Kuliah Akuntansi

Archive for Juni 2011

Untuk setiap periodenya setiap koperasi harus menyajikan laporan keuangan. Tentunya laporan tersebut juga harus memenuhi standar yang telah ditentukan oleh PSAK yang berlaku umum.

Menurut SAK ciri-ciri kualitatif setiap laporan keuangan adalah :
1. Relevan
Relevansi suatu informasi harus dihubungkan dengan maksud penggunaannya. Jadi bila informasi yang disajikan tidak relevan untuk pertimbangan para pengambul keputusan, maka informasi yang demikian tidak akan ada gunanya walaupun kualitas lainnya terpenuhi. Dalam mempertimbangkan relevansi suatu informasi yang bertujuan umum (general purpose information), perhatian difokuskan pada kebutuhan umum pemakai dan bukan pada kebutuhan khusus pihak tertentu.
2. Dapat dimengerti
Informasi harus dapat dimengerti oleh pemakainya, dan dinyatakan dalam bentuk dan dengan istilah yang disesuikan dengan batas pengertian para pemakai. Dalam hal ini, pihak pemekai juga diharapkan adanya pengertian/pengetahuan mengenai aktivitas ekonomi perusahaan, proses akuntansi, serta istilah-istilah teknis yang digunakan dalam laporan keuangan.
3. Daya Uji (verifiability)
Karena dalam penyusunan laporan keuangan tidak lepas dari pertimbangan dan pendapat subjektif, sehingga proses tersebut tidak lagi hanya berlandaskan pada realisasi objektif semata. Dengan demikian un tuk meningkatkan manfaatnya, informasi harus dapat diuji kebenarannya oleh para pengukur ”yang independen” dengan menggunakan metode pengukuran yang sama.
4. Netral
Informasi harus diarahkan pada kebutuhan umum pemakai, dan tidak bergantung pada kebutuhan dan keinginan pihak tertentu.
5. Tepat Waktu
Informasi harus disampaikan sedini mungkin untuk dapat digunakan sebagai dasar untuk membantu dalam pengambilan keputusan ekonomi dan untuk menghindari tertundanya pengambilan keputusan tersebut.
6. Daya Banding (Comparability)
Informasi dalam laporan keuangan akan lebih berguna bila dapat dibandingkan dengan laporan keuangan periode sebelumnya dari perusahaan yang sama, maupun dengan laporan keuangan lainnya pada periode yang sama.
Adanya berbagai alternatif metode akuntansi yang dapat diterapkan oleh perusahaan, menyulitkan untuk tercapainya daya banding antar perusahaan, sehingga hal itu penekanan harus dilakukan pad tercapainya daya banding antar periode dalam satu perusahaan, yaitu dengan menetapkan metode akuntansi yang sama dari tahun ke tahun, atau yang lebih dikenal dengan prinsip konsistensi. Namun hal ini tidak menutup kemungkinan bagi perusahaan untuk menganti metode akuntansi bila pertimbangan pengantian metode tersebut dianggap lebih baik. Selanjutnya, sifat dan pengaruh serta alasan dilakukannya perubahan harus diungkapkan dalam laporan keuangan periode terjadinya perubahan.
7. Lengkap
Informasi akuntansi yang lengkap meliputi semua data akuntansi keuangan yang dapat memenuhi secukupnya 6 tujuan kuntitatif di atas, atau dapat juga diartikan sebagai pemenuhan standar pengungkapan yang memadai dalam pelaporan keuangan.

Perbedaan Pencatatan Akuntansi Koperasi
Dalam akuntansi koperasi terdapat beberapa perkiraan khusus yang membedakannya dari perkiraan perusahaan baik jasa maupun manufaktur. Perbedaan perkiraan dalam koperasi menyangkut beberapa hal sebagai berikut :
1. Penyertaan masing-masing anggota
Penyertaan para anggota dalam koperasi terdiri dari :
a. Simpanan pokok
b. Simpanan wajib
c. Simpanan sukarela

Menurut PSAK No.27 pernyataan no.3, simpanan pokok dan simpanan wajib dianggap sebagai bagian dari ekuitas koperasi, sedangakan untuk simpanan sukarela dianggap lebih bersifat sebagai kewajiban daripada modal. Karena itu dalam penyajian dalam neraca simpanan pokok dan simapan wajib akan disajikan dalam kelompok ekuitas, dan simpanan sukarela disajikan sebagai kewajiban, sedangkan untuk kelompok kewajiban lancar atau kewajiban jangka panjang ditentukan dari jatuh temponya.

Sedangkan dalam perusahaan umum, tidak terdapat simpanan. Biasanya perusahaan yang menerima penyertaan dari pihak ketiga perusahaan akan menerbitkan saham. Oleh perusahaan saham akan dicatat sebesar nilai perolehan atas saham tersebut. Dan untuk penyajian dalam neraca saham akan disajikan dalam kelompok ekiutas.

2. Pembagian sisa hasil usaha
Perbedaan yang kedua adalah mengenai pembagian laba, atau dalam koperasi disebut sisa hasil usaha (SHU). Sisa hasil usaha (SHU) koperasi dapat dibagi dalam 2 kategori menurut asal transaksinya, yaitu :
a. Sisa hasil usaha yang berasal dari usaha yang diselenggarakan untuk anggota.
b. Sisa hasil usaha yang berasal dari usaha yang diselenggarakan untuk non-anggota.

Sisa hasil usaha yang boleh dibagikan kepada anggota hanyalah sisa hasil usaha yang berasil dari usaha yang diselenggarakan untuk anggota. Dan pada rapat anggota tahunan (RAT), sisa hasil usaha diputuskan untuk dibagi sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam anggaran dasar koperasi.

Sisa hasil usaha yang berasal dari anggota
a. Cadangan koperasi
b. Anggota sebanding dengan jasa yang diberikan
c. Dana pengurus
d. Dana pegawai/karyawan
e. Dana pendidikan koperasi
f. Dana sosial
g. Dana pembangunan daerah

Sisa hasil usaha yang bukan berasal dari anggota
a. Cadangan koperasi
b. Dana pengurus
c. Dana pegawai/karyawan
d. Dana pendidikan koperasi
e. Dana sosial
f. Dana pembangunan daerah

Sedangkan dalam perusahaan umum, pembagian laba dilakukan dalam bentuk deviden untuk para pemegang saham dan sisanya akan dicatat dalam laba ditahan.

Sifat dan Keterbatasan Laporan Keuangan Koperasi

Secara umum meskipun sebuah laporan keuangan telah disajikan sesuai dengan standar yang ditentukan, namun tetap saja sebuah laporan keuang memiliki sifat dan keterbatasan tersendiri. Hal ini dapat ditemui bail dalam laporan keuangan perusahaan umum seperti jasa dan manufaktur maupun dalam laporan keuangan koperaasi. Sifat dan keterbatasan laporan keuangan koperasi sama dengan laporan keuangan lainnya, seperti yang diutarakan oleh Amin Widjaja sebagai berikut :
1. Laporan keuangan bersifat historis, yaitu merupanakan laporan atas kejadian yang terlewat.
2. Laporan keuangan bersifat umum, dan bukan dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan pihak tertentu.
3. Proses penyusunan laporan akuntansi tidak luput dari penggunaan taksiran dan berbagai pertimbangan.
4. Akuntansi hanya melaporkan informasi yang material.
5. Laporan keuangan bersifat konservatif dalam menghadapi ketidakpastian.
6. Laporan keuangan lebih menekankan pada makna ekonomis suatu laporan peristiwa/transaksi daripada bentuk hukumnya (formalitas).
7. Laporan keuangan disusun dengan mengunakan istilah teknis, dan pemakai laporan keuangan diasumsikan memahami bahasa teknis akuntansi dan sifat informasi yang dilaporkan.
8. Adanya berbagai alternatif metode akuntansi yang dapat digunakan menimbulkan variasi dalam pengukuran sumber ekonomis dan tingkat kesuksesan antara perusahaan.
9. Informasi yang bersifat kualitatif dan fakta yang tidak dikualifikasikan umumnya diabaikan.

Walaupun laporan keuangan memiliki keterbatasan dalam berbagai sisi, namun hal tersebut tidak mengurangi fungsi dari laporan keuangan yaitu untuk memberikan informasi yang wajar atas posisi keuangan perperiode yang dilaporkan.

Laporan Akuntan

Sebelum membicarakan lebih jauh lagi mengenai laporan akuntan. Sebenarnya siapa yang disebut akuntan. Akuntan adalah suatu gelar yang pemakaiannya dilindungi oleh peraturan (undang-undang No. 34 tahun 1954). Peraturan tersebut mengatakan bahwa gelar akuntan hanya dapat dipakai oleh mereka yamh telah menyelesaikan pendidikannya dari perguruan tinggi yang diakui menurut peraturan tersebut dan telah terdaftar pada departemen Keuangan yang dibuktikan pemberian nomor regrister.(Moenaf H. Regar : 2007,7).
Yang dimaksud dalam profesi akuntan di sini adalah jabatan “akuntan publik”. Keahlian profesi ini melekat pada pribadi seseorang sehingga tanggung jawab hasil dari pekerjaan profesi adalah tanggung jawab pribadi, walaupun dalam pelaksanaan sebenarnya dilakukan oleh tenaga-tenaga yang bukan akuntan (senior auditor dan junior auditor).
Laporan akuntan adalah satu dokumen yang dibuat oleh akuntan sebagai produk akhir dari pemeriksaan keuangan yang dilakukannya. Laporan ini terdiri dari alporan akuntan “ yang sebenarnya” dan lampiran yang menyertainya yaitu daftar keuangan (financial statement) yang dibuat oleh manajemen, biasanya terdiri dari daftar neraca, daftar laba rugi dan daftar perubahan posisi keuangan. Termasuk dalam daftar keuangan ialah catatan daftar keuangan yang merupakan bagian yang taka terpisah dari daftar keuangan itu maupun informasi tambahan lainnya yang dianggap perlu disajikan oleh manajemen. Selain dari daftar keuangan , laporan akuntan juga memuat penjelasan tambahan untuk melengkapi atau menambah kejelasan dari daftar keuangan yang dibuat oleh akuntan dan bukan sajian dari menejemen.

Laporan akuntan yang berisikan pendapatnya yang ahli dan tidak memihak merupakan mahkota dari segala kegiatan pemeriksaan umumnya. Eksistensi profesi akuntasi sebenarnya terletak dalam keberanian akuntan untuk senantiasa menjunjung tinggi mahkota pendapatanya yang dituangkan dalam laporan dan ditandatanganinya.

Dalam buku yang diterbitkan oleh Ikatan Akuntas Indonesia (IAI) yang berjudul “ Norma Pemeriksaan Akuntan “, disebutkan bahwa jenis pendapat akuntan yang diberikan yang berkenaan dengan suatu pemeriksaan umum adalah :
1. Pendapat setuju (unqualified opinion)
Arti unqualified adalah suatu pendapat wajar tanpa kualifikasi atau pendapat wajar tanpa catatan, menyatakan bahwa laporan keuangan menyajikan secara wajar posisi keuangan, hasil usaha dan perubahan posisi keuangan sesuai dengan prinsip akuntansi Indonesia yang diterapkan secara konsisten dan memuat penjelasan yang memadai, sehingga laporan keuangan tidak menyesatkan para pemakainya. (Norma Pemeriksaan Akuntan).
Laporan ini biasa disebut juga dengan laporan audit bentuk baku atau suatu opini yang bersih (clean opinion), karena tidak terdapat suatu situasi yang memerlukan suatu kualifikasi atau modifikasi dalam pendapat auditor.

Dari pengertian diatas, laporan akuntan dengan pendapat setuju hanya dapat diberikan dengan persyaratan yang harus dipenuhi. Menurut Theodorous M. Tuannakota (1982 : 44) syarat yang harus dipenuhi unutk mendapatkan pendapat setuju dari akuntan publik adalah :
a. Akuntan telah memenuhi norma pemeriksaan akuntan didalam menjalankan tugasnya.
b. Berdasarkan pemeriksaan tersebut akuntan mempunyai keyakinan bahwa :
1. Ikhtisar keuangan yang diperiksanya itu memang layak dalam arti bahwa ikhtisar keuangan tidak terlalu tinggi atau rendah (not materially over understated) dan semua informasi yang diperlukan agar ikhtisar keuangan tidak menyesatkan, memang sudah tercantum.
2. Ikhtisar keuangan sudah disajikan sesuai dengan prinsip akuntansi Indonesia.
3. Prinsip akuntansi Indonesia diterapkan secara kosisten dengan tahun sebelumnya.

Dalam buku tulisan Alvin A. Arens (2001 : 71) disebutkan bahwa terdapat 1 lagi jenis laporan audit yaitu laporan audit wajar tanpa sarat dengan paragraf penjelasan atau modifikasi kalimat (unqualified audit report with explanatory peragraf or modified wording).
Penyebab utama ditambahkannya suatu paragraf penjelasan atau modifikasi kalimat laporan audit bentuk baku adalah :
1. Tidak adanya konsistensi dalam penerapan prinsip akuntansi yang berlaku umum.
2. Ketidakpastian atas kelangsungan hidup perusahaan (going concern).
3. Auditor menyetujui terjadinya penyimpangan dari prinsip akuntansi yang berlaku umum.
4. Penekanan pada suatu masalah.
5. Laporan yang menyebabkan auditor lain.

2. Pendapat setuju dengan pembatasan (qualified opinion)

Suatu pendapat wajar dengan kualifikasi atau pendapat wajar dengan catatan menyatakan bahwa “kecuali untuk” atau “tergantung pada” pengaruh dari masalah yang berkaitan dengan kualifikasi tersebut, laporan keuangan menyajikan secara wajar posisi keuangan, hasil usaha, perubahan posisi keuangan sesuai dengan prinsip akuntansi Indonesia yang diterapkan secara konsisten.

Pendapat semacam ini dinyatakan apabila terdapat kekurangan bahan pembuktian kompeten yang cukup atau adanya pembatasan ruang lingkup pemeriksaan, sehingga menyebabkan akuntan berpendapat bahwa akuntan tidak dapat memberikan pernyataan pendapat wajar, atau berdasarkan pemeriksaannya terdapat :
1. Laporan keuangan memuat suatu penyimpangan dengan prinsip akuntansi Indonesia, yang berpengaruh material.
2. Telah terjadi perubahan yang material mengenai prinsp akuntansi atau perubahan dalam metode penerapannya diantara periode-periode yang diperiksanya.
3. Terdapat ketidakpastian penting yang berpengaruh terhadap laporan keuangan,
4. Adanya prnsip-prinsip akuntansi yang tidak diterapkan secara konsisten.
3. Pendapat tidak setuju (adverse opinion)
Pendapat tidak setuju atau tidak wajar menyatakan, bahwa laporan keuangan tidak menyajikan secara wajar posisi keuangan, hasil usaha, dan perubahan posisi keuangan sesuai dengan prinsip akuntansi Indonesia. (IAI, Norma Pemerikasaan Akuntan : 91).
Dalam hal ini akuntan menyatakan pendapat tidak setuju karena terdapat hal-hal yang cukup material dalam laporan keuangan tidak disajikan secara wajar, sehingga laporan keuangan tersebut tidak dapat dipercaya.
4. Laporan tanpa pendapat (disclaimer of opinion)
Suatu pernyatan menolak untuk memberikan pendapat berisi pernyataan bahwa akuntan publik tidak memberikan pendapat mengenai kewajaran laporan keuangan secara keseluruhan.
Penolakan berpendapat ini dapat disebabkan oleh 2 hal, yaitu :
1. Adanya pembatasan atas luasnya pemeriksaan, yang menyebabkan diragukannya kelayakan seluruh laporan keuangan.
2. Adanya ketidakpastian mengenai jumlah suatu atau beberapa perkiraan tertentu. (Theodorus, 1982 : 37)

Auditing
Menurut Boyton Jonhson Kell (2002:5) disebutkan bahwa definisi auditing adalah :
“suatu proses sistematis untuk memperoleh serta mengevaluasi bukti secara objektif mengenai asersi-asersi kegiatan dan peristiwa ekonomi, dengan tujuan menetapkan derajat kesesuaian antara asersi-asersi tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya serta penyampaian hasil-hasilnya kepada pihak-pihak yang berkepentingan”.

Beberapa ciri penting yang ada dalam definisi tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :
a. Suatu proses sistematis, serupa serangkaian langkah atau prosedur yang logis, terstruktur, dan terorganisir.
b. Memperoleh dan mengevaluasi bukti secara objektif berarti memeriksa dasar asersi serta mengevaluasi hasil pemeriksaaan tersebut tanpa memihak dan berprasangka, baik untuk atau terhadap perorangan (atau entitas) yang membuat asersi tersebut.
c. Asersi tentang kegiatan atau peristiwa ekonomi merupakan representasi yang dibuat oleh perorangan atau entitas. Asersi ini merupakan subjek pokok auditing. Asersi meliputi informasi yang disampaikan dalam laporan keuangan, laporan operasi intern, dan surat pemberitahuan pajak (SPT).
d. Derajat kesesuaian menunjuk pada kedekatan di mana asersi dapat diidentifikasi dan dibandingkan dengan kriteria yang telah ditetapkan. Ekspresi kesesuaian ini dapat berbentuk kuantitas atau dapat juga berbentuk kualitatif.
e. Kriteria yang telah ditetapkan adalah standar-standar yang digunakan sebagai dasar untuk menilai asersi atau pernyataan. Kriteria dapat berupa peraturan-peraturan spesifik yang dibaut oleh badan legislatif, anggaran atau ukuran kinerja lanya yang ditetapkan oleh manajemen, akuntasi yang berterima umum, Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) serta badan-badan pengatur lainnya.
f. Penyampaian hasil diperoleh melalui laporan tertulis yang menunjukkan derajat kesesuaian antara asersi dan kriteria yang telah ditetapkan. Penyampaian ini dapat meningkatkan atau menurunkan derajat kepercayaan pemakai informasi keuangan atas asersi yang dibuat oleh pihak yang diaudit.
g. Pihak-pihak yang berkepentingan adalah mereka yang menggunakan (atau mengandalkan) temuan-temuan auditor. Dalam lingkungan bisnis, mereka adalah para pemegang saham, manajemen, kreditor, kantor pemerintah, dan masyarakat luas. (Boyton Johnson Kell, 2002 : 5)

Secara umum terdapat 3 jenis audit yang menunjukkan karateristik kunci yang tercakup dalam definisi auditing diatas, yaitu :
1. Audit laporan keuangan (financial statement audit)
Audit ini berkaitan dengan meperoleh dan mengevaluasi bukti tentang laporan-laporan entitas dengan maksud agar dapat memberikan pendapat apakah laporan tersebut telah disajikan secara wajar sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan, yaitu prinsip-prinsip akuntasi berterima umum.
2. Audit Kepatuhan (compliance audit)
Audit ini berkaitan dengan kegiatan memperoleh dan memerikasa bukti-bukti untuk menetapkan apakah kegiatan keuangan atau operasi suatu entitas telah sesuai dengan persyaratan, ketentuan, atau peraturan tertentu. Laporan audit kepatuhan umumnya ditujukan kepada otoritas yang menrbitkan kriteria tersebut dan dapat terdiri dari (1) ringkasan temuan atau (2) pernyataan keyakinan mengenai derajat kepatuhan dengan kriteria tersebut.
3. Audit Operasional (operational audit)
Audit yang berkaitan dengan kegiatan memperoleh dan mengevaluasi bukti-bukti tentang efisiensi dan efektivitas kegiatan operasi entitas dalam hubungannya dengan pencapaian tujuan tertentu. Audit ini disebut juga sebagai audit kinerja atau audit manajemen. Secara khas, laporan untuk audit operasioanal tidak hanya memuat pengukuran efisiensi dan efektivitas saja, namun juga memuat rekomendasi untuk peningkatan kinerja. (Boyton Johnson Kell, 2002 : 6-7)

Audit Koperasi

Dengan karateristik yang berbeda dengan jenis badan usaha lain, serta banyak faktor yang lain. Maka tim Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) menerbitkan suatu pedoman khusus pemeriksaan koperasi. Yaitu suatu pedoman yang digunakan untuk mengaudit koperasi.

Tujuan dari pemeriksaan koperasi adalah untuk :
a. Memberikan pendapat atas kewajiban penyajian laporan keuangan koperasi yang disusun sesuai dengan prinsip akuntansi Indonesia yang diterapkan secara konsisten.
b. Memberikan saran perbaikan atas aspek organisasi, tata laksana, usaha dan ekonomi dalam kaitannya dengan pelaksanaan asas dan sendi dasar ekonomi.

Sedangkan ruang lingkup dari pemeriksaan koperasi adalah seluruh komponen laporan keuangan yaitu neraca, perhitungan hasil usaha, laporan arus kas dan catatan atas laporan keuangan, serta laporan perubahan kekayaan bersih sebagai laporan tambahan. Namun lingkup pemeriksaan yang ada di luar laporan keuangan mencakup pengkajian, pengujian, dan penilaian terhadap aspek organisasi, tata laksana, usaha dan ekonomi dalam kaitannya dengan pelaksanaan asas dan sendi dasar koperasi.

Seperti yang kita lihat dalam kenyataan bahwa koperasi yang ada di Indonesia memiliki tenaga pengerak yang terbatas, untuk itu koperasi masih sangat perlu mendapat bimbingan, pengawasan, perlindungan dan fasilitas yang mendorong ke arah kemandirian. Oleh karena itu, pemeriksaan koperasi selain untuk mengevaluasi mengenai sistem akuntansi dan keuangan, kinerja koperasi, serta untuk memberikan masukan yang bermanfaat bagi kemajuan bagi koperasi itu sendiri.

Iklan

Pengertian Rasio Keuangan

Rasio merupakan alat ukur yang digunakan perusahaan untuk mengenalisis laporan keuangan. Rasio menggambarkan suatu hubungan atau pertimbangan antara suatu jumlah tertentu dengan jumlah yang lain. Dengan menggunkan alat analisa berupa rasio keuangan dapat menjelaskan dan memberikan gambaran kepada penganalisa tentang baik atau buruknya keadaan atau posisi keuangan suatu perusahaan dari suatu period eke periode berikutnya.

Analisis rasio keuangan adalah analisis yang menghubungkan perkiraan neraca dan laporan laba rugi terhadap satu dengan lainnya, yang memberikan gambaran tentang sejarah perusahaan serta penilaian terhadap keadaan suatu perusahaan tertentu. Analisis rasio keuangan memungkinkan manajer keuangan meramalkan reaksi para calon investor dan kreditur serta dapat ditempuh untuk memperoleh tambahan dana. (Zaki Baridwan, 1997 :17)
Suatu rasio tidak memiliki arti dalam dirinya sendiri, melainkan harus diperbandingkan dengan rasio yang lain agar rasio tersebut menjadi lebih sempurna dan untuk melakukan analisis ini dapat dengan cara membandingkan prestasi suatu periode dengan periode sebelumnya sehingga diketahui adanya kecenderungan selam periode tertentu, selain itu dapat pula dilakukan dengan membandingkan dengan perusahaan sejenis dalam industri itu sehingga dapat diketahui bagaimana keuangan dalam industri.

Dalam mengadakan interpretasi dan analisis laporan keuangan suatu perusahaan, seorang penganalisis memerlukan adanya ukuran atau yardstick tertentu. Ukuran yang sering digunakan dalam analisis keuangan adalah rasio. Pengertian rasio sebenarnya hanyalah alat yang dinyatakan dalam “aritmatical terms” yang dapat digunakan untuk menjelaskan hubungan antara dua macam data keuangan. Macamnya rasio banyak sekali, karena dapat dibuat menurut kebutuhan penganalisis.

Menurut Bambang Riyanto (1992 : 329), analisis rasio keuangan adalah proses penentuan operasi yang penting dan karakteristik keuangan dari sebuahperusahaan dari data akuntansi dan laporan keuangan. Tujuan dari analisis ini adalah untuk menentukan efisiensi kinerja dari manajer perusahaan yang diwujudkan dalam catatan keuangan dan laporan keuangan.

Dalam menggunakan analisis rasio keuangan pada dasarnya dapat melakukannya dengan dua macam perbandingan, yaitu :
• Membandingkan rasio sekarang (present ratio) dengan rasio-rasio dari waktu yang telah lalu (histories ratio) atau dengan rasio-rasio yang diperkirakan untuk waktu yang akan dating dari perusahaan yang sama.
• Membandingkan rasio-rasio dari suatu perusahaan dengan rasio-rasio sejenis dari perusahaan yang lain yang sejenis.
Dengan demikian manfaat suatu angka rasio sepenuhnya tegantung kepada kemampuan / kecerdasan penganalisis data menginterprestasikan data yang bersangkutan.

Keuanggulan Dan Keterbatasan Analisis Rasio Keuangan

Analisis rasio ini memiliki keuanggulan disbanding teknik analisis lainnya. Keuanggulan tersebut seperti diuraikan oleh Sofyan Syafii Harahap (1998 : 298) antara lain :
1. Rasio merupakan angka-angka dan ikhtisar statistic yang lebih mudah dibaca dan ditafsirkan.
2. Merupakan pengganti yang lebih sederhana dari informasi yang disajikan laporan keuangan yang sangat rinci dan rumit.
3. Mengetahui posisi perusahaan di tengah industri lain
4. Sangat bermanfaat untuk bahan dalam mengisi model-model pengambilan keputusan dan model prediksi.
5. Menstandarisir ukuran perusahaan
6. Lebih mudah memperbandingkan perusahaandengan perusahaan lain atau melihat perkembangan perusahaan secara periodic atau time series.
7. Lebih mudah melihat trend perusahaan serta melakukan prediksi di masa yang akan dating.

Disamping keunggulan yang dimiliki analisis rasio ini, teknik ini juga memiliki beberapa keterbatasan yang harus disadari sewaktu penggunaannya agar kita tidak salah dalam penggunaannya.

Adapun keterbatasan analisis rasio menurut Sofyan Syofii Harahap (1998 : 298) ini antara lain :
a. Kesulitan dalam memilih rasio yang tepat yang dapat digunakan untuk kepentingan pemakainya
b. Keterbatasan yang dimiliki laporan keuangan juga menjadi keterbatasan analisis ini seperti :
1. Bahan perhitungan rasio atau laporan keuangan itu banyak mengandung taksiran yang dapat dinilai biasa atau objektif.
2. Nilai yang terkandung dalam laporan keuangan dari rasio adalah nilai perolehan ( cost ) bukan harga pasar.
3. Klasifikasi dalam laporan keuangan bisa berdampak pada angka rasio.
4. Metode pencatatan yang tergambar dalam standar akuntansi bisa diterapkan berbeda oleh perusahaan yang berbeda.
c. Jika data untuk menghitung rasio tidak tersedia maka akan menimbulkan kesulitan menghitung rasio.
d. Jika data yang tersedia tidak sinkron maka akan kesulitan dalam menghitung rasio.
e. Jika dua atau lebih perusahaan dibandingkan teknik dan metode yang digunakan berbeda maka perbandingan dapat menimbulakn kesalahan.

Rasio keuangan merupakan alat yang sangat berguna, namun mempunyai beberapa keterbatasan dan harus digunakan dengan hati-hati. Rasio-rasio tersebut terbentuk dari penfsiran dengan cara menggabungkan beberapa rasio yang ada menjadi suatu model peramalan yang berarti yaitu model yang disebut analisis diskriminan. Analisis diskriminan ini menghasilkan suatu index yang memungkinkan penggolongan suatu observasi ke dalam satu kelompok yang telah ditetapkan terlebih dahulu, sehingga dengan model ini dapat diukur prospek sutu perusahaan.

Pemakai Rasio Keuangan

Analisis yang berbeda akan memilih jenis rasio yang berlainan, tergantung pada siapa yang menggunakan rasio tersebut. Menurut Budi Rahardjo (1992 : 12) menyatakan bahwa pengguna rasio keuangan dapat dibedakan menjadi :
a. Intern, yaitu manajemen itu sendiri untuk mengetahui perkembangan perusahaan maupun posisi relative terhadap perusahaan sejenis dlam industry yang sama.

b. Ekstern, yaitu dapat dibedakan menjadi :
1. Kreditur yang memberikan pinjaman kepada perusahaan yang dapat diklasifikasikan menjadi : krediturjangka pendek dan kreditur jangka panjang. Kreditur jangka pendek merupakan orang atau lembaga keuangan yang member pinjaman kepada perusahaan dalam jangka pendek atau yang pinjam akan segera jatuh tempo (tahun ini). Kreditur jangka pendek ini akan lebih menekankan pada kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya atau lebih tertarik pada likuiditas. Kreditur jangka panjang merupakan orang atau lembaga keuangan yang memberikan pinjaman jangka panjang atau memegang obligasi yang dikeluarkan perusahaan. Kreditur jangka panjang akan menekankan pada kelangsungan pembayaran bunga maupun pokok pinjaman. Mereka lebih menekannkan pada likuiditas, solvabilitas dan profitabilitas.
2. Investor atau pemegang saham sebagai tambahan terhadap likuiditas. Penanam modal (pemilik perusahaan) juga memperhitungkan kebijakan perusahaan yang mempengaruhi harga saham perusahaan tersebut di pasaran.

Penggunaan Rasio Keuangan

Pada dasarnya macam atau jumlah angka-angka rasio banyak sekali karena rasio dapat dibuat menurut kebutuhan penganalisis. Namun demikian angka-angka rasio yang pada dasarnya dapat digolongkan menjadi dua kelompok (Munawir, 1992 : 68), yaitu :

a. Penggolonagn berdasarkan sumber data
1. Rasio-rasio neraca (balance sheet rasio), yaitu rasio-rasio yang disususn dari data yang bersumber atau yang berasal dari neraca.
2. Rasio-rasio laporan laba rugi (income statement ratio), yaitu rasio yang disusun dari data yang berasal dari laporan laba rugi.
3. Rasio-rasio antar laporan (intern statement ratio), yaitu rasio-rasio yang disusun dari data yang berasal dari neraca dan data yang berasal dari laporan laba rugi.
b. Penggolongan berdasarkan tujuan penganalisis
1. Rasio likuiditas
2. Rasio solvabilitas
3. Rasio rentabilitas
4. Dan rasio lain yang sesuai dengan kebutuhan penganalisis

Menurut Mamduh M. Hanafi (1996 : 75) rasio keuangan dapat dikelompokkan sebagai berikut :
1. Rasio likuiditas, yang menunjukkan kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendeknya.
2. Rasio aktivitas, yang menunjukkan sejauh mana efektivitas penggunaan aset dengan melihat tingkat aktivitas aset.
3. Rasio solvabilitas, mengukur sejauh mana kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka panjangnya.
4. Rasio profitabilitas, melihat kemampuan perusahaan menghasilkan laba.

Kesehatan Bank (Rasio CAMEL)
Rasio CAMEL adalah menggambarkan suatu hubungan atau perbandingan antara suatu jumlah tertentu dengan jumlah yang lain. dengan analisis rasio dapat diperoleh gambaran baik buruknya keadaan atau posisi keuangan suatu bank.

Pada tahun 1966. Beaver melaporkan sebuah studi yang membandingkan masing-masing rasio perusahaan bangkrut dengan perusahaan tidak bangkrut yang dilakukannya terhadap kondisi lima tahun sebelum kebangkrutan. Beaver menggunkan pendekatan univariate dimana kemampuan memprediksi kegagalan perusahaan dengan rasio-rasio yang dianalisa satu per satu.

Penelitian lanjutan yang memanfaatkan analisa rasio keuangan dalam memprediksi kegagalan perusahaan dilaporkan oleh Edward I Altman pada tahun 1968. Altman menggunkan metode Multiple Diskriminant Analysis dengan lima jenis rasio keuangan. Sampel yang digunakan 66 perusahaan yang terbagi dua masing-masing 33 perusahaan bangkrut dan 33 perusahaan yang tidak bangkrut. Dari hasil studinya, altman memperoleh model prediksi multiple Discriminan Analysis (MDA) sebagai berikut : X = 0,012 X1 + 0,014 X2 + 0,033 X3 + 0,006 X4 +0,99 X5 ; dimana X1 = Working Capital / total aset ; X2 = RE / Total Assets ; X3 = EBIT / Total Assets; X4 = Market Value of Equity / Book Value of Total Debt ; X5 = Sales / Total Assets dan X = Overall Index.

Hasil studi empiris Altman ternyata mampu memeperoleh tingkat ketepatan prediksi sebesar 95% untuk data satu tahun sebelum kebangkrutan. Untuk dua tahun sebelum kebangkrutan tingkat ketepatannya adalah 72%. Ketepatan model ini telah diujikan terhadap secondary sample (holdout sample) dari perusahaan yang bangkrut (n = 25) dengan tingkat keakuratan 96% dan untuk perusahaan yang tidak bangkrut (n = 66) dengan tingkat keakuratan 79%.
Penelitian lain yang menggunkan rasio-rasio yang merefleksikan CAMEL dilakukan juga oleh Whalen dan Thomson (1988). Dalam penelitian ini digunakan data keuangan untuk mengklasifikasikan bank yang bermasalah dan tidak bermasalah. Dengan teknik logit regression, construct dari modal digunakan untuk memprediksi perubahan rating CAMEL cukup akurat dalam penyusunan rating bank.

Penelitian di Indonesia yang menggunkan rasio keuangan umumnya diarahkan untuk memprediksi perkembangan laba perusahaan. Diantaranya adalah riset Machfoedz (1994) yang bertujuan menguji manfaat rasio keuangan dalam memprediksi perubahan laba perusahaan di masa mendatang. Metode yang digunakan untuk memilih rasio keuangan adalah prosedur MAXR. Untuk menguji hipotesis manfaat rasio keuangan yang digunakan dalam model bermanfaat untuk memprediksi laba lebih dari satu tahun. Selain itu studi ini jga menunjukkan bahwa perusahaan besar mempuntai komponen rasio yang berbeda dengan perusahaan kecil apabila rasio keuangan tersebut akan digunkan untuk memprediksi laba masa mendatang.

Kebangkrutan (ALTMAN)

Salah satu aspek pentingnya analisis terhadap laporan keuangan dari sebuah perusahaan adalah kegunaannya untuk meramal kontinuitas atau kelangsungan hidup perusahaan. Prediksi akan kontinuitas perusahaan sangat penting bagi manajemen dan pemilik perusahaan untuk mengantisipasi kemungkinan adanya potesi kebangkrutan, karena kebangkrutan berarti menyangkut terjadinya biaya-biaya, baik biaya langsung maupun biaya tidak langsung. Kebangkrutan perusahaan banyak membawa dampak yang begitu berarti, bukan Cuma untuk perusahaan itu sendiri tetapi juga terhadap karyawan, investor dan pihak-pihak lain yang terlibat dalam kegiatan operasi perusahaan.

Kebangkrutan biasanya diartikan sebagai kegagalan perusahaan dalam menjalankan operasi perusahaan untuk menghasilkan laba. Kebangkrutan juga sering disebut likuiditas perusahaan atau penutupan perusahaan atau insolvabilitas.

Kebangkrutan sebagai kegagalan didefinisikan dalam beberapa arti (Martin et.al, 1995 : 376) :
1. Kegagalan ekonomi (economic failure)
Kegagalan dalam arti ekonomi biasanya berarti bahwa perusahaan kehilangan uang atau pendapatan perusahaan tidak menutup biayanya sendiri, ini berarti tingkat labanya lebih kecil dari biaya modal atau nilai sekarang dari arus kas perusahaan lebih kecil dari kewajiban. Kegagalan terjadi bila arus kas sebenarnya dar perusahaan tersebut jatuh di bawah arus kas yang diharapkan. Bahkan kegagalan dapat juga berarti bahwa pendapatan atas biayahistoris dari investasinya lebih kecil daripada biaya modal perusahaan.
2. Kegagalan keuangan (financial failure)
Kegagalan keuangan bisa diartikan sebagai insolvensi yang membedakan antara dasar arus kas dan dasar saham. Insolvensi atas dasar arus kas ada dua bentuk :
a. Insolvensi teknis (tecnhcal insolvencyI)
Perusahaan dapat dianggap gagal jika perusahaan, tidak dapat memenuhi kewajiban pada saat jatuh tempo. Walaupun total aktiva melebihi total utang atau terjadi bila suatu perusahaan gagal memenuhi salah satu atau lebih kondisi dalam ketentuan hutangnya seperti rasio aktiva lancar terhadap utang lancar yang telah ditetapkan atau rasio kekayaan bersih terhadap total aktiva yang disyaratkan. Insolvensi teknis juga terjadi bila arus kas tidak cukup untuk memenuhi pembayaran bunga pembayaran kembali pokok pada tangga tertentu.
b. Insolvensi dalam pengertian kebangkrutan
Dalam pengertian ini kebangkrutan didefinisikan dalam ukuran sebagai kekayaan bersih negatif dalam neraca konvensional atau nilai sekarang dari arus kas yang diharapkan lebih kecil dari kewajiban.
Likuidasi merupakan suatu proses yang berakhir pada pembubaran perusahaan sebagai suatu perusahaan. Likuidasi lebih menekankan pada aspek status yuridis perusahaan sebagai suatu badan hukum dengan segala hak-hak dan kewajiban. Likuidasi atau pembubaran perusahaan senantiasa berakibat penutupan usaha akan tetapi likuidasi tidak selalu berarti perusahaan bangkrut.

Likuidasi mempunyai tiga arti yaitu (info Bank, 1997 : 98) :
1. Realisasi tunai
2. Pengakhiran usaha dengan cara pengkonversian aset-asetnya menjadi uang tunai dan pendistribusian hasil tersebut. Yang pertama kepada direktur sesuai urutan yang diutamakan dan sisanya kalau ada ke para pemilik perusahaan sesuai proporsi kepemilikannya.
3. Suatu cara penyembuhan yang tersedia bagi debitur yang tidak bisa membayar kewajiban-kewajibannya (insolvent). Likuidasi bertujuan dasar realisasi aset-asetnya dan likuidasi kewajiban-kewajibannya ketimbang kesinambungan usaha, sebagaimana yang biasa terjadi dalam reorganisasi. Insolvency menunjukkan pada ketidakmampuan debitur membayar kewajiban-kewajibannya yang sudah jatuh tempo.

Kebangkrutan dari berbagai pengertian di atas dapat disimpulkan sebagai suatu keadaan atu situasi dimana perusahaan gagal atau tidak mampu lagi memenuhi kewajiban-kewajiban kepada debitur karena perusahaan mengalami kekurangan dan ketidakcukupan dana untuk menjalankan atau melanjutkan usahanya sehingga tujuan ekonomi yang ingin dicapai oleh perusahaan tidak dapat dicapai yaitu profit, sebab dengan laba yang diperoleh perusahaan bisa digunakan untuk mengembalikan pinjaman, bisa membiayai operasi perusahaan dan kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhi bisa ditutup dengan laba atau aktiva yang dimiliki.

Faktor-faktor Penyebab Kebangkrutan

Kebangkrutan akan cepat terjadi di Negara yang sedang mengalami kesulitan ekonomi, karena kesulitan ekonomi akan memicu semakin cepatnya kebangkrutan perusahaan yang mungkin tadinya sudah sakit, kemudian semakin sakit dan bangkrut. Perusahaan yang belum sakit pun dengan adanya kesulitan ekonomi akan mengalami kesulitan dalam pemenuhan dana untuk kegiatan operasi sehingga bisa juga suatu saat perusahaan tersebut bangkrut. Banyak sekali kejadian seperti itu, perusahaan yang tadinya sehat akibat adanya kesulitan ekonomi, secara langsung atau tidak, ambruk atau bangkrut.

Tujuan Laporan Keuangan

Tujuan Menurut PSAK (2009 : 1.2, 05). Tujuan laporan keuangan adalah memberikan informasi mengenai posisi keuangan, kinerja keuangan, dan arus kas entitas yang bermanfaat bagi sebagian besar kalangan pengguna laporan dalam pembuatan keputusan ekonomi.Pembahasan mengenai tujuan laporan keuangan, umumnya menganggap bahwa laporan keuangan dipersiapkan untuk para pemakai yang tidak kenal atau calon pemegang saham. Jadi tujuan laporan keuangan, umumnya menyajikan informasi mengenai transaksi dan sumber-sumber dari perusahaan yang relevan. Misalnya data-data yang konkrit, juga kondisi perusahaan yang sebenarnya. Guna bahan pengambilan keputusan ekonomis oleh berbagai pihak yang berkepentingan. Meskipun banyak konsep tujuan laporan keuangan yang lainnya, namun pada prinsipnya memberikan gambaran yang sama.

Pembahasan mengenai tujuan laporan keuangan, umumnya menganggap bahwa laporan keuangan dipersiapkan untuk para pemakai yang tidak kenal atau calon pemegang saham. Jadi tujuan laporan keuangan, umumnya menyajikan informasi mengenai transaksi dan sumber-sumber dari perusahaan yang relevan. Misalnya data-data yang konkrit, juga kondisi perusahaan yang sebenarnya. Guna bahan pengambilan keputusan ekonomis oleh berbagai pihak yang berkepentingan.
Meskipun banyak konsep tujuan laporan keuangan yang lainnya, namun pada prinsipnya memberikan gambaran yang sama.

Sifat Laporan Keuangan

Laporan keuangan dipersiapkan atau dibuat dengan maksud untuk memberikan gambaran tentang laporan kemajuan (progress report) secara periodic yang dilakukan oleh pihak manajemen yang bersangkutan. Jadi laporan keuangan adalah bersifat historis serta menyeluruh dan sebagai suatu progress report.

Menurut Munawir (1992 : 6) laporan keuangan terdiri dari data-data yang merupakan hasil dari suatu kombinasi antara :
a. Fakta yang telah dicatat (report test), bahwa laporan keuangan ini dibuat atas dasar factor dari catatan akuntansi. Pencatatan ini didasarkan catatan historis dari peristiwa-peristiwa yang telah terjasi di masa lampau. Jumlah uang yang tercatat dinyatakan dalam harga pada waktu terjasinya peristiwa –peristiwa tersebut. Dengan sifat yang demikian itu, laporan keuangan tidak dapat mencerminkan posisi keuangan dari suatu perusahaan dan kondisi perekonomian yang paling akhir, karena segala sesuatunya sifatnya historis.
b. Prinsip dan kebiasaan dalam akuntansi, berarti data yang dicatat didasarkan pada prosedur maupun anggapan tertentu yang merupakan prinsip-prinsip akuntansi yang bersifat lazim. Hal ini dilakukan dengan tujuan memudahkan dalam pencatatan / keseragaman.
c. Pendapat pribadi (personal judgement), dimaksudkan bahwa walaupun pencatatan transaksi telah diatur oleh konvensi atau dalil-dalil dasar yang sudah ditetapkan dan menjadi standar praktek pembukuan, namun penggunaan dari konvensi dan dasar tersebut tergantung pada akuntansi atau manajemen yang bersangkutan. Pendapat ini tergantung pada kemampuan atau integritas pembuatannya yang dikombinasikan serta ahli akuntansi yang telah disetujui akan digunakan beberapa hal.

Keterbatasan Laporan Keuangan

Laporan keuangan sebagai hasil akhir proses akuntansi memiliki beberapa keterbatasan. Di dalam analisis laporan keuangan, Munawir (1992 : 9) menyatakan keterbatasan-keterbatasan tersebut adalah :
a. Laporan keuangan yang dibuat secara periode pada dasarnya merupakan intern report (laporan yang dibuat antara waktu tertentu yang bersifat sementara) dan bukan merupakan laporan final.
b. Laporan keuangan menunjukkan angka dalam rupiah yang kelihatannya bersifat pasti dan tepat, tetapi sebenarya dasar penyusunanya dengan standar nilai yang mungkin berbeda. Laporan keuangan dibuat tercantum dalam laporan keuangan hanya merupakan nilai buku yang belum tentu sama dengan harga pasar sekarang maupun nilai gantinya.
c. Laporan keuangan disusun berdasarkan hasil pencatatan transaksi keuangan atau nilai rupiah dari berbagai waktu lalu dimana daya beli (purchasing power) uang tersebut akan menurun dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, sehingga kenaikan volume penjualan yang dinyatakan dalam rupiah belum tentu mencerminkan bahwa unit yang dijual semakin besar. Mungkin kenaikan itu disebabkan karena naiknya harga jual barang tersebut yang mungkin juga akan diikuti dengan tingkat kenaikkan harga-harga. Jadi suatu pembuatan penyesuaian terhadap perubahan tingkat harga maka akan diperoleh kesimpulan yang keliru.
d. Laporan keuangan tidak dapat mencerminkan beberapa factor yang mempengaruhi posisi keuangan perusahaan karena faktor-faktor tersebut tidak dapat dinyatakan dalam satuan uang (dikuantifisir). Misalnya : reputasi dan prestasi perusahaan, kemampuan serta integritas manajernya dan sebagainya. Dengan memahami keterbatasan-keterbatasan tersebut diharapkan pada pemakai laporan keuangan lebih cermat dalam melakukan analisis

Pemakai Laporan Keuangan

Menurut Munawir (1992 : 2) pihak-pihak yang berkepentingan dengan posisi keuangan maupun perkembangan suatu perusahaan yaitu :
a. Pemilik perusahaan sangat berkepentingan terhadap laporan keuangan perusahaannya terutama untuk perusahaan-perusahaan dimana pemimpinnya diserahkan kepada orang lain seperti perseroan. Karena dengan laporan keuangan tersebut pemilik perusahaan akan dapat menilai sukses tidaknya manajer dalam memimpin perusahaannya. Dan kesuksesan seorang manajer dalam memimpin perusahaannya. Dan kesuksesan seorang manajer biasanya diukur dan dinilai berdasarkan laba yang diperoleh perusahaan. Dengan kata lain, laporan keuangan diperlukan oleh pemilik perusahaan untuk menilai kemungkinan hasil-hasil yang telah dicapai. Di masa yang akan dating bisa menaksirkan bagian keuangan yang akan diterima, dan perkembangan dari harga saham yang dimilikinya dan juga untuk menilai hasil yang telah dicapai.
b. Manajer atau pimpinan perusahaan, dengan mengetahui posisi keuangan periode yang baru lalu akan dapat menyususn perencanaan yang lebih baik, sistem pengawasan dan menentukan kebijaksanaan-kebijaksanaan yang lebih tepat.
c. Para investor (penanam modal jangka panjang), bankers maupun para kreditur lainnya sangat berkepentingan atau memerlukan laporan keuangan perusahaan dimana mereka menanamkan modalnya.
d. Para kreditur dan bankers, sebelum mengambil keputusan untuk member /menolak permohonan kredit dari sutu perusahaan perlu memiliki terlebih dahulu posisi keuangan perusahaan yang bersangkutan.
e. Pemerintah, dimana perusahaan tersebut berdomisili sangat berkepentingan dengan laporan keuangan tersebut. Disamping untuk menentukan besarnya pajak yang harus ditanggung perusahaan juga sangat diperlukan oleh biro statistic, dinas perindustrian dan perdagangan serta tenaga kerja untuk perencanaan pemerintah.

Pemenuhan kebutuhan dana untuk membiayai aktivitas operasional perusahaan dapat ditempuh dengan berbagai upaya. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan menjual saham ke masyarakat umum melalui pasar modal. Disamping pasar modal merupakan sarana untuk menyerahkan dana masyarakat di luar perbankan, pasar modal juga merupakan sumber dana yang sangat potensial bagi perusahaan yang membutuhkan dana jangka panjang, sedangkan bagi masyarakat, pasar modal dapat dijadikan sebagai alternatif untuk berinvestasi, karena pasar modal merupakan mediator yang mempertemukan antara masyarakat yang mempunyai kelebihan dana untuk selanjutnya bertindak sebagai investor, dengan pihak yang membutuhkan dana yakni perusahaan yang melakukan initial public offering (IPO) atau penawaran saham perdana ke public sebelum status perusahaan tersebut berubah menjadi perusahaan public (go public).

IPO merupakan suatu cara bagi perusahaan yang sedang berkembang untuk mendapatkan tambahan dana dalam rangka pembiayaan ataupun pengembangan usaha seperti pelunasan hutang, perluasan usaha, maupun untuk memperkuat struktur permodalan perusahaan. Agar dana yang didapatkan dari IPO sesuai dengan yang diharapkan, maka saham-saham yang ditawarkan pada saat IPO harus diserap secara maksimal oleh investor. Investor akan merespon dengan baik jika perusahaan menunjukkan prospek yang baik di masa datang. Hal ini ditunjukkan dari informasi yang diperoleh dari perusahaan, baik informasi akuntansi maupun non akuntansi yang menunjukkan bahwa perusahaan tersebut mengalami pertumbuhan. Informasi merupakan suatu fakta, data, pengamatan, dan persepsi yang menambah pengetahuan. Informasi diperlukan investor untuk mengurangi ketidakpastian dalam pembuatan keputusan investasi. Para pemilik modal memerlukan informasi yang potensial yang dapat memberikan kontribusi langsung di dalam menentukan berbagai alternative tindakan yang bisa dijadikan pertimbangan di dalam perencanaan, pengendalian dan pengambilan keputusan. Apabila kinerja perusahaan terlihat baik yang tercermin dari informasi akuntansi dan non akuntansi yang dipublikasikan pada saat IPO, maka investor akan merespon dengan membeli saham-saham yang ditawarkan.

Pada saat perusahaan melakukan IPO yang dilaksanakan di pasar primer (primary market), tidak ada harga pasar saham sampai dimulainya penjualan di pasar sekunder. Pada saat tersebut umumnya investor memiliki informasi terbatas seperti yang diungkapkan dalam prospectus. Dengan demikian investor yang ingin menanamkan modalnya hanya memiliki informasi tentang perusahaan sebatas yang diinformasikan pada prospectus tersebut. Prospektus merupakan suatu laporan yang disyaratkan Bapepam kepada perusahaan yang ingin listing di pasar modal, yang berisikan gambaran umum perusahaan yang memuat keterangan secara lengkap dan jujur keadaan perusahaan dan prospeknya di masa mendatang serta memuat informasi-informasi yang diperlukan sehubungan dengan penawaran umum.

Dalam proses penawaran perdana, emiten membutuhkan keterlibatan penjamin emisi sebagai perantara dalam penjualan saham dengan investor. Harga saham pada penawaran perdana ditentukan berdasarkan kesepakatan antara perusahaan emiten dengan penjamin emisi, sedangkan harga di pasar sekunder ditentukan oleh mekanisme pasar atau permintaan dan penawaran. Permasalahan penting yang dihadapi emiten pada saat melakukan penawaran saham perdana adalah penutupan besarnya harga saham perdana. Sedangkan sebagai pihak yang membutuhkan dana, emiten menginginkan harga yang tinggi. Di sisi lain, harga yang tinggi akan mempengaruhi respon calon investor untuk membeli saham yang ditawarkan. Sebaliknya, penjamin emisi berusaha untuk meminimalkan resiko yang ditanggungnya. Tipe penjaminan yang berlaku di Indonesia adalah full commitment, dimana pihak penjamin emisi akan membeli saham yang tidak habis terjual saat penawaran perdana. Keadaan ini membuat penjamin emisi berupaya untuk meminimalkan resiko dengan melakukan negosiasi dengan emiten agar harga saham-saham tersebut tidak terlalu tinggi, bahkan cenderung underprice. Harga saham pada penawaran perdana yang relatif rendah, disebabkan adanya asimetri informasi di pasar perdana (Trisnawati, 1998). Informasi asimetri ini dapat terjadi antara perusahaan emiten dengan perusahaan penjamin (Baron, 1982), atau antara investor informed dengan uninformed (Rock, 1986).

Alasan inilah yang menyebabkan pada penerbitan saham perdana atau IPO sering dijumpai fenomena underpricing (Ernyan dan Suad Husnan, 2002). Underpricing adalah suatu keadaan dimana harga saham pada saat penawaran perdana lebih rendah dibandingkan ketika diperdagangkan dipasar sekunder. Underpricing bisa juga diartikan sebagai selisih positif antara harga saham dipasar sekunder dengan harga saham di pasar perdana pada saat IPO. Selisih harga inilah yang kita kenal dengan istilah initial return atau return positif bagi investor.

Laporan keuangan merupakan salah satu sumber informasi yang digunakan oleh investor/calon investor, dan underwriter untuk menilai perusahaan yang akan melakukan IPO. Agar laporan keuangan lebih dapat dipercaya, maka laporan keuangan harus diaudit. Salah satu persyaratan dalam proses IPO adalah laporan keuangannya telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik dan Keputusan Menteri Keuangan RI No. 859/KMK.01/1987. Laporan keuangan yang telah diaudit akan memberikan tingkat kepercayaan yang lebih besar kepada pemakainya. Adanya laporan keuangan yang dapat dipercaya pemakai tersebut, akan mengurangi terjadinya asimetri informasi.
Auditor yang berkualitas akan menerima premium harga terhadap kualitas pengauditannya yang lebih baik (Titman dan Trueman, 1986; Beatty, 1989).

Auditor yang berkualitas akan dihargai di pasaran dalam bentuk peningkatan permintaan jasa audit. Hasil pengujian auditor ini sangat dibutuhkan oleh pihak-pihak yang berkepentingan untuk pengambilan keputusan. Auditor yang mempunyai banyak klien berarti auditor tersebut mendapat kepercayaan yang lebih dari klien untuk membawa nilai perusahaan klien ke pasar modal (Kartini dan Payamta, 2002). Firth dan Liau-Tan (1998) mengungkapkan bahwa perusahaan yang melakukan IPO yang memiliki risiko khusus yang lebih tinggi, memilik insentip untuk memilih auditor yang dipersepsikan memiliki kualitas yang tinggi. Auditor yang berkualitas akan dihargai di pasaran dalam bentuk peningkatan permintaan jasa audit. Perusahaan yang akan melakukan IPO akan memilih auditor yang memiliki reputasi baik. Investment banker yang memiliki reputasi tinggi akan menggunakan auditor yang mempunyai reputasi pula. Investment banker dan auditor yang memiliki reputasi, keduanya akan mengurangi underprincing (Balver, et.al., 1988).

Beatty (1989) mengemukakan terdapat hubungan negatif antara reputasi auditor dengan initial return. Dikemukakan pula bahwa faktor-faktor yang disebutkan sebagai ex-ante uncertainty yang merupakan variabel control, yaitu reputasi penjamin emisi, prosentase penawaran saham, umur perusahaan, tipe penjamin emisi dan indikator perusahaan minyak dan gas mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap initial return. Carter dan Manaster (1990) mengemukakan bahwa reputasi penjamin emisi, prosentase penawaran saham, log offer-size, dan umur perusahaan berpengaruh secara signifikan terhadap initial return. Penelitian serupa di Indonesia dilakukan oleh Trisnawati (1999) dengan mengambil sampel di Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk pengamatan tahun 1994 dan 1995. Dari hasil penelitiannya ia tidak berhasil menemukan hubungan antara kualitas auditor dengan initial return. Akan tetapi, hasil penelitian tersebut mengungkapkan adanya hubungan yang signifikan antara umur perusahaan dengan initial return.

Konservatisme adalah prinsip dalam pelaporan keuangan yang dimaksudkan untuk mengakui dan mengukur aktiva dan laba dilakukandengan penuh kehati-hatian oleh karena aktivitas ekonomi dan bisnis yang dilingkupi ketidakpastian (Wibowo, 2002). Implikasi dari penerapan prinsip ini adalah pilihan metode akuntansi ditujukan pada metode yang melaporkan laba dan aktiva lebih rendah atau utang lebih tinggi. Peneliti lain, Basu (1997) mendefinisikan konservatisme sebagai praktik mengurangi laba (dan mengecilkan aktiva bersih) dalam merespons berita buruk (bad news), tetapi tidak meningkatkan laba (meninggikan aktiva bersih) dalam merespons berita baik (good news).

Praktik konservatisme bisa terjadi karena standar akuntansi yang berlaku di Indonesia memperbolehkan perusahaan untuk memilih salah satu metode akuntansi dari kumpulan metode yang diperbolehkan pada situasi yang sama. Misalnya, PSAK No. 14 mengenai persediaan, PSAK No. 17 mengenai akuntansi penyusutan, PSAK No. 19 mengenai aktiva tidak berwujud dan PSAK No. 20 mengenai biaya riset dan pengembangan. Akibat dari fleksibelitas dalam pemilihan metode akuntansi adalah terhadap angka-angka dalam laporan keuangan, baik laporan neraca maupun laba-rugi. Penerapan metode akuntansi yang berbeda akan menghasilkan angka yang berbeda dalam laporan keuangan.

Widya (2004) telah meneliti penerapan akuntansi konservatif di indonesia. Widya (2004) melaporkan 76,9 % dari 75 perusahaan di BEJ pada periode 1995-2002 menerapkan akuntansi konservatif. Faktor-faktor yang menjelaskan praktik akuntansi konservatif adalah konsentrasi kepemilikan di Indonesia, kontrak utang, kos potlitis dan pertumbuhan. Semua faktor secara signifikan menjelaskan praktik akuntansi konservatif kecuali kontrak utang. Dahlia Sari (2004) meneliti peran akuntansi konservatif dalam mengurangi konflik antara pemegang saham dan pemegang obligasi pada saat pengumuman deviden. Hasil penelitian mendukung hipotesis penelitian bahwa konservatisme berperan dalam perusahaan yang menghadapi konflik pemegang saham-pemegang obligasi.

Panman dan Zhang (2002) menjelaskan kualitas laba yang dihasilkan tergantung dari pertumbuhan investasi perusahaan. Pertumbuhan investasi yang temporer atau berfluktuasi akan menghasilkan tingkat pengembalian (rate of return) yang temporer atau berfluktuasi sehingga menghasilkan kualitas laba yang rendah. Penerapan akuntansi konservatif akan menghasilkan laba yang berfluktuasi (tidak persisten).

Studi determinan ERC diarahkan untuk mengidentifikasi faktorfaktor yang mempengaruhi ERC. Studi determinan diawali dengan model penilaian nilai sekarang dari aliran kas yang standar dalam literature ekonomi dan keuangan (Kothari, 2001). Didalam usaha untuk menghubungkan laba dan return sekuritas, diasumsikan terdapat hubungan antara revisi ekspektasi laba oleh pasar dan aliran kas. Perubahan harga dalam merespons satu rupiah laba yang dihasilkan adalah satu rupiah laba ditambah dengan nilai sekarang dari revisi ekspektasi laba masa depan. Beberapa faktor yang diidentifikasi dalam studi sebelumnya meliputi persistensi laba, daya prediksi laba, pertumbuhan, dan struktur modal.

Panman dan Zhang (2002) menemukan bahwa perusahaan yang menerapkan akuntansi konservatif dan pertumbuhan investasi temporer akan menghasilkan tingkat pengembalian yang temporer atau laba yang berfluktuasi. Penjelasannya adalah praktik akuntansi konservatif akan membebankan biaya mengakui rugi pada periode terjadinya, sebaliknya mengakui pendapatan dan keuantungan apabila benar-benar telah terealisasi, sehingga laba yang dihasilkan akan lebih rendah pada periode bersangkutan dibandingkan apabila perusahaan yang menganut prinsip yang lebih optimis. Apabila periode berikutnya tidak terjadi atau terjadi penurunan biaya, atau pendapatan telah terealisasi maka laba periode berikutnya akan dilaporkan lebih tinggi untuk perusahaan yang menganut prinsip konservatima. Sehingga laba yang dilaporkan untuk perusahaan yang menganut prinsip konservatisme cenderung lebih berfluktuatif dari pada perusahaan yang menganut prinsip akuntansi yang lebih optimis.

Laba yang berfluktuatif memiliki daya prediksi yang lebih rendah dari pada laba yang lebih stabil untuk memprediksi aliran kas masa depan. Sehingga laba perusahaan yang menerapkan prinsip akuntansi konservatif akan memilki daya prediksi yang lebih rendah dari pada laba perusahaan yang menerapkan prinsip akuntansi yang lebih optimis.

Prinsip akuntansi konservatif cenderung membuat laba lebih berfluktuasi (Zhang dan Panman, 2002). Laba yang berfluktuasi akan atau tidak persisten akan memiliki daya prediksi yang rendah. Penurunan daya prediksi laba dapat mengakibatkan informasi laba tahun berjalan menjadi kurang bermanfaat dalam memprediksi laba masa depan.

Pengukuran Koefisien Respon Laba

Variabel return abnormal kumulatif saham (CAR) yang digunakan dalam penelitian merupakan abnormal return sepanjang periode jendela.

Rumus penghitungan CAR:

CARi = S AR i,t

CARi = abnormal return kumulatif perusahaan i pada 5 hari sebelum dan 5 hari sesudah laporan keuangan dipublikasikan

AR i,t = jumlah abnormal return sekuritas perusahaan i selama periode jendela.

Variabel laba non ekspektasian dalam penelitian ini (UE) merupakan proksi laba akuntansi yang menunjukkan hasil kinerja perusahaan selama periode tertentu.

Dalam penelitian ini UE dihitung dengan metode random walk:

UEit = (Ei,t – E i, t-1) / | E i, t-1|

dengan,

UEit = laba non ekspektasian perusahaan i pada periode t

Ei,t = laba akuntansi perusahaan i pada periode t

E i, t-1 = laba akuntansi perusahaan i pada periode t-1

Koefisien respon laba merupakan koefisien yang diperoleh dari regresi antara proksi harga saham dan laba akuntansi. Proksi harga saham yang digunakan adalah CAR, sedangkan proksi laba akuntansi adalah UE. Besarnya koefisien respon laba (a1) dihitung dengan persamaan regresi atas data tiap perusahaan:

CARi(-5,+5) = a0 + a1UEit + a2RTit + eit

CARi = abnormal return kumulatif perusahaan i pada 5 hari sebelum dan 5 hari sesudah laporan keuangan dipublikasikan

UEit = laba non ekspektasian perusahaan i pada periode t

RTit = return saham tahunan

¨Pengukuran Persistensi Laba Akuntansi

Penelitian ini menggunakan koefisien regresi dari regresi antara laba periode sekarang dengan periode yang akan datang, sebagai proksi persistensi laba akuntansi. Hal ini mengacu pada penelitian Lipe (1990). Persamaan regresi yang digunakan untuk mengukur variabel ini adalah:

Eit+1 = a + bEit + e

dengan,

b = persistensi laba akuntansi selama satu tahun amatan penelitian (PERST)

Eit+1 = laba akuntansi perusahaan i pada tahun setelah t

Eit = laba akuntansi perusahaan i pada tahun t

¨Pengukuran Prediktabilitas Laba Akuntansi

Variabel prediktabilitas laba akuntansi diukur dengan menggunakan variansi goncangan laba akuntansi (variance of earnings shock) dari laba akuntansi selama runtut waktu tertentu (Lipe, 1990). Variabel ini diproksikan sebagai error dari persamaan regresi sebagai berikut:

Eit = a + bEit-1 + e

dengan,

e = variansi goncangan laba akuntansi dari laba akuntansi runtut waktu

Eit-1 = laba akuntansi perusahaan i pada tahun sebelum tahun t

Eit = laba akuntansi perusahaan i pada tahun t

¨Pengukuran Kesempatan Bertumbuh (Growth Opportunities)

Variabel kesempatan bertumbuh diukur dengan rasio nilai pasar ekuitas terhadap nilai buku ekuitas perusahaan pada awal tahun amatan (Collins dan Kothari, 1989). Nilai buku ekuitas diperoleh dari neraca akhir tahun, sedangkan nilai pasar ekuitas dihitung dengan mengalikan harga saham (harga penutupan) pada hari pertama perdangan dengan total saham beredar pada akhir tahun (kecuali terdapat perubahan jumlah saham beredar pada hari pertama perdagangan).

¨Pengukuran Ukuran Perusahaan

Penelitian ini menggunakan nilai pasar ekuitas sebagai proksi ukuran perusahaan (Collins dan Kothari, 1989; Easton dan Zmijewski, 1989). Nilai pasar ekuitas suatu perusahaan pada tahun tertentu dihitung dengan mengalikan harga saham perusahaan dengan jumlah saham beredar pada akhir tahun

¨Pengukuran resiko Kegagalan Perusahaan

Mengacu pada penelitian Dhaliwal dan Reynolds (1994) dan Kim et al. (2000), maka penelitian ini mengukur besarnya risiko kegagalan perusahaan dengan menggunakan tingkat leverage perusahaan. Leverage keuangan ini dihitung berdasarkan rasio dari nilai gbuku total dan aktiva total yaitu:

Lit = TUit/TAit

dengan,

Lit = leverage perusahaan i pada tahun t

TUit = total utang perusahaan i pada tahun t

TAit = total aktiva perusahaan i pada tahun t

¨ Pengukuran Risiko Sistematik Perusahaan

Untuk pasar modal yang berkembang seperti Indonesia yang transaksi perdagangannya sangat tipis sehingga kemungkinan transaksi perdagangannnya tidak sinkron,


Blog Stats

  • 2,431,474 hits