Kuliah Akuntansi

PSAK No.10 in Accurate Accounting

Posted on: 4 Maret 2009

 

Accurate menyesuaikan sistem transaksi dalam mata uang asing sesuai dengan PSAK No.10

Berikut Pernyataan Standar Akunatansi Keuangan No.10

Transaksi Dalam Mata Uang Asing.

Tujuan

Suatu perusahaan dapat melakukan aktivitas yang menyangkut valuta asing ( foreign activities ) dalam dua cara : melakukan transaksi dalam mata uang asing atau memiliki kegiatan usaha luar negri ( foreign operations ). Untuk memasukkan transaksi dalam valuta asing pada laporan keuangan suatu perusahaan, transaksi harus dinyatakan dalam mata uang pelaporan perusahaan.

Pernyataan ini mengatur akutansi untuk transaksi dalam mata uang asing yang meliputi penentuan kurs yang digunakan dan pengakuan pengaruh keuangan dari perubahan kurs valuta asing dalam laporan keuangan.


Ruang Lingkup

01. Pernyataan ini harus diterapkan dalam akuntansi untuk transaksi dalam valuta asing.

02. Pernyataan ini mengatur akuntansi hedge diatur dalam standar akuntansi keuangan terkait.

03. Pernyataan ini tidak mengatur tentang penjabaran laporan keuangan dari kegiatan usaha luar negri untuk tujuan konsolidasi, konsolidasi parsial atau melalui penerapan dengan metode ekuitas ( lihat PSAK No.11 tentang Penjabaran Laporan Keuangan dalam Mata Uang Asing ).

04. Pernyataan ini tidak mengatur penyajian laporan arus kas tentang arus kas yang bersumber dari transaksi valuta asing ( lihat PSAK No.2 tentang Laporan Arus Kas ).

Definisi

05. Berikut adalah pengertian istilah yang digunakan dalam pernyataan ini :

Kegiatan usaha luar negri ( foreign operation ) adalah suatu anak perusahaan ( subsidiary ), perusahaan asosiasi ( associates ), usaha patungan ( joint venture ) atau cabang perusahaan pelapor, yang aktivitasnya dilaksanakan di suatu negara di luar negara perusahaan pelapor. Kegiatan usaha tersebut dapat merupakan bagian integral dari suatu perusahaan pelapor atau entitas asing.

Entitas asing ( foreign entity ) adalah suatu kegiatan usaha luar negri ( foreign operation ), yang aktivitasnya bukan merupakan bagian integral dari perusahaan pelapor.

Mata uang pelaporan adalah mata uang yang digunakan dalam menyajikan laporan keuangan.

Mata uang asing adalah mata uang selain mata uang pelaporan suatu perusahaan.

Kurs adalah rasio pertukaran dua mata uang.

Selisih kurs (Exchange different ) adalah selisih yang dihasilkan dari pelaporan jumlah unit usaha mata uang asing yang sama dalam mata uang pelaporan pada kurs yang berbeda.

kurs penutup ( closing rate ) adalah nilai tukar spot pada tanggal neraca.

Investasi neto dalam suatu entitas asing adalah bagian ( share ) perusahaan pelapor dalam aset neto suatu entitas asing.

Pos moneter adalah kas dan setara kas, aset, dan kewajiban yang akan diterima atau dibayar yang jumlahnya pasti atau dapat ditentukan.

Nilai wajar ( fair value ) adalah nilai dimana suatu aset dapat dipertukarkan atau, suatu kewajiban diselesaikan antara pihak yang memahami dan berkeinginan untuk transaksi wajar ( arm’s length transaction ).

PENJELASAN

Pengakuan awal

06. Transaksi dalam mata uang asing adalah transaksi yang didenominasi atau membutuhkan penyelesaian dalam suatu mata uang asing, termasuk transaksi yang timbul ketika suatu perusahaan :

(a) membeli atau menjual barang atau jasa yang harganya didenominasi dalam suatu mata uang asing.

(b) meminjam ( utang) atau meminjamkan ( piutang ) dana yang didenominasi dalam suatu mata uang asing.

(c) menjadi pihak untuk suatu perjanjian dalam valuta asing yang belum terlaksana; atau

(d) memperoleh atau melepaskan aset, dan menimbulkan atau melunasi kewajiban, yang didenominasi dalam suatu mata uang asing.

07. Transaksi dalam mata uang asing dibukukan dengan menggunakan kurs pada saat terjadinya transaksi.

08. Kurs tunai yang berlaku pada tanggal transaksi sering disebut sebagai kurs spot ( spot rate ). Untuk alasan praktis, kurs yang mendekati kurs tanggal transaksi sering digunakan. contohnya : suatu kurs rata-rata selama seminggu atau sebulan mungkin digunakan untuk seluruh transaksi dalam setiap mata uang asing yang terjadi selama periode tersebut. Namun, jika kurs berfluktuasi secara signifikan, penggunaan kurs rata-rata untuk satu periode tidak dapat diandalkan.

Pelaporan pada Tanggal Neraca Berikutnya

09. Pada setiap tanggal neraca ;

(a) pos aset dan kewajiban moneter dalam mata uang asing dilaporkan ke dalam mata uang rupiah dengan menggunakan kurs tanggal neraca. Apabila terdapat kesulitan dalam menemukan kurs tanggal neraca, dapat digunakan kurs tengah Bank Indonesia sebagai indikator yang objektif;

(b) pos non moneter tidak boleh dilaporkan dengan menggunakan kurs tanggal neraca, tetapi tetap harus dilaporkan dengan menggunakan kurs tanggal transaksi; dan

(c) pos non moneter yang dinilai dengan nilai wajar dalam mata uang asing harus dilaporkan dengan menggunakan kurs yang berlaku pada saat nilai tersebut ditentukan.

10. Nilai tercatat dari suatu pos ditentukan sesuai dengan standar akuntansi yang relevan. Misalnya, instrumen keuangan dan properti tertentu ( investasi yang dilakukan Dan Pensiun ), mungkin dinilai pada nilai wajar atau pada biaya historis. Apakah nilai tercatat ditentukan berdasarkan biaya historis atau nilai wajar, nilai yang ditentukan untuk pos valuta asing dilaporkan pada mata uang pelaporan sesuai dengan Pernyataan ini.

Pengakuan Selisih Kurs ( Recognition of Exchange Differences ).

11. Paragaraf 13 hingga 17 menjelaskan perlakuan akuntansi yang diharuskan Pernyataan ini sehubungan dengan selisih kurs atas transaksi dalam mata uang asing. Pernyataan tersebut juga mencakup perlakuan wajib ( benchmark treatment ) untuk selisih kurs sebagai akibat devaluasi atau depresiasi luar biasa suatu mata uang asing yang tidak memungkinkan dilakukannya hedging dan yang menimbulkan kewajiban tidak terselesaikan sehubungan dengan perolehan aset dalam mata uang asing.

Perlakuan alternatif yang diizinkan untuk selisih kurs seperti itu dijelaskan dalam paragraf 20.

12. Pernyataan ini mengatur akuntansi hedge sebatas selisih kurs dalam transaksi hedge. Aspek lain dari akuntansi hedge diatur dalam standar akuntansi keuangan terkait.

13. Kecuali untuk hal-hal yang diuraikan dalam paragraf 16 dan 18, selisih penjabaran pos aset dan kewajiban moneter dalam mata uang asing pada tanggal neraca dan laba rugi kurs yang timbul dari transaksi dalam mata uang asing dikreditkan atau dibebankan pada laporan laba rugi periode berjalan.

14. Selisih kurs timbul apabila terdapat perubahan kurs antara tanggal transaksi dan tanggal penyelesaian ( settlement date ) pos moneter yang timbul dari transaksi dalam mata uang asing. Bila timbulnya dan penyelesaian suatu transaksi berada dalam periode akuntansi yang sama. maka seluruh selisih kurs diakui dalam periode tersebut. Namun jika timbulnya dan diselesaikannya suatu transaksi berada dalam beberapa periode akuntansi. maka selisih kurs harus diakui untuk setiap periode akuntansi dengan memperhitungkan perubahan kurs untuk masing-masing periode.

Transaksi Valuta Berjangka.

15. (a) Salah satu transaksi valuta berjangka SWAP adalah transaksi pertukaran dua valuta asing melalui pembelian tunai dengan penjualan kembali secara berjangka atau penjualan tunai dengan pembelian kembali secara berjangka. Pada hakikatnya, transaksi tersebut dilakukan untuk lebih mendapatkan kepastian tentang kurs penjabaran yang bersifat tetap selama dalam kontrak sehingga pembuat transaksi terhindar dari kerugian akibat perubahan kurs. Dalam transaksi SWAP, pembuat transaksi umumnya memperhitungkan premi yang ditetapkan terlebih dahulu.

(b) Perlakuan akuntansi transaksi valuta berjangka yang dilakukan untuk tujuan hedging utang adalah sebagai berikut :

(i) Selisih kurs tunai ( spot rate ) dan kurs masa depan ( forward rate ) dicatat sebagai diskonto atau premi yang harus diamortisasi sesuai dengan jangka waktu kontrak valuta berjangka.

(ii) Setiap akhir periode harus dihitung selisih kurs untuk utang dalam mata uang asing ( yang diproteksi melalui hedging ), forward receivable, dan forward payable dalam mata uang asing. Selisih kurs yang timbul sebagai akibat perbedaan antara kurs tanggal neraca dengan kurs tunai pada saat terjadinya transaksi diakui sebagai keuntungan atau kerugian kurs periode berjalan;

(iii) Dalam neraca, forward receivable atau forward payable, dan diskonto atau premi yang belum diamortisasi yang timbul dari kontrak valuta berjangka yang berhubungan harus dijadikan satu di bagian aset atau kewajiban, bergantung pada posisi neto dari seluruh pos tersebut.

Investasi Neto dalam suatu Entitas Asing

16. Selisih kurs yang timbul pada suatu pos moneter yang dalam substansinya membentuk bagian investasi neto perusahaan dalam suatu entitas asing harus diklasifikasikan sebagai ekuitas dalam laporan keuangan perusahaan hingga saat pelepasan ( disposal ) investasi neto dan pada saat tersebut harus diakui sebagai pendapatan atau beban ( lihat PSAK No.11 tentang Penjabaran Laporan Keuangan dalam Mata Uang Asing ).

17. Suatu perusahaan mungkin memiliki pos moneter berupa utang piutang dengan suatu entitas asing. Apabila timbulnya dan penyelesaian pos moneter tersebut tidak terencana, dalam substansinya merupakan suatu perluasan, atau pengurangan dari, investasi neto perusahaan dalam entitas asing tersebut. Pos moneter tersebut mungkin mencakup piutang jangka panjang atau pinjaman tetapi tidak mencakup piutang dagang atau utang dagang.

18. Selisih kurs yang timbul dari kewajiban valuta asing yang diperhitungkan sebagai hedging dari investasi neto perusahaan dalam suatu entitas asing harus diklasifikasikan sebagai ekuitas dalam laporan keuangan perusahaan hingga pelepasan (disposal ) investasi neto, dan pada saat tersebut harus diakui sebagai pendapatan atau sebagai beban ( lihat PSAK No.11 tentang Penjabaran Laporan Keuangan dalam Mata Uang Asing ).

Perlakuan Alternatif yang Diizinkan.

19. Perlakuan wajib ( benchmark treatment ) untuk selisih kurs pada paragraf 20 dijelaskan pada paragraf 13.

20. Selisih kurs dapat disebabkan oleh devaluasi atau depresiasi luar biasa suatu mata uang dalam keadaan tidak tersedia fasilitas hedging dan menimbulkan kewajiban yang tidak terselesaikan akibat perolehan aset yang baru saja dilakukan dan harus dilunasi dalam mata uang asing. Selisih kurs tersebut dapat dimasukkan sebagai nilai tercatat ( carrying amount ) aset sepanjang nilai tercatat aset yang telah disesuaikan tidak melebihi jumlah terendah antara biaya pengganti ( replacement cost ) dan jumlah yang dapat diperoleh kembali ( amount receivable) dari penjualan atau penggunaan aset tersebut. Alternatif yang dipilih harus diungkapkan secukupnya.

21. Selisih kurs tidak termasuk dalam nilai tercatat suatu aset jika tersedia fasilitas hedging utang valuta asing yang timbul dari perolehan aset. Tetapi, kerugian akibat perubahan kurs adalah bagian yang secara langsung dapat diatribusikan pada biaya perolehan aset jika kewajiban tidak dapat diselesaikan dan tidak terdapat alat praktis untuk hedging, contohnya . jika sebagai hasil dari pengendalian valuta asing, terdapat penundaan dalam memperoleh mata uang asing. Maka dalam keadaan demikian biaya perolehan aset termasuk selisih kurs.

Pengungkapan

22. Perusahaan harus mengungkapkan :

(a) jumlah selisih kurs yang diperhitungkan dalam laba neto atau kerugian untuk periode tersebut;

(b) selisih kurs neto yang diklasifikasikan dalam kelompok ekuitas sebagai suatu unsur yang terpisah, dan rekonsiliasi selisih kurs tersebut pada awal dan akhir periode; dan

(c) jumlah selisih kurs yang timbul selama periode, yang termasuk dalam nilai tercatat suatu aset sesuai dengan perlakuan alternatif yang diizinkan dalam paragaraf 20.

23. Perusahaan mengungkapkan dampak atas pos-pos moneter mata uang asing sehubungan dengan suatu perubahan dalam kurs yang terjadi setelah tanggal neraca jika perubahan tersebut sedemikian besar sehingga bila tidak diungkapkan akan memengaruhi kemampuan pembaca laporan keuangan untuk membuat evaluasi dan keputusan yang tepat ( lihat PSAK No.8 tentang Peristiwa Setelah Tanggal Neraca ).

24. Pengungkapan juga diperlukan sehubungan dengan kebijakan manajemen risiko mata uang asing.

KETENTUAN TRANSISI

25. Pada saat pernyataan ini pertama kali diterapkan perusahaan harus mengklasifikasikan secara terpisah dan mengungkapkan saldo kumulatif, pada awal periode sebelumnya, kecuali jika jumlah tersebut tidak dapat ditentukan secara wajar.

Dalam hal tersebut, perlu dijelaskan alasannya.

TANGGAL EFEKTIF

26. Pernyataan ini berlaku efektif untuk laporan keuangan yang mencakup periode laporan yang dimulai pada atau setelah tanggal 1 Januari 1995. Penerapan lebih dini dianjurkan.

Hak cipta, 1994, Ikatan Akuntan Indonesia

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 2,371,812 hits
%d blogger menyukai ini: