Kuliah Akuntansi

Penerapan akuntansi Biaya pada anggaran Belanja Daerah

Posted on: 27 September 2011

Akuntansi Biaya
Akuntansi merupakan suatu aktivitas yang memiliki tujuan (purposive activity). Tujuan akuntansi diarahkan untuk mencapai hasil tertentu, dan hasil tersebut harus memiliki manfaat. Akuntansi digunakan baik pada sektor swasta maupun sektor publik untuk tujuan-tujuan yang berbeda. Dalam beberapa hal, akuntansi sektor publik berbeda dengan akuntansi pada sektor swasta. Perbedaan sifat dan karakteristik akuntansi tersebut disebabkan karena adanya perbedaan lingkungan yang mempengaruhi. (Mardiasmo, 2002)

Activity Based Costing
2.1 Pengertian Activity Based Costing
Activity Based Costing Yang selanjutnya disingkat menjadi ABC, merupakan suatu sistem informasi tentang pekerjaan (atau aktivitas) yang mengkonsumsi sumberdaya dan menghasilan nilai bagi konsumen

Definisi lainnya mengenai ABC, antara lain ABC adalah sistem akuntansi dan alokasi yang menelusuri biaya ke produk menurut aktivitas-aktivitas yang dilakukan terhadap produk, yang dimaksudkan untuk menghasilkan informasi biaya bagi keputusan strategis, perancangan dan pengendalian operasional.

Menurut Turney ABC sistem didefinisikan sebagai metodologi yang mengukur biaya dan kinerja aktivitas-aktivitas sumber daya dan obyek biaya. Sumber daya dibebankan ke aktivitas kemudian aktivitas dibebankan ke obyek biaya sesuai dengan penggunaannya.
Definisi tersebut mencakup suatu range informasi biaya dan informasi kinerja yang luas, tidak hanya tefokus pada product costing saja. ABC system dapat juga dijadikan alat manajemen dalam melahirkan continuous improvement.

Model ABC yang berbasis pada definisi tersebut diatas mempunyai 2 sudut pandang yaitu:
1. Cost Assignment View (sudut pandang pembebanan biaya)
Sudut pandang ini ABC merefleksikan kebutuhan organisasi untuk membebankan biaya ke aktivitas dan obyek biaya (baik produk, jasa maupun konsumen) dan untuk menganalisis keputusan-keputusan yang diambil (misalnya dalam hal penetapan harga, bauran produk, perencanaan produk, perancangan produk dan lainnya). Cost assignment view ini dibentuk dari bebrapa building block, tiga yang utama adalah:

a. Sumber daya, elemen-elemen ekonomi yang diarahkan ke kinerja aktivitas dan merupakan sumber biaya. Sumber daya dalam industri manufaktur meliputi tenaga kerja langsung, bahan baku langsung, pendukung produksi, biaya tidak langsung produksi dan biaya-biaya diluar produksi. Sumber daya mengalir keaktivitas yang merupakan proses atau prosedur yang menyebabkan kerja.

b. Aktivitas, yang saling berhubungan berada didalam activity center. Activity center merupakan kumpulan aktivitas yang biasanya terkumpul menurut fungsi/proses. Bermacam-macam faktor yaitu resource driver digunakan untuk membebankan biaya ke aktivitas. Faktor-faktor ini dipilih untuk memperkirakan konsumsi sumberdaya oleh aktivitas. Setiap sumber daya yang dilacak ke aktivitas menjadi suatu elemen biaya dalam suatu activity cost pool dilacak ke obyek biaya melalui activity drivers.

c. Obyek biaya, titik akhir pelacakan biaya. Suatu obyek biaya adalah mengapa suatu kerja dilakukkan dalam perusahaan, dan dapat berbentuk produk ataupun customer.

2. Process view
Sudut pandang ini ABC menyediakn informasi mengenai kerja yang telah dilakukan dalam suatu aktivitas dan hubungan antara kerja tersebut dengan aktivitas yang lain.
Biaya jasa berdasar ABC dapat memberikan dasar yang layak dalam pengambilan keputusan, diantaranya keputusan untuk membeli atau membuat keputusan.
2.3.2. Cost Driver
Cost driver adalah faktor-faktor yang menentukan besar kerja dan usaha yang diperlukan untuk melakukan suatu aktivitas. Pemicu biaya menjelaskan mengapa suatu aktivitas dikerjakan secara spesifik, aktivitas dilaksanaan sebagai reaksi atas kejadian yang sudah terjadi. Cost driver juga menjelaskan seberapa besar usaha yang mesti dikeluarkan untuk melaksanakan kerja tersebut. Pemicu biaya sangat bermanfaat karena pemicu biaya mengungkap akan kesempatan untuk perbaikan. Sistem akuntansi yang berbasis aktivitas merupakan sistem informasi yang menyimpan dan memproses data berdasarkan aktivitas yang dilakukan persahaan, ABC mengidentifikasi aktivitas yang dilakukan, menelusuri biaya aktivitas dan kemudian mengunakan berbagai cost driver untuk menelusuri biaya dari aktivitas le prodeuk. Cost driver merefleksikan konsumsi aktivitas oleh suatu produk.

ABC menggunakan jenis cost driver yang lebih banyak dibandingkan dengan sistem akuntansi biaya tradisional. ABC menggunakan cost driver non unit sebagai tambahan cost driver unit, termasuk activity level batch dan tahapan yang paling sulit bagi perusahaan yang akan mengimplementasika ABC. Biaya-biaya yang berperan dalam produksi begitu banyak dan seringkali tidak sekelas hubungannya dengan produk. Selain itu dalam pemilihan jenis dan jumlah cost driver, harus dipertimbangkan manfaat yang diperoleh (berupa keakuratan data dan informasi biaya) dengan biaya penggunaan ABC. Untuk menentukan jumlah cost drive perlu diperhatikan hal-hal berikut ini:
1. Biaya pengukuran, dengan kemudahan memperoleh data yang dibutuhkan oleh cost driver.
2. Tingkat korelasi, aktualisasi konsumsi aktivitas yang berhubungan dngan konsumsi yang ditimbulkan oleh cost driver.

2.2. Syarat- syarat Penerapan ABC
Persayaratan dasar yang membuat pertimbangan diterapkan ABC adalah:
1. Non unit based cost mempunyai prosentase yang signifikan dalam total overhead cost. Jika jumlah unit based cost tidak material, maka tidak menjadi masalah bagaimana pengalokasian ke individual cost.
2. Rasio konsumsi dari aktivitas unit based cost dan non unit based cost harus berbeda. Jika produk mengkonsumsi semua overhead activities dengan rasio yang kurang lebih sama, maka penggunaan unit based cost driver sebagai dasar pengalokasian biaya menjadi tidak masalah.

Jadi perusahaan dengan product diversity rendah dapat menggunakan sistem biaya tradisional tanpa masalah. Tetapi perusahaan dengan unit based cost signifikan dan product university tinggi pun belum tentu memerlukan ABC. ABC mensyaratkan 3 hal berikut agat pemanfataannya menjadi lebih optimal.
1. Diversifikasi produk yang dihasilkan perusahaan tinggi.
Perusahaan memproduksi berbagai macam produk atau lini produk yang diproses dengan menggunakan beberapa fasailitas manufaktur yang sama. Dengan demikian akan timbul masalah unutk mengalokasikan atau membebankan sumberdaya yang dikonsumsi masing-masing produk.
2. Perusahaan mengahapi persaingan yang ketat.
Informasi tentang harga pokok yang akurat akan lebih menduklung berbagai macam pengambilan keputusan manajemen untuk berkompetisi.
3. Biaya pengukuran relatif rendah.
Biaya-biaya pengukuran untuk menghasilkan informasi biaya aktivitas relatif rendah dibandinkan dengan manfaat yang akan diperoleh dari penerapan sistem tersebut di masa yang akan datang.

2.4. Konsep Dasar ABC Sistem
Anggapan yang mendasari konsep ABC adalah sebagai berikut:
1. Kegiatan menimbulkan biaya
ABC berangkat dengan anggapan bahwa sumber daya pembantu atau sumber daya tidak langsung menyediakan kemampuan untuk melaksanakan kegiatan, bukan sekedar menyebabkan timbulnya biaya yang harus dialokasikan.
2. Produk menyebabkan timbulnya permintaan dan kegiatan.
Untuk membuat produk diperlukakn berbagai kegiatan, dan setiap kegiatan memerlukan sumber daya untuk pelaksanaan kegiatan tersebut.
Dengan konsep dasar ABC tersebut, biaya merupakan konsumsi sumber daya (seperti bahan baku, sumber daya manusia, tekhnologi, modal) dihubungkan dengan kegiatan yang mengkonsumsi sumber daya tersebut. Dengan demikian hanya dengan mengelola dengan baik kegiatan untuk menghasilkan produk dan jasa, manjemen akan mampu membawa perusahan unggul dalam persingan jangka panjang. Untuk mampu mengelola kegiatan perusahaan, manajemen memerlukan informasi biaya yang mencerminkan konsumsi sumber daya dalam berbagai kegiatan perusahaan.

Pada awal penggembangannya ABC digunakan dalam perusahaan-perusahaan manufaktur yang memproduksi berbagai macam produk dengan biaya overhead tinggi. Dalam merancang ABC, kegiatan untuk memproduksi dan menjual produk dalam perusahaan yang menghasilkan berbagai macam produk dapat digolongkan ke dalam 4 macam kelompok besar yaitu:
1. Facility Sustaining Activity Cost
Biaya ini berhubungan dengan kegiatan untuk mempertahankan kapasitas yang dimiliki perusahaan. Biaya depresiasi dan amortisasi, biaya asuransi, biaya gaji karyawan kunci perusahaan adalah contoh jenis biaya yang termasuk dalam facility sustainining activity cost. Biaya dibebankan kepada produk atas dasar taksiran unit produk yang dihasilkan kapasitas activity cost.
2. Product Sustaining Activity Cost
Biaya ini berhubungan dengan penelitian dan pengembangan produk tertentu dan biaya-biaya untuk mempertahankan produk untuk tetap dapat dipasarkan. Biaya ini tidak terpengaruh oleh jumlah unit yang diproduksi dan jumlah batch produksi yang dilaksanakan oleh divisi penjual. Contoh biaya ini adalah biaya desain produk, desain proses pengolahan produk, pengujian produk, biaya ini dibebankan kepada produk atas dasar taksiran jumlah unit produk tertentu yang akan dihasilkan selama umur produk tertentu (product life cycle).
3. Batch Activity Cost
Biaya ini berhubungan dengan jumlah batch produk yang diproduksikan. Setiap cost yang merupakan biaya yang dikeluarkan untuk menyiapkan mesin dan peralatan sebelum suatu order prosuksi diproses adalah contoh biaya yang termasuk dalam golongan biaya ini, besar kecilnya biaya ini tergantung dari frekuensi order produksi yang diolah oleh fungsi produksi. Biaya ini tidak dipengaruhi oleh jumlah unit produk yang diproduksi dalam setiap order produksi. Pembeli dibebani batch activity cost berdasarkan jumlah batch actiity cost yang dikeluarkan oleh perusahaan dalam setiap menerima order dari pembeli.
4. Unit Level Activity Cost
Biaya ini dipengaruhi oleh besar kecilnya jumlah unit produk yang dihasilkan. Biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, biaya energi, biaya angkutan adalah contoh biaya yang termasuk dalam golongan ini, biaya ini dibebankan kepada produk berdasarkan jumlah unit produk dikalikan dengan jumlah produk yang sesunguhnya diperoleh.

2.5 Manfaat dan Kendala ABC
2.5.1 Manfaat ABC
ABC juga menekankan bahwa produk-produk atau jasa yang dihasilkan tidak secara langsung menyerap sumber daya, tetapi menyerap aktivitas-aktivitas. Aktivitas-aktivitas inilah yang secara langsung mengkonsumsi sumber daya. Menurut Cooper, ABC punya maksd sebagai berikut:
1. Memperbaiki mutu pengambilan keputusan.
Dengan informasi biaya produk yang lebih teliti, kemungkinan manajemen melakukan pengambilan keputusan dengan resiko yang lebih kecil, informasi biaya produk yang lebih teliti sangat penting artinya bagi manajemen jika perusahaan menghadapi persaingan yang sangat tajam.
2. Kemungkinan manajemen melakukan perbaikan terus menerus terhadap kegiatan untuk mengurangi biaya overhead.
ABC mengidentifikasi biaya overhead dengan kegiatan yang menimbulkan biaya tersebut. dengan demikian informasi biaya yag dihasilkan oleh ABC dapat digunakan oleh manajemen untuk memantau secara terus menerus bebagai kegiatan yang digunakan oleh perusahaan untuk menghasilkan produk dan melayani konsumen. Perbaikan berbagai kegiatan untuk menghasilkan produk dan penghilangan kegiatan yang tidak menambah nilai bagi konsumen dapat dipertimbangkan oleh manajemen bedasar informasi biaya yang disajikan dengan sistem ABC.
3. Memberikan kemudahan dalam penentuan biaya relevan.
Karena ABC menyediakan informasi biaya yag dihubungkan dengan berbagai kegiatan untuk menghaslkan produk, maka manajemen akan memperoleh kemudahan dalam memperoleh informasi yang relevan dengan pengambilan keputusan yag menyangkut berbagai kegiatan bisnis mereka. Misalnya manajemen mempertimbangkan untuk melakukan perbaikan dalam kegaiatan set up fasilitas produksi, ABC dengan cepat mampu menyediakan informasi batch related activities, sehingga memungkinkan manajer mempertimbangkan akibat keputusan mereka terhadap konsumsi sumber daya untuk kegiatan tersebut.

2.5.2 Kendala-kendala Penerapan ABC
Adanya kerancuan bahwa manajemen yang menggunaka ABC menganggap produknya bisa lebih bersaing karena informasi biaya lebih akurat. ABC memang merupakan alat yang dapat digunakan manajemn dalam memperbaiki daya saing. Ebenarnya yang harus dilakukan adalah memanage aktivitas, bukan biaya. Sebab jika hanya sekedar memanage biaya, bisa saja aktivitas yang tidak memberikan nilai tambah (non value added) yang biasanya tinggi, manajemen bukannya berusaha meniadakan aktivitas tersebut, tetapi malah memotong biaya secara kesluruhan, pandangan bahwa ABC dapat digunakan perusahan untuk memperoleh keunggulan kompetitif adalah hal yang berbahaya dan untuk menghindarinya sejak awal manajemen harus mengelola aktivitas bukannya biaya.

Manajemen perlu menyadari apakah sistem manajemen biaya denganABC ini memberikan informasi biaya yang benar-benar merupakan biaya produksi. Tiga kendala dari biaya produksi yang dilaporkan berdasar ABC adalah:
a. Alokasi
Walaupun data aktivitas penting diperoleh, tetapi beberapa biaya masih memrlukan alokasi biaya yang bersarkan volume. Misalnya biaya-biaya yang berhubungan dengan gedung yaitu biaya sewa, asuransi dan paja bangunan.
Usaha-usaha untuk menelusuri aktivitas-aktivitas penyebab biaya ini merupakan tindakan yang sia-sia dan tidak praktis.
b. Biaya pengukuran yang tinggi
ABC memerlukan baiya pengeluaran yang tinggi untuk mengoperasikan sistem ini. Kebanyakan perusahaan hanya punya sedikit activity center untuk memulainya yang sama untuk pengelompokan activity center.
c. Periode-periode akuntansi
Periode-periode waktu yang arbiter masih digunakna dalam menghitung biaya-biaya. Banyak manajer yang ingin mengetahui apakah produk yang dihasilkan mengunutnkan atau tidak. Tujuannya tidak saja untuk mengukur seberapa banyak biaya yang sudah diserap oleh produk tersebut, tetapi juga mengukur segi kompetitifnya dengan produk sejenis yang dihasilkan oleh perusahaan lain. Manajemen dalam hal ini memerlukan pengukuran dan pelaporan yang interim. Informasi untuk mengevaluasi perilaku aktivitas biaya tersebut dapat diberikan pada saat siklus hidup produk itu berakhir sehingga untuk pengukuran produk yang dimiliki siklus hidup lebih lama membutuhkan bentuk pengukuran yang interin (sementara).

Selain kendala-kendala tersebut diatas, kendala-kendala yang timbul dalam penerapan ABC adalah:
a. Banyak perusahaan yang belum secara ekstensif terotomatisasi sehingga manajer merasa belum perlu mangganti sistem akuntansi biaya tradisional untuk menyesuaikan dengan perubahan lingkungan manufaktur tersebut.
b. Pelaksanaan otomatisasi dilaksanakan secara bertahap sehingga para manajer hanya memusatkan perhatian pada proses produksi.
c. Kegiatan operasional secara otomatis dan manual dilakukan bersamaan tetapi sistem akuntansi biaya tradisional disediakan bagi keduanya.
d. Para manajer sering berpendapat bahwa yang utama adalah pelaksanaan produksi, urutan kertas kerja belakangan.
e. Kebutuhan, pelaporan eksternal mendorong akuntansi keuangan dipakai juga untuk tujaun akuntansi manajemen internal karena pusat pehatian sering diarahkan untuk mempersiapkan laporan keuangan eksternal, dengan demikian banyak manajer meras tidak ada waktu untuk mengubah bentuk laporan manajemen biaya dengan bentuk abru yang lebih relevan.
f. Keterbatasan sumber daya unutk melaksankan sistem akuntansi manajemen biaya yang baru.
g. Para manajer sering bertahan untuk tidak berubah karena konflik antar manajer.

2.5.3 Proses Pembebanan Biaya Pada ABC Sistem
Ada dua tahap prosedur pembebanan biaya pada ABC system, yaitu:
1. Prosedur tahap pertama
Pada tahap pertama ABC, aktivitas diidentifikasi, biaya dihubungkan dengan masing-masing aktivitas. Aktivitas dan biayanya dibagi menjadi kelompok-kelompok yang homogen. Suatu perusahaab dapat memiliki banyak aktivitas yang berbeda-beda. Setelah aktifitas diidentifikasim, baiya untuk menjalankan aktifitas juga ditentukan, dengan demikian perusahaan haru menentukan activity driver yangsesuai unutk tipe-tipe aktivtas dan menghitung tiap activity overhead rules. Untuk mengurangi jumlah rate overhead dan unutk menyederhankan prosesnya, maka aktivitas dikelompokkan ersama-sama dalam satu set yang homogen berdasar karakteristik yang sejenis, yaitu aktivitas tersebut saling berhubungan secara logis dan mempunyai rasio konsumsi untuk semua produk.
Kemudian langkah selanjutnya yang harus dilakukan adalah menjumlahkan biaya dengan semua set yang homogen itu, hal ini disebut dengan homogeneus cost pool mempunyai rasio konsumsi yang sama, variasi biaya untuk pool ini dapat dijelaskan dengan activit driver dihitung dengan menghasilkan tarif kelompok/pool rate. Pada akhir pembebanan biaya pada tahap pertama ABC menghasilkan:
a. Identifikasi aktifitas
b. Pembebanan biaya pada aktifitas
c. Pengelompokkan aktivitas terkait ke dalam suatu homogeneous cost pool
d. penjumlahan biaya pada suatu ativitas untuk mengidentifikasi homogeneous cost pool
e. penghitungan pool/overhead rates.

2. Prosedur Tahap kedua
Pada tahap kedua, biaya setiap kelompok dilacak ke produk. Hal ini dilakukan dengan menggunakan tarif kelompok yang sudah dihitng pada tahap pertama dan mengukur jumlah sumber daya yang dikonsumsi oleh setiap produk. Jumlah sumber daya dikonsumsi setiap produk dinyatakan oleh jumlah activity center yang digunakan setiap produk, oleh karena itu, biaya overhead yang dibebankan dari setiap kelompok biaya ke pada setiap produk dihitung dengan cara mengalikan tarif kelompok dengan penggunaan aktivitas.

Secara lebih rinci, langkah-langkah yang harus diambil dalam merancang sistem penentuan arga pokok berdasar aktivitas adalah sebagai berikut:
1. Mengumpulkan semua biaya yang dibebankan pada setiap departemen.
2. Memisahkan biaya-biaya ke dalam product driver cost dan customer driver cost.
3. Memisahkan departemen pendukung ke dalam fungsi utama, fungsi utama tersebut harus mempunyai biaya yang signifikan dan dipengaruhi aktivitas yang berbeda.
4. memindahkan biaya-biaya ke departemn ke dalam kelompok biaya fungsional (funsional cost pool).
5. mengidentifikasi pusat aktivitas
6. mengidentifikasi driver tahap pertama (proses yang homogen).
7. mengidentifikasi driver tahap kedua berdasarkan data yang tersedia, korelasi sumber daya dan pengaruh prilaku.
8. mengidentifikasi tingkat aktifitas.
9. memilih jumlah cost driver.

2.4 Activity-Based Costing Untuk Pemerintah Daerah
Activity-Based costing banyak diterapkan pada perusahaan manufaktur dan perusahaan jasa. Dalam penelitian ini akan dikembagkan penerapan ABC untuk organisasi sektor publik yang dalam hal ini diambil organisasi pemerintahan.
Pemerintah sebagai organisasi yang tidak berorientasi mengejar laba sebenarnya dapat menerpakna ABC. Penerpan ABC pada sektor publik berbeda dibandingkan penerapan ABC sektor privat, hal ini disebabkan karakteristik kegiatan pemerintah sedikit berbeda dibandingkan organisasi swasta pada umumnya. Karakteristik aktivitas pemerintah daerah sebenarnya hampir mirip dengan perusahaan yang begerak di bidang jasa yang kadangkala menimbulkan kesulitan, misalnya karakteristik output yang sulit didefinisi an tidak terwujud. Selain itu, biaya kapasitas gabungan mewakili sebagain besar proporsi dari total biaya dan sukar untuk dikaitkan dengan aktivitas yang menghasilkan output.
Menurut Mark D. Abrahams dalam tulisannya yang berjudul Activity Based Costing: Illustrations from the State of Iowa menyatakan bahwa Activity Based Costing dalam lingkungan pemerintahan telah dilakukan di negara bagian Iowa.

Konsep ABC serta langkah-langkahnya dianggap dapat diterapkan dalam lingkungan pemerintahan. Activity based costing telah membuktikan bahwa sistem ini merupakan alat manajemen yang handal pada kinerja sistem manajemen negara bagian Iowa dengan menyediakan informasi biaya yang penting. Manajer negara bagian Iowa menganjurkan mengunakan pendekatan ini untuk penentuan peleayanan pemerintah dengan menjalankan metode “keep it simple” untuk mencapai pembiayaan yang spesifik denagn pencapaian yang minimum dan kerumitan yang tidak terlalu banyak dalam metode penentuan biaya. Metode ini memungkinkan program secara tersendiri untuk dikerjakan dengan biaya tersendiri untuk menghubungkana antara biaya dan data program untuk tercapainya efisiensi dan efektifitas dalam penyampaian pelayanan masyarakat.

Ada 4 langkah dasar untuk mengimplementsikan sistem ABC. Pertama, sumber daya dan biaya harus terorganisasi dalam bentuk biaya unit kerja. Kedua, biaya perlud dikategorikan kedalam kategori berpengaruh secara langsung atau tidak langsung kah biaya tersebut terhadap aktivitas. Untuk biaya yang tidak dapat secara langsung dihubungkan dengan aktivitas, sebuah metode indirect cost perlu untuk dipilih, apakah dengan mengunakan KIS (Keep it simple) ataukah dengan metode full cost. Ketiga, direct cost dan indirect cost perlu untuk ditujukan atau dialokasikan kepada aktivitas yang spesifik. Dan terakhir, unit cost dihitung dengan memisahkan biaya aktivitas dengan activity output.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: