Kuliah Akuntansi

Archive for November 2011

a. Analisis Rasio Keuangan
Mengadakan analisis hubungan dari berbagai pos dalam suatu laporan keuangan adalah merupakan suatu dasar untuk menginterpretasikan kondisi keuangan dan hasil operasi suatu perusahaan. Salah satu alat untuk menginterpretasikan adalah dengan menggunakan rasio. Adapun pengertian rasio menurut Sartono (2001:113) mengemukakan pengertian analisis rasio keuangan adalah: “Merupakan analisis terhadap kelemahan dan kekuatan bidang finansial yang dapat membantu dalam menilai prestasi manajemen masa lalu dan prospeknya di masa yang akan datang”. Menurut Barlian (2003:128) rasio keuangan adalah: “Suatu metode perhitungan dan interpretasi rasio keuangan untuk menilai kinerja dan status suatu perusahaan”.
Dalam analisis rasio keuangan hasil analisisnya dinyatakan dalam bentuk rasio yang merupakan perbandingan antara rekening tertentu dalam laporan keuangan dengan rekening lainnya.(Warsono, 2003, 34).
Munawir (2002:64) pengertian rasio adalah: “Rasio menggambarkan suatu hubungan atau perimbangan (mathematical Relation Ship). Antara suatu jumlah tertentu dengan jumlah yang lain dan dengan menggunakan alat analisa yang berupa rasio ini akan dapat menjelaskan atau memberi gambaran kepada penganalisa tentang baik atau buruknya keadaan atau posisi keuangan terutama apabila angka rasio tersebut dibandingkan dengan angka rasio pembanding yang digunakan sebagai standar”.
Dari definisi di atas, maka pengertian analisa rasio adalah suatu cara untuk menganalisis laporan keuangan tertentu dengan ratio-ratio laporan keuangan yang lain dari perusahaan yang sama.
Tampubolon (2005:35), menggolongkan angka ratio menjadi empat katagori yaitu rasio likuiditas, efisiensi, leverage dan probabilitas, yang dapat diraikan sebagai berikut:
a. Rasio Likuiditas (Liquidity Ratio)
Rasio likuiditas menunjukkan tingkat kemudahan relatif suatu aktiva untuk segera dikonversikan ke dalam kas dengan sedikit atau tanpa penurunan nilai serta tingkat kepastian tentang jumlah kas yang diperoleh. Kas merupakan aktiva yang paling likuid, aktiva lain mungkin relatif likuid atau tidak likuid tergantung seberapa cepat aktiva dikonversikan ke dalam kas, misalnya surat-surat berharga (efek-efek). Menurut korporasi dipergunakan rasio likuiditas, antara lain:
1. Current ratio =
2. Quick ratio =

3. Absolute liquidity ratio =
Masing-masing rasio likuiditas ini mencerminkan perspektif waktu yang berbeda dalam mengukur kemampuan korporasi untuk memenuhi kewajiban jangka pendek.
b. Rasio Pengungkit (Leverage Ratio)
Rasio leverage digunakan untuk menjelaskan penggunaan utang untuk membiayai sebagaian dari pada aktiva korporasi. Pembiayaan dengan utang mempunyai pengaruh bagi korporasi karena utang mempunyai beban yang bersifat tetap. Kegagalan korporasi dalam membayar bunga atas utang dapat menyebabkan kesulitan keuangan yang berakhir dengan kebangkrutan korporasi. Pada dasarnya rasio leverage yang lazim digunakan adalah sebagai berikut:
1. Debt to net worth =
2. Coverage Interest Charges =
3. Total Assets to Net Worth =
4. Fixed Assets to Net Worth =
5. Current Assets to Net Worth =
6. Inventory to Net Worth =
7. Receivable to Net Worth =
8. Liquid Assets to Net Worth
c. Rasio Efisiensi (Efficiency Ratio)
Rasio efisiensi dipergunakan untuk mengukur seberapa efisien korporasi dalam menggunakan aktivanya. Rasio ini semuanya mempergunakan perbandingan antara tingkat penjualan dengan investasi dalam beberapa aktiva. Asumsi yang diambil adalah menggunakan hubungan antara penjualan dengan berbagai aktiva tersebut. Rasio efisiensi yang digun akan pada umumnya meliputi berikut ini:
1. Sales to Total Assets =
2. Sales to Fixed Assets =
3. Sales to Current Assets =
4. Sales to Inventory =
5. Sales to Receivable =
6. Sales Liquid Assets =
d. Rasio Profitabilitas
Rasio profitabilitas mengukur tingkat profitabilitas yang dapat dilakukan dengan membandingkan dengan tingkat return on invesment (ROI) yang diharapkan dengan tingkat return yang diminta oleh investor dalam pasar modal. Jika return yang diharapkan lebih besar dari pada yang diminta, maka investasi tersebut dikatakan sebagai menguntungkan. Rasio profitabilitas yang digunakan pada umumnya adalah berikut ini:

1. Net profit margin =
2. Return on invesment =
3. Return on net worth =
Sedangkan menurut Weston (1995:257), menggolongkan angka ratio sebagai berikut:
1. Ukuran kinerja (performance measures) terdiri dari :
a. Rasio profitabilitas, yang mengukur efektif manajemen dilihat dari laba yang dihasilkan terhadap penjualan dan investasi perusahaan.
b. Rasio pertumbuhan, yang mengukur kemampuan perusahaan mempertahankan posisi ekonominya di dalam pertumbuhan ekonomi dan industri.
c. Rasio penilaian, yang mengukur kemampuan manajemen dalam menciptakan nilai pasar yang melampaui pengeluaran biaya investasi.
2. Ukuran efisiensi operasi terdiri dari:
a. Manajemen aktiva dari investasi (assets and invesment management), yang mengukur yang mengukur efektivitas keputusan-keputusan investasi perusahaan dan pemanfaatannya.
b. Manajemen beban (Cost management),yang mengukur bagaimana masing-masing elemen biaya dikendalikan.
3. Ukuran kebijakan keuangan, terdiri dari :
a. Ratio leverage, yang mengukur tingkat sejauhmana aktiva perusahaan telah dibiayai oleh penggunaan hutang .
b. Ratio likuiditas (Liquidity rations), yang mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban yang jatuh tempo.
Menurut Hanafi dan Halim (2003:70) terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam analisis laporan keuangan, yaitu:
1. Dalam analisis, analis juga harus mengidentifikasi adanya ternd-ternd tertentu dalam laporan keuangan. Untuk itu laporan keuangan lima atau enam tahun barangkali bisa digunakan untuk melihat munculnya trend tertentu.
2. Angka-angka yang berdiri sendiri sulit dikatakan baik tidaknya. Untuk itu diperlukan pembanding yang bisa dipaki untuk melihat baik tidaknya angka yang dicapai oleh pihak perusahaan. Rata-Rata industri bisa dipakai sebagai pembanding. Meskipun rata-rata industri bukan angka pembanding yang tepat karena beberapa hal, misalnya karena adanya perbedaan karakteristik rata-rata industri dengan perusahaan tersebut.
3. Dalam analisis perusahaan, membaca dan menganalisis laporan keuangan dengan hati-hati adalah penting. Diskusi atau pertanyaan-pertanyaan penting yang melengkapi laporan keuangan seperti diskusi strategi perusahaan, diskusi rencana ekspansi atau restrukturisasi merupakan bagian internal yang harus dimasukkan dalam analisis.
4. Analisis barangkali akan memerlukan informasi lain. Kadangkala semua informasi yang diperlukan bisa diperoleh melalui analisis yang mendalam dari laporan keuangan. Kadangkala informasi tambahan bisa memberikan analisis yang lebih tajam lagi. Sebagai contoh, analisis penurunan penjualan bila disertai dengan analisis perkembangan market share akan memberi pendangan baru kenapa perjualan bisa menurun.
b. Tujuan Analisis Laporan Keuangan
Menurut Hanafi dan Halim (2003:6) menyatakan bahwa tujuan analisis laporan keuangan meliputi:
a. Investasi saham
Sertifikat saham merupakan bukti kepemilikan suatu perusahaan. Investor bisa membeli, menahan, dan kemudian menjual saham tersebut. Membeli dan menahan saham berarti investor memiliki perusahaan tersebut dan berhak atas laba perusahaan, meskipun juga berhak atas rugi yang diperoleh perusahaan (apabila rugi). Kondisi tersebut menjadikan laporan keuangan bisa difokuskan pada kemampuan perusahaan melewati masa-masa sulit dan kemudian memproyeksikan kemampuan pada masa-masa yang akan datang, rasio keuangan disini memegang peranan yang penting.
b. Pemberian Kredit
Dalam analisis laporan keuangan yang menjadi tujuan pokok adalah kemampuan perusahaan untuk mengembalikan pinjaman yang diberikan berserta bunga yang berkaitan dengan pinjaman tersebut. Pihak pemberi pinjaman (kreditor) memperoleh keuntungan dari bunga yang dibebankan atas pinjaman tersebut.
c. Kesehatan Pemasok (Supplier)
Perusahaan tergantung pada “supply” pemasok akan mempunyai kepentingan pada pemasok tersebut. Perusahaan ingin memastikan bahwa pemasok tersebut sehat dan bisa bertahan terus. Dengan kemungkinan kerja sama yang terus-menerus, analisis dari pihak perusahaan akan berusaha menganalisis profitabilitas pemasok, kondisi keuangan, kondisi keuangan untuk menghasilkan kas untuk memenuhi opsi sehari-hari.
d. Kesehatan Pelanggan (Customer)
Apabila perusahaan akan memberikan penjualan kredit kepada pelanggan maka perusahaan memerlukan informasi keuangan pelanggan, terutama informasi mengenai kemampuan pelanggan memnuhi kewajiban jangka pendeknya.
e. Kesehatan Perusahaan Ditinjau dari Karyawan
Karyawan atau calon karyawan barangkali akan tertarik menganalisis keuangan perusahaan untuk memastikan apakah perusahaan yang dimasuki tersebut mempunyai prospek keuangan yang bagus.
f. Pemerintah
Pemerintah melakukan analisis laporan keuangn perusahaan untuk menentukan pajak yang harus dibayarkan atau menentukan tingkat keuntungan yang wajar bagi suatu industri.
g. Analisis Internal
Pihak internal perusahaan sendiri akan memerlukan informasi mengenai kondisi keuangan perusahaan untuk emmentukan sejauh mana perkembangan perusahaan.
h. Analisis pesaing
Kondisi keuangan pesaing bisa dianalisis oleh perusahaan untuk menentukan sejauh mana kekuatan keuangan pesaing.
i. Penilaian Kerusakan
Kadangkala analisis laporan keuangn dapat digunakan sebagai penentu besarnya kerusakan yang dialami oleh perusahaan.
Berdasarkan pengertian diatas maka dapat disimpulkan bahwa laporan keuangan tersebut sangat berarti untuk mengadakan perbaikan dalam penyusunan kebijakan (policy) yang akan dilakukan pada masa yang akan datang. Dengan mengetahui kelemahan-kelemahan yang dimiliki perusahaan, maka diharapkan dapat dijadikan sebagai dasar perbaikan dan hasil-hasil yang telah dianggap cukup baik juga harus dipertahankan atau bahkan ditingkatkan.
c. Prosedur Analisa Laporan Keuangan
Sebelum mengadakan analisia terhadap suatu laporan keuangan, penganalisa harus benar-banar memahami laporan keuangan tersebut. Panganalisa harus mempunyai kemampuan atau kebijaksanaan yang cukup dalam mengambil suatu keseimpulan, disamping itu harus memperhatikan perubahan-perubahan kondisi perusahaan juga memperhatikan latar belakang data keuangan tersebut. Menurut Munawir (2002:34), prosedur analisa terhadap laporan keuangan meliputi:
1. Laporan tersebut disesuaikan dengan tekanan atau tujuan menajemen atau maksud penggunaan laporan keuangan tersebut. Misalnya untuk tujuan intern perusahaan atau untuk tujuan perencanaan dan pengawasan intern akan berbeda dengan laporan keuangan yang bertujuan untuk ketentuan penetapan pajak.
2. Perbedaan pendapat di antara mereka yang menyusun laporan keuangan tersebut. Misalnya perbedaan pendapat tentang besarnya suatu pengeluaran untuk reparasi atau perbaikan mesin yang harus dikapitalisir, taksiran umur dari suatu aktiva tetap dan lain-lain.
3. Perbedaan pengetahuan serta pengalaman daripada akuntan yang menuyusun laporan. Misalnya akuntan yang pernah memperoleh pendidikan atau pengetahuan tentang sistem akuntansi secara continental (rekening stelsel) dengan akuntan yang memperoleh pengetahuan akuntansinya secara anglo saxon (accounting) maka bentuk atau susunan laporannya akan berbeda.
Langkah selanjutnya apabila akan melakukan perhitungan-perhitungan, analisa dan intrepretasi penganalisa harus mempelajari atau mereview secara menyeluruh dan kalau dianggap perlu diadakan penyusunan kembali (reconstruction) dari data-data sesuai dengan prinsip-prinsip yang berlaku dan tujuan analisa.

d. Metode dan Teknik Analisa Laporan Keuangan
Analisa-analisa laporan keuangan terdiri dari penelaahan atau mempelajari daripada hubungan-hubungan dan tendensi atau kecenderuangan (trend) untuk menentukan posisi keuangan dan hasil operasi serta perkembangan perusahaan yang bersangkutan. Metode dan teknik analisa (alat-alat analisa) digunakan untuk menentukan dan mengukur hubungan antara pos-pos yang ada dalam laporan keuangan, sehingga dapat diketahui perubahan-perubahan dari masing-masing pos tersebut.
Menurut Munawir (2002:36) teknik analisis yang biasa digunakan dalam analisa laporan keuangan adalah sebagai berikut:
1. Analisa perbandingan laporan keuangan, adalah metode dan teknik analisa dengan cara memperbandingkan laporan keuangan untuk dua periode atau lebih, dengan menunjukkan:
a. Data absolut atau jumlah-jumlah dalam rupiah.
b. Kenaikan atau penurunan dalam jumlah rupiah.
c. Kenaikan atau penurunan dalam prosentase.
d. Perbandingan yang dinyatakan dengan rasio.
e. Prosentase total.
2. Trend atau tendensi posisi dan kemajuan keuangan perusahaan yang dinyatakan dalam prosentase (trend percentage analysis), adalah suatu metode atau teknik analisis data untuk mengetahui tendensi daripada keadaan keuangannya, apakah menunjukkan tendensi tetap, naik atau bahkan turun.
3. Laporan dengan prosentase per komponen atau common size statement, adalah suatu metode analisa untuk mengetahui prosentase investasi pada masing-masing aktiva terhadap total aktivanya, juga untuk mengatahui struktur permodalannya dan komposisi perongkosan yang terjadi dihubungkan dengan jumlah penjualan.
4. Analisa sumber dan penggunaan modal kerja, adalah suatu analisa untuk mengatahui sumber-sumber serta penggunaan modal kerja atau untuk mengetahui sebab-sebab berubahnya modal kerja dalam periode tertentu.
5. Analisa sumber dan penggunaan kas (cash flow statement analysis) adalah suatu analisa untuk mengetahui sebab-sebab berubahnya jumlah uang kas atau untuk mengetahui sumber-sumber serta penggunaan kas selama periode tertentu.
6. Analisa ratio, adalah suatu metode analisa untuk mengetahui hubungan dari pos-pos tertentu dalam neraca atau laporan laba rugi secara individu atau kombinasi dari kedua laporan tersebut.
7. Analisa perubahan laba kotor (gross profit analysis) adalah suatu analisa untuk mengatahui sebab-sebab perubahan laba kotor suatu perusahaan dari periode ke periode yang lain atau perubahan laba kotor suatu perusahaan.
8. Analisa break-even, adalah suatu analisis untuk menentukan tingkat penjualan yang harus dicapai oleh suatu perusahaan agar perusahaan tersebut tidak menderita kerugian, tetapi juga belum memperoleh keuntungan.

e. Pengertian Kinerja Keuangan
Pengertian kinerja keuangan menurut Tampubolon (2005 : 20) yaitu: Pengukuran kinerja perusahaan yang ditimbulkan sebagi akibat dari proses pengambilan keputusan manajemen karena menyangkut pemanfaatan modal, efisiensi dan rentabilitas dari kegiatan perusahaan. Kinerja keuangan yaitu alat untuk mengukur prestasi kerja keuangan perusahaan melalui struktur permodalannya. Penilaian kinerja perusahaan harus diketahui output maupun inputnya. Output adalah hasil dari suatu kinerja karyawan atau perusahaan, sedangkan input adalah keterampilan atau alat yang digunakan untuk mendapatkan hasil tersebut.
f. Tujuan Kinerja Keuangan
Menurut Munawir (2002 : 31) tujuan kinerja Keuangan adalah mengetahui likuiditas, solvabilitas, rentabilitas dan stabilitas dalam membayar kewajibannya. Adapun tujuan pengukuran kinerja antara lain:
a. Untuk mengetahui tingkat likuiditas yaitu kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangan pada saat ditagih.
b. Untuk mengetahui tingkat solvabilitas yaitu menunjukkan kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangannya, apabila perusahaan tersebut dilikuiditas baik kewajiban jangka pendek maupun jangka panjang.
c. Untuk mengetahui tingkat profitabilitas yaitu menunjukkan kemampuan perusahaan untuk mendapatkan laba selama periode tertentu.
d. Untuk mengetahui stabilitas yaitu kemampuan perusahaan untuk melakukan usahanya dengan stabil yang diukur dengan mempertimbangkan kemampuan perusahaan untuk membayar cicilan secara teratur kepada pemegang saham tanpa mengalami hambatan.
g. Pengukuran Kinerja Keuangan
Menurut Sartono (2001 : 111) bahwa alat analisis kinerja yang selama ini banyak digunakan antara lain adalah rasio keuangan, rasio metode radar, balanced scorecard dan Economic Value Added. Pada pengukuran kinerja dengan menggunakan rasio keuangan, tolok ukur yang digunakan antara lain yaitu: pertama rasio profitabilitas, rasio aktivitas, rasio solvabilitas, rasio likuiditas. Namun penggunaan konsep tersebut belum dapat memuaskan keinginan pihak manajemen khususnya bagi penyandang dana (investor).
Dalam penelitian ini penilaian kinerja perusahaan dilakukan dengan menggunakan analisis laporan keuangan, hal tersebut didasarkan atas pertimbangan bahwa dengan melakukan analisis laporan keuangan mampu memberikan input (informasi) yang dipakai dalam rangka pengambilan keputusan secara lebih lengkap. Melalui analisis laporan keuangan dapat dilakukan penilaian atas kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendeknya, tingkat efektivitas penggunaan asset perusahaan, kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka panjang, kemampuan untuk menghasilkan laba dan perkembangan nilai perusahaan.
Pengukuran kinerja keuangan dengan menggunakan konsep balanced scorecard, tolok ukur yang digunakan ada empat perspektif yaitu perspektif keuangan, pelanggan, proses internal bisnis serta belajar dan berkembang. Namun proses balanced scorecard tidak memasukkan unsur biaya modal, dimana biaya modal menunjukkan besarnya kompensasi yang dituntut oleh investor atas modal yang diinvestasikan.
Pengukuran kinerja keuangan dengan menggunakan tolok ukur yang digunakan ada lima perspektif yaitu : rasio profitabilitas, rasio produktivitas,rasio utilisasi aktiva, rasio stabilitas dan rasio potensi pertumbuhan.Economic Value Added (EVA) merupakan suatu alat untuk mengukur tingkat profitabilitas yang realistik dari operasi perusahaan. EVA merupakan sistem yang disesuaikan dengan manajemen keuangan karena bertitik berat pada nilai bagi investor. Sistem ini berfokus pada jumlah modal dan arus kas dalam perusahaan.
h. Peranan Penilaian Kinerja Keuangan
Menurut Munawir (2002 : 3) penilaian kinerja keuangan mempunyai beberapa peranan bagi perusahaan, yaitu meliputi:
a. Dapat mengukur tingkat biaya dari berbagai kegiatan yang telah dilakukan oleh perusahaan.
b. Untuk menentukan atau mengukur efisiensi setiap bagian, proses atau produksi serta untuk menentukan derajat keuntungan yang dapat dicapai oleh perusahaan yang bersangkutan.
c. Untuk menilai dan mengukur hasil kerja pada tiap-tiap bagian individu yang telah diberikan wewenang dan tanggung jawab.
d. Untuk menentukan perlu tidaknya digunakan kebijaksanaan atau prosedur yang baru untuk mencapai hasil yang lebih baik.

Iklan

Pengertian akuntansi
Akuntansi adalah suatu system informasi berdasarkan mana pihak – pihak yang berkepentingan dalam usaha mengambil keputusan. Informasi sebagai hasil dari akuntansi dibutuhkan dengan banyak pihak termasuk bank. Jika ditelaah secara pustaka banyak sekali batasan akuntansi yang dikemukakan para ahli, antala lain :

Sejalan dengan pendapat tersebut, lapoliwa dan Daniel KS ( 1997 : 2 ) mengatakan bahwa akuntansi adalah sseni pencatatan, pengklasifikasian dan pengiktisaran dengan cara yang sepatutnya dan dalam satuan uang atas transaksi kejadian yang setidak – tidaknya sebagian mempunyai sifat keuangan serta penginterprestasian hasil pencatatan tersebut.
Berdasarkan peraturan pemerintah no 24 tahun 2010 yang dimaksud dengan akuntansi adalah proses pencatatan, pengukuran, pengklasifikasian, pengikhtisaran transaksi dan kejadian keuangan, penginterprestasian atas hasilnya serta penyajian laporan keuangan.
Jadi berdasarkan pendapat para ahli tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa akuntansi adalah kegiatan menyediakan informasi keuangan kepada yang memerlukan sebagai dasar pengambilan keputusan.

Pengertian Laporan Keuangan
Bambang Rustan DI ( 1990 : 30 ) analisa laporan keuangan adalah suatu proses yang penuh pertimbangan dalam membantu mengevaluasi posisi keuangan dan hasil operasi perusahaan pada masa sekarang dan masa lalu, tujuan utamanya, menentukan estimasi dan prediksi yang paling mungkin mengenai kondisi dan kinerja CU di masa yang akan datang.
Menurut Bernstein (1983:3) analisis laporan keuangan adalah aplikasi dari berbagai alat dan teknik analisis pada laporan dan data keuangan untuk memperoleh ukuran – ukuran dan hubungan – hubungan yang berarti dan berguna dalam proses pengambilan keputusan. Analisa Laporan Keuangan mengkonversi data-data menjadi informasi.

Definisi Akuntansi Sektor Publik
Dari berbagai buku Anglo Amerika, akuntansi sektor publik diartikan sebagai mekanisme akuntansi swasta yang diberlakukan dalam praktik-praktik organisasi publik. Dari berbagai buku lama terbitan Eropa Barat, akuntansi sektor publik disebut akuntansi pemerintahan. Dan diberbagai kesempatan disebut juga sebagai akuntansi keuangan publik. Berbagai perkembangan terakhir, sebagai dampak penerapan daripada accrual base di Selandia Baru, pemahaman ini telah berubah. Akuntansi sektor publik didefinisikan sebagai akuntansi dana masyarakat. Akuntansi dana masyarakat dapat diartikan sebagai: “… mekanisme teknik dan analisis akuntansi yang diterapkan pada pengelolaan dana masyarakat”. Dari definisi diatas perlu diartikan dana masyarakat sebagai dana yang dimiliki oleh masyarakat – bukan individual, yang biasanya dikelola oleh organisasi -organisasi sektor publik, dan juga pada proyek-proyek kerjasama sektor publik dan swasta. Di Indonesia, akuntansi sektor publik dapat didefinisikan: “… mekanisme teknik dan analisis akuntansi yang diterapkan pada pengelolaan dana masyarakat di lembaga-lembaga tinggi negara dan departemen-departemen dibawahnya, pemerintah daerah, BUMN, BUMD, LSM dan yayasan sosial, maupun pada proyek-proyek kerjasama sektor publik dan swasta”.

Penerapan Akuntansi Sektor Publik Di Indonesia.
Akuntansi Pemerintahan
Pengertian Akuntansi Pemerintahan
Sebagai sebuah organisasi lembaga pemerintah mempunyai kegiatan yang melibatkan operasi keuangan. Keuangan merupakan sumber daya bagi perusahaan atau organisasi yang mempunyai sifat terbuka. Karena keterbatasannya maka dalam pengelolaan keuangan perlu rencana dan system yang dapat menjamin penggunaan sumber daya terkait sesuai rencana yang telah di tetapkan folosofi dari sebuah system yang di terpkan dalam pengelolaan keuangan sebuah organisasi adalah bahwa dalam pencatatan atau rekening dapat menunjukan perbandiangan antara jumlah yang di anggarkan dengan jumlah pengeluaran yang sesunguhnya secara sistematis dan terus menerus. Salah satu untuk mencapai kondisi tersebut adalah dengan akuntansi, akuntansi mempunyai sifat yang sistematis.

Akuntansi pemerintah didepinisikan sebagai prosses pencatatan, pengumpulan dan pembelanjaan sumber-sumber keuangan pemerintah dan pembuata laporan keuangan yang terkait dengan beberapa atau semua legiatan operasional dengan hasilnya. Sedangakan revrison baswir ( 2003 : 7 ) mendefinisikan akuntansi pemerintah adalah bidang akuntansi yang berkaitan dengan lembaga – lembaga pemerintah dan lembaga – lembaga yang tidak bertujuan mencari laba.

Akuntasi pemerintah merupakan bidang tersendiri yang memerlukan pembahasan yang berbeda dengan akuntansi organisasi lainya. Meskipun akuntansi mempunyai sifat berlaku umum tetapi karakteristik yang berbeda pada organisasi pemerintah dibidang organisasi lainnya.

Istilah sector publik lebih tertuju pada sector Negara, usaha – usaha Negara, organisasi nirlaba Negara ( abdul Halim, 2002 : 26 ) mengemukakan bahwa yang dimaksut dengan akuntasi sector public adalah pemerintah dan unit – unit organisasiny, yaitu unit – unit yang dikelolah pemerintah dan berkaitan dengan hajat hidup orang banyak atau pelayanan masyarakat seperti kesehatan, pendidikan dan keamanan

Sumber: http://id.shvoong.com/writing-and-speaking/branded-content/2042340-akuntansi-pemerintah/#ixzz1eJ8pE5QH

JUST-IN-TIME ( JIT )

1. Pengertian JIT
Dalam pengertian luas, JIT adalah suatu filosofi tepat waktu yang memusatkan pada aktivitas yang diperlukan oleh segmen-segmen internal lainnya dalam suatu organisasi.
JIT mempunyai empat aspek pokok sebagai berikut:

1. Semua aktivitas yang tidak bernilai tambah terhadap produk atau jasa harus di eliminasi.Aktivitas yang tidak bernilai tambah meningkatkan biaya yang tidak perlu,misalnya persediaan sedapat mungkin nol.
2. Adanya komitmen untuk selalu meningkatkan mutu yang lebih tinggi.Sehingga produk rusak dan cacat sedapat mungkin nol,tidak memerlukan waktu dan biaya untuk pengerjaan kembali produk cacat, dan kepuasan pembeli dapat meningkat.
3. Selalu diupayakan penyempurnaan yang berkesinambungan (Continuous Improvement)dalam meningkatkan efisiensi kegiatan.
4. Menekankan pada penyederhanaan aktivitas dan meningkatkan pemahaman terhadap aktivitas yang bernilai tambah.

JIT dapat diterapkan dalam berbagai bidang fungsional perusahaan seperti misalnya pembelian, produksi, distribusi, administrasi dan sebagainya.

A. Pembelian JIT
Pembelian JIT adalah sistem penjadwalan pengadaan barang dengan cara sedemikian rupa sehingga dapat dilakukan penyerahan segera untuk memenuhi permintaan atau penggunaan.
Pembelian JIT dapat mengurangi waktu dan biaya yang berhubungan dengan aktivitas pembelian dengan cara:

1. Mengurangi jumlah pemasok sehingga perusahaan dapat mengurangi sumber-sumber yang dicurahkan dalam negosiasi dengan pamasoknya.
2. Mengurangi atau mengeliminasi waktu dan biaya negosiasi dengan pemasok.
3. Memiliki pembeli atau pelanggan dengan program pembelian yang mapan.
4. Mengeliminasi atau mengurangi kegiatan dan biaya yang tidak bernilai tambah.
5. Mengurangi waktu dan biaya untuk program-program pemeriksaan mutu.
Penerapan pembelian JIT dapat mempunyai pengaruh pada sistem akuntansi biaya dan manajemen dalam beberapa cara sebagai berikut:
1. Ketertelusuran langsung sejumlah biaya dapat ditingkatkan.
2. Perubahan “cost pools” yang digunakan untuk mengumpulkan biaya.
3. Mengubah dasar yang digunakan untuk mengalokasikan biaya sehingga banyak biaya tidak langsung dapat diubah menjadi biaya langsung.
4. Mengurangi perhitungan dan penyajian informasi mengenai selisih harga beli secara individual
5. Mengurangi biaya administrasi penyelenggaraan sistem akuntansi.

B. Produksi JIT
Produksi JIT adalah sistem penjadwalan produksi komponen atau produk yang tepat waktu, mutu, dan jumlahnya sesuai dengan yang diperlukan oleh tahap produksi berikutnya atau sesuai dengan memenuhi permintaan pelanggan.
Produksi JIT dapat mengurangi waktu dan biaya produksi dengan cara:

1. Mengurangi atau meniadakan barang dalam proses dalam setiap workstation (stasiun kerja) atau tahapan pengolahan produk (konsep persediaan nol).
2. Mengurangi atau meniadakan “Lead Time” (waktu tunggu) produksi (konsep waktu tunggu nol).
3. Secara berkesinambungan berusaha sekeras-kerasnya untuk mengurangi biaya setup mesin-mesin pada setiap tahapan pengolahan produk (workstation).
4. Menekankan pada penyederhanaan pengolahan produk sehingga aktivitas produksi yang tidak bernilai tambah dapat dieliminasi.

Perusahaan yang menggunakan produksi JIT dapat meningkatkan efisiensi dalam bidang:
1. Lead time (waktu tunggu) pemanufakturan
2. Persediaan bahan, barang dalam proses, dan produk selesai
3. Waktu perpindahan
4. Tenaga kerja langsung dan tidak langsung
5. Ruangan pabrik
6. Biaya mutu
7. Pembelian bahan

Penerapan produksi JIT dapat mempunyai pengaruh pada sistem akuntansi biaya dan manajemen dalam beberapa cara sebagai berikut:
1. Ketertelusuran langsung sejumlah biaya dapat ditingkatkan
2. Mengeliminasi atau mengurangi kelompok biaya (cost pools) untuk aktivitas tidak langsung
3. Mengurangi frekuensi perhitungan dan pelaporan informasi selisih biaya tenaga kerja dan overhead pabrik secara individual
4. Mengurangi keterincian informasi yang dicatat dalam “work tickets”

2. Pemanufakturan JIT dan Penentuan Biaya Produk
Pemanufakturan JIT menggunakan pendekatan yang lebih memusat daripada yang ditemui dalam pemanufakturan tradisional.Penggunaan sistem pemanufakturan JIT mempunyai dampak pada:
1. Meningkatkan Keterlacakan (Ketertelusuran) biaya.
2. Meningkatkan akurasi penghitungan biaya produk.
3. Mengurangi perlunya alokasi pusat biaya jasa (departemen jasa)
4. Mengubah perilaku dan relatif pentingnya biaya tenaga kerja langsung.
5. Mempengaruhi sistem penentuan harga pokok pesanan dan proses.

Dasar-dasar pemanufakturan JIT dan perbedaannya dengan pemanufakturan tradisional:

2.1. JIT Dibandingkan dengan Pemanufakturan Tradisional.
Pemanufakturan JIT adalah sistem tarikan permintaan (Demand-Pull). Tujuan pemanufakturan JIT adalah memproduksi produk hanya jika produk tersebut dibutuhkan dan hanya sebesar jumlah permintaan pembeli (pelanggan). Beberapa perbedaan pemanufakturan JIT dengan Tradisional meliputi:

a. Persediaan Rendah
b. Sel-sel Pemanufakturan dan Tenaga Kerja Interdisipliner
c. Filosofi TQC (Total Quality Control)

2.2. JIT dan Ketertelusuran Biaya Overhead
Dalam lingkungan JIT, beberapa aktivitas overhead yang tadinya digunakan bersama untuk lebih dari satu lini produk sekarang dapat ditelusuri secara langsung ke satu produk tunggal. Manufaktur yang berbentuk sel-sel, tanaga kerja yang terinterdisipliner, dan aktivitas jasa yang terdesentralisasi adalah karakteristik utama JIT.

2.3. Keakuratan Penentuan Biaya Produk dan JIT
Salah satu konsekuensi dari penurunan biaya tidak langsung dan kenaikan biaya langsung adalah meningkatkan keakuratan penentuan biaya (Harga Pokok Produk).
Pemanufakturan JIT, dengan mengurangi kelompok biaya tidak langsung dan mengubah sebagian besar dari biaya tersebut menjadi biaya langsung maupun sebaliknya, dapat menurunkan kebutuhan penaksiran yang sulit.

2.4. JIT dan Alokasi Biaya Pusat Jasa
Dalam manufaktur tradisional, sentralisasi pusat-pusat jasa memberikan dukungan pada berbagai departemen produksi. Dalam lingkungan JIT, banyak jasa didesentralisasikan.Hal ini dicapai dengan membebankan pekerja dengan keahlian khusus secara langsung ke lini produk dan melatih tenaga kerja langsung yang ada dalam sel-sel untuk melaksanakan aktivitas jasa yang semula dilakukan oleh tenaga kerja tidak langsung.

2.5. Pengaruh JIT pada Biaya Tenaga Kerja Langsung
Sebagai perusahaan yang menerapkan JIT dan otomatisasi, biaya tenaga kerja langsung tradisional dikurangi secara signifikan.Oleh sebab itu ada dua akibat:
1. Persentasi biaya tenaga kerja langsung dibandingkan total biaya produksi menjadi berkurang
2. Biaya tenaga kerja langsung berubah dari biaya variabel menjadi biaya tetap.

2.6. Pengaruh JIT pada Penilaian Persediaan
Salah satu masalah pertama akuntansi yang dapat dihilangkan dengan penggunaan pemanufakturan JIT adalah kebutuhan untuk menentukan biaya produk dalam rangka penilaian persediaan. Jika terdapat persediaan, maka persediaan tersebut harus dinilai, dan penilaiannya mengikuti aturan-aturan tertentu untuk tujuan pelaporan keuangan. Dalam JIT diusahakan persediaan nol (atau paling tidak pada tingkat yang tidak signifikan), sehingga penilaian persediaan menjadi tidak relevan untuk tujuan pelaporan keuangan.Dalam JIT, keberadaan penentuan harga pokok produk hanya untuk memuaskan tujuan manajerial. Manajer memerlukan informasi biaya produk yang akurat untuk membuat berbagai keputusan misalnya: (a) penetapan harga jual berdasar cost-plus, (b) analisis trend biaya, (c) analisis profitabilitas lini produk, (d) perbandingan dengan biaya para pesaing, (e) keputusan membeli atau membuat sendiri, dsb.

2.7. Pengaruh JIT pada Harga Pokok Pesanan
Dalam penerapan JIT untuk penentuan order pesanan, pertama, perusahaan harus memisahkan bisnis yang sifatnya berulang-ulang dari pesanan khusus.Selanjutnya, sel-sel pemanufakturan dapat dibentuk untuk bisnis berulang-ulang.
Dengan mereorganisasi tata letak pemanufakturan, pesanan tidak membutuhkan perhatian yang besar dalam mengelompokkan harga pokok produksi. Hal ini karena biaya dapat dikelompokkan pada level selular. lagi pula, karena ukuran lot sekarang lebih sangat kecil,maka tidak praktis untuk menyusun kartu harga pokok pesanan untuk setiap pesanan. Maka lingkungan pesanan akan menggunakan sifat sistem harga pokok proses.

2.8. Penentuan Harga Pokok Proses dan JIT
Dalam metode proses, perhitungan biaya per unit akan menjadi lebih rumit karena adanya persediaan barang dalam proses. Dengan menggunakan JIT, diusahakan persediaan nol, sehingga penghitungan unit ekuivalen tidak terlalu dibutuhkan, dan tidak perlu menghitung biaya dari periode sebelumnya. JIT secara signifikan mengarah pada penyederhanaan.

2.9. JIT dan Otomasi
Sejak sistem JIT digunakan, biasanya hanya menunjukkan kemungkinan otomasi dalam beberapa hal. Karena tidaklah umum bagi perusahaan yang menggunakan JIT untuk mengikutinya dengan pemilikan teknologi pemenufakturan maju. Otomasi perusahaan untuk : (a) menaikkan kapasitas produksi, (b) menaikkan efisiensi, (c) meningkatkan mutu dan pelayanan, (d) menurukan waktu pengolahan, (e) meningkatkan keluaran.
Otomasi meningkatkan kemampuan untuk menelusuri biaya pada berbagai produk secara individual. sebagai contoh sel-sel FMS, merupakan rekan terotomasi dari sel-sel pemanufakturan JIT. Jadi. beberapa biaya yang merupakan biaya yang tidak langsung dalam lingkungan tradisional sekarang menjadi biaya langsung.

2.10. Penentuan Harga Pokok Backflush
Penentuan harga pokok backflush mengeliminasi rekening barang dalam proses dan membebankan biaya produksi secara langsung pada produk selesai. Perusahaan menggunakan backflush costing jika terdapat kondisi-kondisi sebagai berikut :

1. Manajemen ingin sistem akuntansi yang sederhana.
2. Setiap produk ditentukan biaya standarnya.
3. Metode ini menghasilkan penentuan harga pokok produk yang kira-kira mengasilkan informasi keuangan yang sama dengan penelusuran secara berurutan.

Ada dua perubahan relatif pada sistem konvensional yaitu :
1. Perubahan Akuntansi Bahan
2. Perubahan Akuntansi Biaya Konversi

2.1 Pengertian Biaya
Pemahaman mengenai biaya penting sekali karena penerapan biaya yang tepat dapat digunakan untuk membantu proses perencanaan, pengendalian, dan pembuatan keputusan ekonomi. Ketidaktepatan atau kesalahtafsiran biaya, bisa berakibat pembuatan keputusan yang kurang tepat. Sebelum kita mengetahui macam-macam biaya dan penggolongannya, terlebih dahulu harus mengerti tentang arti biaya tersebut. Pengertian biaya menurut R.A Supriyono (1987 : 185) mengemukakan sebagai berikut :
Biaya didefinisikan sebagai pengorbanan ekonomis yang dibuat untuk memperoleh barang atau jasa. Dengan kata lain biaya adalah harga perolehan barang atau jasa yang diperlukan oleh organisasi. Besarnya biaya diukur dalam satuan moneter, di Indonesia adalah rupiah, yang jumlahnya dipengaruhi oleh transaksi dalam rangka pemilihan barang dan jasa tersebut.

Sedangkan menurut Harnanto (1992 : 24) mengatakan sebagai berikut :
Biaya adalah jumlah uang yang dinyatakan dari sumber-sumber ekonomi yang dikorbankan untuk mendapatkan sesuatu atau mencapai tujuan tertentu.
Dari pengertian di atas terdapat empat unsur pokok dalam definisi biaya yang biaya merupakan pengorbanan sumber ekonomis, diukur dalam satuan uang, jumlahnya dipengaruhi oleh transaksi dan pengorbanan untuk tujuan tertentu.

2.1.2 Manfaat Data Biaya
Biaya-biaya yang dikumpulkan sesuai dengan golongan atau klasifikasi yang diinginkan, kemudian disajikan dan dianalisa, akan sangat bermanfaat bagi manajemen. Data biaya tersebut akan dapat dimanfaatkan oleh manajemen untuk berbagai tujuan. Manfaat dari data biaya antara lain :
a. Untuk Tujuan Pengawasan
Data biaya yang dihasilkan dari akuntansi biaya merupakan salah satu data yang digunakan manajemen dalam membuat perencanaan baik rencana produksi, bahan baku, tenaga kerja langsung, dan overhead pabrik. Selain itu akuntansi biaya juga melakukan pencatatan-pencatatan biaya yang terjadi. Dalam proses pencatatan tersebut data biaya dapat digunakan untuk mengawasi kegiatan perusahaan yaitu dengan membandingkan antara biaya sesungguhnya dengan biaya yang ditargetkan.
b. Membantu dalam Penetapan Harga Jual
Penentuan harga jual dapat dilakukan untuk suatu periode yang diinginkan, melalui pengetahuan tentang data biaya dan volume penjualan masa lalu. Harga jual yang ditentukan tentu saja diusahakan haga jual yang minimal dapat menutup semua biaya yang terjadi.
c. Untuk Menghitung R/L Periodik
Perhitungan rugi laba periodik untuk suatu perusahaan dilakukan dengan jelas, mempertemukan antara penghasilan (dalam hal ini hasil penjualan) dengan biaya-biaya yang terjadi.

d. Untuk Pengendalian Biaya
Yang dimaksud pengendalian biaya dalam hal ini adalah pengendalian melalui akuntansi pertanggungjawaban. Akuntansi pertanggungjawaban merupakan sistem akuntansi yang disusun sedemikian rupa sehingga pengumpulan dan pelaporan biaya dan penghasilan sesuai dengan bidang pertanggungjawaban dalam organisasi.
e. Untuk Pengambilan Keputusan
Data biaya sangat diperlukan oleh manajemen dalam pengambilan keputusan. Pentingnya data biaya untuk pengambilan keputusan manajemen misalnya keputusan untuk memproduksi sendiri komponen yang diproduksi atau membeli di pasaran bebas guna merakit suatu model produk.
Dari manfaat-manfaat data biaya yang telah dikemukakan di atas terlihat jelas bahwa data biaya itu berhubungan dengan masa lalu, masa sekarang, dan masa yang akan datang. Perhitungan rugi laba periodik termasuk di dalamnya penentuan nilai persediaan berhubungan dengan masa lalu. Pengendalian biaya berhubungan dengan masa sekarang, perencanaan, strategi harga, dan analisa data biaya untuk pembuatan keputusan berhubungan dengan masa yang akan datang.

2.1.3 Penggolongan Biaya
Penggolongan adalah proses pengelompokan secara sistematis atau keseluruhan elemen yang ada ke dalam golongan-golongan tertentu yang lebih ringkas untuk memberikan informasi yang lebih penting.
Untuk menyajikan informasi biaya yang bermanfaat pada berbagai tingkatan manajemen, biaya dapat digolongkan sesuai dengan informasi yang diperlukan oleh manajemen. Kebutuhan informasi ini mendorong timbulnya berbagai cara penggolongan biaya sehingga dikenal konsep penggolongan biaya yang berbeda untuk tujuan yang berbeda. Informasi manajemen dapat digunakan oleh manajemen untuk berbagai tujuan. Jika tujuan manajemen berbeda maka diperlukan cara penggolongan biaya yang dapat memenuhi informasi untuk semua tujuan. Di bawah ini akan dibahas berbagai cara penggolongan biaya yang pokok, yaitu :
1. Penggolongan Biaya Sesuai dengan Fungsi Pokok Kegiatan Perusahaan
Tujuan penggolongan biaya sesuai dengan fungsi pokok kegiatan perusahaan adalah :
• Untuk dapat menyajikan laporan keuangan yang wajar. Kesalahan di dalam penggolongan biaya, misalnya : biaya produksi diperlukan sebagai biaya non produksi, berakibat penyajian laporan keuangan dinyatakan terlalu besar atau terlalu kecil.
• Untuk melaksanakan proses manajemen, misalnya : proses perencanaan, proses pembuatan keputusan, dan proses pengendalian.

• Penggolongan Fungsi Pokok Perusahaan •
Perusahaan manfaktur mempunyai fungsi pokok yang lebih kompleks dibandingkan dengan perusahaan dagang dan perusahaan jasa. Hal ini disebabkan karena perusahaan manufaktur harus mengubah bentuk barang yang dibeli menjadi produk selesai sedangkan perusahaan dagang langsung menjual barang yang dibeli tanpa melakukan pengubahan bentuk. Pada perusahaan jasa, sumber daya manusia dengan menggunakan fasilitas organisasi langsung mengerahkan jasa kepada langganan. Dalam pembahasan ini dititikberatkan untuk perusahaan manufaktur, karena dengan mengetahui penggolongan fungsi dan biaya, perusahaan manufaktur diharapkan dapat mengetahui struktur fungsi dan biaya pada bentuk usaha yang lainnya.
a. Fungsi produksi adalah fungsi untuk mengubah atau mengolah bahan baku menjadi produk selesai yang siap untuk dijual kepada para pembeli.
b. Fungsi non produksi adalah meliputi fungsi-fungsi dalam suatu perusahaan selain fungsi produksi, bertujuan agar produk yang dihasilkan oleh fungsi produksi dapat dipasarkan dan kegiatan perusahaan dapat berdaya guna (efisien) dan berhasil guna (efektif) dalam perolehan dan penggunaan sumber-sumber perusahaan.

• Penggolongan Biaya Sesuai dengan Fungsi •
Setelah diketahui penggolongan fungsi-fungsi dalam perusahaan maka biaya dapat digolongkan sesuai dengan fungsi-fungsi tersebut di atas, yaitu :
a. Biaya Produksi
Meliputi semua biaya yang berhubungan dengan fungsi produksi yaitu semua biaya dalam rangka pengolahan bahan baku menjadi produk selesai yang siap dijual. Biaya produksi dapat digolongkan ke dalam tiga kelompok, yaitu :
(1) Biaya Bahan Baku
Bahan baku adalah berbagai macam bahan yang diolah menjadi produk selesai dan pemakaiannya dapat diikuti jejaknya.
Biaya bahan baku adalah harga perolehan berbagai macam bahan baku yang dipakai di dalam kegiatan pengolahan produk.
(2) Biaya Tenaga Kerja Langsung
Tenaga kerja langsung adalah tenaga kerja yang jasanya dapat diikuti jejak manfaatnya pada produk tertentu.
Biaya tenaga kerja langsung adalah balas jasa yang diberikan oleh perusahaan kepada tenaga kerja langsung dan jejak manfaatnya dapat diidentifikasikan pada produk tertentu.
(3) Biaya Overhead Pabrik
Adalah biaya produksi selain biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung, antara lain :
– Biaya bahan penolong.
– Biaya tenaga kerja tidak langsung.
– Biaya depresiasi dan amortisasi aktiva tetap.
– Biaya reparasi dan pemeliharaan aktiva tetap.
– Biaya listrik dan air.
– Biaya asuransi.
– Biaya overhead pabrik lain-lain.

b. Biaya Non Produksi
Dengan semakin tajamnya persaingan dan perkembangan teknologi yang semakin pesat mengakibatkan kegiatan dan biaya non produksi menjadi semakin penting pula, sehingga manajemen berkepentingan untuk mengendalikan dan memerlukan informasi kegiatan dan biaya non produksi. Pada umumnya, biaya non produksi digolongkan sesuai dengan penggolongan fungsi atau kegiatan non produksi, sehingga biaya tersebut digolongkan ke dalam :
(1) Biaya Pemasaran
Adalah meliputi semua biaya dalam rangka melaksanakan kegiatan pemasaran atau kegiatan untuk menjual barang dan jasa perusahaan kepada para pembeli sampai dengan pengumpulan piutang menjadi kas, meliputi :
1. Biaya untuk Menimbulkan Pesanan
a. Biaya fungsi promosi dan advertensi.
b. Biaya fungsi penjualan.
2. Biaya untuk Melayani Pesanan
a. Biaya fungsi penggudangan dan penyimpanan produk selesai.
b. Biaya fungsi pengepakan dan pengiriman.
c. Biaya pemberian kredit dan penagihan piutang.
d. Biaya fungsi administrasi penjualan.

(2) Biaya Administrasi dan Umum
Meliputi semua biaya dalam rangka melaksanakan fungsi administrasi dan umum yaitu biaya perencanaan, penentuan strategi dan kebijaksanaan, pengarahan, dan pengendalian kegiatan agar berdaya guna dan berhasil guna, meliputi :
a. Biaya direksi dan staf.
b. Biaya fungsi akuntansi.
c. Biaya fungsi keuangan.
d. Biaya fungsi personalia.
e. Biaya fungsi humas dan keamanan.
f. Biaya fungsi administrasi dan umum lainnya.

(3) Biaya Finansial
Yaitu semua biaya dalam rangka melaksanakan fungsi finansial maksudnya fungsi pemenuhan dana yang diperlukan oleh perusahaan, misalnya :
a. Biaya bunga.
b. Biaya penerbitan obligasi.
c. Biaya finansial lain.

2. Penggolongan Biaya ke dalam Biaya Produk dan Biaya Periode
Tujuannya yaitu untuk penyusunan laporan keuangan baik untuk pihak eksternal maupun internal. Di bawah ini akan dibahas kedua penggolongan biaya tersebut.
a. Biaya Produk
Adalah biaya yang dapat diidentifikasikan sebagai bagian harga perolehan persediaan, biaya ini merupakan harga preolehan barang dagangan yang dibeli dengan tujuan untuk dijual atau harga pokok produk yang dihasilkan perusahaan dengan tujuan untuk dijual.
b. Biaya Periode
Adalah meliputi biaya yang dapat diidentifikasikan dengan ukuran periode atau jarak waktu tertentu daripada dengan pemindahan barang atau pengerahan jasa.

3. Penggolongan Biaya berdasar Perilaku Biaya
Penggolongan biaya berdasar perilaku biaya adalah dalam rangka menyajikan informasi biaya yang bermanfaat untuk :
a. Menyusun rencana kegiatan.
b. Membuat keputusan khusus.
c. Mengendalikan kegiatan perusahaan.
Atas dasar perilakunya, biaya dapat dikelompokkan ke dalam :

(1) Biaya Tetap
Adalah biaya yang jumlah totalnya tetap konstan, tidak dipengaruhi oleh perubahan volume kegiatan atau aktivitas sampai dengan tingkatan tertentu.
(2) Biaya Variabel
Adalah biaya yang jumlah totalnya berubah secara sebanding dengan perubahan volume kegiatan. Semakin tinggi volume kegiatan maka semakin tinggi pula total biaya variabel.
Elemen biaya variabel ini terdiri atas : biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung yang dibayar per buah produk / per jam, biaya overhead pabrik variabel, biaya pemasaran variabel.
(3) Biaya Semi Variabel
Adalah biaya yang jumlah totalnya berubah sesuai perubahan volume kegiatan. Contoh : biaya listrik, biaya telepon, biaya reparasi dan pemeliharaan mesin, biaya kendaraan.
4. Penggolongan Biaya Sesuai dengan Obyek atau Pusat Biaya
Bertujuan untuk :
a. Pembebanan biaya kepada setiap pusat biaya dengan adil dan teliti.
b. Pengendalian biaya.
c. Pembuatan keputusan.

Atas dasar obyek atau pusat biaya, biaya digolongkan menjadi :
(1) Biaya Langsung
Adalah biaya yang terjadi atau manfaatnya dapat diidentifikasikan kepada obyek atau pusat biaya tertentu.
(2) Biaya Tidak Langsung
Adalah biaya yang terjadi atau manfaatnya tidak dapat diidentifikasikan pada obyek atau pusat biaya tertentu.

5. Penggolongan Biaya Sesuai dengan Periode Akuntansi Dimana Biaya akan Dibebankan
Penggolongan biaya ini bertujuan untuk ketelitian dan keadilan pembebanan biaya pada periode akuntansi yang menikmatinya.
a. Pengeluaran Modal
Adalah pengeluaran yang akan dapat memberikan manfaat pada beberapa preiode akuntansi atau pengeluaran yang akan dapat memberikan manfaat pada periode akuntansi yang akan datang.
b. Pengeluaran Penghasilan
Adalah pengeluaran yang akan memberikan manfaat hanya pada periode akuntansi dimana pengeluaran terjadi.
6. Penggolongan Biaya untuk Tujuan Pengendalian Biaya
Untuk pengendalian biaya, informasi biaya yang ditujukan kepada manajemen dikelompokkan ke dalam :

a. Biaya Terkendalikan
Adalah biaya yang secara langsung dapat dipengaruhi oleh seorang pimpinan tertentu dalam jangka waktu tertentu.
b. Biaya tidak Terkendalikan
Adalah biaya yang tidak dapat dipengaruhi oleh seorang pimpinan/ pejabat tertentu berdasar wewenang yang dia miliki atau tidak dapat dipengaruhi oleh seorang pejabat dalam jangka waktu tertentu.

7. Penggolongan Biaya Sesuai dengan Tujuan Pengambilan Keputusan.
Untuk tujuan pengambilan keputusan manajemen, data biaya dikelompokkan ke dalam :
a. Biaya Relevan
Adalah biaya masa depan yang berbeda pada berbagai macam alternatif. Biaya tersebut akan mempengaruhi pengambilan keputusan, oleh karena itu biaya tersebut harus diperhitungkan dalam pengambilan keputusan. Pengambilan keputusan dapat berupa pemilihan dua alternatif atau pemilihan lebih dari dua alternatif.
b. Biaya tidak Relevan
Adalah biaya yang tidak mempengaruhi pengambilan keputusan. Biaya tidak relevan umumnya adalah biaya masa lalu atau biaya yang tidak berbeda pada berbagai alternatif.

2.1.4 Biaya Produksi
Biaya produksi meliputi semua biaya yang berhubungan dengan fungsi produksi yaitu semua biaya dalam rangka pengolahan bahan baku menjadi produk selesai yang siap untuk dijual. Menurut pendapat R.A Supriyono (1987 : 198), biaya produksi dapat digolongkan ke dalam tiga kelompok, yaitu :
a. Biaya bahan baku adalah harga perolehan berbagai macam bahan baku yang dipakai di dalam kegiatan pengolahan produk.
b. Biaya tenaga kerja langsung adalah balas jasa yang diberikan oleh perusahaan kepada tenaga kerja langsung dan jejak manfaatnya dapat diidentifikasikan pada produk tertentu.
c. Biaya overhead pabrik adalah biaya produksi selain biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung, elemennya dapat digolongkan ke dalam : biaya bahan penolong, biaya tenaga kerja tidak langsung, biaya depresiasi dan amortisasi aktiva tetap pabrik, biaya reparasi dan pemeliharaan aktiva tetap pabrik, biaya listrik dan air pabrik, biaya asuransi pabrik, biaya overhead pabrik lain-lain.

2.1.5 Tujuan Perhitungan Biaya Produksi
Biaya produksi terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik. Dimana biaya-biaya tersebut terjadi dalam hubungannya dengan pengolahan bahan baku menjadi produk jadi. Adapun tujuan perhitungan biaya produksi adalah :

1. Untuk Menentukan Harga Penjualan yang Menguntungkan
Dalam rangka penentuan harga produk agar dapat memperoleh keuntungan, maka seorang produsen harus mengetahui besarnya biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi produk tersebut, atau dengan kata lain harus mengetahui harga pokok produk yang bersangkutan ditambah dengan prosentase laba yang diharapkan.
2. Untuk Mengetahui atau Menilai Efisiensi Proses Produksi
Harga pokok suatu hasil produksi merupakan suatu patokan yang harus dipegang oleh manajemen perusahaan. Oleh sebab itu, sebelum produksi dinilai, terlebih dahulu masing-masing unsur biaya harus benar-benar mendapatkan perencanaan dan pengawasan. Dengan demikian, adanya patokan tersebut maka dapat diperoleh efisiensi.
3. Memberikan kemungkinan kepada pimpinan perusahaan memperoleh bahan-bahan yang mereka butuhkan pada waktu mereka harus mengambil keputusan.
4. Untuk memperoleh suatu dasar penilaian untuk neraca dari barang-barang hasil jadi yang dibuat sendiri yang masih terdapat dalam persediaan pada tanggal penyusunan neraca.

A. Pengertian Pendapatan
Banyak pengertian pendapatan telah dikemukakan oleh para ahli akuntansi, dimana dari setiap pengertian ini ada perbedaan. Hal ini disebabkan karena adanya penafsiran yang berbeda antara penulis yang satu dengan penulis yang lain. Konsep pendapatan sering dikaitkan dengan prosedur akuntansi tertentu dan mengenai kapan pendapatan harus dilaporkan. Dalam SAK No. 23 (1999:2) pengertian dari pendapatan adalah sebagai berikut :
…..arus masuk bruto dan manfaat ekonomi yang timbul dari aktivitas normal perusahaan selama satu periode, bila arus masuk itu mengakibatkan kenaikan ekuitas (modal) yang tidak berasal dari kontribusi penanam modal

Pengertian pendapatan yang diberikan oleh SAK adalah pengertian pendapatan dalam arti luas. Sedangkan menurut pandangan sempit, hanya hasil aktivitas yang menciptakan pendapatan investasi, dan keuntungan atau kerugian penjualan aktiva tetap tidak termasuk pendapatan.
Dalam definisi pendapatan (revenue) sebagai produk dari perusahaan, pengurangan dilakukan berdasarkan nilai tukar (cash equivalent) masih belum jelas pada titik yang mana pendapatan ini harus diukur dan dilaporkan. Untuk itu pendapatan membutuhkan kapasitas mengenai pengukuran dari pendapatan tersebut.

B. Waktu Pengakuan Pendapatan
Menurut Sofyan Safri Harahap (1993:242) secara teoritis waktu pengakuan pendapatan dapat diakui pada berbagai saat berikut :

1. Selama Berlangsungnya Produksi (Production Basis)
Ini terlihat pada kontrak pembangunan yang bersifat jangka panjang pada proses peningkatan nilai secara ilmiah (Accretion) dan Accrual.
a. Accretion
Adalah pelaporan pendapatan dalam masa produksi dengan cara mengakui kenaikan nilai karena pertumbuhan alamiah atau karena pertambahan umur. Pertumbuhan alamiah atau pertambahan umur ini dari pandangan ekonomi merupakan proses produksi. Contoh dari accretion ini dapat dilihat pada peternakan, kehutanan, dan bertambahnya nilai karena proses penuaan dari pada anggur.
b. Accrual
Contoh dari pelaporan revenue selama berlangsungnya produksi adalah accrual daripada jasa-jasa yang diberikan. Jumlah atau besarnya pendapatan biasanya juga telah ditetapkan, misalnya dengan kontrak atau perjanjian lainnya, biaya-biaya yang berhubungan dengan pendapatan ini juga dapat ditentukan bersamaan dengan pendapatannya. Hal ini biasanya dapat dijumpai pada “kontrak jangka panjang”.
2. Sesudah Produk Selesai
Pelaporan pendapatan setelah selesainya produksi tergantung pada kepastian mengenai harga jual dan besarnya biaya tambahan (di luar biaya produksi). Apabila telah ada kontak penjualan dan penyerahan hasil produksi yang pasti, maka harga jual dapat diketahui dan begitu juga dengan biaya penjualan.
Kriteria utama untuk pengakuan pendapatan ini adalah :
– Adanya harga pasar yang relatif stabil dan aktif
– Tidak adanya biaya pemasaran yang besar
– Adanya kemungkinan penukaran-penukaran unit-unit fisik tanpa pengaruh apa-apa terhadap harga jual (interchange ability of unit) misalnya : suatu balok emas dapat ditukarkan dengan balok emas lainnya untuk berat yang sama.
3. Pada Saat Penjualan (Accrual Basis)
Dari pandangan yuridis formil penjualan terjadi apabila ada perpindahan hak dan suatu klaim pembayaran yang timbul. Maka biasanya para akuntan mengakui adanya penjualan pada saat penyerahan barang kepada langganan.
Pelaporan pendapatan pada saat penjualan didasarkan pada :
– Harga jual telah dapat ditentukan dengan pasti.
– Produk yang telah dijual telah meninggalkan perusahaan dan diganti dengan suatu asset yang lain, jadi pertukaran telah terjadi.
– Untuk kebanyakan perusahaan, penjualan merupakan peristiwa keuangan yang paling penting dalam kegiatan ekonominya.
– Kebanyakan biaya produksi atau pengadaan produksi tersebut telah dikeluarkan atau dapat ditentukan dengan mudah.
4. Pada Saat Penagihan Kas (Cash Basis)
Pelaporan pendapatan pada teori ini mempunyai dua kriteria tentang penundaan pengakuan pendapatan sampai saat penerimaan tunai, yaitu :
– Apabila tidak mungkin mengukur nilai aktiva yang diterima secara cukup tepat.
– Apabila masih ada biaya-biaya yang material jumlahnya yang masih harus dikeluarkan, dan biaya-biaya ini tidak dapat ditaksir jumlahnya secara tepat.
Biasanya hal ini terjadi pada penjualan cicilan atau instalment sales, dimana tagihan sering diragukan karena pembeli mempunyai kecenderungan “besar pasak daripada tiang” atau membeli diluar kesanggupannya untuk membayar secara tunai (cash).
Sudah menjadi ketentuan umum bahwa pendapatan diperoleh selama tahap siklus operasi yakni selama penerimaan pesanan, produksi, penjualan dan penagihan. Karena kesulitan mengalokasikan penghasilan dan pendapatan ke berbagai tahap siklus operasi yang berbeda-beda, maka para akuntan telah mendasarkan kepada prinsip realisasi dalam rangka menentukan waktu pengakuan pendapatan.

C. Metode Pengakuan Pendapatan
Dasar-dasar pengakuan pendapatan yang dijelaskan pada bagian-bagian terdahulu, yang relevan dengan pengakuan pendapatan untuk perusahaan konsultansi adalah pengakuan pendapatan selama berlangsungnya produksi.
Para ahli akuntansi telah menciptakan dua metode pengakuan pendapatan yang digunakan pada perusahaan konsultan. Metode tersebut disusun oleh The AICPA Issuance pada tahun 1955, disitu disebutkan bahwa dua metode yang umumnya digunakan adalah :
1. The Percentage of Completion Method atau Metode Persentase Penyelesaian.
Menurut metode persentase penyelesaian, perusahaan akan mengakui pendapatan dan beban sesuai dengan tingkat kemajuan penyelesaian kontrak dan tidak menunggu sampai kontrak selesai. Jumlah pendapatan yang diakui didasarkan pada ukuran tertentu dan kemajuan penyelesaian kontrak. Pengukuran ini memerlukan suatu taksiran mengenai biaya-biaya yang masih harus dikeluarkan. Biaya-biaya yang sebenarnya dikeluarkan dan laba yang akan diakui selama periode pembangunan dibebankan pada persediaan, yaitu bangunan dalam pelaksanaan. Jika suatu perusahaan memproyeksikan suatu kerugian atas kontrak sebelum penyelesaian, jumlah seluruh kerugian harus segera diakui.
Inti dari metode ini adalah bahwa pendapatan diakui secara proporsional dengan kemajuan dari pekerjaan di bawah perjanjian suatu kontrak. Yang menjadi titik perhatian dari metode persentase penyelesaian adalah bagaimana mengukur tingkat atau persentase penyelesaian yang mendekati kenyataannya.
2. The Completed Contract Method atau Metode Kontrak Selesai
Menurut metode kontrak selesai, pendapatan baru diakui setelah suatu kontrak selesai dikerjakan. Maksudnya disini bahwa pendapatan baru diakui hanya jika penjualan barang atau jasa telah selesai. Dengan demikian jika dalam suatu periode akuntansi tidak ada satupun kontrak yang diselesaikan maka tidak ada pencatatan atas rugi laba kontrak.
Metode kontrak selesai sebaiknya digunakan apabila suatu perusahaan terutama mempunyai kontrak-kontrak jangka pendek, apabila kondisi-kondisi untuk menggunakan akuntansi persentase penyelesaian tidak dipenuhi, atau apabila ada ketidakpastian yang melekat dalam kontrak diluar resiko-resiko usaha yang normal.
Kebaikan dari metode kontrak selesai adalah laporan pendapatan didasarkan pada hasil akhir, bukan merupakan taksiran pekerjaan yang belum pasti, serta tidak dikenal adanya unsur biaya tidak terduga juga tidak adanya kemungkinan kerugian yang tidak dapat diperhitungkan pada saat penetapan laba.
Sedangkan kelemahannya yaitu bahwa metode itu tidak mencerminkan prestasi kerja masa berjalan bila periode kontrak lebih dari satu periode akuntansi, artinya bahwa pendapatan belum akan dilaporkan sampai tingkat pekerjaan terselesaikan, meskipun pekerjaan yang dilakukan ada pada beberapa periode akuntansi.
Dari kedua macam metode pengakuan pendapatan tersebut, pembahasan akan dititikberatkan pada metode kontrak selesai dengan anggapan bahwa bentuk tersebut lebih relevan dengan permasalahan yang akan dibahas, yaitu pengakuan pendapatan pada proyek yang memakan waktu tidak lebih dari satu periode akuntansi.

I. Pengertian Sistem Biaya Taksiran
Sistem harga pokok taksiran adalah salah satu sistem harga pokok yang ditentukan di muka untuk mengolah produk atau jasa tertentu dengan jalan menentukan besarnya biaya bahan baku (raw material cost), biaya tenaga kerja langsung (direct labor cost) dan biaya overhead pabrik (factory overhead) yang diperlukan untuk mengolah produk atau jasa tersebut di waktu yang akan datang.
Harga pokok taksiran yang sudah ditentukan akan dipakai sebagai dasar untuk :
a. Mencatat harga pokok produk atau jasa ke dalam rekening buku besar.
b. Membandingkan biaya taksiran dengan biaya yang sesungguhnya terjadi, serta menentukan besarnya selisih yang timbul.

II. Kebaikan Sistem Harga Pokok Taksiran
1. Dapat mengurangi atau menekan biaya adminstrasi ( administrative expense).
Penggunaan beberapa dokumen dasar pada sistem ini dapat dikurangi dan perhitungan harga pokok atau jasa dapat dengan cepat diadakan, sehungga dapat mengurangi besarnya biaya administrasi.
2. Dapat menyediakan informasi untuk pengambilan keputusan (decision making) .
Manajemen memerlukan informasi biaya untuk pengambilan keputusan tentang produk atau jasa sebelum diolah, dan pemakaian harga pokok taksiran menyediakan informasi kepada manajemen untuk pengambilan keputusan tersebut.
3. Mengantar ke pemakaian sistem harga pokok standar (standard costing ).
Sistem harga pokok taksiran merupakan transisi dari pemakaian sistem harga pokok sesungguhnya menuju pemakaian sistem harga pokok standar.

III. Kelemahan Sistem Harga Pokok Taksiran
1. Harga pokok taksiran yang ditentukan kurang teliti baru dapat dikoreksi pada akhir periode setelah selisih biaya dihitung dan dialokasikan.
2. Timbulnya selisih biaya yang besar dapat mengakibatkan pengambilan keputusan yang keliru, karena pengambilan keputusan dilakukan sebelum produk atau jasa tersebut diolah.

IV. Penentuan Besarnya Harga Pokok Taksiran
Tanggung jawab penyusunan besarnya harga pokok taksiran berada pada cost estimator yang berada dibawah bagian teknik produksi dan memiliki kapabilitas untuk pekerjaan tersebut.
1. Taksiran biaya bahan baku (estimated raw material cost)
Taksiran biaya bahan baku meliputi taksiran kuantitas (estimated quantity) setiap jenis bahan baku yang diperlukan untuk mengolah setiap satuan produk tertentu dan taksiran harga setiap jenis bahan baku yang diperlukan terebut. Apabila di dalam pengolahan timbul sisa bahan(scrap) yang mempunyai nilai, maka sisa bahan tersebut diperlakukan sebagai pengurang taksiran biaya bahan baku. Dasar penentuan yang digunakan dalam menentukan taksiran kuantitas bahan baku adalah : (a) spesifikasi teknis dari produk yang akan diolah, (b) pilot runs, (c) catatan prestasi masa lalu, (d) rata-rata pemakaian bahan baku dari produk yang telah selesai dan sebagainya.
Faktor-faktor yang dapat dipakai sebagai dasar penentuan taksiran harga bahan baku dapat berasal dari beberapa sumber seperti : (a) kontrak pembelian bahan jangka panjang, (b) daftar harga dari suplier, (c) trend dan prediksi harga pasar dan sebagainya.
2. Taksiran biaya tenaga kerja langsung (estimated direct labor cost)
Besarnya taksiran biaya tenaga kerja langsung dipengaruhi oleh sistem pengupahan yang berlaku di perusahaan.
Bila menggunakan sistem upah perpotong (buah) rpoduk yang dihasilkan, besarnya taksiran biaya tenaga kerja langsung dapat diperoleh dari penentuan taksiran upah perpotong yang akan digunakan untuk waktu yang akan datang.
Bila sistem yang digunakan perusahaan sistem upah per jam kerja langsung, besarnya taksiran biaya tenaga kerja langsung dapat ditentukan dengan menaksir waktu yang diperlukan untuk mengolah satu satuan produk dan menaksir besarnya tarif biaya tenaga kerja langsung perjam yang akan berlaku untuk waktu yang akan datang.
Untuk perusahaan ygang menggunakan sistem upah tenaga kerja langsung atas dasar upah tetap per bulan, maka besarnya taksiran biaya tenaga kerja langsung ditentukan dengan menjumlah total biaya tenaga kerja langsung dalam satu periode dibagi volume produksi yang ditaksir (direncanakan) akan dihasilkan dalam periode tersebut.
3. Taksiran biaya overhead pabrik (estimated FOH)
Dimulai dengan menaksir besarnya setiap elemen biaya overhead pabrik dalam periode tertentu yang dikelompokkan pula atas dasar tingkat variabilitas biaya ( biaya tetap dan biaya variabel ). Untuk menentukan biaya taksiran setiap buah produk yang dihasilkan maka jumlah taksiran BOP tersebut dibagi dengan taksiran kapasitas yang akan dipakai sebagai dasar pembebanan BOP.

V. Pemakaian Sistem Harga Pokok Taksiran
1. Metode harga pokok proses (process cost method).
Karakteristiknya adalah bentuk produk yang sifatnya homogen tanpa dipengaruhi oleh spesifikasi yang diminta oleh pembeli. Pada metode ini besarnya harga pokok taksiran ditentukan pada awal periode untuk setiap produk yang dihasilkan, sedangkan apabila produk diproses melalui beberapa departemen maka besarnya harga pokok taksiran ditentukan untuk setiap departemen dimana produk tersebut diproduksi.
2. Metode harga pokok pesanan (job cost method).
Produk yang dihasilkan tergantung dari spesifikasi dari pemesan. Besarnya harga pokok taksiran untuk setiap pesanan belum dapat ditentukan pada awal periode akan tetapi harus dihitung pada saat akan memnerima pesanan tertentu yang sekaligus harga pokok taksiran tersebut dapat dipakai manajemen untuk memutuskan ditolak atau diterimanya pesanan tersebut. Besarnya harga pokok taksiran pada metode ini dipengaruhi oleh spesifikasi produk yang dipesan dan faktor-faktor lainnya yang perlu dipertimbangkan.

VI. Prosedur Akuntansi Sistem Harga Pokok Taksiran
1. Harga pokok taksiran disusun untuk dimasukkan kedalam sistem akuntansi perusahaan
2. Rekening persediaan bahan baku, biaya gaji dan upah, serta rekening BOP didebit dan dikredit sebesar harga pokok atau biaya yang sesungguhnya.
3. Rekening barang dalam proses untuk biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik dibebani (didebit) dengan biaya yang sesungguhnya dinikmati. Rekening ini dikredit atas produk yang selesai atau produk dalam proses pada akhir periode sebesar harga pokok taksiran.
4. Rekening persediaan produk selesai didebit sebesar harga pokok taksiran aas produk selesai dan dikredit sebesar sebesar harga pokok taksiran atas produk selesai yang dijual.
5. Rekening harga pokok penjualan didebit sebesar harga pokok taksiran atas produk selesai yang dijual
6. Pada akhir periode harga pokok produk dalam proses dipindahkan dari setiap rekening barang dalam proses ke dalam rekening persedian produk dalam proses sebesar harga pokok taksirannya.
7. Pada akhir periode dihitung selisih biaya yang timbul, dengan jalan membandingkan jumlah debit setiap rekening barang dalam proses (menunjukkan biaya sesungguhnya) dengan sebelah kredit rekening barang dalam proses yang sama (menunjukkan harga pokok taksiran), serta memindahkan selisih biaya ke dalam rekening selisih biaya.
8. Setelah rekening selisih biaya dihitung, selanjutnya selisih tersebut dialokasikan kembali ke dalam rekening harga pokok penjualan, persediaan produk selesai, dan rekening persediaan produk dalam proses.

Akuntansi biaya kualitas secara tradisional telah mengalokasikan didasarkan pada sebuah Subjektif atau tidak langsung dihitung kisaran pengeluaran untuk biaya langsung. Karena kenaikan tidak langsung dan biaya overhead dalam beberapa dekade terakhir, metode biaya konvensional telah menjadi tidak efektif bagi praktisi dan manajer kualitas.

Untuk mengilustrasikan, satu produk atau layanan garis mungkin memerlukan lebih banyak sumber daya atau waktu daripada yang lain. Tetapi karena biaya biaya tidak langsung didasarkan pada persentase yang tetap biaya langsung (yakni, tenaga kerja dan bahan), maka biaya overhead yang mewakili atau diakui dengan benar untuk produk akhir atau jasa.

Dengan cara konvensional untuk biaya akuntansi dan biaya kualitas, sangat sulit untuk mengidentifikasi apakah produk atau jasa tersebut menguntungkan dan diproduksi melalui proses kualitas atau dengan kurang limbah [14].

Konsep penetapan biaya berdasarkan aktivitas dan manajemen (ABC / M) diperkenalkan di Amerika Serikat, awalnya di sektor manufaktur selama tahun 1970-an dan 1980-an. Robin Cooper dan Robert Kaplan membawa ABC / M konsep terhadap cahaya dan menerbitkan tubuh pengetahuan di Harvard Business Review pada tahun 1988. Cooper dan Kaplan mendefinisikan ABC / M metode sebagai “suatu pendekatan untuk memecahkan masalah-masalah sistem manajemen biaya tradisional;” yaitu, sistem akuntansi biaya konvensional sering kali tidak mampu mengidentifikasi biaya yang benar benar proses. Akibatnya, manajemen dan kualitas profesional tidak dapat membuat keputusan atau membuat keputusan berdasarkan data yang mewakili [14].

Di sisi lain, kegiatan berbasis biaya dan pendekatan manajemen biaya menetapkan objektif berdasarkan “biaya dan efek hubungan.” Biaya kegiatan diidentifikasi dan dialokasikan untuk setiap produk atau layanan jika dan hanya jika produk atau jasa menggunakan aktivitas. Dan pada tahun 1987, Robert Kaplan dan W. Bruns diterbitkan dalam buku mereka, Akuntansi dan Manajemen: Field Study Perspektif, tubuh ABC pengetahuan dengan fokus awal pada manufaktur di mana teknologi dan peningkatan produktivitas telah mengurangi biaya langsung dan tidak langsung dan overhead peningkatan biaya . [14].

Pernyataan Masalah

Dalam persaingan global saat ini, kualitas praktisi dan manajemen tidak mampu membayar risiko membuat keputusan berdasarkan data yang tidak akurat atau tidak lengkap yang disediakan oleh sistem buku besar akuntansi tradisional. Pengenalan dan paparan pendekatan modern terhadap kualitas dan biaya akuntansi yang diperlukan dan berlaku di kedua produk-produk manufaktur dan jasa pengiriman. Tujuan Studi

Kerja tesis akan memandu kualitas

praktisi dan pengambil keputusan melalui unik, pendekatan yang lebih efektif dalam menentukan biaya benar dalam proses lintas fungsional. Ini termasuk tinjauan terhadap penetapan biaya berdasarkan aktivitas dan pendekatan manajemen dan aplikasi dalam kerangka kerja manajemen kualitas total. Selanjutnya, ABC / M akan dapat memasukkan sebagai solusi kualitas sistem akuntansi biaya konvensional melalui konsep ramping, biaya kualitas dan peramalan dan penganggaran. Melalui penelitian ini, kualitas profesional dan authences dapat memperoleh dan akan dapat memperluas perspektif dan peran mereka dalam driver dan alokasi biaya untuk proses kontrol biaya dan peluang-peluang perbaikan.

Basa teoretis dan Organisasi

Tesis ini terdiri dari pengenalan kegiatan berbasis dan pendekatan manajemen dibandingkan dengan sistem akuntansi biaya konvensional. Kedua metode untuk biaya akan diilustrasikan dengan contoh dan ilustrasi tentang bagaimana langsung, tidak langsung dan biaya kualitas dikumpulkan, dialokasikan, diringkas dan pelaporan. Kiriman yang dihasilkan dari sistem buku besar umum dan ABC / M akan ditafsirkan berdampingan untuk menentukan perbedaan, efektivitas dan tepat penggunaannya.

Di samping itu, metodologi ABC akan dibahas lebih lanjut dalam berbagai bidang dan aplikasi dalam kerangka kerja manajemen kualitas total. Ini mencakup biaya berdasarkan aktivitas alokasi melalui teori ramping, biaya kualitas dan proses penetapan biaya dan penganggaran untuk inisiatif kualitas dan peningkatan kesempatan.

Keterbatasan Studi

Usaha tesis terbatas untuk mempelajari aktivitas tradisional maupun pendekatan berbasis biaya berlaku untuk manajemen dan kualitas para profesional untuk mengukur kualitas dan efektivitas yang ada dan membuat keputusan dan untuk dalam perusahaan, organisasi atau departemen. Tinjauan dan rekomendasi apapun dari pendekatan biaya dan kualitas sistem tidak akan menggantikan metode akuntansi biaya konvensional dalam setiap berarti atau kapasitas, sebagai sistem buku besar umum adalah satu-satunya, alat standar dan alat komunikasi antara perusahaan diterima secara luas.

Definisi Istilah

AACE International adalah Asosiasi untuk Kemajuan of Cost Engineering International.

AACE International adalah yang terbesar, industri-masyarakat profesional independen melayani seluruh spektrum pengelolaan biaya profesional, termasuk biaya penduga, insinyur, schedulers, manajer proyek dan kontrol proyek. AACE International memiliki lebih dari 7.000 anggota dari 78 negara di seluruh dunia. Lebih rinci dan informasi tentang AACE Internasional dapat diperoleh melalui http://www.aacei.org.

* Kegiatan adalah elemen pekerjaan yang harus dilakukan untuk menyelesaikan sebuah proyek, melainkan sebuah proses atau operasi yang membutuhkan waktu dan sumber daya terkait.

* Penetapan biaya berdasarkan aktivitas (ABC) adalah alat manajemen kualitas total biaya dan pengukuran kinerja kegiatan, sumber daya, dan objek biaya (yaitu, produk dan jasa). ABC juga dikenal sebagai “horisontal” atau biaya crossfunctional melihat dan dapat memberikan wawasan berdasarkan fakta ke dalam pengeluaran dan profitabilitas produk, layanan, pelanggan, kabupaten, jalur distribusi, dan sebagainya

* Manajemen berdasarkan aktivitas (ABM) adalah manajemen kualitas total disiplin mengenai pengelolaan proses kegiatan perbaikan untuk menurunkan biaya dalam sebuah organisasi. ABM mencakup kegiatan seperti sopir biaya analisis, pengukuran kinerja dan peluang perbaikan proses.

* Activity-based budgeting (ABB) adalah TQM alat perencanaan keuangan dengan identifikasi kebutuhan pelanggan dalam hal volume produk atau jasa untuk tujuan anggaran. Bersama-sama dengan ABC / M, ABB membentuk dasar yang kuat untuk perencanaan dan anggaran kualitas pelaporan.

* Penilaian Biaya biaya yang berhubungan dengan kegiatan seperti mengukur, mengevaluasi atau produk atau jasa audit untuk memastikan kepatuhan terhadap kualitas spesifikasi dan standar kinerja. Contoh-contoh meliputi biaya penilaian evaluasi dan penilaian, inspeksi program, dan kegiatan tes dan pengukuran.

* Chart of Account adalah metode numerik yang sistematis digunakan untuk mengidentifikasi berbagai kategori pengeluaran. Metode mensegregasikan biaya yang timbul menjadi unsur-unsur biaya untuk tujuan akuntansi.

* Biaya adalah jumlah yang diukur dengan uang dalam pertimbangan barang atau jasa. Biaya dapat termasuk uang tunai yang dikeluarkan, kewajiban yang dikeluarkan, dan sumber daya (yakni waktu, manusia dan modal). “Biaya adalah salah satu dari tiga atribut mendasar terkait dengan melakukan suatu kegiatan atau akuisisi aset. Ada harga (biaya), fitur (kinerja), dan ketersediaan (jadwal)” [9].

* Biaya di Penyelesaian adalah arus, proyeksi biaya apa biaya total final akan berada di penyelesaian proyek atau akuisisi aset.

* Biaya Memperkirakan adalah kumpulan kegiatan untuk memperkirakan biaya atau kuantitas sumber daya yang dibutuhkan untuk membuat atau memberikan aset berwujud atau tidak berwujud.

* Biaya Forecasting sangat mirip dengan proses estimasi biaya. Kunci yang berbeda antara perkiraan biaya dan perkiraan biaya adalah perkiraan biaya yang dihitung untuk kegiatan masa depan, sementara perkiraan biaya adalah ramalan biaya atau pada penyelesaian setiap unsur-unsur biaya yang luar biasa diperlukan untuk menciptakan suatu aset.

* Biaya kecocokan adalah biaya pencegahan dan penilaian kegiatan untuk memenuhi standar yang sudah ditentukan sebelumnya atau pelanggan ‘persyaratan.

* Biaya Nonconformance adalah biaya kegagalan internal atau eksternal. Juga, melihat kegagalan internal dan eksternal biaya.

* Biaya Kualitas (coq) adalah biaya sebuah proses bebas dari kesalahan. Hal ini dapat dibagi ke dalam biaya kesesuaian dan ketidaksesuaian.

* Biaya untuk Penyelesaian adalah arus, proyeksi biaya apa yang menonjol akan biaya total untuk penyelesaian suatu proyek atau akuisisi aset.

* Biaya tren diperkirakan berdasarkan informasi biaya historis yang dikumpulkan dari pengalaman aktual selama durasi yang telah ditetapkan. Informasi tren biaya ini berfokus pada bagaimana anggaran dan pengeluaran akan berdampak relatif terhadap prestasi fisik atau nilai yang diterima.

* Decision Support System (DSS) didefinisikan sebagai suatu sistem berbasis komputer yang membantu pengambilan keputusan atau keputusan. Ini adalah sebuah interaktif dan sistem informasi beradaptasi dikembangkan untuk mendukung solusi dan memberikan wawasan non-struktur dan sistem manajemen fleksibel.

* Biaya langsung adalah biaya yang dikeluarkan semata-mata untuk menghasilkan produk atau memberikan pelayanan. Artinya, biaya langsung dapat diidentifikasi dengan akhir, produk atau jasa tertentu.

* Kesalahan Gratis Biaya adalah “do-it-rightthe-first-time” biaya untuk aktivitas-aktivitas seperti perencanaan, pengendalian, audit, atau memperbaiki kualitas buruk.

* Essential Kegiatan merujuk ke nilai-menambahkan atau menambahkan nonvalue-tugas yang dituntut untuk dilakukan dalam proses (atau sekumpulan kegiatan) untuk mencapai nilai yang dihasilkan (produk atau jasa) yang diinginkan pelanggan.

* Biaya Kegagalan Eksternal pengeluaran dari produk atau jasa gagal memenuhi pra-menetapkan standar atau kebutuhan pelanggan. Biaya ini terjadi setelah pengiriman produk atau layanan kepada pelanggan. Contoh biaya kegagalan eksternal meliputi biaya jaminan, kewajiban klaim, paparan hukum, penggantian biaya, dan keluhan dan kehilangan loyalitas pelanggan.

* Biaya Tetap adalah unsur-unsur biaya yang diperlukan dalam akuisisi aset berwujud atau tidak berwujud secara independen dari volume usaha kerja atau output. Contoh biaya tetap meliputi biaya lisensi atau izin, penggunaan peralatan modal dan satu kali biaya kesetiaan.

* Biaya tidak langsung adalah biaya yang diperlukan untuk mendukung proses atau kegiatan yang dapat dikaitkan secara langsung dengan produk atau layanan akhir.

* Biaya Kegagalan Internal biaya karena produk atau jasa gagal memenuhi pra-menetapkan standar atau kebutuhan pelanggan. Biaya-biaya tersebut terjadi sebelum pengiriman produk atau layanan kepada pelanggan. Contoh dari biaya kegagalan internal memo, pengerjaan ulang, perbaikan tak terjadwal dan kehilangan produktivitas waktu.

* Life-Cycle Costing (LCC) memperkirakan biaya memperoleh, memelihara dan membuang aset. LCC adalah biaya total kepemilikan, termasuk semua biaya yang diperkirakan untuk merancang, mengembangkan, memproduksi, membangun, memelihara, memperbaiki dan membuang aset tersebut.

* Overhead merupakan biaya atau pengeluaran yang dikeluarkan dalam melakukan suatu operasi yang tidak dapat dengan mudah diidentifikasi secara langsung dengan produk atau layanan, yaitu historis mereka secara sewenang-wenang atau subjektif dialokasikan berdasarkan persentase yang telah ditetapkan biaya langsung.

* Pencegahan Biaya biaya yang diperlukan kegiatan yang dirancang untuk mencegah berkualitas buruk dalam produk manufaktur atau jasa pengiriman. Contoh dari biaya pencegahan pelatihan kualitas, proses desain, pemeliharaan preventif dan kualitas audit.

* Total Quality Management (TQM) adalah strategi manajemen dan kualitas kesadaran dalam semua proses manufaktur dan jasa. TQM berusaha untuk menciptakan kepuasan pelanggan dan karyawan pada biaya riil yang lebih rendah tiba-tiba dan berkesinambungan melalui kualitas, upaya perbaikan proses. Strategi pengelolaan ini melibatkan seluruh organisasi, rantai pasokan dan siklus hidup produk untuk mencapai sukses jangka panjang.

* Nilai-Menambahkan Kegiatan mengacu pada tugas menciptakan nilai tambah pada tahap tertentu produksi di mata para pengguna akhir atau konsumen.

* Value Stream atau Rantai didefinisikan sebagai kumpulan kegiatan, biasanya memakan sumber daya, di mana suatu produk atau jasa harus melalui untuk memperoleh nilai yang menghasilkan keinginan pelanggan. Kegiatan tersebut dapat mencakup nilai-menambahkan, nonvalue-menambahkan, penting atau tidak penting tugas-tugas sebagai akibat dari, misalnya, proses desain dan pengembangan, visi organisasi, apapun yang sedang atau akan undang-undang dan hukum dan masyarakat atau tekanan lingkungan.

* Biaya Variabel adalah unsur-unsur biaya yang diperlukan dalam akuisisi aset berwujud atau tidak berwujud dependently dari volume usaha kerja atau output. Contoh-contoh meliputi biaya variabel produksi material dan biaya tenaga kerja, biaya produksi dan volume utilitas berbasis biaya royalti.

REVIEW OF THE LITERATURE

Kerja tesis dilakukan dalam konteks yang ada relevan dengan pekerjaan yang diterbitkan baik kualitas total manajemen dan biaya badan rekayasa pengetahuan. Diskusi berikut referensi literatur seperti belajar, yang meliputi pengetahuan dan temuan-temuan yang terkait dengan fokus topik tesis, melalui pemeriksaan menyeluruh pada penetapan biaya berdasarkan aktivitas dan manajemen (ABC / M) teori dan aplikasinya dibandingkan dengan akuntansi biaya konvensional sistem keseluruhan dan akhirnya rekomendasi dari penelitian.

Tinjauan terhadap sastra akan dibahas melalui sudut pandang teoretis terkait dengan penekanan pada awal memberikan pengetahuan dasar ABC / M alat di bawah kerangka kerja manajemen kualitas total, yang berkaitan dengan bukti yang mendukung riset latar belakang.

Penekanan dari tinjauan literatur akan terus menampilkan bahan-bahan studi yang berkaitan dengan kualitas serupa lainnya daerah atau topik selain penyelidikan pekerjaan lain di titik pandang yang berbeda.

Upaya peninjauan ini akan mencakup publikasi profesional berhubungan teoretis fundamental, kualitas dan biaya pendapat ahli, penelitian penemuan, dan contoh studi kasus untuk mendukung klaim fokus dari tesis ini bekerja.

Keterampilan \u0026 Pengetahuan of Cost Engineering, oleh AACE International, meletakkan dasar yang kuat dari unsur-unsur biaya dan konsep biaya berdasarkan aktivitas dan manajemen [5]. Studi tentang unsur-unsur biaya oleh Franklin D. Postula menggambarkan pemahaman dasar yang membentuk biaya (yaitu sumber daya dalam hal materi, tenaga kerja dan overhead lainnya) dan penggunaan unsur-unsur biaya untuk lebih memahami bagaimana biaya yang dikumpulkan, dirangkum, dan melaporkan tiba pada, atau untuk, pengukuran dan analisis biaya total proses untuk manufaktur dan industri jasa.

Selain itu, konsep penetapan biaya activitybased oleh Gary Cokins penyelidikan meliputi sifat dan terkait perbandingan alokasi biaya dengan akuntansi biaya tradisional dan ABC / M sistem. Selain itu, memberikan penjelasan yang diperlukan tentang bagaimana driver menyebabkan biaya pengeluaran terjadi dan bagaimana ABC / M dapat digunakan di daerah-daerah strategis seperti manajemen sebagai biaya, analisis margin keuntungan, biaya kualitas dan produktivitas dan penggunaan aset. Ruang lingkup dan pengamatan ABC / M digunakan dalam perusahaan versus lokal-lebar adalah melihat ke dalam untuk menggambarkan “sebagian besar ABC / M alat ini diterapkan pada himpunan bagian dari proses organisasi untuk perbaikan.”

Tinjauan terhadap Keterampilan \u0026 Pengetahuan Teknik Biaya memberikan fondasi awal yang diperlukan dalam tesis bekerja untuk memastikan bahwa yang dimaksud authences, baik pemula dan ahli di bidang biaya, mendapatkan pemahaman yang lebih baik dari topik dan bahwa mereka dapat mengikuti penelitian yang sama, pengetahuan umum kerangka jangka rekayasa biaya tubuh pengetahuan.

Pengelolaan dan Pengendalian Mutu, oleh James R. Evans dan William M. Lindsay, menangkap konsep dan pentingnya mutu total biaya melalui penerapan manajemen mutu dan manajemen activitybased penetapan biaya [7]. Ini menggambarkan peranan sistem akuntansi standar dalam bisnis setiap hari baik untuk internal dan eksternal digunakan. Para penulis, di samping, menunjukkan kurangnya struktur dalam atau untuk mendukung bidang-of-biaya kualitas dan efisiensi dan efektivitas alokasi pengeluaran.

Konsep penetapan biaya berdasarkan aktivitas didefinisikan lebih lanjut dalam buku ini berkenaan dengan “pekerjaan (atau kegiatan) yang mengkonsumsi sumber daya dan memberikan nilai dalam bisnis” [7]. Selain itu, aplikasi dan manfaat dari ABC / M yang diperkenalkan sebagai alat dan tenaga untuk lebih baik mengalokasikan biaya, pengeluaran untuk melacak produk atau jasa, dan mengukur apa adanya peningkatan kualitas proses untuk kesempatan.

Referensi kepada manajemen dan kontrol kualitas memberikan fondasi yang diperlukan dan link yang jelas dari manajemen activitybased biaya dan pendekatan dalam kerangka kerja TQM. Menekankan kebutuhan sebuah metode penetapan biaya bagi para pengambil keputusan dan kualitas profesional yang dapat menutup kesenjangan dalam sistem akuntansi konvensional.

Mengapa Gagal Kualitas Tradisional Accounting Manager?, Oleh Gary Cokins, menjawab pertanyaan bahwa penetapan biaya berdasarkan aktivitas adalah solusi untuk cara konvensional biaya pelaporan [3]. Ini mendasarkan argumennya pada fakta bahwa saat ini dukungan sistem buku besar akuntansi dan pelaporan organisasi persyaratan tetapi tidak memadai untuk penggunaan internal atau untuk proses pengambilan keputusan berbasis. Artikel tersebut juga mengungkapkan kekurangan-kekurangan dalam sistem biaya standar sebagai sistem tidak lengkap dan diproses; misallocates tidak langsung atau biaya overhead dan kekurangan struktural untuk memungkinkan pengambil keputusan untuk mengukur dan menganalisa pengeluaran.

Untuk menggambarkan penalaran, Cokins disediakan berdampingan contoh bagaimana biaya ditangkap, diringkas dan dilaporkan melalui jurnal umum dan ABC / M database format. Ketidakcukupan sistem buku besar umum melalui organisasi (atau “vertikal”) batas-batas ini ditujukan pada hari ini operasi lintas-fungsional. Tinjauan terhadap Mengapa Gagal Kualitas Tradisional Accounting Manager? membuktikan bahwa sistem akuntansi tradisional memberikan laporan yang membuat kualitas para manajer dan praktisi bahagia atau sedih, namun kegiatan berbasis metodologi penetapan biaya mendidik dan membuat mereka lebih cerdas dalam mengecilkan biaya sebenarnya proses, produk atau jasa.

Mengukur Kualitas Biaya untuk Manajemen, oleh Gary Cokins, menyelidiki biaya kualitas (coq) pada operasional dan tingkat lebih strategis melalui penggunaan alat-alat finansial [4]. Artikel mengakui bahwa perusahaan-perusahaan seringkali tidak dapat dengan mudah menghitung besarnya keuntungan atau kerugian dari inisiatif kualitas. Hal ini karena kurangnya berdasarkan fakta-data dan perkiraan yang wajar dari sistem akuntansi tradisional, yang merupakan dasar pengambilan keputusan dan untuk memprioritaskan pengeluaran.

Solusi yang disarankan kuantifikasi yang ada sistem buku besar adalah biaya kategorisasi kualitas melalui penetapan biaya berdasarkan aktivitas dan pendekatan manajemen. Penulis dikomunikasikan lebih lanjut aplikasi dan manfaat dari sistem kata dalam mengidentifikasi biaya komponen Coq: kesesuaian (yaitu, kegiatan pencegahan dan penilaian) dan nonconformance (yaitu, kegagalan internal dan eksternal). Selain itu, ia menunjukkan dalam artikel bahwa “data biaya valid akan memberikan gerakan kualitas lebih legitimasi” sebagai fakta pengukuran finansial berbasis kualitas membenarkan investasi dan menentukan apakah tujuan inisiatif telah terpenuhi atau terlampaui [4]. Singkatnya, tinjauan terhadap Mengukur Biaya Manajemen Kualitas untuk memberikan bukti pendukung dalam sudut pandang yang berbeda dan melalui konsep biaya kualitas. Ini mengakui nilai dan kebutuhan data factbased mendapatkan wawasan tentang penyebab masalah dan pembenaran investasi proyek-proyek berkualitas.

Brian Muskell menjelaskan sudut pandang yang unik dalam Memecahkan Soal Biaya Standar artikel yang pendekatan penetapan biaya standar ini dikembangkan untuk memenuhi persyaratan pengambilan keputusan di organisasi jenis produksi massal pada pertengahan abad ke-20 [8]. Perubahan terbaru dan transisi dari massa untuk lean manufacturing telah berubah menjadi rute penting untuk tetap kompetitif secara nasional dan global. Di samping itu, perubahan yang telah membuat cara konvensional untuk mendekati biaya menjadi tidak cocok untuk inisiatif ramping.

Akibatnya, Muskell menyarankan yang berbeda melihat biaya melalui nilai-uap berbasis metodologi, yaitu biaya produk (atau jasa) akan bervariasi sesuai dengan tenaga kerja, bahan dan biaya overhead dapat dialihkan ke kegiatan hanya dalam value stream dan aliran yang optimal dari suatu proses. Pelaporan dari “uap nilai keuntungan” juga ditujukan dalam menemukan sebagai sederhana, hasil serupa akuntansi biaya yang digunakan untuk menciptakan value stream biaya. Dengan upaya-upaya untuk mengidentifikasi biaya dan keuntungan baik melalui value stream, dia menunjukkan bahwa nilai sekarang aliran manajer dapat mengerti, mengukur dan menjadi bertanggung jawab atas biaya, efisiensi dan nilai yang dihasilkan oleh semua nilai tambah atau penting, kegiatan yang terkait dalam proses.

Continuous Improvement: An Activity-Based Model, oleh Agrawal, Rezaee dan Pak, muncul untuk mendukung metodologi yang sama upaya perbaikan terus-menerus dengan memulai pada tingkat kegiatan [2]. Untuk mengilustrasikan, seluruh kegiatan dalam nilai atau rantai pasokan dapat digolongkan dalam salah satu dari empat kategori:

* Nilai-menambah dan penting;

* Nilai tambah tetapi yang tidak penting;

* Nonvalue-menambahkan tapi penting; dan,

* Nonvalue-menambah dan nonesensial

Definisi dan hierarki masing-masing kegiatan klasifikasi meledak di artikel dalam proses details for kualitas manajer dan profesional. Ini termasuk saran cara untuk meningkatkan proses dengan menghilangkan menambahkan nonvalue-kegiatan (disebut limbah) dan meminimalkan kegiatan-kegiatan yang tidak penting. Konsep biaya untuk mengasosiasikan kegiatan yang membantu mengevaluasi kegiatan harus difokuskan sebagai penting dan menciptakan nilai dalam value stream [6]. Oleh karena itu, inisiatif perbaikan proses yang berkelanjutan dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan dan produk atau biaya jasa melalui model berdasarkan aktivitas.

Perencanaan dan Penganggaran untuk Kualitas: An Activity-Based Approach, oleh Mike Roberts, Andrew Muras dan Daryl Paschall, menunjukkan bahwa kebutuhan para profesional kualitas alat terbaru untuk menyediakan informasi keuangan yang diperlukan sehingga keputusan yang baik dapat dibuat tanpa mahal inefisiensi dan untuk tetap bersaing di pasar global dewasa ini [H]. Artikel merekomendasikan penggunaan aktivitas pendekatan berbasis biaya, termasuk yang berikut.

* Penganggaran dan teknik manajemen untuk menangkap dan mengalokasikan biaya;

* Mengukur kinerja kegiatan, sumber daya dan objek biaya (yaitu, produk dan jasa); dan

* Perencanaan volume produk atau jasa untuk tujuan anggaran.

Para penulis ilustrasi dan didukung studi mereka dengan enam langkah pendekatan manajemen berdasarkan aktivitas di bawah FastTrack ABM, sebuah metode sampel praktek terbaik untuk lebih memahami pelaksanaan ABC / M.

Adopsi dan Pelaksanaan Kegiatan-Based Costing: A Web-Based Survey, oleh Roztocki dan Schultz, menyediakan berbasis web dan hasil survei mengenai status penetapan biaya berdasarkan aktivitas dalam hal adopsi dan pelaksanaan [12].

Studi menyatakan pendekatan biaya ABC telah dilaksanakan awalnya oleh perusahaan manufaktur besar. Namun, penelitian survei mengungkapkan tingkat mengadopsi penetapan biaya berdasarkan aktivitas yang sama untuk kedua perusahaan manufaktur dan jasa.

Selain itu, Roztocki dan Schultz menemukan bahwa perusahaan besar lebih mungkin untuk mengadopsi metodologi ABC dan mengambil manfaat dari adopsi dari perusahaan-perusahaan kecil. Hal ini karena perusahaan besar cenderung memiliki lebih banyak campuran beragam produk dan jasa dan memiliki lebih banyak personil khusus yang mengenal dan dikenal dengan pendekatan ABC. Sebagai hasil dari tinjauan terhadap artikel, dapat menyarankan bahwa penetapan biaya berdasarkan aktivitas alat ini sangat berlaku bagi industri manufaktur dan jasa.

Sistem ABC akan Anda Memiliki Apa yang Dibutuhkan?, Oleh Searcy dan Roberts, mengakui dan menunjukkan kelemahan ABC paradoks [13]. Selain itu, artikel menyarankan solusi ABC dimasukkan dengan perusahaan sistem pendukung keputusan (DSS) dengan tidak hanya mengumpulkan, pencatatan dan pelaporan informasi melalui ABC, tetapi juga menganalisis data untuk membantu para pengambil keputusan. Ini mencakup kemampuan untuk melakukan apa-jika skenario, biaya driver dan penilaian dampak mereka atau inisiatif perbaikan proses penilaian laba atas investasi. Baik Searcy dan Roberts pertanyaan sulit menyatakan bahwa para manajer dan praktisi kualitas harus bertanya untuk keberhasilan yang lebih tinggi dan tingkat useracceptance ABC. Ini termasuk, misalnya, “Apakah sistem ABC mengandung up-to-date informasi?,” “Apakah sistem ABC memiliki alat-alat analisis yang tersedia?” dan “Apakah sistem ABC user-friendly?”

Dalam Menerapkan Activity-Based Costing dalam Industri Perbankan, Jeffery Witherite dan Kim Il-Woon mengakui penetapan biaya berdasarkan aktivitas diterima secara luas sebagai pendekatan yang superior untuk mengalokasikan overhead baik dalam industri manufaktur dan jasa [15]. Mayor langkah-demi-langkah dalam industri kue diberikan dalam penelitian mereka sebagai contoh untuk mendukung klaim seperti itu. Selain itu, implementasi ABC kunci keberhasilan tantangan dan dibahas dalam artikel untuk membantu pengambil keputusan dan manajemen mengevaluasi tingkat usaha yang diperlukan untuk menerapkan sistem biaya tersebut.

METODOLOGI

Hari ini sistem akuntansi biaya tradisional perusahaan-lebar mendukung pelaporan keuangan dan mengukur kesehatan bisnis. Namun, pendekatan konvensional ini biaya agak sedikit nilai kualitas praktisi dan pembuat keputusan dalam bidang alokasi biaya dalam value stream; biaya kualitas atau kualitas buruk di perusahaan; dan penganggaran untuk meramalkan atau kualitas.

Penelitian tesis ini akan membuktikan penetapan biaya berdasarkan aktivitas manajemen dan kualitas alat dan solusi kekurangan biaya kualitas standar kerja akuntansi di bidang manajemen kualitas total. Hal ini termasuk pengenalan kepada konsep ABC / M; yang penting dalam penetapan biaya horisontal pendekatan dalam value stream; ABC / M untuk mengidentifikasi dan mengurangi biaya kualitas (coq), dan penganggaran dan upaya prakiraan berdasarkan aktivitas melalui model [10] .

Artikel ini akan memperkenalkan kualitas profesional dan pengambil keputusan pendekatan yang berbeda untuk mendefinisikan biaya benar dalam proses lintas fungsional. Ini termasuk penelitian dan penerapan kegiatan berbasis biaya dan pendekatan manajemen dalam kerangka kerja manajemen kualitas total dalam kompetisi global saat ini. Di samping itu, ABC / M akan menjadi kualitas terbukti sebagai solusi untuk sistem akuntansi biaya konvensional melalui konsep ramping, biaya kualitas dan peramalan dan penganggaran. Kualitas praktisi akan mendapatkan dan dapat memperluas perspektif dan peran dalam driver dan alokasi biaya untuk proses kontrol biaya dan peluang perbaikan.

Activity-Based Costing dan Manajemen dan Sistem Akuntansi Biaya Tradisional

Salah satu pertanyaan penting yang akan dibahas lebih lanjut dalam bagian ini adalah bagaimana sistem akuntansi tradisional yang telah digunakan secara luas sebagai internal dan eksternal sistem biaya dianggap kurang memadai. Selain itu, mengapa bisa aktivitas berbasis manajemen biaya dan menjadi solusi TQM pilihan untuk biaya kualitas kelemahan dari sistem akuntansi biaya konvensional? Tombol beberapa klaim yang ditunjukkan di bawah ini akan menjawab pertanyaan posted in details:

* Data biaya yang ada tidak sia-sia, namun tampaknya tidak lengkap atau tidak diproses untuk efisiensi internal, keuntungan atau analisis kualitas dan proses pengambilan keputusan.

* Sistem biaya tradisional pembuat keputusan menyangkal visibilitas biaya yang sejati diciptakan sepanjang end-to-proses akhir. Dan,

* Overhead dialokasikan secara tidak tepat dan sering didasarkan pada biaya tenaga kerja atau materi melalui pendekatan biaya konvensional.

Manajer telah diposting dengan biaya operasional dan pertanyaan satu waktu atau yang lain, jika tidak secara berkala. Dengan biaya tradisional pelaporan buku besar umum di bawah ini bagan rekening, banyak dari para pembuat keputusan tidak dapat menjelaskan apakah mereka produksi atau layanan spesifik bidang tanggung jawab yang efektif, produktivitas atau menguntungkan. Tabel 1 dan 2 memberikan wawasan masalah yang dihadapi, yaitu biaya yang dialokasikan didasarkan pada tabel rekening yang ditetapkan oleh departemen akuntansi perusahaan baik untuk internal dan eksternal pelaporan. Dengan rincian biaya oleh bagan rekening, penerima (misalnya, manajer atau praktisi kualitas) dari informasi yang hanya dapat memberitahu biaya tenaga kerja, bahan dan lainnya.

Di samping itu, pendekatan konvensional biaya dianggap vertikal, organisasi atau “transaksi-sentris” sistem penetapan biaya. Untuk mengilustrasikan, semua biaya yang dikeluarkan terkait dengan biaya dalam departemen atau pusat biaya. Metode ini tidak memiliki kemampuan untuk memproses laporan biaya di-fungsional, manajer membatasi visibilitas yang benar end-to-end biaya dari setiap proses dan sistem. Misalnya, pra-campuran bubuk minuman kemasan dapat dilihat di tingkat departemen, seperti pengepakan, kontrol kualitas, pengiriman dan penanganan. Di sisi lain, akhir-to-end proses kemasan dapat dilihat melalui “kerja-sentris” ABC / M sebagai upaya kolektif dan sumber daya untuk memproduksi minuman serbuk premixed akhir kantong [5].

Overhead tugas bukanlah tugas yang sederhana. Berdasarkan metodologi akuntansi biaya tradisional, biaya overhead atau indirect ditugaskan pada setiap produk, layanan, atau proses, berdasarkan persen tenaga kerja langsung atau biaya material. Hal ini tidak hanya menyesatkan karena setiap produk, layanan, atau proses mengkonsumsi overhead dengan kecepatan yang berbeda, tapi juga menyesatkan para pengambil keputusan bahwa produk atau layanan tertentu adalah menguntungkan atau tidak didasarkan pada pra-ditentukan dan didistribusikan overhead untuk semua proses yang sama.

Singkatnya, pendekatan konvensional akuntansi biaya menjelaskan “apa dihabiskan, sedangkan tampilan berdasarkan aktivitas menjelaskan, apa itu dihabiskan untuk” [5].

Kegiatan-Berdasarkan Alokasi Biaya dan Lean Value Stream Map

Pendekatan penetapan biaya standar ini dikembangkan pada pertengahan abad ke-20 untuk memenuhi persyaratan pengambilan keputusan dalam organisasi jenis produksi massal. Sebagai industri manufaktur dan jasa berubah dari produksi massal untuk bersandar, karena perubahan tuntutan dan kompleksitas dari barang-barang konsumen, cara konvensional untuk mendekati biaya telah menjadi tidak cocok untuk inisiatif ramping.

Akibatnya, BH Maskell menyarankan pandangan tersendiri untuk mengalokasikan pengeluaran melalui nilai-uap berbasis metodologi, yaitu biaya proses akan terdiri dari tenaga kerja, bahan dan biaya overhead dapat dialihkan untuk kegiatan hanya dalam value stream dan aliran optimal proses (lihat Gambar 1) [8].

Pelaporan dari “uap nilai keuntungan” juga dibahas dalam cara yang sama. Dengan upaya-upaya untuk mengidentifikasi biaya dan keuntungan baik melalui value stream dan kegiatan terkait, value stream manajer sekarang dapat memahami, mengukur dan menjadi bertanggung jawab atas biaya, efisiensi dan nilai yang dihasilkan oleh semua nilai tambah atau penting, kegiatan yang terkait dalam proses [1].

Selain itu, berbeda metodologi penetapan biaya tradisional, aktivitas berbasis metodologi dan produksi ramping dapat mendukung upaya perbaikan terus-menerus oleh sebuah studi tentang kegiatan klasifikasi dan biaya kegiatan-kegiatan yang berada di lembah sistem sungai. Per Agrawal, Rezaee dan Pak, masing-masing kegiatan dapat diklasifikasikan didasarkan pada dimensi berikut [2]:

Kategori A: Nilai-Menambah Dan Essential – Kategori ini mengidentifikasi kegiatan-kegiatan yang tidak hanya menambah nilai atau fitur yang keinginan konsumen dalam produk akhir atau jasa, tetapi juga diperlukan tugas-tugas dalam value stream untuk membuat produk atau memberikan pelayanan. Contoh dari kategori ini adalah batch pembobotan ingrethents; kegiatan ini baik menambahkan nilai pada produk akhir dan juga yang diperlukan untuk pembuatan tugas pra-campuran minuman serbuk paket.

Kategori B: Nilai-Menambahkan Tapi nonesensial – Kategori ini mengidentifikasi kegiatan-kegiatan yang menambah nilai atau fitur yang keinginan konsumen dalam produk akhir atau jasa, tetapi tugas-tugas ini tidak diperlukan dalam value stream untuk membuat produk atau memberikan pelayanan. Contoh dari kategori ini adalah batch pencampuran ingrethents; kegiatan ini menambahkan nilai pada produk akhir, tetapi bukan merupakan tugas yang diperlukan untuk pembuatan pra-campuran minuman serbuk paket. Nilai tambah tetapi tugas yang tidak penting dapat dihilangkan melalui mendesain ulang atau re-engineering dari produk atau proses.

Kategori C: Nonvalue-Menambahkan Tapi Essential – Kategori ini mengidentifikasi kegiatan-kegiatan yang tidak menambah nilai atau fitur yang keinginan konsumen dalam produk akhir atau jasa, tetapi tugas-tugas ini diperlukan dalam value stream untuk membuat produk atau memberikan pelayanan. Contoh kategori ini adalah paket produk atau pelabelan dan pengawasan mutu tugasnya; kegiatan ini tidak menambahkan nilai pada produk akhir, tetapi tugas-tugas yang diperlukan untuk memproduksi pra-campuran minuman serbuk paket. Para menambahkan tapi nonvalue-tugas penting harus dikontrol dan diminimalkan sebisa mungkin melalui upaya perbaikan proses yang berkesinambungan.

Kategori D: Nonvalue-Menambah Dan nonesensial – Kategori ini mengidentifikasi kegiatan-kegiatan yang tidak menambah nilai atau fitur yang keinginan konsumen di final maupun produk atau jasa yang dibutuhkan dalam value stream untuk membuat produk atau memberikan pelayanan. Contoh dari kategori ini penyimpanan tertentu atau kegiatan transportasi; kegiatan ini tidak menambahkan nilai pada produk akhir mereka juga tidak diperlukan untuk pembuatan tugas pra-campuran minuman serbuk paket. Yang menambahkan dan nonvalue-tugas yang tidak penting harus dihilangkan segera setelah diketahui.

Berdasarkan pemahaman tentang kegiatan klasifikasi, organisasi dapat meningkatkan efisiensi dan mengalihkan atau menurunkan biaya yang berkaitan dengan nilai arus oleh mean dari “model berdasarkan aktivitas perbaikan terus-menerus.” (Lihat gambar 2). Kegiatan ini berbasis pendekatan dapat fokus dan memfasilitasi produksi, kualitas atau proses perbaikan terus-menerus di area yang paling dibutuhkan perhatian dan memberikan pengembalian yang optimal investasi. Untuk menggambarkan, kegiatan model berbasis merekomendasikan bahwa perusahaan harus memusatkan upaya-upaya dan sumber daya untuk meningkatkan kegiatan dalam kategori A. Ini termasuk upaya untuk meningkatkan valueadding dan kegiatan penting yang akan memberikan kontribusi pada garis bawah. Selain itu, kata menunjukkan bahwa upaya-upaya pendekatan juga harus untuk pindah ke atau menghilangkan kegiatan dalam kategori D sebanyak mungkin, seperti berikut [2]:

* Pindah Kegiatan Dari Kategori A Kategori B atau C – Kegiatan dalam kategori A harus ditinjau, dianalisis atau berkurang (jika mungkin) secara berkala. Hal ini dapat dicapai dengan maksud produk, layanan atau proses redesign, sehingga nilai yang dikehendaki atau fitur yang dapat dibangun dalam, daripada tambah dalam, atau mendesain ulang menghilangkan kebutuhan untuk kegiatan tertentu yang diperlukan. Dengan peningkatan ini, biaya masing-masing kategori A kegiatan dapat dikurangi sebagai kegiatan tersebut akan dipindahkan atau dihilangkan dari value stream.

* Pindah Kegiatan Dari Kategori B Kategori D – Kegiatan dalam kategori B juga harus ditinjau, dianalisis atau berkurang (jika mungkin) secara berkala. Hal ini dapat dicapai dengan maksud produk, layanan atau proses redesign, sehingga nilai yang dikehendaki atau fitur yang dapat dibangun dalam, daripada tambah masuk Dengan peningkatan ini, biaya aktivitas masing-masing kategori B dapat dikurangi sebagai kegiatan tersebut akan dipindahkan atau dihilangkan dari value stream.

* Pindah Kegiatan Dari Kategori C Kategori D – Kegiatan dalam kategori C juga harus ditinjau, dianalisis atau berkurang (jika mungkin) secara berkala. Hal ini dapat dicapai dengan rata-rata produk, jasa atau proses redesign redesign sebagai menghilangkan kebutuhan untuk kegiatan tertentu yang diperlukan. Dengan peningkatan ini, biaya aktivitas masing-masing kategori C dapat dikurangi sebagai kegiatan tersebut akan dipindahkan atau dihilangkan dari value stream.

* Menghilangkan Kegiatan dalam Kategori D – Kegiatan dalam kategori ini harus dihapuskan segera; yang berdasarkan aktivitas yang terkait penghematan biaya kemudian dapat diakui. Kegiatan model berbasis pendekatan yang terus-menerus, proses yang tiada akhir hanya untuk terus meningkatkan kegiatan inti, berkontribusi untuk semata-mata biaya valueadding dan kegiatan yang penting dalam value stream.

Biaya Kualitas (coq) Via Activity-Based Costing Model

Biaya kualitas (coq) konsep ini telah digunakan dalam inisiatif kualitas sebagai pendekatan lain untuk mengidentifikasi biaya-biaya yang terkait untuk fitur kualitas atau ketiadaan. Pada tingkat operasional, istilah kualitas ini membantu para manajer dan profesional kualitas mengidentifikasi limbah, memecahkan masalah inefisiensi dan terus menerus meningkatkan proses. Pada organisasi atau perusahaan-tingkat luas, alat Coq membantu para pengambil keputusan membenarkan atau peningkatan kualitas yang terkait dengan inisiatif untuk meningkatkan keuntungan, meningkatkan kualitas dan rapat atau konsumen yang sudah ada tuntutan.

Sayangnya, banyak organisasi menderita dari kurangnya tingkat yang memadai lengkap, data berdasarkan fakta. Ini mencakup biaya proses dalam hal kegiatan yang operationrelated manajer dan karyawan mereka dapat berhubungan dengan dan mempengaruhi garis dasar keuntungan dari produk atau layanan tertentu pengiriman. Sebagai ilustrasi, salah satu kendala utama mencegah manajemen dari pemahaman yang benar biaya yang terkait untuk setiap proses adalah kurangnya dapat dialihkan dan rincian tentang biaya overhead untuk mendukung proses pengambilan keputusan. Hal ini karena fakta bahwa banyak perusahaan fokus berat pada pelaporan eksternal dan tidak tepat menggunakan tradisional (eksternal) akuntansi biaya alat untuk internal, pelaporan operationallevel [4].

Mengapa Gagal Akuntansi Tradisional Pengambil Keputusan

Pertanyaan tentang “Mengapa akuntansi tradisional gagal” dalam mengidentifikasi biaya kualitas pada proses atau tingkat departemen sudah dijawab oleh para ahli biaya dan pernyataan mereka ikuti.

Hari ini buku besar dan sistem pengeluaran dianggarkan dukungan departemen dan cerobong asap filosofi manajerial, tetapi bukan pendukung keputusan. Manajer semakin ditantang untuk membenarkan biaya pengeluaran mereka dengan lebih proposal berdasarkan fakta data dan kurang pada iman. Beberapa manajer kualitas bahkan diminta untuk membenarkan eksistensi mereka sendiri dan nilai organisasi mereka. Data akuntansi tradisional adalah tidak lengkap dan struktural kurang untuk memungkinkan manajer untuk mengukur dan menganalisa [3].

Manajemen proses historis selalu menderita dari kurangnya yang jelas dan dapat diandalkan metode pengukuran yang secara konsisten menunjukkan tingkat konsumsi sumber daya (beban) dengan proses bisnis pada suatu waktu – sebuah indikator yang selalu penuh minat eksekutif dan mudah dimengerti. Intinya adalah bahwa kebanyakan perusahaan tidak memiliki petunjuk tentang biaya proses mereka atau proses mereka ‘berbagai output.

Kegiatan berdasarkan penetapan biaya / manajemen berbasis aktivitas (ABC / M) dan penganggaran berbasis aktivitas (ABB) memegang janji besar sebagai solusi akal sehat dan frustrasi kesalahan akuntansi tradisional / metode penganggaran. Anggaran tradisional tidak mengidentifikasi limbah, ABB memaparkan nilai non-biaya. Anggaran tradisional berfokus pada biaya departemen, ABB juga berfokus pada biaya proses [Il].

Singkatnya, buku besar umum tradisional pendekatan biaya dapat mengatasi kebutuhan untuk mengukur dan mengkomunikasikan seluruh perusahaan kesehatan keuangan eksternal. Alat ini dirancang dan dimaksudkan untuk mengumpulkan, meringkas dan melaporkan transaksi ke perusahaan tertentu akuntansi. Namun, informasi biaya dan struktur (yaitu, tenaga kerja, bahan, kontrak dan sebagainya) adalah tidak lengkap dan tidak cukup untuk mengukur secara memadai biaya atau meningkatkan mutu dan mendukung proses pengambilan keputusan.

Nilai data dan ABC / M Sistem

Berbeda dengan metode akuntansi biaya tradisional, ABC / M dapat menyediakan baik manajemen dan karyawan yang tersembunyi, biaya yang berkaitan dengan kualitas kinerja dan peningkatan kualitas. Kata berikut biaya yang dapat direalisasikan meskipun ABC / M usaha termasuk kategori utama berikut [4]:

* Kesalahan Gratis Biaya – Biaya ini adalah pengeluaran untuk kegiatan yang memberikan kontribusi dari melakukannya dengan benar upaya pertama kalinya.

* Biaya Kualitas (coq) – Biaya yang akan hilang jika tidak ada masalah kualitas. Ini termasuk nonconformance kesesuaian dan biaya. Biaya kepatuhan termasuk biaya yang terkait dengan upaya pencegahan dan penilaian untuk memenuhi atau melebihi persyaratan pelanggan. Biaya Nonconformance termasuk biaya yang terkait dengan kegagalan internal atau eksternal.

Selain itu, biaya kualitas subkategori yang terkait dengan setiap proses dapat diidentifikasi melalui sistem berdasarkan aktivitas seperti yang ditunjukkan pada Gambar 3.

Kegiatan subkategori definisi yang juga diberikan penjelasan tambahan:

* Pencegahan Biaya – biaya Kegiatan ini meliputi biaya subkategori yang dihasilkan dari upaya untuk mencegah berkualitas buruk. Contoh-contoh kegiatan kesesuaian proses meliputi desain atau mendesain ulang, kualitas evaluasi dan audit, dan pemeliharaan preventif.

* Penilaian Biaya – biaya Kegiatan ini meliputi biaya yang berhubungan subkategori untuk pengukuran, evaluasi, inspeksi dan upaya deteksi.

* Biaya Kegagalan Internal – Kegiatan ini meliputi biaya subkategori biaya yang dihasilkan dari produk atau jasa tidak sesuai untuk manufaktur atau pengguna akhir ‘persyaratan sebelum pengiriman ke pelanggan. Contoh-contoh kegiatan ketidaksesuaian termasuk pengerjaan ulang, perbaikan, tak terjadwal atau layanan yang tidak direncanakan, cacat penghapusan dan kehilangan waktu karena kegagalan internal.

* Biaya Kegagalan Eksternal – Kegiatan ini meliputi biaya subkategori biaya yang dihasilkan dari produk atau jasa tidak sesuai untuk manufaktur atau pengguna akhir ‘persyaratan setelah pengiriman ke pelanggan. Contoh-contoh kegiatan ketidaksesuaian meliputi produk kembali, perbaikan panggilan, biaya garansi, paparan hukum, kewajiban klaim, dan isu-isu keselamatan umum.

Investasi Justifikasi dalam Peningkatan Berkesinambungan

Sebuah aturan praktis adalah bahwa lebih mahal untuk memperbaiki masalah kualitas sebagai produk atau layanan konsumen pendekatan dalam rantai nilai. Di kata lain, biaya lebih efektif untuk menyelesaikan masalah kualitas apa pun yang sebelumnya mungkin dalam manufaktur atau proses pelayanan. Untuk mencapai itu, berdasarkan fakta, perkiraan tingkat aktivitas dan biaya yang diperlukan untuk membenarkan biaya kualitas dan perbaikan proses [4].

Sebagai contoh, biaya pencegahan yang diusulkan dapat dialokasikan dan dibenarkan untuk tabungan melalui studi kedua total biaya kualitas dan biaya berdasarkan aktivitas, termasuk biaya bebas dari kesalahan, biaya kesesuaian dan biaya ketidaksesuaian. Tabel 3 dan angka 4 dan 5 menggambarkan biaya sederhana latihan pembenaran yang berasal dari ABC / M metode pengumpulan, meringkas dan biaya pelaporan dalam kategori Coq disebutkan sebelumnya. Latihan ini dapat membantu membenarkan biaya inisiatif peningkatan mutu berdasarkan urutan besarnya penghematan biaya $ 13.000 unit per 1.000 produksi (atau jasa pengiriman) dengan perkiraan investasi belanja modal tambahan sebesar $ 7.000 orang di inisiatif preventif yang diusulkan.

Secara ringkas, berdasarkan informasi biaya melalui ABC / M dan Coq kategori, biaya yang dapat diukur secara memadai dan diperbaiki sesuai kebutuhan, termasuk biaya berdasarkan fakta data dapat mendapatkan perhatian penuh dan rasa percaya diri untuk keputusan bisnis yang dapat diandalkan dan pengambil keputusan dapat menilai nilai setiap proses dan bagaimana berkontribusi terhadap kinerja seluruh perusahaan [4].

Aktivitas Berbasis Prakiraan dan Penganggaran dalam TQM

Dalam global saat ini, pasar kompetitif, kualitas para pengambil keputusan dan profesional harus bergantung pada alat-alat dan teknik terbaru untuk memperoleh, mengkategorikan, laporan dan menggunakan informasi terkait untuk mengambil keputusan bisnis. Hal ini untuk memastikan bahwa usaha ini menguntungkan dan untuk menghindari kegiatan yang mahal dan tidak efisien karena nonconformance (yaitu, pengerjaan ulang, barang cacat, produk kembali, warrantee biaya, tanggung jawab hukum dan reputasi rusak).

Sebagaimana dibahas dalam bagian sebelumnya, biaya konvensional akuntansi dan pelaporan tidak menyediakan rinci, bekerja-sentris informasi biaya dan juga tidak mengasosiasikan alokasi biaya overhead objektif. Pendekatan yang mengatakan menjadi tidak efisien untuk sampai pada biaya yang sebenarnya atau yang sudah ada proses yang diusulkan melalui metode bottom up, yaitu dengan kerusakan dari masing-masing proses termasuk tenaga kerja, bahan dan overhead persyaratan diidentifikasi, diperkirakan dan harga untuk proses pengambilan keputusan.

Oleh karena itu, dalam rangka untuk merencanakan dan anggaran secara efektif untuk menambah nilai, kualitas proses, manajemen dan kualitas profesional harus memahami spesifik yang mendasari kegiatan penting yang diperlukan untuk memproduksi produk atau jasa pengiriman. Dengan kegiatan tersebut, fakta-biaya berdasarkan proses dapat ditentukan baik oleh standar industri atau data historis yang dikumpulkan melalui penetapan biaya berdasarkan aktivitas dan manajemen.

Pada bagian ini, ABC / M akan dipelajari per empat metode yang paling umum pengelolaan biaya. Ini termasuk perkiraan biaya, tren biaya, peramalan dan biaya biaya siklus hidup.

Memperkirakan Biaya

Memperkirakan biaya memperkirakan biaya sumber daya yang diperlukan untuk produk-produk manufaktur atau memberikan pelayanan. Bangunan blok dari perkiraan biaya mencakup komponen-komponen kunci berikut [9]:

* A Well Ditetapkan Ruang Lingkup – Ruang lingkup dari perkiraan harus diidentifikasi per lingkup pekerjaan dalam kontrak, dari gambar teknik detail produk dan proses peta.

* Sebuah Biaya Struktur Unsur – unsur biaya yang berlaku meliputi biaya langsung, biaya tidak langsung, biaya tetap dan biaya variabel yang terkait untuk setiap aktivitas tertentu dalam sungai atau rantai nilai.

* Riwayat atau Industri Data Biaya Kegiatan biaya berdasarkan data yang dikumpulkan dari pengalaman atau dari biaya standar industri. Adalah penting bahwa data biaya mewakili kegiatan serupa dan harus disesuaikan sesuai berdasarkan waktu, lokasi geografis, dan berbagai fitur atau nilai untuk mewakili benar, fakta-biaya berdasarkan informasi.

Sebagai contoh, tabel 4 mengilustrasikan estimasi biaya pra-kekuatan campuran minuman kemasan di produksi 10.000 unit per bulan.

Kegiatan berbasis rincian membantu manajemen untuk mengidentifikasi biaya sebenarnya dan membantu dengan beberapa perencanaan sumber daya tugas (yaitu, tenaga kerja, material dan lainnya) yang diperlukan untuk setiap aktivitas dalam proses produksi, termasuk yang berikut:

* Cukup terlatih tradisional PersonnelUnlike sistem akuntansi biaya, ABC / M pendekatan terhadap perkiraan dapat memberikan informasi yang pengambil keputusan dapat digunakan untuk mempersiapkan tingkat dan jenis sumber daya tenaga kerja yang diperlukan sesuai dengan volume produksi yang direncanakan.

* Tingkat dan Jenis Bahan dan Inventaris – The pendekatan sistem biaya konvensional membatasi visibilitas ke tingkat yang dibutuhkan dan jenis bahan dan persediaan. Sebagai hasilnya, perusahaan adalah untuk mempertahankan tingkat yang lebih tinggi persediaan untuk mencegah keluar dari saham, penundaan dan penghentian kerja. ABC / M data yang memungkinkan perusahaan untuk mengurangi biaya persediaan dengan memesan kanan, tatanan ekonomi tingkat kuantitas dan jenis bahan dalam just-in-time cara.

* Penanaman Modal yang memadai Serupa dengan baik staf dan inventarisasi isu-isu, yang keluar dari buku besar dan sistem akuntansi tidak dapat menyediakan perusahaan dan manajemen di setiap arah spesifik, investasi modal masa depan, misalnya, di mana untuk memperluas dan peralatan atau alat apa untuk membeli . Dengan mengumpulkan, meringkas dan melaporkan data biaya melalui ABC / M metode untuk memperkirakan digunakan, perusahaan dapat merencanakan strategi investasi untuk memenuhi permintaan produksi secara memadai dan tepat waktu.

Biaya Tren

Tren biaya didasarkan pada informasi biaya historis. Data biaya blok bangunan dalam metode memperkirakan biaya dapat berdampak didasarkan pada hasil kajian dan tren biaya. Dengan kecenderungan informasi, memperkirakan proses bisnis biaya dan sumber daya yang diperlukan dapat dilakukan secara lebih tepat, akurat cara.

Untuk menunjukkan keterbatasan metodologi akuntansi biaya konvensional, pra-campuran bubuk minuman kemasan sampel adalah dipelajari untuk biaya dan kecenderungan biaya tenaga kerja serikat. Asumsikan bahwa setiap perjanjian tawar-menawar kolektif, kompensasi dan manfaat dari serikat karyawan diharapkan meningkat dengan laju tahunan 6 persen. Peningkatan ini akan mempengaruhi fungsi pekerjaan tertentu seperti pembobotan dan pencampuran batch ingrethents, kemasan kantong dan kotak, dan pengiriman, menyerahkan dan kegiatan penyimpanan. Berdasarkan bagan rekening, kenaikan biaya tenaga kerja hanya dapat diperkirakan berdasarkan klasifikasi karyawan dan pada tingkat seluruh perusahaan. Dalam rangka untuk mengidentifikasi dampak biaya yang terkait dengan produk atau service level, kecenderungan ini harus dipelajari di akhir-to-end tingkat proses atau kegiatan. Untuk menggambarkan, biaya harus dihitung dan dilaporkan melalui model berdasarkan aktivitas. Artinya, biaya tenaga kerja dalam persiapan dan pengemasan bubuk bertahap akan ditingkatkan, namun, dan administrasi yang lain-lain biaya tenaga kerja tidak akan terpengaruh.

Biaya Forecasting

Biaya kegiatan peramalan sangat mirip dengan proses estimasi biaya. Yang berbeda adalah bahwa perkiraan biaya yang disiapkan untuk perencanaan atau kegiatan di masa depan. Forecasts, di sisi lain, adalah prediksi dari biaya atau pada penyelesaian berdasarkan unsur-unsur biaya berlangsung atau beredar [9].

Perkiraan biaya tugas-tugas yang membutuhkan blok bangunan yang serupa untuk memperkirakan untuk penyelesaian dan memperkirakan pada penyelesaian, termasuk lingkup aktual yang menonjol, unsur biaya sisa struktur dan data biaya yang berlaku. Setelah menyatakan bahwa, perkiraan biaya bisa dihitung secara tepat dan akurat melalui penetapan biaya berdasarkan aktivitas dan manajemen karena cakupan yang luar biasa atau kegiatan yang diperlukan dapat dengan mudah diidentifikasi atau dievaluasi daripada-to-date (aktual) pengeluaran terhadap anggaran luar biasa yang disediakan oleh penetapan biaya tradisional sistem.

Life-Cycle Costing

Biaya siklus-hidup (LCC) diperluas untuk termasuk untuk biaya untuk mempertahankan melampaui perolehan atau produksi aset berwujud atau tidak berwujud sampai dengan pembuangan aset tersebut. LCC pengeluaran terdiri dari biaya untuk merancang, mengembangkan, memproduksi, memelihara dan membuang aset. Serupa dengan metode perkiraan biaya, biaya semacam ini dapat dievaluasi dan dihitung berdasarkan blok bangunan serupa yang membutuhkan rincian spesifik tentang cakupan, baik selama atau setelah tahap akuisisi, biaya elemen struktur (yaitu, langsung, tidak langsung, tetap atau variabel) dan data biaya melalui standar industri historis atau, lebih tepat dan akurat berasal dari biaya berdasarkan aktivitas breakdown.

HASIL dan diskusi

Salah satu penemuan paling menarik dari studi ini adalah temuan mengenai kelebihan, kelemahan dan keterbatasan akuntansi tradisional dan sistem biaya berdasarkan aktivitas biaya / manajemen. tampaknya bahwa baik sistem pelaporan biaya dan melayani berbagai tujuan dan bisa lebih melayani authences berbeda. Tidak ada satu metode dari sistem penetapan biaya universal yang dapat diterapkan untuk memenuhi kebutuhan setiap pengguna.

Untuk menggambarkan, buku besar umum anggaran dan sistem pelaporan telah diterima secara luas berarti mengukur dan membandingkan kesehatan keuangan perusahaan baik secara internal maupun eksternal. Namun, ada beberapa keterbatasan dari pendekatan semacam itu yang dapat dilengkapi dengan sistem akuntansi lain seperti ABC / M, kualitas memungkinkan profesional dan pengambil keputusan untuk lebih memahami efektivitas, biaya sebenarnya dan margin keuntungan dari setiap produk atau jasa. Hal ini juga mencakup kesempatan untuk menggunakan data berbasis fakta untuk memperkirakan, membenarkan atau anggaran untuk proyek-proyek masa depan (produk atau jasa) dan / atau proses / inisiatif peningkatan kualitas.

Konsep versus lokal berdasarkan aktivitas seluruh perusahaan penetapan biaya dan manajemen telah muncul sebagai hasil dari studi. Berdasarkan penelitian, tampak bahwa kesalahpahaman umum adalah ABC / M pendekatan harus diterapkan seluruh perusahaan. Untuk mengilustrasikan, semua harus menjalani proses bisnis dan menerapkan ABC / M pendekatan mereka struktur biaya dan penganggaran. Namun dalam kenyataannya, banyak organisasi memilih untuk melaksanakan ABC / M konsep internal atau sebagai himpunan bagian dari organisasi inisiatif perbaikan proses dan bukan sebagai satu-satunya peningkatan pendapatan dan laba mekanisme [5]. Untuk mengilustrasikan, ABC / M metodologi dapat mengungkapkan struktur biaya dan tugas bagi para pembuat keputusan dan kualitas profesional. Ini dari sudut pandang fungsi apa yang menyebabkan berbagai keluaran terjadi dan berapa banyak asumsi sumber daya yang dikeluarkan untuk menciptakan aset berwujud atau tidak berwujud dalam endto-end, maupun horizontal, manufaktur atau proses pemberian layanan. Untuk sekadar jumlah titik diskusi kedua ini, para model activitybased dan dapat sangat ditingkatkan sampai sesuai dengan kebutuhan perusahaan.

Per Roztocki dan Schultz, menarik untuk dicatat bahwa tingkat mengadopsi ABC / M yang sangat mirip baik dalam layanan dan industri manufaktur [12]. Selain itu, organisasi yang lebih besar cenderung untuk mengadopsi atau melaksanakan kegiatan berbasis biaya dan manajemen dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan kecil. Ini adalah ban mungkin karena kenyataan bahwa pendekatan ini dianggap atau terbukti untuk menjadi lebih bermanfaat dalam perusahaan besar dengan lebih beragam, disesuaikan campuran dari produk atau layanan dan karena organisasi yang lebih besar lebih cenderung memiliki sumber daya khusus, sistem dan modal yang tersedia untuk ABC / M bekerja.

Meskipun sistem akuntansi biaya tradisional muncul tidak efisien dan tidak lengkap bagi para pengambil keputusan dan kualitas profesional, ABC / M adalah bukan penggantian biaya konvensional praktek. Buku besar umum yang ada dan sistem akuntansi yang diterima secara luas, bahasa universal untuk mengukur, berkomunikasi dan membandingkan perusahaan ‘kesehatan keuangan dan kekayaan melalui laporan keuangan (misalnya, neraca, laporan laba rugi, pernyataan penghasilan tetap dan arus kas perusahaan) . Analisis dan diskusi ABC / M adalah ditemukan untuk menjadi melengkapi, pendekatan internal dan sistem untuk mendukung manajemen dan kualitas praktisi dalam proses pengambilan keputusan.

Ahli akuntansi biaya menunjukkan bahwa kegiatan-pendekatan berdasarkan biaya tampaknya merupakan konsep yang sederhana dan langsung dan menawarkan banyak manfaat atas biaya tradisional mitra. Namun, evaluasi, implementasi dan dukungan seperti ABC / M sistem dapat mengambil jumlah besar usaha dan investasi sumber daya untuk memastikan proses dan sistem bekerja dan memberikan manfaat yang dikehendaki [13]. Untuk menggambarkan, upaya pelaksanaan dapat meliputi, misalnya, berikut ini.

* The evaluasi dan upgrade dari proses yang ada, infrastruktur, dan sistem.

* Evaluasi dan persiapan untuk perubahan budaya, kesiapan dan pelatihan pengguna inisiatif. Dan,

* The berkesinambungan dan siklus hidup-upaya untuk mendukung pengguna dan sistem setelah sistem dan proses peluncuran.

Buku besar umum tradisional dan sistem anggaran telah menjadi biaya utama alat untuk mengumpulkan, meringkas, dan melaporkan biaya perusahaan selama beberapa dekade. Penggunaan kata alat ini tidak hanya terbatas pada pengukuran, pelaporan dan pembandingan antara industri dan perusahaan, tetapi juga digunakan dengan dalam perusahaan untuk bertindak sebagai tongkat pengukur untuk menentukan profitabilitas internal, efisiensi dan inisiatif untuk perbaikan proses produk, jasa atau proses .

Hasil temuan dari penelitian, bukti-bukti pendukung, dan para pakar menganjurkan penggunaan alat-alat konvensional seperti dibatasi pada penggunaan eksternal dan melengkapi kebutuhan laporan biaya di daerah operasi metode lain yang disebut penetapan biaya berdasarkan aktivitas dan manajemen (ABC / M ). Hal ini karena fakta pendekatan konvensional biaya pelaporan tidak lengkap, tidak diproses dan tidak berdasarkan fakta untuk mendukung proses pengambilan keputusan. Di samping itu, ABC / M dapat menyediakan biaya terperinci dan overhead yang terkait dapat dialihkan untuk kegiatan di end-to-end proses.

Banyak ahli akuntansi dan insinyur biaya juga mengakui bahwa ABC / M sistem proses dan tugas-tugas sederhana dan tidak memerlukan pemahaman penuh dan sumber daya untuk menyiapkan sebuah organisasi untuk penyebaran dan manajemen siklus hidup. Namun, biaya yang sama profesional setuju bahwa seperti penetapan biaya dan sistem anggaran jauh lebih bermanfaat daripada yang sudah ada buku besar dan pendekatan akuntansi, terutama pada tingkat operasional dan kesempatan untuk perbaikan proses di bidang biaya.

Selain itu, penting untuk dicatat bahwa biaya berdasarkan aktivitas merupakan kualitas dijual alat yang dapat melengkapi kata kekurangan metode konvensional, namun tidak untuk setiap perusahaan. Penilaian yang sesuai dan persiapan untuk ABC / M adalah sangat penting bagi keberhasilan dan kekurangan daripadanya. Untuk menggambarkan, kegiatan berbasis pendekatan yang tepat untuk organisasi dengan biaya tidak langsung yang signifikan, kompleks atau produk dan jasa, kerugian pada volume tinggi barang dan keuntungan pada volume rendah barang, perselisihan atas alokasi biaya [15].

ABC / M implementasi tantangan dan industri apa pun pelajaran-belajar juga harus dipelajari sebelum penggelaran sistem yang diusulkan. Ini termasuk tantangan terbesar dalam memperoleh buy-in dan komitmen dari manajemen, operasional manajer dan anggota tim. Di samping itu, pendekatan dan strategi penggelaran harus melibatkan semua tingkat pengguna sebanyak dan sesegera mungkin untuk mengurangi perlawanan untuk berubah dan untuk memastikan bahwa inisiatif tidak akan dipandang sebagai khusus lain, “suara baik” program yang menghasilkan manfaat pasti [15].

ABC / M pendekatan tidak boleh diperlakukan sebagai biaya hanya mengumpulkan dan sistem pelaporan seperti sedikit menambah nilai bagi perusahaan dan operasi internal. ABC / M juga harus dimasukkan dalam setiap perusahaan yang ada sistem pendukung keputusan (DDS) yang membantu pengambilan keputusan atau pembuat untuk solusi dan wawasan dan perencanaan biaya. Untuk mengilustrasikan, DDS memperluas ABC / M cakrawala dengan memasukkan alat dan teknik untuk melakukan pemodelan dan analisis biaya, apa-bila skenario dan masalah biaya tidak terstruktur. Dengan merger ini, perusahaan dapat mengenali potensi penuh dan manfaat dari pelaporan dan perencanaan biaya melalui biaya memperkirakan, tren, peramalan, dan biaya siklus hidup kegiatan.


Blog Stats

  • 2,512,538 hits