat biaya jasa (departemen jasa)
4. Mengubah perilaku dan relatif pentingnya biaya tenaga kerja langsung.
5. Mempengaruhi sistem penentuan harga pokok pesanan dan proses.

Dasar-dasar pemanufakturan JIT dan perbedaannya dengan pemanufakturan tradisional:

2.1. JIT Dibandingkan dengan Pemanufakturan Tradisional.
Pemanufakturan JIT adalah sistem tarikan permintaan (Demand-Pull). Tujuan pemanufakturan JIT adalah memproduksi produk hanya jika produk tersebut dibutuhkan dan hanya sebesar jumlah permintaan pembeli (pelanggan). Beberapa perbedaan pemanufakturan JIT dengan Tradisional meliputi:

a. Persediaan Rendah
b. Sel-sel Pemanufakturan dan Tenaga Kerja Interdisipliner
c. Filosofi TQC (Total Quality Control)

2.2. JIT dan Ketertelusuran Biaya Overhead
Dalam lingkungan JIT, beberapa aktivitas overhead yang tadinya digunakan bersama untuk lebih dari satu lini produk sekarang dapat ditelusuri secara langsung ke satu produk tunggal. Manufaktur yang berbentuk sel-sel, tanaga kerja yang terinterdisipliner, dan aktivitas jasa yang terdesentralisasi adalah karakteristik utama JIT.

2.3. Keakuratan Penentuan Biaya Produk dan JIT
Salah satu konsekuensi dari penurunan biaya tidak langsung dan kenaikan biaya langsung adalah meningkatkan keakuratan penentuan biaya (Harga Pokok Produk).
Pemanufakturan JIT, dengan mengurangi kelompok biaya tidak langsung dan mengubah sebagian besar dari biaya tersebut menjadi biaya langsung maupun sebaliknya, dapat menurunkan kebutuhan penaksiran yang sulit.

2.4. JIT dan Alokasi Biaya Pusat Jasa
Dalam manufaktur tradisional, sentralisasi pusat-pusat jasa memberikan dukungan pada berbagai departemen produksi. Dalam lingkungan JIT, banyak jasa didesentralisasikan.Hal ini dicapai dengan membebankan pekerja dengan keahlian khusus secara langsung ke lini produk dan melatih tenaga kerja langsung yang ada dalam sel-sel untuk melaksanakan aktivitas jasa yang semula dilakukan oleh tenaga kerja tidak langsung.

2.5. Pengaruh JIT pada Biaya Tenaga Kerja Langsung
Sebagai perusahaan yang menerapkan JIT dan otomatisasi, biaya tenaga kerja langsung tradisional dikurangi secara signifikan.Oleh sebab itu ada dua akibat:
1. Persentasi biaya tenaga kerja langsung dibandingkan total biaya produksi menjadi berkurang
2. Biaya tenaga kerja langsung berubah dari biaya variabel menjadi biaya tetap.

2.6. Pengaruh JIT pada Penilaian Persediaan
Salah satu masalah pertama akuntansi yang dapat dihilangkan dengan penggunaan pemanufakturan JIT adalah kebutuhan untuk menentukan biaya produk dalam rangka penilaian persediaan. Jika terdapat persediaan, maka persediaan tersebut harus dinilai, dan penilaiannya mengikuti aturan-aturan tertentu untuk tujuan pelaporan keuangan. Dalam JIT diusahakan persediaan nol (atau paling tidak pada tingkat yang tidak signifikan), sehingga penilaian persediaan menjadi tidak relevan untuk tujuan pelaporan keuangan.Dalam JIT, keberadaan penentuan harga pokok produk hanya untuk memuaskan tujuan manajerial. Manajer memerlukan informasi biaya produk yang akurat untuk membuat berbagai keputusan misalnya: (a) penetapan harga jual berdasar cost-plus, (b) analisis trend biaya, (c) analisis profitabilitas lini produk, (d) perbandingan dengan biaya para pesaing, (e) keputusan membeli atau membuat sendiri, dsb.

2.7. Pengaruh JIT pada Harga Pokok Pesanan
Dalam penerapan JIT untuk penentuan order pesanan, pertama, perusahaan harus memisahkan bisnis yang sifatnya berulang-ulang dari pesanan khusus.Selanjutnya, sel-sel pemanufakturan dapat dibentuk untuk bisnis berulang-ulang.
Dengan mereorganisasi tata letak pemanufakturan, pesanan tidak membutuhkan perhatian yang besar dalam mengelompokkan harga pokok produksi. Hal ini karena biaya dapat dikelompokkan pada level selular. lagi pula, karena ukuran lot sekarang lebih sangat kecil,maka tidak praktis untuk menyusun kartu harga pokok pesanan untuk setiap pesanan. Maka lingkungan pesanan akan menggunakan sifat sistem harga pokok proses.

2.8. Penentuan Harga Pokok Proses dan JIT
Dalam metode proses, perhitungan biaya per unit akan menjadi lebih rumit karena adanya persediaan barang dalam proses. Dengan menggunakan JIT, diusahakan persediaan nol, sehingga penghitungan unit ekuivalen tidak terlalu dibutuhkan, dan tidak perlu menghitung biaya dari periode sebelumnya. JIT secara signifikan mengarah pada penyederhanaan.

2.9. JIT dan Otomasi
Sejak sistem JIT digunakan, biasanya hanya menunjukkan kemungkinan otomasi dalam beberapa hal. Karena tidaklah umum bagi perusahaan yang menggunakan JIT untuk mengikutinya dengan pemilikan teknologi pemenufakturan maju. Otomasi perusahaan untuk : (a) menaikkan kapasitas produksi, (b) menaikkan efisiensi, (c) meningkatkan mutu dan pelayanan, (d) menurukan waktu pengolahan, (e) meningkatkan keluaran.
Otomasi meningkatkan kemampuan untuk menelusuri biaya pada berbagai produk secara individual. sebagai contoh sel-sel FMS, merupakan rekan terotomasi dari sel-sel pemanufakturan JIT. Jadi. beberapa biaya yang merupakan biaya yang tidak langsung dalam lingkungan tradisional sekarang menjadi biaya langsung.

2.10. Penentuan Harga Pokok Backflush
Penentuan harga pokok backflush mengeliminasi rekening barang dalam proses dan membebankan biaya produksi secara langsung pada produk selesai. Perusahaan menggunakan backflush costing jika terdapat kondisi-kondisi sebagai berikut :

1. Manajemen ingin sistem akuntansi yang sederhana.
2. Setiap produk ditentukan biaya standarnya.
3. Metode ini menghasilkan penentuan harga pokok produk yang kira-kira mengasilkan informasi keuangan yang sama dengan penelusuran secara berurutan.

Ada dua perubahan relatif pada sistem konvensional yaitu :
1. Perubahan Akuntansi Bahan
2. Perubahan Akuntansi Biaya Konversi

2.1 Pengertian Biaya
Pemahaman mengenai biaya penting sekali karena penerapan biaya yang tepat dapat digunakan untuk membantu proses perencanaan, pengendalian, dan pembuatan keputusan ekonomi. Ketidaktepatan atau kesalahtafsiran biaya, bisa berakibat pembuatan keputusan yang kurang tepat. Sebelum kita mengetahui macam-macam biaya dan penggolongannya, terlebih dahulu harus mengerti tentang arti biaya tersebut. Pengertian biaya menurut R.A Supriyono (1987 : 185) mengemukakan sebagai berikut :
Biaya didefinisikan sebagai pengorbanan ekonomis yang dibuat untuk memperoleh barang atau jasa. Dengan kata lain biaya adalah harga perolehan barang atau jasa yang diperlukan oleh organisasi. Besarnya biaya diukur dalam satuan moneter, di Indonesia adalah rupiah, yang jumlahnya dipengaruhi oleh transaksi dalam rangka pemilihan barang dan jasa tersebut.

Sedangkan menurut Harnanto (1992 : 24) mengatakan sebagai berikut :
Biaya adalah jumlah uang yang dinyatakan dari sumber-sumber ekonomi yang dikorbankan untuk mendapatkan sesuatu atau mencapai tujuan tertentu.
Dari pengertian di atas terdapat empat unsur pokok dalam definisi biaya yang biaya merupakan pengorbanan sumber ekonomis, diukur dalam satuan uang, jumlahnya dipengaruhi oleh transaksi dan pengorbanan untuk tujuan tertentu.

2.1.2 Manfaat Data Biaya
Biaya-biaya yang dikumpulkan sesuai dengan golongan atau klasifikasi yang diinginkan, kemudian disajikan dan dianalisa, akan sangat bermanfaat bagi manajemen. Data biaya tersebut akan dapat dimanfaatkan oleh manajemen untuk berbagai tujuan. Manfaat dari data biaya antara lain :
a. Untuk Tujuan Pengawasan
Data biaya yang dihasilkan dari akuntansi biaya merupakan salah satu data yang digunakan manajemen dalam membuat perencanaan baik rencana produksi, bahan baku, tenaga kerja langsung, dan overhead pabrik. Selain itu akuntansi biaya juga melakukan pencatatan-pencatatan biaya yang terjadi. Dalam proses pencatatan tersebut data biaya dapat digunakan untuk mengawasi kegiatan perusahaan yaitu dengan membandingkan antara biaya sesungguhnya dengan biaya yang ditargetkan.
b. Membantu dalam Penetapan Harga Jual
Penentuan harga jual dapat dilakukan untuk suatu periode yang diinginkan, melalui pengetahuan tentang data biaya dan volume penjualan masa lalu. Harga jual yang ditentukan tentu saja diusahakan haga jual yang minimal dapat menutup semua biaya yang terjadi.
c. Untuk Menghitung R/L Periodik
Perhitungan rugi laba periodik untuk suatu perusahaan dilakukan dengan jelas, mempertemukan antara penghasilan (dalam hal ini hasil penjualan) dengan biaya-biaya yang terjadi.

d. Untuk Pengendalian Biaya
Yang dimaksud pengendalian biaya dalam hal ini adalah pengendalian melalui akuntansi pertanggungjawaban. Akuntansi pertanggungjawaban merupakan sistem akuntansi yang disusun sedemikian rupa sehingga pengumpulan dan pelaporan biaya dan penghasilan sesuai dengan bidang pertanggungjawaban dalam organisasi.
e. Untuk Pengambilan Keputusan
Data biaya sangat diperlukan oleh manajemen dalam pengambilan keputusan. Pentingnya data biaya untuk pengambilan keputusan manajemen misalnya keputusan untuk memproduksi sendiri komponen yang diproduksi atau membeli di pasaran bebas guna merakit suatu model produk.
Dari manfaat-manfaat data biaya yang telah dikemukakan di atas terlihat jelas bahwa data biaya itu berhubungan dengan masa lalu, masa sekarang, dan masa yang akan datang. Perhitungan rugi laba periodik termasuk di dalamnya penentuan nilai persediaan berhubungan dengan masa lalu. Pengendalian biaya berhubungan dengan masa sekarang, perencanaan, strategi harga, dan analisa data biaya untuk pembuatan keputusan berhubungan dengan masa yang akan datang.

2.1.3 Penggolongan Biaya
Penggolongan adalah proses pengelompokan secara sistematis atau keseluruhan elemen yang ada ke dalam golongan-golongan tertentu yang lebih ringkas untuk memberikan informasi yang lebih penting.
Untuk menyajikan informasi biaya yang bermanfaat pada berbagai tingkatan manajemen, biaya dapat digolongkan sesuai dengan informasi yang diperlukan oleh manajemen. Kebutuhan informasi ini mendorong timbulnya berbagai cara penggolongan biaya sehingga dikenal konsep penggolongan biaya yang berbeda untuk tujuan yang berbeda. Informasi manajemen dapat digunakan oleh manajemen untuk berbagai tujuan. Jika tujuan manajemen berbeda maka diperlukan cara penggolongan biaya yang dapat memenuhi informasi untuk semua tujuan. Di bawah ini akan dibahas berbagai cara penggolongan biaya yang pokok, yaitu :
1. Penggolongan Biaya Sesuai dengan Fungsi Pokok Kegiatan Perusahaan
Tujuan penggolongan biaya sesuai dengan fungsi pokok kegiatan perusahaan adalah :
• Untuk dapat menyajikan laporan keuangan yang wajar. Kesalahan di dalam penggolongan biaya, misalnya : biaya produksi diperlukan sebagai biaya non produksi, berakibat penyajian laporan keuangan dinyatakan terlalu besar atau terlalu kecil.
• Untuk melaksanakan proses manajemen, misalnya : proses perencanaan, proses pembuatan keputusan, dan proses pengendalian.

• Penggolongan Fungsi Pokok Perusahaan •
Perusahaan manfaktur mempunyai fungsi pokok yang lebih kompleks dibandingkan dengan perusahaan dagang dan perusahaan jasa. Hal ini disebabkan karena perusahaan manufaktur harus mengubah bentuk barang yang dibeli menjadi produk selesai sedangkan perusahaan dagang langsung menjual barang yang dibeli tanpa melakukan pengubahan bentuk. Pada perusahaan jasa, sumber daya manusia dengan menggunakan fasilitas organisasi langsung mengerahkan jasa kepada langganan. Dalam pembahasan ini dititikberatkan untuk perusahaan manufaktur, karena dengan mengetahui penggolongan fungsi dan biaya, perusahaan manufaktur diharapkan dapat mengetahui struktur fungsi dan biaya pada bentuk usaha yang lainnya.
a. Fungsi produksi adalah fungsi untuk mengubah atau mengolah bahan baku menjadi produk selesai yang siap untuk dijual kepada para pembeli.
b. Fungsi non produksi adalah meliputi fungsi-fungsi dalam suatu perusahaan selain fungsi produksi, bertujuan agar produk yang dihasilkan oleh fungsi produksi dapat dipasarkan dan kegiatan perusahaan dapat berdaya guna (efisien) dan berhasil guna (efektif) dalam perolehan dan penggunaan sumber-sumber perusahaan.

• Penggolongan Biaya Sesuai dengan Fungsi •
Setelah diketahui penggolongan fungsi-fungsi dalam perusahaan maka biaya dapat digolongkan sesuai dengan fungsi-fungsi tersebut di atas, yaitu :
a. Biaya Produksi
Meliputi semua biaya yang berhubungan dengan fungsi produksi yaitu semua biaya dalam rangka pengolahan bahan baku menjadi produk selesai yang siap dijual. Biaya produksi dapat digolongkan ke dalam tiga kelompok, yaitu :
(1) Biaya Bahan Baku
Bahan baku adalah berbagai macam bahan yang diolah menjadi produk selesai dan pemakaiannya dapat diikuti jejaknya.
Biaya bahan baku adalah harga perolehan berbagai macam bahan baku yang dipakai di dalam kegiatan pengolahan produk.
(2) Biaya Tenaga Kerja Langsung
Tenaga kerja langsung adalah tenaga kerja yang jasanya dapat diikuti jejak manfaatnya pada produk tertentu.
Biaya tenaga kerja langsung adalah balas jasa yang diberikan oleh perusahaan kepada tenaga kerja langsung dan jejak manfaatnya dapat diidentifikasikan pada produk tertentu.
(3) Biaya Overhead Pabrik
Adalah biaya produksi selain biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung, antara lain :
– Biaya bahan penolong.
– Biaya tenaga kerja tidak langsung.
– Biaya depresiasi dan amortisasi aktiva tetap.
– Biaya reparasi dan pemeliharaan aktiva tetap.
– Biaya listrik dan air.
– Biaya asuransi.
– Biaya overhead pabrik lain-lain.

b. Biaya Non Produksi
Dengan semakin tajamnya persaingan dan perkembangan teknologi yang semakin pesat mengakibatkan kegiatan dan biaya non produksi menjadi semakin penting pula, sehingga manajemen berkepentingan untuk mengendalikan dan memerlukan informasi kegiatan dan biaya non produksi. Pada umumnya, biaya non produksi digolongkan sesuai dengan penggolongan fungsi atau kegiatan non produksi, sehingga biaya tersebut digolongkan ke dalam :
(1) Biaya Pemasaran
Adalah meliputi semua biaya dalam rangka melaksanakan kegiatan pemasaran atau kegiatan untuk menjual barang dan jasa perusahaan kepada para pembeli sampai dengan pengumpulan piutang menjadi kas, meliputi :
1. Biaya untuk Menimbulkan Pesanan
a. Biaya fungsi promosi dan advertensi.
b. Biaya fungsi penjualan.
2. Biaya untuk Melayani Pesanan
a. Biaya fungsi penggudangan dan penyimpanan produk selesai.
b. Biaya fungsi pengepakan dan pengiriman.
c. Biaya pemberian kredit dan penagihan piutang.
d. Biaya fungsi administrasi penjualan.

(2) Biaya Administrasi dan Umum
Meliputi semua biaya dalam rangka melaksanakan fungsi administrasi dan umum yaitu biaya perencanaan, penentuan strategi dan kebijaksanaan, pengarahan, dan pengendalian kegiatan agar berdaya guna dan berhasil guna, meliputi :
a. Biaya direksi dan staf.
b. Biaya fungsi akuntansi.
c. Biaya fungsi keuangan.
d. Biaya fungsi personalia.
e. Biaya fungsi humas dan keamanan.
f. Biaya fungsi administrasi dan umum lainnya.

(3) Biaya Finansial
Yaitu semua biaya dalam rangka melaksanakan fungsi finansial maksudnya fungsi pemenuhan dana yang diperlukan oleh perusahaan, misalnya :
a. Biaya bunga.
b. Biaya penerbitan obligasi.
c. Biaya finansial lain.

2. Penggolongan Biaya ke dalam Biaya Produk dan Biaya Periode
Tujuannya yaitu untuk penyusunan laporan keuangan baik untuk pihak eksternal maupun internal. Di bawah ini akan dibahas kedua penggolongan biaya tersebut.
a. Biaya Produk
Adalah biaya yang dapat diidentifikasikan sebagai bagian harga perolehan persediaan, biaya ini merupakan harga preolehan barang dagangan yang dibeli dengan tujuan untuk dijual atau harga pokok produk yang dihasilkan perusahaan dengan tujuan untuk dijual.
b. Biaya Periode
Adalah meliputi biaya yang dapat diidentifikasikan dengan ukuran periode atau jarak waktu tertentu daripada dengan pemindahan barang atau pengerahan jasa.

3. Penggolongan Biaya berdasar Perilaku Biaya
Penggolongan biaya berdasar perilaku biaya adalah dalam rangka menyajikan informasi biaya yang bermanfaat untuk :
a. Menyusun rencana kegiatan.
b. Membuat keputusan khusus.
c. Mengendalikan kegiatan perusahaan.
Atas dasar perilakunya, biaya dapat dikelompokkan ke dalam :

(1) Biaya Tetap
Adalah biaya yang jumlah totalnya tetap konstan, tidak dipengaruhi oleh perubahan volume kegiatan atau aktivitas sampai dengan tingkatan tertentu.
(2) Biaya Variabel
Adalah biaya yang jumlah totalnya berubah secara sebanding dengan perubahan volume kegiatan. Semakin tinggi volume kegiatan maka semakin tinggi pula total biaya variabel.
Elemen biaya variabel ini terdiri atas : biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung yang dibayar per buah produk / per jam, biaya overhead pabrik variabel, biaya pemasaran variabel.
(3) Biaya Semi Variabel
Adalah biaya yang jumlah totalnya berubah sesuai perubahan volume kegiatan. Contoh : biaya listrik, biaya telepon, biaya reparasi dan pemeliharaan mesin, biaya kendaraan.
4. Penggolongan Biaya Sesuai dengan Obyek atau Pusat Biaya
Bertujuan untuk :
a. Pembebanan biaya kepada setiap pusat biaya dengan adil dan teliti.
b. Pengendalian biaya.
c. Pembuatan keputusan.

Atas dasar obyek atau pusat biaya, biaya digolongkan menjadi :
(1) Biaya Langsung
Adalah biaya yang terjadi atau manfaatnya dapat diidentifikasikan kepada obyek atau pusat biaya tertentu.
(2) Biaya Tidak Langsung
Adalah biaya yang terjadi atau manfaatnya tidak dapat diidentifikasikan pada obyek atau pusat biaya tertentu.

5. Penggolongan Biaya Sesuai dengan Periode Akuntansi Dimana Biaya akan Dibebankan
Penggolongan biaya ini bertujuan untuk ketelitian dan keadilan pembebanan biaya pada periode akuntansi yang menikmatinya.
a. Pengeluaran Modal
Adalah pengeluaran yang akan dapat memberikan manfaat pada beberapa preiode akuntansi atau pengeluaran yang akan dapat memberikan manfaat pada periode akuntansi yang akan datang.
b. Pengeluaran Penghasilan
Adalah pengeluaran yang akan memberikan manfaat hanya pada periode akuntansi dimana pengeluaran terjadi.
6. Penggolongan Biaya untuk Tujuan Pengendalian Biaya
Untuk pengendalian biaya, informasi biaya yang ditujukan kepada manajemen dikelompokkan ke dalam :

a. Biaya Terkendalikan
Adalah biaya yang secara langsung dapat dipengaruhi oleh seorang pimpinan tertentu dalam jangka waktu tertentu.
b. Biaya tidak Terkendalikan
Adalah biaya yang tidak dapat dipengaruhi oleh seorang pimpinan/ pejabat tertentu berdasar wewenang yang dia miliki atau tidak dapat dipengaruhi oleh seorang pejabat dalam jangka waktu tertentu.

7. Penggolongan Biaya Sesuai dengan Tujuan Pengambilan Keputusan.
Untuk tujuan pengambilan keputusan manajemen, data biaya dikelompokkan ke dalam :
a. Biaya Relevan
Adalah biaya masa depan yang berbeda pada berbagai macam alternatif. Biaya tersebut akan mempengaruhi pengambilan keputusan, oleh karena itu biaya tersebut harus diperhitungkan dalam pengambilan keputusan. Pengambilan keputusan dapat berupa pemilihan dua alternatif atau pemilihan lebih dari dua alternatif.
b. Biaya tidak Relevan
Adalah biaya yang tidak mempengaruhi pengambilan keputusan. Biaya tidak relevan umumnya adalah biaya masa lalu atau biaya yang tidak berbeda pada berbagai alternatif.

2.1.4 Biaya Produksi
Biaya produksi meliputi semua biaya yang berhubungan dengan fungsi produksi yaitu semua biaya dalam rangka pengolahan bahan baku menjadi produk selesai yang siap untuk dijual. Menurut pendapat R.A Supriyono (1987 : 198), biaya produksi dapat digolongkan ke dalam tiga kelompok, yaitu :
a. Biaya bahan baku adalah harga perolehan berbagai macam bahan baku yang dipakai di dalam kegiatan pengolahan produk.
b. Biaya tenaga kerja langsung adalah balas jasa yang diberikan oleh perusahaan kepada tenaga kerja langsung dan jejak manfaatnya dapat diidentifikasikan pada produk tertentu.
c. Biaya overhead pabrik adalah biaya produksi selain biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung, elemennya dapat digolongkan ke dalam : biaya bahan penolong, biaya tenaga kerja tidak langsung, biaya depresiasi dan amortisasi aktiva tetap pabrik, biaya reparasi dan pemeliharaan aktiva tetap pabrik, biaya listrik dan air pabrik, biaya asuransi pabrik, biaya overhead pabrik lain-lain.

2.1.5 Tujuan Perhitungan Biaya Produksi
Biaya produksi terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik. Dimana biaya-biaya tersebut terjadi dalam hubungannya dengan pengolahan bahan baku menjadi produk jadi. Adapun tujuan perhitungan biaya produksi adalah :

1. Untuk Menentukan Harga Penjualan yang Menguntungkan
Dalam rangka penentuan harga produk agar dapat memperoleh keuntungan, maka seorang produsen harus mengetahui besarnya biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi produk tersebut, atau dengan kata lain harus mengetahui harga pokok produk yang bersangkutan ditambah dengan prosentase laba yang diharapkan.
2. Untuk Mengetahui atau Menilai Efisiensi Proses Produksi
Harga pokok suatu hasil produksi merupakan suatu patokan yang harus dipegang oleh manajemen perusahaan. Oleh sebab itu, sebelum produksi dinilai, terlebih dahulu masing-masing unsur biaya harus benar-benar mendapatkan perencanaan dan pengawasan. Dengan demikian, adanya patokan tersebut maka dapat diperoleh efisiensi.
3. Memberikan kemungkinan kepada pimpinan perusahaan memperoleh bahan-bahan yang mereka butuhkan pada waktu mereka harus mengambil keputusan.
4. Untuk memperoleh suatu dasar penilaian untuk neraca dari barang-barang hasil jadi yang dibuat sendiri yang masih terdapat dalam persediaan pada tanggal penyusunan neraca.

I. Pengertian Sistem Biaya Taksiran
Sistem harga pokok taksiran adalah salah satu sistem harga pokok yang ditentukan di muka untuk mengolah produk atau jasa tertentu dengan jalan menentukan besarnya biaya bahan baku (raw material cost), biaya tenaga kerja langsung (direct labor cost) dan biaya overhead pabrik (factory overhead) yang diperlukan untuk mengolah produk atau jasa tersebut di waktu yang akan datang.
Harga pokok taksiran yang sudah ditentukan akan dipakai sebagai dasar untuk :
a. Mencatat harga pokok produk atau jasa ke dalam rekening buku besar.
b. Membandingkan biaya taksiran dengan biaya yang sesungguhnya terjadi, serta menentukan besarnya selisih yang timbul.

II. Kebaikan Sistem Harga Pokok Taksiran
1. Dapat mengurangi atau menekan biaya adminstrasi ( administrative expense).
Penggunaan beberapa dokumen dasar pada sistem ini dapat dikurangi dan perhitungan harga pokok atau jasa dapat dengan cepat diadakan, sehungga dapat mengurangi besarnya biaya administrasi.
2. Dapat menyediakan informasi untuk pengambilan keputusan (decision making) .
Manajemen memerlukan informasi biaya untuk pengambilan keputusan tentang produk atau jasa sebelum diolah, dan pemakaian harga pokok taksiran menyediakan informasi kepada manajemen untuk pengambilan keputusan tersebut.
3. Mengantar ke pemakaian sistem harga pokok standar (standard costing ).
Sistem harga pokok taksiran merupakan transisi dari pemakaian sistem harga pokok sesungguhnya menuju pemakaian sistem harga pokok standar.

III. Kelemahan Sistem Harga Pokok Taksiran
1. Harga pokok taksiran yang ditentukan kurang teliti baru dapat dikoreksi pada akhir periode setelah selisih biaya dihitung dan dialokasikan.
2. Timbulnya selisih biaya yang besar dapat mengakibatkan pengambilan keputusan yang keliru, karena pengambilan keputusan dilakukan sebelum produk atau jasa tersebut diolah.

IV. Penentuan Besarnya Harga Pokok Taksiran
Tanggung jawab penyusunan besarnya harga pokok taksiran berada pada cost estimator yang berada dibawah bagian teknik produksi dan memiliki kapabilitas untuk pekerjaan tersebut.
1. Taksiran biaya bahan baku (estimated raw material cost)
Taksiran biaya bahan baku meliputi taksiran kuantitas (estimated quantity) setiap jenis bahan baku yang diperlukan untuk mengolah setiap satuan produk tertentu dan taksiran harga setiap jenis bahan baku yang diperlukan terebut. Apabila di dalam pengolahan timbul sisa bahan(scrap) yang mempunyai nilai, maka sisa bahan tersebut diperlakukan sebagai pengurang taksiran biaya bahan baku. Dasar penentuan yang digunakan dalam menentukan taksiran kuantitas bahan baku adalah : (a) spesifikasi teknis dari produk yang akan diolah, (b) pilot runs, (c) catatan prestasi masa lalu, (d) rata-rata pemakaian bahan baku dari produk yang telah selesai dan sebagainya.
Faktor-faktor yang dapat dipakai sebagai dasar penentuan taksiran harga bahan baku dapat berasal dari beberapa sumber seperti : (a) kontrak pembelian bahan jangka panjang, (b) daftar harga dari suplier, (c) trend dan prediksi harga pasar dan sebagainya.
2. Taksiran biaya tenaga kerja langsung (estimated direct labor cost)
Besarnya taksiran biaya tenaga kerja langsung dipengaruhi oleh sistem pengupahan yang berlaku di perusahaan.
Bila menggunakan sistem upah perpotong (buah) rpoduk yang dihasilkan, besarnya taksiran biaya tenaga kerja langsung dapat diperoleh dari penentuan taksiran upah perpotong yang akan digunakan untuk waktu yang akan datang.
Bila sistem yang digunakan perusahaan sistem upah per jam kerja langsung, besarnya taksiran biaya tenaga kerja langsung dapat ditentukan dengan menaksir waktu yang diperlukan untuk mengolah satu satuan produk dan menaksir besarnya tarif biaya tenaga kerja langsung perjam yang akan berlaku untuk waktu yang akan datang.
Untuk perusahaan ygang menggunakan sistem upah tenaga kerja langsung atas dasar upah tetap per bulan, maka besarnya taksiran biaya tenaga kerja langsung ditentukan dengan menjumlah total biaya tenaga kerja langsung dalam satu periode dibagi volume produksi yang ditaksir (direncanakan) akan dihasilkan dalam periode tersebut.
3. Taksiran biaya overhead pabrik (estimated FOH)
Dimulai dengan menaksir besarnya setiap elemen biaya overhead pabrik dalam periode tertentu yang dikelompokkan pula atas dasar tingkat variabilitas biaya ( biaya tetap dan biaya variabel ). Untuk menentukan biaya taksiran setiap buah produk yang dihasilkan maka jumlah taksiran BOP tersebut dibagi dengan taksiran kapasitas yang akan dipakai sebagai dasar pembebanan BOP.

V. Pemakaian Sistem Harga Pokok Taksiran
1. Metode harga pokok proses (process cost method).
Karakteristiknya adalah bentuk produk yang sifatnya homogen tanpa dipengaruhi oleh spesifikasi yang diminta oleh pembeli. Pada metode ini besarnya harga pokok taksiran ditentukan pada awal periode untuk setiap produk yang dihasilkan, sedangkan apabila produk diproses melalui beberapa departemen maka besarnya harga pokok taksiran ditentukan untuk setiap departemen dimana produk tersebut diproduksi.
2. Metode harga pokok pesanan (job cost method).
Produk yang dihasilkan tergantung dari spesifikasi dari pemesan. Besarnya harga pokok taksiran untuk setiap pesanan belum dapat ditentukan pada awal periode akan tetapi harus dihitung pada saat akan memnerima pesanan tertentu yang sekaligus harga pokok taksiran tersebut dapat dipakai manajemen untuk memutuskan ditolak atau diterimanya pesanan tersebut. Besarnya harga pokok taksiran pada metode ini dipengaruhi oleh spesifikasi produk yang dipesan dan faktor-faktor lainnya yang perlu dipertimbangkan.

VI. Prosedur Akuntansi Sistem Harga Pokok Taksiran
1. Harga pokok taksiran disusun untuk dimasukkan kedalam sistem akuntansi perusahaan
2. Rekening persediaan bahan baku, biaya gaji dan upah, serta rekening BOP didebit dan dikredit sebesar harga pokok atau biaya yang sesungguhnya.
3. Rekening barang dalam proses untuk biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik dibebani (didebit) dengan biaya yang sesungguhnya dinikmati. Rekening ini dikredit atas produk yang selesai atau produk dalam proses pada akhir periode sebesar harga pokok taksiran.
4. Rekening persediaan produk selesai didebit sebesar harga pokok taksiran aas produk selesai dan dikredit sebesar sebesar harga pokok taksiran atas produk selesai yang dijual.
5. Rekening harga pokok penjualan didebit sebesar harga pokok taksiran atas produk selesai yang dijual
6. Pada akhir periode harga pokok produk dalam proses dipindahkan dari setiap rekening barang dalam proses ke dalam rekening persedian produk dalam proses sebesar harga pokok taksirannya.
7. Pada akhir periode dihitung selisih biaya yang timbul, dengan jalan membandingkan jumlah debit setiap rekening barang dalam proses (menunjukkan biaya sesungguhnya) dengan sebelah kredit rekening barang dalam proses yang sama (menunjukkan harga pokok taksiran), serta memindahkan selisih biaya ke dalam rekening selisih biaya.
8. Setelah rekening selisih biaya dihitung, selanjutnya selisih tersebut dialokasikan kembali ke dalam rekening harga pokok penjualan, persediaan produk selesai, dan rekening persediaan produk dalam proses.

Akuntansi biaya kualitas secara tradisional telah mengalokasikan didasarkan pada sebuah Subjektif atau tidak langsung dihitung kisaran pengeluaran untuk biaya langsung. Karena kenaikan tidak langsung dan biaya overhead dalam beberapa dekade terakhir, metode biaya konvensional telah menjadi tidak efektif bagi praktisi dan manajer kualitas.

Untuk mengilustrasikan, satu produk atau layanan garis mungkin memerlukan lebih banyak sumber daya atau waktu daripada yang lain. Tetapi karena biaya biaya tidak langsung didasarkan pada persentase yang tetap biaya langsung (yakni, tenaga kerja dan bahan), maka biaya overhead yang mewakili atau diakui dengan benar untuk produk akhir atau jasa.

Dengan cara konvensional untuk biaya akuntansi dan biaya kualitas, sangat sulit untuk mengidentifikasi apakah produk atau jasa tersebut menguntungkan dan diproduksi melalui proses kualitas atau dengan kurang limbah [14].

Konsep penetapan biaya berdasarkan aktivitas dan manajemen (ABC / M) diperkenalkan di Amerika Serikat, awalnya di sektor manufaktur selama tahun 1970-an dan 1980-an. Robin Cooper dan Robert Kaplan membawa ABC / M konsep terhadap cahaya dan menerbitkan tubuh pengetahuan di Harvard Business Review pada tahun 1988. Cooper dan Kaplan mendefinisikan ABC / M metode sebagai “suatu pendekatan untuk memecahkan masalah-masalah sistem manajemen biaya tradisional;” yaitu, sistem akuntansi biaya konvensional sering kali tidak mampu mengidentifikasi biaya yang benar benar proses. Akibatnya, manajemen dan kualitas profesional tidak dapat membuat keputusan atau membuat keputusan berdasarkan data yang mewakili [14].

Di sisi lain, kegiatan berbasis biaya dan pendekatan manajemen biaya menetapkan objektif berdasarkan “biaya dan efek hubungan.” Biaya kegiatan diidentifikasi dan dialokasikan untuk setiap produk atau layanan jika dan hanya jika produk atau jasa menggunakan aktivitas. Dan pada tahun 1987, Robert Kaplan dan W. Bruns diterbitkan dalam buku mereka, Akuntansi dan Manajemen: Field Study Perspektif, tubuh ABC pengetahuan dengan fokus awal pada manufaktur di mana teknologi dan peningkatan produktivitas telah mengurangi biaya langsung dan tidak langsung dan overhead peningkatan biaya . [14].

Pernyataan Masalah

Dalam persaingan global saat ini, kualitas praktisi dan manajemen tidak mampu membayar risiko membuat keputusan berdasarkan data yang tidak akurat atau tidak lengkap yang disediakan oleh sistem buku besar akuntansi tradisional. Pengenalan dan paparan pendekatan modern terhadap kualitas dan biaya akuntansi yang diperlukan dan berlaku di kedua produk-produk manufaktur dan jasa pengiriman. Tujuan Studi

Kerja tesis akan memandu kualitas

praktisi dan pengambil keputusan melalui unik, pendekatan yang lebih efektif dalam menentukan biaya benar dalam proses lintas fungsional. Ini termasuk tinjauan terhadap penetapan biaya berdasarkan aktivitas dan pendekatan manajemen dan aplikasi dalam kerangka kerja manajemen kualitas total. Selanjutnya, ABC / M akan dapat memasukkan sebagai solusi kualitas sistem akuntansi biaya konvensional melalui konsep ramping, biaya kualitas dan peramalan dan penganggaran. Melalui penelitian ini, kualitas profesional dan authences dapat memperoleh dan akan dapat memperluas perspektif dan peran mereka dalam driver dan alokasi biaya untuk proses kontrol biaya dan peluang-peluang perbaikan.

Basa teoretis dan Organisasi

Tesis ini terdiri dari pengenalan kegiatan berbasis dan pendekatan manajemen dibandingkan dengan sistem akuntansi biaya konvensional. Kedua metode untuk biaya akan diilustrasikan dengan contoh dan ilustrasi tentang bagaimana langsung, tidak langsung dan biaya kualitas dikumpulkan, dialokasikan, diringkas dan pelaporan. Kiriman yang dihasilkan dari sistem buku besar umum dan ABC / M akan ditafsirkan berdampingan untuk menentukan perbedaan, efektivitas dan tepat penggunaannya.

Di samping itu, metodologi ABC akan dibahas lebih lanjut dalam berbagai bidang dan aplikasi dalam kerangka kerja manajemen kualitas total. Ini mencakup biaya berdasarkan aktivitas alokasi melalui teori ramping, biaya kualitas dan proses penetapan biaya dan penganggaran untuk inisiatif kualitas dan peningkatan kesempatan.

Keterbatasan Studi

Usaha tesis terbatas untuk mempelajari aktivitas tradisional maupun pendekatan berbasis biaya berlaku untuk manajemen dan kualitas para profesional untuk mengukur kualitas dan efektivitas yang ada dan membuat keputusan dan untuk dalam perusahaan, organisasi atau departemen. Tinjauan dan rekomendasi apapun dari pendekatan biaya dan kualitas sistem tidak akan menggantikan metode akuntansi biaya konvensional dalam setiap berarti atau kapasitas, sebagai sistem buku besar umum adalah satu-satunya, alat standar dan alat komunikasi antara perusahaan diterima secara luas.

Definisi Istilah

AACE International adalah Asosiasi untuk Kemajuan of Cost Engineering International.

AACE International adalah yang terbesar, industri-masyarakat profesional independen melayani seluruh spektrum pengelolaan biaya profesional, termasuk biaya penduga, insinyur, schedulers, manajer proyek dan kontrol proyek. AACE International memiliki lebih dari 7.000 anggota dari 78 negara di seluruh dunia. Lebih rinci dan informasi tentang AACE Internasional dapat diperoleh melalui http://www.aacei.org.

* Kegiatan adalah elemen pekerjaan yang harus dilakukan untuk menyelesaikan sebuah proyek, melainkan sebuah proses atau operasi yang membutuhkan waktu dan sumber daya terkait.

* Penetapan biaya berdasarkan aktivitas (ABC) adalah alat manajemen kualitas total biaya dan pengukuran kinerja kegiatan, sumber daya, dan objek biaya (yaitu, produk dan jasa). ABC juga dikenal sebagai “horisontal” atau biaya crossfunctional melihat dan dapat memberikan wawasan berdasarkan fakta ke dalam pengeluaran dan profitabilitas produk, layanan, pelanggan, kabupaten, jalur distribusi, dan sebagainya

* Manajemen berdasarkan aktivitas (ABM) adalah manajemen kualitas total disiplin mengenai pengelolaan proses kegiatan perbaikan untuk menurunkan biaya dalam sebuah organisasi. ABM mencakup kegiatan seperti sopir biaya analisis, pengukuran kinerja dan peluang perbaikan proses.

* Activity-based budgeting (ABB) adalah TQM alat perencanaan keuangan dengan identifikasi kebutuhan pelanggan dalam hal volume produk atau jasa untuk tujuan anggaran. Bersama-sama dengan ABC / M, ABB membentuk dasar yang kuat untuk perencanaan dan anggaran kualitas pelaporan.

* Penilaian Biaya biaya yang berhubungan dengan kegiatan seperti mengukur, mengevaluasi atau produk atau jasa audit untuk memastikan kepatuhan terhadap kualitas spesifikasi dan standar kinerja. Contoh-contoh meliputi biaya penilaian evaluasi dan penilaian, inspeksi program, dan kegiatan tes dan pengukuran.

* Chart of Account adalah metode numerik yang sistematis digunakan untuk mengidentifikasi berbagai kategori pengeluaran. Metode mensegregasikan biaya yang timbul menjadi unsur-unsur biaya untuk tujuan akuntansi.

* Biaya adalah jumlah yang diukur dengan uang dalam pertimbangan barang atau jasa. Biaya dapat termasuk uang tunai yang dikeluarkan, kewajiban yang dikeluarkan, dan sumber daya (yakni waktu, manusia dan modal). “Biaya adalah salah satu dari tiga atribut mendasar terkait dengan melakukan suatu kegiatan atau akuisisi aset. Ada harga (biaya), fitur (kinerja), dan ketersediaan (jadwal)” [9].

* Biaya di Penyelesaian adalah arus, proyeksi biaya apa biaya total final akan berada di penyelesaian proyek atau akuisisi aset.

* Biaya Memperkirakan adalah kumpulan kegiatan untuk memperkirakan biaya atau kuantitas sumber daya yang dibutuhkan untuk membuat atau memberikan aset berwujud atau tidak berwujud.

* Biaya Forecasting sangat mirip dengan proses estimasi biaya. Kunci yang berbeda antara perkiraan biaya dan perkiraan biaya adalah perkiraan biaya yang dihitung untuk kegiatan masa depan, sementara perkiraan biaya adalah ramalan biaya atau pada penyelesaian setiap unsur-unsur biaya yang luar biasa diperlukan untuk menciptakan suatu aset.

* Biaya kecocokan adalah biaya pencegahan dan penilaian kegiatan untuk memenuhi standar yang sudah ditentukan sebelumnya atau pelanggan ‘persyaratan.

* Biaya Nonconformance adalah biaya kegagalan internal atau eksternal. Juga, melihat kegagalan internal dan eksternal biaya.

* Biaya Kualitas (coq) adalah biaya sebuah proses bebas dari kesalahan. Hal ini dapat dibagi ke dalam biaya kesesuaian dan ketidaksesuaian.

* Biaya untuk Penyelesaian adalah arus, proyeksi biaya apa yang menonjol akan biaya total untuk penyelesaian suatu proyek atau akuisisi aset.

* Biaya tren diperkirakan berdasarkan informasi biaya historis yang dikumpulkan dari pengalaman aktual selama durasi yang telah ditetapkan. Informasi tren biaya ini berfokus pada bagaimana anggaran dan pengeluaran akan berdampak relatif terhadap prestasi fisik atau nilai yang diterima.

* Decision Support System (DSS) didefinisikan sebagai suatu sistem berbasis komputer yang membantu pengambilan keputusan atau keputusan. Ini adalah sebuah interaktif dan sistem informasi beradaptasi dikembangkan untuk mendukung solusi dan memberikan wawasan non-struktur dan sistem manajemen fleksibel.

* Biaya langsung adalah biaya yang dikeluarkan semata-mata untuk menghasilkan produk atau memberikan pelayanan. Artinya, biaya langsung dapat diidentifikasi dengan akhir, produk atau jasa tertentu.

* Kesalahan Gratis Biaya adalah “do-it-rightthe-first-time” biaya untuk aktivitas-aktivitas seperti perencanaan, pengendalian, audit, atau memperbaiki kualitas buruk.

* Essential Kegiatan merujuk ke nilai-menambahkan atau menambahkan nonvalue-tugas yang dituntut untuk dilakukan dalam proses (atau sekumpulan kegiatan) untuk mencapai nilai yang dihasilkan (produk atau jasa) yang diinginkan pelanggan.

* Biaya Kegagalan Eksternal pengeluaran dari produk atau jasa gagal memenuhi pra-menetapkan standar atau kebutuhan pelanggan. Biaya ini terjadi setelah pengiriman produk atau layanan kepada pelanggan. Contoh biaya kegagalan eksternal meliputi biaya jaminan, kewajiban klaim, paparan hukum, penggantian biaya, dan keluhan dan kehilangan loyalitas pelanggan.

* Biaya Tetap adalah unsur-unsur biaya yang diperlukan dalam akuisisi aset berwujud atau tidak berwujud secara independen dari volume usaha kerja atau output. Contoh biaya tetap meliputi biaya lisensi atau izin, penggunaan peralatan modal dan satu kali biaya kesetiaan.

* Biaya tidak langsung adalah biaya yang diperlukan untuk mendukung proses atau kegiatan yang dapat dikaitkan secara langsung dengan produk atau layanan akhir.

* Biaya Kegagalan Internal biaya karena produk atau jasa gagal memenuhi pra-menetapkan standar atau kebutuhan pelanggan. Biaya-biaya tersebut terjadi sebelum pengiriman produk atau layanan kepada pelanggan. Contoh dari biaya kegagalan internal memo, pengerjaan ulang, perbaikan tak terjadwal dan kehilangan produktivitas waktu.

* Life-Cycle Costing (LCC) memperkirakan biaya memperoleh, memelihara dan membuang aset. LCC adalah biaya total kepemilikan, termasuk semua biaya yang diperkirakan untuk merancang, mengembangkan, memproduksi, membangun, memelihara, memperbaiki dan membuang aset tersebut.

* Overhead merupakan biaya atau pengeluaran yang dikeluarkan dalam melakukan suatu operasi yang tidak dapat dengan mudah diidentifikasi secara langsung dengan produk atau layanan, yaitu historis mereka secara sewenang-wenang atau subjektif dialokasikan berdasarkan persentase yang telah ditetapkan biaya langsung.

* Pencegahan Biaya biaya yang diperlukan kegiatan yang dirancang untuk mencegah berkualitas buruk dalam produk manufaktur atau jasa pengiriman. Contoh dari biaya pencegahan pelatihan kualitas, proses desain, pemeliharaan preventif dan kualitas audit.

* Total Quality Management (TQM) adalah strategi manajemen dan kualitas kesadaran dalam semua proses manufaktur dan jasa. TQM berusaha untuk menciptakan kepuasan pelanggan dan karyawan pada biaya riil yang lebih rendah tiba-tiba dan berkesinambungan melalui kualitas, upaya perbaikan proses. Strategi pengelolaan ini melibatkan seluruh organisasi, rantai pasokan dan siklus hidup produk untuk mencapai sukses jangka panjang.

* Nilai-Menambahkan Kegiatan mengacu pada tugas menciptakan nilai tambah pada tahap tertentu produksi di mata para pengguna akhir atau konsumen.

* Value Stream atau Rantai didefinisikan sebagai kumpulan kegiatan, biasanya memakan sumber daya, di mana suatu produk atau jasa harus melalui untuk memperoleh nilai yang menghasilkan keinginan pelanggan. Kegiatan tersebut dapat mencakup nilai-menambahkan, nonvalue-menambahkan, penting atau tidak penting tugas-tugas sebagai akibat dari, misalnya, proses desain dan pengembangan, visi organisasi, apapun yang sedang atau akan undang-undang dan hukum dan masyarakat atau tekanan lingkungan.

* Biaya Variabel adalah unsur-unsur biaya yang diperlukan dalam akuisisi aset berwujud atau tidak berwujud dependently dari volume usaha kerja atau output. Contoh-contoh meliputi biaya variabel produksi material dan biaya tenaga kerja, biaya produksi dan volume utilitas berbasis biaya royalti.

REVIEW OF THE LITERATURE

Kerja tesis dilakukan dalam konteks yang ada relevan dengan pekerjaan yang diterbitkan baik kualitas total manajemen dan biaya badan rekayasa pengetahuan. Diskusi berikut referensi literatur seperti belajar, yang meliputi pengetahuan dan temuan-temuan yang terkait dengan fokus topik tesis, melalui pemeriksaan menyeluruh pada penetapan biaya berdasarkan aktivitas dan manajemen (ABC / M) teori dan aplikasinya dibandingkan dengan akuntansi biaya konvensional sistem keseluruhan dan akhirnya rekomendasi dari penelitian.

Tinjauan terhadap sastra akan dibahas melalui sudut pandang teoretis terkait dengan penekanan pada awal memberikan pengetahuan dasar ABC / M alat di bawah kerangka kerja manajemen kualitas total, yang berkaitan dengan bukti yang mendukung riset latar belakang.

Penekanan dari tinjauan literatur akan terus menampilkan bahan-bahan studi yang berkaitan dengan kualitas serupa lainnya daerah atau topik selain penyelidikan pekerjaan lain di titik pandang yang berbeda.

Upaya peninjauan ini akan mencakup publikasi profesional berhubungan teoretis fundamental, kualitas dan biaya pendapat ahli, penelitian penemuan, dan contoh studi kasus untuk mendukung klaim fokus dari tesis ini bekerja.

Keterampilan \u0026 Pengetahuan of Cost Engineering, oleh AACE International, meletakkan dasar yang kuat dari unsur-unsur biaya dan konsep biaya berdasarkan aktivitas dan manajemen [5]. Studi tentang unsur-unsur biaya oleh Franklin D. Postula menggambarkan pemahaman dasar yang membentuk biaya (yaitu sumber daya dalam hal materi, tenaga kerja dan overhead lainnya) dan penggunaan unsur-unsur biaya untuk lebih memahami bagaimana biaya yang dikumpulkan, dirangkum, dan melaporkan tiba pada, atau untuk, pengukuran dan analisis biaya total proses untuk manufaktur dan industri jasa.

Selain itu, konsep penetapan biaya activitybased oleh Gary Cokins penyelidikan meliputi sifat dan terkait perbandingan alokasi biaya dengan akuntansi biaya tradisional dan ABC / M sistem. Selain itu, memberikan penjelasan yang diperlukan tentang bagaimana driver menyebabkan biaya pengeluaran terjadi dan bagaimana ABC / M dapat digunakan di daerah-daerah strategis seperti manajemen sebagai biaya, analisis margin keuntungan, biaya kualitas dan produktivitas dan penggunaan aset. Ruang lingkup dan pengamatan ABC / M digunakan dalam perusahaan versus lokal-lebar adalah melihat ke dalam untuk menggambarkan “sebagian besar ABC / M alat ini diterapkan pada himpunan bagian dari proses organisasi untuk perbaikan.”

Tinjauan terhadap Keterampilan \u0026 Pengetahuan Teknik Biaya memberikan fondasi awal yang diperlukan dalam tesis bekerja untuk memastikan bahwa yang dimaksud authences, baik pemula dan ahli di bidang biaya, mendapatkan pemahaman yang lebih baik dari topik dan bahwa mereka dapat mengikuti penelitian yang sama, pengetahuan umum kerangka jangka rekayasa biaya tubuh pengetahuan.

Pengelolaan dan Pengendalian Mutu, oleh James R. Evans dan William M. Lindsay, menangkap konsep dan pentingnya mutu total biaya melalui penerapan manajemen mutu dan manajemen activitybased penetapan biaya [7]. Ini menggambarkan peranan sistem akuntansi standar dalam bisnis setiap hari baik untuk internal dan eksternal digunakan. Para penulis, di samping, menunjukkan kurangnya struktur dalam atau untuk mendukung bidang-of-biaya kualitas dan efisiensi dan efektivitas alokasi pengeluaran.

Konsep penetapan biaya berdasarkan aktivitas didefinisikan lebih lanjut dalam buku ini berkenaan dengan “pekerjaan (atau kegiatan) yang mengkonsumsi sumber daya dan memberikan nilai dalam bisnis” [7]. Selain itu, aplikasi dan manfaat dari ABC / M yang diperkenalkan sebagai alat dan tenaga untuk lebih baik mengalokasikan biaya, pengeluaran untuk melacak produk atau jasa, dan mengukur apa adanya peningkatan kualitas proses untuk kesempatan.

Referensi kepada manajemen dan kontrol kualitas memberikan fondasi yang diperlukan dan link yang jelas dari manajemen activitybased biaya dan pendekatan dalam kerangka kerja TQM. Menekankan kebutuhan sebuah metode penetapan biaya bagi para pengambil keputusan dan kualitas profesional yang dapat menutup kesenjangan dalam sistem akuntansi konvensional.

Mengapa Gagal Kualitas Tradisional Accounting Manager?, Oleh Gary Cokins, menjawab pertanyaan bahwa penetapan biaya berdasarkan aktivitas adalah solusi untuk cara konvensional biaya pelaporan [3]. Ini mendasarkan argumennya pada fakta bahwa saat ini dukungan sistem buku besar akuntansi dan pelaporan organisasi persyaratan tetapi tidak memadai untuk penggunaan internal atau untuk proses pengambilan keputusan berbasis. Artikel tersebut juga mengungkapkan kekurangan-kekurangan dalam sistem biaya standar sebagai sistem tidak lengkap dan diproses; misallocates tidak langsung atau biaya overhead dan kekurangan struktural untuk memungkinkan pengambil keputusan untuk mengukur dan menganalisa pengeluaran.

Untuk menggambarkan penalaran, Cokins disediakan berdampingan contoh bagaimana biaya ditangkap, diringkas dan dilaporkan melalui jurnal umum dan ABC / M database format. Ketidakcukupan sistem buku besar umum melalui organisasi (atau “vertikal”) batas-batas ini ditujukan pada hari ini operasi lintas-fungsional. Tinjauan terhadap Mengapa Gagal Kualitas Tradisional Accounting Manager? membuktikan bahwa sistem akuntansi tradisional memberikan laporan yang membuat kualitas para manajer dan praktisi bahagia atau sedih, namun kegiatan berbasis metodologi penetapan biaya mendidik dan membuat mereka lebih cerdas dalam mengecilkan biaya sebenarnya proses, produk atau jasa.

Mengukur Kualitas Biaya untuk Manajemen, oleh Gary Cokins, menyelidiki biaya kualitas (coq) pada operasional dan tingkat lebih strategis melalui penggunaan alat-alat finansial [4]. Artikel mengakui bahwa perusahaan-perusahaan seringkali tidak dapat dengan mudah menghitung besarnya keuntungan atau kerugian dari inisiatif kualitas. Hal ini karena kurangnya berdasarkan fakta-data dan perkiraan yang wajar dari sistem akuntansi tradisional, yang merupakan dasar pengambilan keputusan dan untuk memprioritaskan pengeluaran.

Solusi yang disarankan kuantifikasi yang ada sistem buku besar adalah biaya kategorisasi kualitas melalui penetapan biaya berdasarkan aktivitas dan pendekatan manajemen. Penulis dikomunikasikan lebih lanjut aplikasi dan manfaat dari sistem kata dalam mengidentifikasi biaya komponen Coq: kesesuaian (yaitu, kegiatan pencegahan dan penilaian) dan nonconformance (yaitu, kegagalan internal dan eksternal). Selain itu, ia menunjukkan dalam artikel bahwa “data biaya valid akan memberikan gerakan kualitas lebih legitimasi” sebagai fakta pengukuran finansial berbasis kualitas membenarkan investasi dan menentukan apakah tujuan inisiatif telah terpenuhi atau terlampaui [4]. Singkatnya, tinjauan terhadap Mengukur Biaya Manajemen Kualitas untuk memberikan bukti pendukung dalam sudut pandang yang berbeda dan melalui konsep biaya kualitas. Ini mengakui nilai dan kebutuhan data factbased mendapatkan wawasan tentang penyebab masalah dan pembenaran investasi proyek-proyek berkualitas.

Brian Muskell menjelaskan sudut pandang yang unik dalam Memecahkan Soal Biaya Standar artikel yang pendekatan penetapan biaya standar ini dikembangkan untuk memenuhi persyaratan pengambilan keputusan di organisasi jenis produksi massal pada pertengahan abad ke-20 [8]. Perubahan terbaru dan transisi dari massa untuk lean manufacturing telah berubah menjadi rute penting untuk tetap kompetitif secara nasional dan global. Di samping itu, perubahan yang telah membuat cara konvensional untuk mendekati biaya menjadi tidak cocok untuk inisiatif ramping.

Akibatnya, Muskell menyarankan yang berbeda melihat biaya melalui nilai-uap berbasis metodologi, yaitu biaya produk (atau jasa) akan bervariasi sesuai dengan tenaga kerja, bahan dan biaya overhead dapat dialihkan ke kegiatan hanya dalam value stream dan aliran yang optimal dari suatu proses. Pelaporan dari “uap nilai keuntungan” juga ditujukan dalam menemukan sebagai sederhana, hasil serupa akuntansi biaya yang digunakan untuk menciptakan value stream biaya. Dengan upaya-upaya untuk mengidentifikasi biaya dan keuntungan baik melalui value stream, dia menunjukkan bahwa nilai sekarang aliran manajer dapat mengerti, mengukur dan menjadi bertanggung jawab atas biaya, efisiensi dan nilai yang dihasilkan oleh semua nilai tambah atau penting, kegiatan yang terkait dalam proses.

Continuous Improvement: An Activity-Based Model, oleh Agrawal, Rezaee dan Pak, muncul untuk mendukung metodologi yang sama upaya perbaikan terus-menerus dengan memulai pada tingkat kegiatan [2]. Untuk mengilustrasikan, seluruh kegiatan dalam nilai atau rantai pasokan dapat digolongkan dalam salah satu dari empat kategori:

* Nilai-menambah dan penting;

* Nilai tambah tetapi yang tidak penting;

* Nonvalue-menambahkan tapi penting; dan,

* Nonvalue-menambah dan nonesensial

Definisi dan hierarki masing-masing kegiatan klasifikasi meledak di artikel dalam proses details for kualitas manajer dan profesional. Ini termasuk saran cara untuk meningkatkan proses dengan menghilangkan menambahkan nonvalue-kegiatan (disebut limbah) dan meminimalkan kegiatan-kegiatan yang tidak penting. Konsep biaya untuk mengasosiasikan kegiatan yang membantu mengevaluasi kegiatan harus difokuskan sebagai penting dan menciptakan nilai dalam value stream [6]. Oleh karena itu, inisiatif perbaikan proses yang berkelanjutan dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan dan produk atau biaya jasa melalui model berdasarkan aktivitas.

Perencanaan dan Penganggaran untuk Kualitas: An Activity-Based Approach, oleh Mike Roberts, Andrew Muras dan Daryl Paschall, menunjukkan bahwa kebutuhan para profesional kualitas alat terbaru untuk menyediakan informasi keuangan yang diperlukan sehingga keputusan yang baik dapat dibuat tanpa mahal inefisiensi dan untuk tetap bersaing di pasar global dewasa ini [H]. Artikel merekomendasikan penggunaan aktivitas pendekatan berbasis biaya, termasuk yang berikut.

* Penganggaran dan teknik manajemen untuk menangkap dan mengalokasikan biaya;

* Mengukur kinerja kegiatan, sumber daya dan objek biaya (yaitu, produk dan jasa); dan

* Perencanaan volume produk atau jasa untuk tujuan anggaran.

Para penulis ilustrasi dan didukung studi mereka dengan enam langkah pendekatan manajemen berdasarkan aktivitas di bawah FastTrack ABM, sebuah metode sampel praktek terbaik untuk lebih memahami pelaksanaan ABC / M.

Adopsi dan Pelaksanaan Kegiatan-Based Costing: A Web-Based Survey, oleh Roztocki dan Schultz, menyediakan berbasis web dan hasil survei mengenai status penetapan biaya berdasarkan aktivitas dalam hal adopsi dan pelaksanaan [12].

Studi menyatakan pendekatan biaya ABC telah dilaksanakan awalnya oleh perusahaan manufaktur besar. Namun, penelitian survei mengungkapkan tingkat mengadopsi penetapan biaya berdasarkan aktivitas yang sama untuk kedua perusahaan manufaktur dan jasa.

Selain itu, Roztocki dan Schultz menemukan bahwa perusahaan besar lebih mungkin untuk mengadopsi metodologi ABC dan mengambil manfaat dari adopsi dari perusahaan-perusahaan kecil. Hal ini karena perusahaan besar cenderung memiliki lebih banyak campuran beragam produk dan jasa dan memiliki lebih banyak personil khusus yang mengenal dan dikenal dengan pendekatan ABC. Sebagai hasil dari tinjauan terhadap artikel, dapat menyarankan bahwa penetapan biaya berdasarkan aktivitas alat ini sangat berlaku bagi industri manufaktur dan jasa.

Sistem ABC akan Anda Memiliki Apa yang Dibutuhkan?, Oleh Searcy dan Roberts, mengakui dan menunjukkan kelemahan ABC paradoks [13]. Selain itu, artikel menyarankan solusi ABC dimasukkan dengan perusahaan sistem pendukung keputusan (DSS) dengan tidak hanya mengumpulkan, pencatatan dan pelaporan informasi melalui ABC, tetapi juga menganalisis data untuk membantu para pengambil keputusan. Ini mencakup kemampuan untuk melakukan apa-jika skenario, biaya driver dan penilaian dampak mereka atau inisiatif perbaikan proses penilaian laba atas investasi. Baik Searcy dan Roberts pertanyaan sulit menyatakan bahwa para manajer dan praktisi kualitas harus bertanya untuk keberhasilan yang lebih tinggi dan tingkat useracceptance ABC. Ini termasuk, misalnya, “Apakah sistem ABC mengandung up-to-date informasi?,” “Apakah sistem ABC memiliki alat-alat analisis yang tersedia?” dan “Apakah sistem ABC user-friendly?”

Dalam Menerapkan Activity-Based Costing dalam Industri Perbankan, Jeffery Witherite dan Kim Il-Woon mengakui penetapan biaya berdasarkan aktivitas diterima secara luas sebagai pendekatan yang superior untuk mengalokasikan overhead baik dalam industri manufaktur dan jasa [15]. Mayor langkah-demi-langkah dalam industri kue diberikan dalam penelitian mereka sebagai contoh untuk mendukung klaim seperti itu. Selain itu, implementasi ABC kunci keberhasilan tantangan dan dibahas dalam artikel untuk membantu pengambil keputusan dan manajemen mengevaluasi tingkat usaha yang diperlukan untuk menerapkan sistem biaya tersebut.

METODOLOGI

Hari ini sistem akuntansi biaya tradisional perusahaan-lebar mendukung pelaporan keuangan dan mengukur kesehatan bisnis. Namun, pendekatan konvensional ini biaya agak sedikit nilai kualitas praktisi dan pembuat keputusan dalam bidang alokasi biaya dalam value stream; biaya kualitas atau kualitas buruk di perusahaan; dan penganggaran untuk meramalkan atau kualitas.

Penelitian tesis ini akan membuktikan penetapan biaya berdasarkan aktivitas manajemen dan kualitas alat dan solusi kekurangan biaya kualitas standar kerja akuntansi di bidang manajemen kualitas total. Hal ini termasuk pengenalan kepada konsep ABC / M; yang penting dalam penetapan biaya horisontal pendekatan dalam value stream; ABC / M untuk mengidentifikasi dan mengurangi biaya kualitas (coq), dan penganggaran dan upaya prakiraan berdasarkan aktivitas melalui model [10] .

Artikel ini akan memperkenalkan kualitas profesional dan pengambil keputusan pendekatan yang berbeda untuk mendefinisikan biaya benar dalam proses lintas fungsional. Ini termasuk penelitian dan penerapan kegiatan berbasis biaya dan pendekatan manajemen dalam kerangka kerja manajemen kualitas total dalam kompetisi global saat ini. Di samping itu, ABC / M akan menjadi kualitas terbukti sebagai solusi untuk sistem akuntansi biaya konvensional melalui konsep ramping, biaya kualitas dan peramalan dan penganggaran. Kualitas praktisi akan mendapatkan dan dapat memperluas perspektif dan peran dalam driver dan alokasi biaya untuk proses kontrol biaya dan peluang perbaikan.

Activity-Based Costing dan Manajemen dan Sistem Akuntansi Biaya Tradisional

Salah satu pertanyaan penting yang akan dibahas lebih lanjut dalam bagian ini adalah bagaimana sistem akuntansi tradisional yang telah digunakan secara luas sebagai internal dan eksternal sistem biaya dianggap kurang memadai. Selain itu, mengapa bisa aktivitas berbasis manajemen biaya dan menjadi solusi TQM pilihan untuk biaya kualitas kelemahan dari sistem akuntansi biaya konvensional? Tombol beberapa klaim yang ditunjukkan di bawah ini akan menjawab pertanyaan posted in details:

* Data biaya yang ada tidak sia-sia, namun tampaknya tidak lengkap atau tidak diproses untuk efisiensi internal, keuntungan atau analisis kualitas dan proses pengambilan keputusan.

* Sistem biaya tradisional pembuat keputusan menyangkal visibilitas biaya yang sejati diciptakan sepanjang end-to-proses akhir. Dan,

* Overhead dialokasikan secara tidak tepat dan sering didasarkan pada biaya tenaga kerja atau materi melalui pendekatan biaya konvensional.

Manajer telah diposting dengan biaya operasional dan pertanyaan satu waktu atau yang lain, jika tidak secara berkala. Dengan biaya tradisional pelaporan buku besar umum di bawah ini bagan rekening, banyak dari para pembuat keputusan tidak dapat menjelaskan apakah mereka produksi atau layanan spesifik bidang tanggung jawab yang efektif, produktivitas atau menguntungkan. Tabel 1 dan 2 memberikan wawasan masalah yang dihadapi, yaitu biaya yang dialokasikan didasarkan pada tabel rekening yang ditetapkan oleh departemen akuntansi perusahaan baik untuk internal dan eksternal pelaporan. Dengan rincian biaya oleh bagan rekening, penerima (misalnya, manajer atau praktisi kualitas) dari informasi yang hanya dapat memberitahu biaya tenaga kerja, bahan dan lainnya.

Di samping itu, pendekatan konvensional biaya dianggap vertikal, organisasi atau “transaksi-sentris” sistem penetapan biaya. Untuk mengilustrasikan, semua biaya yang dikeluarkan terkait dengan biaya dalam departemen atau pusat biaya. Metode ini tidak memiliki kemampuan untuk memproses laporan biaya di-fungsional, manajer membatasi visibilitas yang benar end-to-end biaya dari setiap proses dan sistem. Misalnya, pra-campuran bubuk minuman kemasan dapat dilihat di tingkat departemen, seperti pengepakan, kontrol kualitas, pengiriman dan penanganan. Di sisi lain, akhir-to-end proses kemasan dapat dilihat melalui “kerja-sentris” ABC / M sebagai upaya kolektif dan sumber daya untuk memproduksi minuman serbuk premixed akhir kantong [5].

Overhead tugas bukanlah tugas yang sederhana. Berdasarkan metodologi akuntansi biaya tradisional, biaya overhead atau indirect ditugaskan pada setiap produk, layanan, atau proses, berdasarkan persen tenaga kerja langsung atau biaya material. Hal ini tidak hanya menyesatkan karena setiap produk, layanan, atau proses mengkonsumsi overhead dengan kecepatan yang berbeda, tapi juga menyesatkan para pengambil keputusan bahwa produk atau layanan tertentu adalah menguntungkan atau tidak didasarkan pada pra-ditentukan dan didistribusikan overhead untuk semua proses yang sama.

Singkatnya, pendekatan konvensional akuntansi biaya menjelaskan “apa dihabiskan, sedangkan tampilan berdasarkan aktivitas menjelaskan, apa itu dihabiskan untuk” [5].

Kegiatan-Berdasarkan Alokasi Biaya dan Lean Value Stream Map

Pendekatan penetapan biaya standar ini dikembangkan pada pertengahan abad ke-20 untuk memenuhi persyaratan pengambilan keputusan dalam organisasi jenis produksi massal. Sebagai industri manufaktur dan jasa berubah dari produksi massal untuk bersandar, karena perubahan tuntutan dan kompleksitas dari barang-barang konsumen, cara konvensional untuk mendekati biaya telah menjadi tidak cocok untuk inisiatif ramping.

Akibatnya, BH Maskell menyarankan pandangan tersendiri untuk mengalokasikan pengeluaran melalui nilai-uap berbasis metodologi, yaitu biaya proses akan terdiri dari tenaga kerja, bahan dan biaya overhead dapat dialihkan untuk kegiatan hanya dalam value stream dan aliran optimal proses (lihat Gambar 1) [8].

Pelaporan dari “uap nilai keuntungan” juga dibahas dalam cara yang sama. Dengan upaya-upaya untuk mengidentifikasi biaya dan keuntungan baik melalui value stream dan kegiatan terkait, value stream manajer sekarang dapat memahami, mengukur dan menjadi bertanggung jawab atas biaya, efisiensi dan nilai yang dihasilkan oleh semua nilai tambah atau penting, kegiatan yang terkait dalam proses [1].

Selain itu, berbeda metodologi penetapan biaya tradisional, aktivitas berbasis metodologi dan produksi ramping dapat mendukung upaya perbaikan terus-menerus oleh sebuah studi tentang kegiatan klasifikasi dan biaya kegiatan-kegiatan yang berada di lembah sistem sungai. Per Agrawal, Rezaee dan Pak, masing-masing kegiatan dapat diklasifikasikan didasarkan pada dimensi berikut [2]:

Kategori A: Nilai-Menambah Dan Essential – Kategori ini mengidentifikasi kegiatan-kegiatan yang tidak hanya menambah nilai atau fitur yang keinginan konsumen dalam produk akhir atau jasa, tetapi juga diperlukan tugas-tugas dalam value stream untuk membuat produk atau memberikan pelayanan. Contoh dari kategori ini adalah batch pembobotan ingrethents; kegiatan ini baik menambahkan nilai pada produk akhir dan juga yang diperlukan untuk pembuatan tugas pra-campuran minuman serbuk paket.

Kategori B: Nilai-Menambahkan Tapi nonesensial – Kategori ini mengidentifikasi kegiatan-kegiatan yang menambah nilai atau fitur yang keinginan konsumen dalam produk akhir atau jasa, tetapi tugas-tugas ini tidak diperlukan dalam value stream untuk membuat produk atau memberikan pelayanan. Contoh dari kategori ini adalah batch pencampuran ingrethents; kegiatan ini menambahkan nilai pada produk akhir, tetapi bukan merupakan tugas yang diperlukan untuk pembuatan pra-campuran minuman serbuk paket. Nilai tambah tetapi tugas yang tidak penting dapat dihilangkan melalui mendesain ulang atau re-engineering dari produk atau proses.

Kategori C: Nonvalue-Menambahkan Tapi Essential – Kategori ini mengidentifikasi kegiatan-kegiatan yang tidak menambah nilai atau fitur yang keinginan konsumen dalam produk akhir atau jasa, tetapi tugas-tugas ini diperlukan dalam value stream untuk membuat produk atau memberikan pelayanan. Contoh kategori ini adalah paket produk atau pelabelan dan pengawasan mutu tugasnya; kegiatan ini tidak menambahkan nilai pada produk akhir, tetapi tugas-tugas yang diperlukan untuk memproduksi pra-campuran minuman serbuk paket. Para menambahkan tapi nonvalue-tugas penting harus dikontrol dan diminimalkan sebisa mungkin melalui upaya perbaikan proses yang berkesinambungan.

Kategori D: Nonvalue-Menambah Dan nonesensial – Kategori ini mengidentifikasi kegiatan-kegiatan yang tidak menambah nilai atau fitur yang keinginan konsumen di final maupun produk atau jasa yang dibutuhkan dalam value stream untuk membuat produk atau memberikan pelayanan. Contoh dari kategori ini penyimpanan tertentu atau kegiatan transportasi; kegiatan ini tidak menambahkan nilai pada produk akhir mereka juga tidak diperlukan untuk pembuatan tugas pra-campuran minuman serbuk paket. Yang menambahkan dan nonvalue-tugas yang tidak penting harus dihilangkan segera setelah diketahui.

Berdasarkan pemahaman tentang kegiatan klasifikasi, organisasi dapat meningkatkan efisiensi dan mengalihkan atau menurunkan biaya yang berkaitan dengan nilai arus oleh mean dari “model berdasarkan aktivitas perbaikan terus-menerus.” (Lihat gambar 2). Kegiatan ini berbasis pendekatan dapat fokus dan memfasilitasi produksi, kualitas atau proses perbaikan terus-menerus di area yang paling dibutuhkan perhatian dan memberikan pengembalian yang optimal investasi. Untuk menggambarkan, kegiatan model berbasis merekomendasikan bahwa perusahaan harus memusatkan upaya-upaya dan sumber daya untuk meningkatkan kegiatan dalam kategori A. Ini termasuk upaya untuk meningkatkan valueadding dan kegiatan penting yang akan memberikan kontribusi pada garis bawah. Selain itu, kata menunjukkan bahwa upaya-upaya pendekatan juga harus untuk pindah ke atau menghilangkan kegiatan dalam kategori D sebanyak mungkin, seperti berikut [2]:

* Pindah Kegiatan Dari Kategori A Kategori B atau C – Kegiatan dalam kategori A harus ditinjau, dianalisis atau berkurang (jika mungkin) secara berkala. Hal ini dapat dicapai dengan maksud produk, layanan atau proses redesign, sehingga nilai yang dikehendaki atau fitur yang dapat dibangun dalam, daripada tambah dalam, atau mendesain ulang menghilangkan kebutuhan untuk kegiatan tertentu yang diperlukan. Dengan peningkatan ini, biaya masing-masing kategori A kegiatan dapat dikurangi sebagai kegiatan tersebut akan dipindahkan atau dihilangkan dari value stream.

* Pindah Kegiatan Dari Kategori B Kategori D – Kegiatan dalam kategori B juga harus ditinjau, dianalisis atau berkurang (jika mungkin) secara berkala. Hal ini dapat dicapai dengan maksud produk, layanan atau proses redesign, sehingga nilai yang dikehendaki atau fitur yang dapat dibangun dalam, daripada tambah masuk Dengan peningkatan ini, biaya aktivitas masing-masing kategori B dapat dikurangi sebagai kegiatan tersebut akan dipindahkan atau dihilangkan dari value stream.

* Pindah Kegiatan Dari Kategori C Kategori D – Kegiatan dalam kategori C juga harus ditinjau, dianalisis atau berkurang (jika mungkin) secara berkala. Hal ini dapat dicapai dengan rata-rata produk, jasa atau proses redesign redesign sebagai menghilangkan kebutuhan untuk kegiatan tertentu yang diperlukan. Dengan peningkatan ini, biaya aktivitas masing-masing kategori C dapat dikurangi sebagai kegiatan tersebut akan dipindahkan atau dihilangkan dari value stream.

* Menghilangkan Kegiatan dalam Kategori D – Kegiatan dalam kategori ini harus dihapuskan segera; yang berdasarkan aktivitas yang terkait penghematan biaya kemudian dapat diakui. Kegiatan model berbasis pendekatan yang terus-menerus, proses yang tiada akhir hanya untuk terus meningkatkan kegiatan inti, berkontribusi untuk semata-mata biaya valueadding dan kegiatan yang penting dalam value stream.

Biaya Kualitas (coq) Via Activity-Based Costing Model

Biaya kualitas (coq) konsep ini telah digunakan dalam inisiatif kualitas sebagai pendekatan lain untuk mengidentifikasi biaya-biaya yang terkait untuk fitur kualitas atau ketiadaan. Pada tingkat operasional, istilah kualitas ini membantu para manajer dan profesional kualitas mengidentifikasi limbah, memecahkan masalah inefisiensi dan terus menerus meningkatkan proses. Pada organisasi atau perusahaan-tingkat luas, alat Coq membantu para pengambil keputusan membenarkan atau peningkatan kualitas yang terkait dengan inisiatif untuk meningkatkan keuntungan, meningkatkan kualitas dan rapat atau konsumen yang sudah ada tuntutan.

Sayangnya, banyak organisasi menderita dari kurangnya tingkat yang memadai lengkap, data berdasarkan fakta. Ini mencakup biaya proses dalam hal kegiatan yang operationrelated manajer dan karyawan mereka dapat berhubungan dengan dan mempengaruhi garis dasar keuntungan dari produk atau layanan tertentu pengiriman. Sebagai ilustrasi, salah satu kendala utama mencegah manajemen dari pemahaman yang benar biaya yang terkait untuk setiap proses adalah kurangnya dapat dialihkan dan rincian tentang biaya overhead untuk mendukung proses pengambilan keputusan. Hal ini karena fakta bahwa banyak perusahaan fokus berat pada pelaporan eksternal dan tidak tepat menggunakan tradisional (eksternal) akuntansi biaya alat untuk internal, pelaporan operationallevel [4].

Mengapa Gagal Akuntansi Tradisional Pengambil Keputusan

Pertanyaan tentang “Mengapa akuntansi tradisional gagal” dalam mengidentifikasi biaya kualitas pada proses atau tingkat departemen sudah dijawab oleh para ahli biaya dan pernyataan mereka ikuti.

Hari ini buku besar dan sistem pengeluaran dianggarkan dukungan departemen dan cerobong asap filosofi manajerial, tetapi bukan pendukung keputusan. Manajer semakin ditantang untuk membenarkan biaya pengeluaran mereka dengan lebih proposal berdasarkan fakta data dan kurang pada iman. Beberapa manajer kualitas bahkan diminta untuk membenarkan eksistensi mereka sendiri dan nilai organisasi mereka. Data akuntansi tradisional adalah tidak lengkap dan struktural kurang untuk memungkinkan manajer untuk mengukur dan menganalisa [3].

Manajemen proses historis selalu menderita dari kurangnya yang jelas dan dapat diandalkan metode pengukuran yang secara konsisten menunjukkan tingkat konsumsi sumber daya (beban) dengan proses bisnis pada suatu waktu – sebuah indikator yang selalu penuh minat eksekutif dan mudah dimengerti. Intinya adalah bahwa kebanyakan perusahaan tidak memiliki petunjuk tentang biaya proses mereka atau proses mereka ‘berbagai output.

Kegiatan berdasarkan penetapan biaya / manajemen berbasis aktivitas (ABC / M) dan penganggaran berbasis aktivitas (ABB) memegang janji besar sebagai solusi akal sehat dan frustrasi kesalahan akuntansi tradisional / metode penganggaran. Anggaran tradisional tidak mengidentifikasi limbah, ABB memaparkan nilai non-biaya. Anggaran tradisional berfokus pada biaya departemen, ABB juga berfokus pada biaya proses [Il].

Singkatnya, buku besar umum tradisional pendekatan biaya dapat mengatasi kebutuhan untuk mengukur dan mengkomunikasikan seluruh perusahaan kesehatan keuangan eksternal. Alat ini dirancang dan dimaksudkan untuk mengumpulkan, meringkas dan melaporkan transaksi ke perusahaan tertentu akuntansi. Namun, informasi biaya dan struktur (yaitu, tenaga kerja, bahan, kontrak dan sebagainya) adalah tidak lengkap dan tidak cukup untuk mengukur secara memadai biaya atau meningkatkan mutu dan mendukung proses pengambilan keputusan.

Nilai data dan ABC / M Sistem

Berbeda dengan metode akuntansi biaya tradisional, ABC / M dapat menyediakan baik manajemen dan karyawan yang tersembunyi, biaya yang berkaitan dengan kualitas kinerja dan peningkatan kualitas. Kata berikut biaya yang dapat direalisasikan meskipun ABC / M usaha termasuk kategori utama berikut [4]:

* Kesalahan Gratis Biaya – Biaya ini adalah pengeluaran untuk kegiatan yang memberikan kontribusi dari melakukannya dengan benar upaya pertama kalinya.

* Biaya Kualitas (coq) – Biaya yang akan hilang jika tidak ada masalah kualitas. Ini termasuk nonconformance kesesuaian dan biaya. Biaya kepatuhan termasuk biaya yang terkait dengan upaya pencegahan dan penilaian untuk memenuhi atau melebihi persyaratan pelanggan. Biaya Nonconformance termasuk biaya yang terkait dengan kegagalan internal atau eksternal.

Selain itu, biaya kualitas subkategori yang terkait dengan setiap proses dapat diidentifikasi melalui sistem berdasarkan aktivitas seperti yang ditunjukkan pada Gambar 3.

Kegiatan subkategori definisi yang juga diberikan penjelasan tambahan:

* Pencegahan Biaya – biaya Kegiatan ini meliputi biaya subkategori yang dihasilkan dari upaya untuk mencegah berkualitas buruk. Contoh-contoh kegiatan kesesuaian proses meliputi desain atau mendesain ulang, kualitas evaluasi dan audit, dan pemeliharaan preventif.

* Penilaian Biaya – biaya Kegiatan ini meliputi biaya yang berhubungan subkategori untuk pengukuran, evaluasi, inspeksi dan upaya deteksi.

* Biaya Kegagalan Internal – Kegiatan ini meliputi biaya subkategori biaya yang dihasilkan dari produk atau jasa tidak sesuai untuk manufaktur atau pengguna akhir ‘persyaratan sebelum pengiriman ke pelanggan. Contoh-contoh kegiatan ketidaksesuaian termasuk pengerjaan ulang, perbaikan, tak terjadwal atau layanan yang tidak direncanakan, cacat penghapusan dan kehilangan waktu karena kegagalan internal.

* Biaya Kegagalan Eksternal – Kegiatan ini meliputi biaya subkategori biaya yang dihasilkan dari produk atau jasa tidak sesuai untuk manufaktur atau pengguna akhir ‘persyaratan setelah pengiriman ke pelanggan. Contoh-contoh kegiatan ketidaksesuaian meliputi produk kembali, perbaikan panggilan, biaya garansi, paparan hukum, kewajiban klaim, dan isu-isu keselamatan umum.

Investasi Justifikasi dalam Peningkatan Berkesinambungan

Sebuah aturan praktis adalah bahwa lebih mahal untuk memperbaiki masalah kualitas sebagai produk atau layanan konsumen pendekatan dalam rantai nilai. Di kata lain, biaya lebih efektif untuk menyelesaikan masalah kualitas apa pun yang sebelumnya mungkin dalam manufaktur atau proses pelayanan. Untuk mencapai itu, berdasarkan fakta, perkiraan tingkat aktivitas dan biaya yang diperlukan untuk membenarkan biaya kualitas dan perbaikan proses [4].

Sebagai contoh, biaya pencegahan yang diusulkan dapat dialokasikan dan dibenarkan untuk tabungan melalui studi kedua total biaya kualitas dan biaya berdasarkan aktivitas, termasuk biaya bebas dari kesalahan, biaya kesesuaian dan biaya ketidaksesuaian. Tabel 3 dan angka 4 dan 5 menggambarkan biaya sederhana latihan pembenaran yang berasal dari ABC / M metode pengumpulan, meringkas dan biaya pelaporan dalam kategori Coq disebutkan sebelumnya. Latihan ini dapat membantu membenarkan biaya inisiatif peningkatan mutu berdasarkan urutan besarnya penghematan biaya $ 13.000 unit per 1.000 produksi (atau jasa pengiriman) dengan perkiraan investasi belanja modal tambahan sebesar $ 7.000 orang di inisiatif preventif yang diusulkan.

Secara ringkas, berdasarkan informasi biaya melalui ABC / M dan Coq kategori, biaya yang dapat diukur secara memadai dan diperbaiki sesuai kebutuhan, termasuk biaya berdasarkan fakta data dapat mendapatkan perhatian penuh dan rasa percaya diri untuk keputusan bisnis yang dapat diandalkan dan pengambil keputusan dapat menilai nilai setiap proses dan bagaimana berkontribusi terhadap kinerja seluruh perusahaan [4].

Aktivitas Berbasis Prakiraan dan Penganggaran dalam TQM

Dalam global saat ini, pasar kompetitif, kualitas para pengambil keputusan dan profesional harus bergantung pada alat-alat dan teknik terbaru untuk memperoleh, mengkategorikan, laporan dan menggunakan informasi terkait untuk mengambil keputusan bisnis. Hal ini untuk memastikan bahwa usaha ini menguntungkan dan untuk menghindari kegiatan yang mahal dan tidak efisien karena nonconformance (yaitu, pengerjaan ulang, barang cacat, produk kembali, warrantee biaya, tanggung jawab hukum dan reputasi rusak).

Sebagaimana dibahas dalam bagian sebelumnya, biaya konvensional akuntansi dan pelaporan tidak menyediakan rinci, bekerja-sentris informasi biaya dan juga tidak mengasosiasikan alokasi biaya overhead objektif. Pendekatan yang mengatakan menjadi tidak efisien untuk sampai pada biaya yang sebenarnya atau yang sudah ada proses yang diusulkan melalui metode bottom up, yaitu dengan kerusakan dari masing-masing proses termasuk tenaga kerja, bahan dan overhead persyaratan diidentifikasi, diperkirakan dan harga untuk proses pengambilan keputusan.

Oleh karena itu, dalam rangka untuk merencanakan dan anggaran secara efektif untuk menambah nilai, kualitas proses, manajemen dan kualitas profesional harus memahami spesifik yang mendasari kegiatan penting yang diperlukan untuk memproduksi produk atau jasa pengiriman. Dengan kegiatan tersebut, fakta-biaya berdasarkan proses dapat ditentukan baik oleh standar industri atau data historis yang dikumpulkan melalui penetapan biaya berdasarkan aktivitas dan manajemen.

Pada bagian ini, ABC / M akan dipelajari per empat metode yang paling umum pengelolaan biaya. Ini termasuk perkiraan biaya, tren biaya, peramalan dan biaya biaya siklus hidup.

Memperkirakan Biaya

Memperkirakan biaya memperkirakan biaya sumber daya yang diperlukan untuk produk-produk manufaktur atau memberikan pelayanan. Bangunan blok dari perkiraan biaya mencakup komponen-komponen kunci berikut [9]:

* A Well Ditetapkan Ruang Lingkup – Ruang lingkup dari perkiraan harus diidentifikasi per lingkup pekerjaan dalam kontrak, dari gambar teknik detail produk dan proses peta.

* Sebuah Biaya Struktur Unsur – unsur biaya yang berlaku meliputi biaya langsung, biaya tidak langsung, biaya tetap dan biaya variabel yang terkait untuk setiap aktivitas tertentu dalam sungai atau rantai nilai.

* Riwayat atau Industri Data Biaya Kegiatan biaya berdasarkan data yang dikumpulkan dari pengalaman atau dari biaya standar industri. Adalah penting bahwa data biaya mewakili kegiatan serupa dan harus disesuaikan sesuai berdasarkan waktu, lokasi geografis, dan berbagai fitur atau nilai untuk mewakili benar, fakta-biaya berdasarkan informasi.

Sebagai contoh, tabel 4 mengilustrasikan estimasi biaya pra-kekuatan campuran minuman kemasan di produksi 10.000 unit per bulan.

Kegiatan berbasis rincian membantu manajemen untuk mengidentifikasi biaya sebenarnya dan membantu dengan beberapa perencanaan sumber daya tugas (yaitu, tenaga kerja, material dan lainnya) yang diperlukan untuk setiap aktivitas dalam proses produksi, termasuk yang berikut:

* Cukup terlatih tradisional PersonnelUnlike sistem akuntansi biaya, ABC / M pendekatan terhadap perkiraan dapat memberikan informasi yang pengambil keputusan dapat digunakan untuk mempersiapkan tingkat dan jenis sumber daya tenaga kerja yang diperlukan sesuai dengan volume produksi yang direncanakan.

* Tingkat dan Jenis Bahan dan Inventaris – The pendekatan sistem biaya konvensional membatasi visibilitas ke tingkat yang dibutuhkan dan jenis bahan dan persediaan. Sebagai hasilnya, perusahaan adalah untuk mempertahankan tingkat yang lebih tinggi persediaan untuk mencegah keluar dari saham, penundaan dan penghentian kerja. ABC / M data yang memungkinkan perusahaan untuk mengurangi biaya persediaan dengan memesan kanan, tatanan ekonomi tingkat kuantitas dan jenis bahan dalam just-in-time cara.

* Penanaman Modal yang memadai Serupa dengan baik staf dan inventarisasi isu-isu, yang keluar dari buku besar dan sistem akuntansi tidak dapat menyediakan perusahaan dan manajemen di setiap arah spesifik, investasi modal masa depan, misalnya, di mana untuk memperluas dan peralatan atau alat apa untuk membeli . Dengan mengumpulkan, meringkas dan melaporkan data biaya melalui ABC / M metode untuk memperkirakan digunakan, perusahaan dapat merencanakan strategi investasi untuk memenuhi permintaan produksi secara memadai dan tepat waktu.

Biaya Tren

Tren biaya didasarkan pada informasi biaya historis. Data biaya blok bangunan dalam metode memperkirakan biaya dapat berdampak didasarkan pada hasil kajian dan tren biaya. Dengan kecenderungan informasi, memperkirakan proses bisnis biaya dan sumber daya yang diperlukan dapat dilakukan secara lebih tepat, akurat cara.

Untuk menunjukkan keterbatasan metodologi akuntansi biaya konvensional, pra-campuran bubuk minuman kemasan sampel adalah dipelajari untuk biaya dan kecenderungan biaya tenaga kerja serikat. Asumsikan bahwa setiap perjanjian tawar-menawar kolektif, kompensasi dan manfaat dari serikat karyawan diharapkan meningkat dengan laju tahunan 6 persen. Peningkatan ini akan mempengaruhi fungsi pekerjaan tertentu seperti pembobotan dan pencampuran batch ingrethents, kemasan kantong dan kotak, dan pengiriman, menyerahkan dan kegiatan penyimpanan. Berdasarkan bagan rekening, kenaikan biaya tenaga kerja hanya dapat diperkirakan berdasarkan klasifikasi karyawan dan pada tingkat seluruh perusahaan. Dalam rangka untuk mengidentifikasi dampak biaya yang terkait dengan produk atau service level, kecenderungan ini harus dipelajari di akhir-to-end tingkat proses atau kegiatan. Untuk menggambarkan, biaya harus dihitung dan dilaporkan melalui model berdasarkan aktivitas. Artinya, biaya tenaga kerja dalam persiapan dan pengemasan bubuk bertahap akan ditingkatkan, namun, dan administrasi yang lain-lain biaya tenaga kerja tidak akan terpengaruh.

Biaya Forecasting

Biaya kegiatan peramalan sangat mirip dengan proses estimasi biaya. Yang berbeda adalah bahwa perkiraan biaya yang disiapkan untuk perencanaan atau kegiatan di masa depan. Forecasts, di sisi lain, adalah prediksi dari biaya atau pada penyelesaian berdasarkan unsur-unsur biaya berlangsung atau beredar [9].

Perkiraan biaya tugas-tugas yang membutuhkan blok bangunan yang serupa untuk memperkirakan untuk penyelesaian dan memperkirakan pada penyelesaian, termasuk lingkup aktual yang menonjol, unsur biaya sisa struktur dan data biaya yang berlaku. Setelah menyatakan bahwa, perkiraan biaya bisa dihitung secara tepat dan akurat melalui penetapan biaya berdasarkan aktivitas dan manajemen karena cakupan yang luar biasa atau kegiatan yang diperlukan dapat dengan mudah diidentifikasi atau dievaluasi daripada-to-date (aktual) pengeluaran terhadap anggaran luar biasa yang disediakan oleh penetapan biaya tradisional sistem.

Life-Cycle Costing

Biaya siklus-hidup (LCC) diperluas untuk termasuk untuk biaya untuk mempertahankan melampaui perolehan atau produksi aset berwujud atau tidak berwujud sampai dengan pembuangan aset tersebut. LCC pengeluaran terdiri dari biaya untuk merancang, mengembangkan, memproduksi, memelihara dan membuang aset. Serupa dengan metode perkiraan biaya, biaya semacam ini dapat dievaluasi dan dihitung berdasarkan blok bangunan serupa yang membutuhkan rincian spesifik tentang cakupan, baik selama atau setelah tahap akuisisi, biaya elemen struktur (yaitu, langsung, tidak langsung, tetap atau variabel) dan data biaya melalui standar industri historis atau, lebih tepat dan akurat berasal dari biaya berdasarkan aktivitas breakdown.

HASIL dan diskusi

Salah satu penemuan paling menarik dari studi ini adalah temuan mengenai kelebihan, kelemahan dan keterbatasan akuntansi tradisional dan sistem biaya berdasarkan aktivitas biaya / manajemen. tampaknya bahwa baik sistem pelaporan biaya dan melayani berbagai tujuan dan bisa lebih melayani authences berbeda. Tidak ada satu metode dari sistem penetapan biaya universal yang dapat diterapkan untuk memenuhi kebutuhan setiap pengguna.

Untuk menggambarkan, buku besar umum anggaran dan sistem pelaporan telah diterima secara luas berarti mengukur dan membandingkan kesehatan keuangan perusahaan baik secara internal maupun eksternal. Namun, ada beberapa keterbatasan dari pendekatan semacam itu yang dapat dilengkapi dengan sistem akuntansi lain seperti ABC / M, kualitas memungkinkan profesional dan pengambil keputusan untuk lebih memahami efektivitas, biaya sebenarnya dan margin keuntungan dari setiap produk atau jasa. Hal ini juga mencakup kesempatan untuk menggunakan data berbasis fakta untuk memperkirakan, membenarkan atau anggaran untuk proyek-proyek masa depan (produk atau jasa) dan / atau proses / inisiatif peningkatan kualitas.

Konsep versus lokal berdasarkan aktivitas seluruh perusahaan penetapan biaya dan manajemen telah muncul sebagai hasil dari studi. Berdasarkan penelitian, tampak bahwa kesalahpahaman umum adalah ABC / M pendekatan harus diterapkan seluruh perusahaan. Untuk mengilustrasikan, semua harus menjalani proses bisnis dan menerapkan ABC / M pendekatan mereka struktur biaya dan penganggaran. Namun dalam kenyataannya, banyak organisasi memilih untuk melaksanakan ABC / M konsep internal atau sebagai himpunan bagian dari organisasi inisiatif perbaikan proses dan bukan sebagai satu-satunya peningkatan pendapatan dan laba mekanisme [5]. Untuk mengilustrasikan, ABC / M metodologi dapat mengungkapkan struktur biaya dan tugas bagi para pembuat keputusan dan kualitas profesional. Ini dari sudut pandang fungsi apa yang menyebabkan berbagai keluaran terjadi dan berapa banyak asumsi sumber daya yang dikeluarkan untuk menciptakan aset berwujud atau tidak berwujud dalam endto-end, maupun horizontal, manufaktur atau proses pemberian layanan. Untuk sekadar jumlah titik diskusi kedua ini, para model activitybased dan dapat sangat ditingkatkan sampai sesuai dengan kebutuhan perusahaan.

Per Roztocki dan Schultz, menarik untuk dicatat bahwa tingkat mengadopsi ABC / M yang sangat mirip baik dalam layanan dan industri manufaktur [12]. Selain itu, organisasi yang lebih besar cenderung untuk mengadopsi atau melaksanakan kegiatan berbasis biaya dan manajemen dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan kecil. Ini adalah ban mungkin karena kenyataan bahwa pendekatan ini dianggap atau terbukti untuk menjadi lebih bermanfaat dalam perusahaan besar dengan lebih beragam, disesuaikan campuran dari produk atau layanan dan karena organisasi yang lebih besar lebih cenderung memiliki sumber daya khusus, sistem dan modal yang tersedia untuk ABC / M bekerja.

Meskipun sistem akuntansi biaya tradisional muncul tidak efisien dan tidak lengkap bagi para pengambil keputusan dan kualitas profesional, ABC / M adalah bukan penggantian biaya konvensional praktek. Buku besar umum yang ada dan sistem akuntansi yang diterima secara luas, bahasa universal untuk mengukur, berkomunikasi dan membandingkan perusahaan ‘kesehatan keuangan dan kekayaan melalui laporan keuangan (misalnya, neraca, laporan laba rugi, pernyataan penghasilan tetap dan arus kas perusahaan) . Analisis dan diskusi ABC / M adalah ditemukan untuk menjadi melengkapi, pendekatan internal dan sistem untuk mendukung manajemen dan kualitas praktisi dalam proses pengambilan keputusan.

Ahli akuntansi biaya menunjukkan bahwa kegiatan-pendekatan berdasarkan biaya tampaknya merupakan konsep yang sederhana dan langsung dan menawarkan banyak manfaat atas biaya tradisional mitra. Namun, evaluasi, implementasi dan dukungan seperti ABC / M sistem dapat mengambil jumlah besar usaha dan investasi sumber daya untuk memastikan proses dan sistem bekerja dan memberikan manfaat yang dikehendaki [13]. Untuk menggambarkan, upaya pelaksanaan dapat meliputi, misalnya, berikut ini.

* The evaluasi dan upgrade dari proses yang ada, infrastruktur, dan sistem.

* Evaluasi dan persiapan untuk perubahan budaya, kesiapan dan pelatihan pengguna inisiatif. Dan,

* The berkesinambungan dan siklus hidup-upaya untuk mendukung pengguna dan sistem setelah sistem dan proses peluncuran.

Buku besar umum tradisional dan sistem anggaran telah menjadi biaya utama alat untuk mengumpulkan, meringkas, dan melaporkan biaya perusahaan selama beberapa dekade. Penggunaan kata alat ini tidak hanya terbatas pada pengukuran, pelaporan dan pembandingan antara industri dan perusahaan, tetapi juga digunakan dengan dalam perusahaan untuk bertindak sebagai tongkat pengukur untuk menentukan profitabilitas internal, efisiensi dan inisiatif untuk perbaikan proses produk, jasa atau proses .

Hasil temuan dari penelitian, bukti-bukti pendukung, dan para pakar menganjurkan penggunaan alat-alat konvensional seperti dibatasi pada penggunaan eksternal dan melengkapi kebutuhan laporan biaya di daerah operasi metode lain yang disebut penetapan biaya berdasarkan aktivitas dan manajemen (ABC / M ). Hal ini karena fakta pendekatan konvensional biaya pelaporan tidak lengkap, tidak diproses dan tidak berdasarkan fakta untuk mendukung proses pengambilan keputusan. Di samping itu, ABC / M dapat menyediakan biaya terperinci dan overhead yang terkait dapat dialihkan untuk kegiatan di end-to-end proses.

Banyak ahli akuntansi dan insinyur biaya juga mengakui bahwa ABC / M sistem proses dan tugas-tugas sederhana dan tidak memerlukan pemahaman penuh dan sumber daya untuk menyiapkan sebuah organisasi untuk penyebaran dan manajemen siklus hidup. Namun, biaya yang sama profesional setuju bahwa seperti penetapan biaya dan sistem anggaran jauh lebih bermanfaat daripada yang sudah ada buku besar dan pendekatan akuntansi, terutama pada tingkat operasional dan kesempatan untuk perbaikan proses di bidang biaya.

Selain itu, penting untuk dicatat bahwa biaya berdasarkan aktivitas merupakan kualitas dijual alat yang dapat melengkapi kata kekurangan metode konvensional, namun tidak untuk setiap perusahaan. Penilaian yang sesuai dan persiapan untuk ABC / M adalah sangat penting bagi keberhasilan dan kekurangan daripadanya. Untuk menggambarkan, kegiatan berbasis pendekatan yang tepat untuk organisasi dengan biaya tidak langsung yang signifikan, kompleks atau produk dan jasa, kerugian pada volume tinggi barang dan keuntungan pada volume rendah barang, perselisihan atas alokasi biaya [15].

ABC / M implementasi tantangan dan industri apa pun pelajaran-belajar juga harus dipelajari sebelum penggelaran sistem yang diusulkan. Ini termasuk tantangan terbesar dalam memperoleh buy-in dan komitmen dari manajemen, operasional manajer dan anggota tim. Di samping itu, pendekatan dan strategi penggelaran harus melibatkan semua tingkat pengguna sebanyak dan sesegera mungkin untuk mengurangi perlawanan untuk berubah dan untuk memastikan bahwa inisiatif tidak akan dipandang sebagai khusus lain, “suara baik” program yang menghasilkan manfaat pasti [15].

ABC / M pendekatan tidak boleh diperlakukan sebagai biaya hanya mengumpulkan dan sistem pelaporan seperti sedikit menambah nilai bagi perusahaan dan operasi internal. ABC / M juga harus dimasukkan dalam setiap perusahaan yang ada sistem pendukung keputusan (DDS) yang membantu pengambilan keputusan atau pembuat untuk solusi dan wawasan dan perencanaan biaya. Untuk mengilustrasikan, DDS memperluas ABC / M cakrawala dengan memasukkan alat dan teknik untuk melakukan pemodelan dan analisis biaya, apa-bila skenario dan masalah biaya tidak terstruktur. Dengan merger ini, perusahaan dapat mengenali potensi penuh dan manfaat dari pelaporan dan perencanaan biaya melalui biaya memperkirakan, tren, peramalan, dan biaya siklus hidup kegiatan.

Dalam akuntansi biaya, perhitungan harga pokok dilakukan dengan menjumlahkan seluruh unsur biaya produksi, sedangkan harga pokok produksi per unit ditentukan dengan membagi seluruh total biaya produksi dengan volume produksi yang dihasilkan atau yang diharapkan akan dihasilkan. Cara seperti ini yang harus digunakan apabila berhubungan dengan prinsip akuntansi, mempengaruhi baik jumlah harga pokok produk maupun cara penyajiannya dalam laporan rugi laba. Bagi manajemen, punya kebebasan untuk tidak mengikuti prinsip akuntansi dalam hal tertentu, cara yang disebut Full Costing tersebut seringkali tidak banyak membantu. Oleh karena itu untuk perencanaan dan pengambilan keputusan yang berhubungan dengan biaya produksi dikenal dengan pendekatan Variable Costing .

 VARIABEL COSTING
Variable Costing adalah suatu metode penentuan harga pokok ( dan pengaruhnya pada penyajian laporan rugi laba ) dimana hanya biaya produksi variabel saja dibebeakan sebagai bagian dari harga pokok produksi. Metode ini disebut Variable Costing dengan alasan bahwa biaya yang dibebankan kepada produk hanya biaya yang berhubungan langsung dengan produk saja. Dengan pengertian tersebut, maka yang disebut harga pokok produksi adalah penjumlahan dari biaya bahan variabel, biaya upah variabel dan biaya overhead variabel tampak sebagai berikut:
Biaya Bahan variabel Rp xxx
Biaya upah variabel xxx
Biaya overhead variabel xxx
———– (+)
Harga pokok produksi Rp xxx

Dengan cara seperti tersebut, maka dalam metode Variable Costing biaya overhead tetap bukan merupakan bagian dari produksi dan hal ini akan berpengaruh pada penyajian laporan rugi laba.

Metode Variable Costing mempunyai perbedaan dengan metode harga pokok penuh (Full Costing) dalam hal:
1.Penentuan harga pokok produksi
2.Penyajian dalam laporan rugi laba

1.Penentuan harga pokok produksi
Metode Full Costing : Menggunakan pendekatan FUNGSI Yaitu : pembebanan biaya didasarkan pada Fungsi perusahaan sehingga apa yang disebut biaya produksi baik langsung maupun tidak langsung,tetap maupun variabel.
Biaya operasi adalah : Seluruh biaya untuk menawarkan dan menjual produk setelah keluar dari fungsi produksi, meliputi biaya operasi tetap dan variabel atau bisa dikelompokkan menjadi fungsi lebih terinci, seperti fungsi administrasi, fungsi penjualan dsb.

Metode Variable Costing : Menggunakan pendekatan Tingkah Laku
Artinya,perhitungan harga pokok dan penyajian laporan laba rugi didasarkan atas tingkah laku biaya. Biaya produksi dibebani biaya variabel saja,dan biaya tetap dianggap bukan biaya produksi. Pendekatan ini digunakan karena dianggap produksi yang berubah-ubah saja layak dibebankan,agar tidak terjadi kelebihan atau kekurangan pembebanan. Demikian pula pada Biaya Operasi. Biaya Operasi dipisahkan dengan biaya operasi tetap, karena biaya operasi variabel berubah sesuai dengan perubahan operasi perusahaan, sedangkan biaya operasi tetap tidak dipengaruhi oleh operasi perusahaan.

Dengan perbedaan pendekatan tersebut, maka penyajian laporan laba rugi menurut kedua metode berbeda. Metode Harga Pokok Penuh, laporan laba rugi disajikan berdasar fungsi,sedangkan laporan laba rugi menurut metode Variable Costing disajikan berdasar tingkah laku.

2. Penyajian dalam Laporan Laba Rugi.

Pada Variable Costing ada item Contribution Margin (Laba Kontribusi) yaitu selisih Penjualan dengan biaya-biaya variabel, sedangkan pada Full Costing tidak ada.

 MANFAAT VARIABLE COSTING BAGI MANAJEMEN:

1. Variable Costing sebagai Alat Perencanaan Laba
Perencanaan Laba atau perencanaan operasi adalah rencana dari manajemen yang meliputi seluruh tahap dari operasi dimasa yang akan datang untuk mencapai tujuan perusahaan yang dibagi dalam dua jenis rencana, yaitu rencana jangka pendek dan jangka panjang. Variable Costing bermanfaat dalam pembuatan rencana jangka pendek dengan memisahkan biaya variabel dan tetap dalam laporan rugi laba, sehingga akan diketahui Contribution Margin. Dengan kedua hal itu maka manajemen bisa merencanakan berapa laba yang akan diperoleh.

2. Variable Costing sebagai Petunjuk Penentuan Harga Jual
Informasi Contribution Margin dari Variable Costing sangat membantu dalam menentukan harga jual yang kompetitive, karena Contribution Margin menunjukkan berapa kelebihan hasil penjualan dari biaya variabel, bisa diperhitungkan dengan mengalikan contribution margin/unit dengan jumlah penjualan.sedang biaya tetap akan tetap jumlahnya, oleh karena itu tertutup atau tidaknya tergantung jumlah CM yang didapat. Selisih antara CM dengan biaya tetap merupakan laba.

3. Variable Costing untuk Pengambilan Keputusan Manajemen
Manajemen sering dihadapkan pada masalah pemilihan alternatif dimana alternatif-alternatif tersebut mempunyai pengaruh terhadap besar kecilnya laba perusahaan. seperti masalah memasuki pasar-pasar baru, perluasan usaha,memenuhi atau tidak pesanan khusus,membuat sendiri atau memesan bahan pembantu atau suku cadang tertentu. Masalah ini dapat dipecahkan dengan pertolongan analisis CM.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 66 pengikut lainnya.