Kuliah Akuntansi

Archive for April 2016

BAB I
PENDAHULUAN

Di pandang dari segi aspek informasi menurut R.A. Supriyono (1993, hal.18)
akuntansi dapat didefinisikan sebagai berikut :
“Akuntansi adalah aktivitas yang menghasilkan jasa yaitu berfungsi menyajikan informasi kuantitatif yang pada dasarnya bersifat keuangan dari suatu satuan usaha atau organisasi tertentu, informasi tersebut akan dapat dipakai oleh pihak eksternal maupun pihak internal untuk pengambilankeputusan dengan memilih beberapa alternatif”.

Dalam melaksanakan kegiatannya, perusahaan selalu menghadapi berbagai masalah. Diantaranya adalah bagairnana agar perusahaan dapat beroperasi seefisien mungkin, sehingga dapat tercaya keuntungan yang maksimal. Untuk menghadapi masalah tersebut, diperlukan suatu sistem pelaporan intern yang memadai, sehingga kalau terjadi penyelewengan ataupun pemborosan dalam proses produksi dapat segera diatasi. Dalam sistem pelaporan intern ini diperlukan akuntansi manajemen. Akuntansi manajemen merupakan jaringan penghubung yang sistematis dalam penyajian informasi yang berguna dan dapat daya untuk membantu pimpinan perusahaan dalam usaha mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan sebelumnya.
Informasi akuntansi manajemen ini terdiri dari informasi akuntansi biaya penuh (full cost accounting), informasi akuntansi deferensial (differential accounting), dan akuntansi pertanggungjawaban (responsibility accounting). Jika informasi akuntansi manajemen dihubungkan dalgan objek informasi seperti produk departemen dan aktivitas perusahaan maka akan dihasilkan informasi akuntansi penuh. Jika informasi akuntansi manajemen dihubungkan dengan alternatif yang akan dipilih, maka akan dihasilkan konsep informasi akuntansi diferensial, yang sangat dibutuhkan oleh manajemen untuk tujuan pengambilan keputusan pemilihan beberapa alternatif. Jika informasi akuntansi manajemen dihubungakan dengan wewenang yang dimiliki oleh manajer, maka akan dihasilkan konsep informasi akuntansi pertanggungjawaban yang terutama bermanfaat untuk mempengaruhi perilaku manusia dalam organisasi.

BAB II
KONSEPSUAL AKUNTANSI MANAJEMEN

Pengertian Akuntansi Manajemen
Akutansi manajemen adalah proses identifikasi, pengukuran, pengumpulan, analisis, penyiapan dan komunikasi informasi finansial yang digunakanoleh manajemen untuk perencanaan, evaluasi, pengendalian dalam suatu organisasi, serta untuk menjamin ketepatan penggunaan sumber – sumber dan pertanggung jawaban sumber – sumber tersebut.
Akuntansi mempunyai peranan yang sangat penting dalam dunia usaha, mulai dari badan usaha kecil yang tidak mencari keuntungan sampai pada perusahaan besar yang mencari keuntungan membutuhkan informasi akuntansi yang digunakan sebagai alat perencanaan, pengawasan maupun sebagai dasar pengambilan keputusan. Dilihat dari pengertian akuntansi itu sendiri mempunyai banyak definisi seperti yang selama ini dikenal. Hal ini karena luasnya ruang lingkup dari kegiatan akuntansi akibatnya antara definisi yang satu dengan definisi yang lainnya terdapat perbedaan penekanannya. Walaupun demikian definisi-definisi terebut telah memberikan pengertian definisi akuntansi yang menekankan fungsi akuntansi sebagai sumber informasi.
Definisi di atas menjelaskan tentang fungsi akuntansi sebagai sumber informasi keuangan yang dibutuhkan oleh pihak eksternal untuk pengambilan keputusan, dan informasi keuangan tersebut digunakan oleh pihak internal untuk pengambilan keputusan dalam pemilihan alternatif.
Akuntansi manajemen timbul karena akibat adanya kebutuhan akan informasi akuntansi yang dapat membantu manajemen dalam memimpin suatu perusahaan yang semakin besar dan semakin kompleks. Akuntansi manajemen merupakan suatu sistem informasi yang mana dengan informasi ini manajemen dapat mengambil keputusan-keputusan dalam hal memimpin selia mengendalikan kegiatan-kegiatan perusahaan. Seorang manajer harus dapat menjabarkan teori manajemen dan teori-teori lainnya dalam bentuk angka-angka yang nyata, sehingga manajemen dapat menganalisa dan menginterprestasikan angka-angka tersebut dalam rangka pengambilan keputusan. Dengan demikian pengertian lain dari akuntansi manajemen adalah bagaimana menggunakan data yang tersedia untuk tujuan pengambilan keputusan. Dalam rangka pengambilan keputusan manajemen harus mempertimbangkan tindakan-tindakan alternatif. Oleh karena itu akuntan manajemen harus menyediakan data-data yang cukup lengkap tentang perhitungan masing-masing altematif, dan yang akan dipilih tentunya altematif yang memberikan keuntungan lebih besar bagi perusahaan. Dalam hal ini akuntan manajemen akan mencatat dan mengwnpulkan data-data yang ada di perusahaan baik data moneter maupun non moneter dan juga data-data di luar perusahaan, sehingga apabila manajer membutuhkan data yang dimaksud dapat dengan segera dipenuhi. Dalam akuntansi manajemen, informasi atau laporan yang sudah daluwarsa tidak berguna lagi, laporan yang ada pada waktunya meskipun tidak komplit lebih baik dari laporan yang lengkap tetapi telah daluwarsa. Pentingnya laporan yang aktual ini terutama untuk melakukan tindakan koreksi yang harus dilaksanakan sebelurn kesalahan-kesalahan menjadi serius.

Definisi Akuntansi Manajemen
Perkembangan yang pesat di bidang akuntansi manajemen pada dasawarsa terakhir, mendorong para pakar dan teoritis akuntansi baik perorangan maupun dalam wadah lembaga akuntansi untuk merumuskan definisi akuntansi manajemen. Definisi akuntansi manajemen dan profesi akuntansi manajemen ini masa yang akan datang. Karena belum adanya kesepakatan yang umum diterima mengenai definisi manajemen, maka penulis mencoba mengutip definisi akuntansi manajemen dari beberapa teoritikus akuntansi baik perorangan maupun lembaga akuntansi.
Menurut Charles T. Homgren (1993, hal.4) definisi akuntansi manajemen diartikan sebagai berikut :
“Akuntansi manajemen (Management Accounting) adalah proses identifIkasi, pengukuran, akumulasi, analisa, penyiapan, penafsiran, dan komunikasi tentang informasi yang membantu masing-masing eksekutif untuk memenuhi tujuan organisasi”.

Definisi akuntansi manajemen di atas menjelaskan bahwa informasi yang disajikan akuntansi manajemen harus relevan, artinya informasi tersebut harus sesuai dengan masalah yang dihadapi. Untuk menghasilkan informasi yang relevan dan jelas harus melalui proses identifIkasi, pengukuran, akumulasi, analisa, penafsiran dan kemudian dilaporkan kepada manajer yang bersangkutan, sehingga manajer tersebut dapat mengambil keputusan dengan tepat.
Definisi akuntansi manajemen yang mempunyai lingkup luas diberikan oleh Management Accounting Practices (MAP) Comite yang dibentuk oleh National Association of Accountants (NAA) seperti yang dikutip RA Supriyono (1993, hal.8) yang berbunyi sebagai berikut :
” Akuntansi manajemen adalah proses identifikasi, pengukuran, pengumpulan, analisis, penyiapan, dan komunikasi informasi finansial yang digunakan oleh manajemen untuk perencanaan, evaluasi, pengendalian dalam suatu organisasi, serta untuk menjamin ketepatan penggunaan sumber-sumber dan pertanggungjawaban atas sumber-sumber tersebut. Akuntansi manajemen juga meliputi penyiapan laporan finansial untuk kelompok-kelompok non manajemen seperti misalnya para pemegang saham, para kreditur, lembaga-lembaga pengaturan, dan penguasa perpajakan”.

Definisi akuntansi manajemen di atas merupakan definisi akuntansi manajemen yang seharusnya ada atau apa yang dicita-citakan (nonnatif) dan tidak menjelaskan tentang akuntansi manajemen yang ada sekarang (positif). Akuntansi manajemen menurut komite MAP tidak hanya menyediakan infonnasi untuk pihak inter perusahaan tetapi juga untuk para ekstem. Informasi finansial yang telah diidentifikasikan dan dianalisis oleh akuntan manajemen digunakan oleh manajemen untuk perencanaan, evaluasi, pengendalian dan sebagai pertanggungjawaban atas penggunaan sumber-sumber yang ada dalam perusahaan.
Definisi akuntansi manajemen yang ada sekarang (positif) dikembangkan oleh sebuah lembaga profesi yang sangat berpengaruh di Amerika Serikat yaitu American Accounting Association (AAA).Definisi akuntansi manajemen dituangkan dalam bentuk suatu pernyataan dalam American Statement of Basic Accounting
Theory (ASOBAT), seperti yang dikutip oleh RA Supriono (1987, hal.20) berbunyi sebagai berikut :
“Akuntansi Manajemen adalah penerapan teknik-teknik dan konsep-konsep yang tepat dalam pengolahan data ekonomi historikal dan yang diproyeksikan dari suatu satuan usaha untuk membantu manajemen dalam menyusun rencana untuk tujuan-tujuan ekonomi yang rasional dan dalam membuat keputusan-keputusan rasional dengan suatu pandangan ke arab pencapaian tujuan tersebut”.

Jenis Informasi Akuntansi Manajemen
Informasi yang digunakan manajemen sebagai dasar pengambilan keputusan adalah informasi akuntansi manajemen dan merupakan informasi yang utama yang dimiliki perusahaan. Informasi akuntansi manajemen terutama digunakan oleh pimpinan perusahaan di dalam menunjang pelaksanaan fungsi-fungsi manajemen khususnya fungi perencanaan dan pengawasan.
Menurut Mas’ud Macfoedz (1990, hal.17) jenis-jenis informasi akuntansi manajemen adalah sebagai berikut :
1. Akuntansi biaya penuh (full cost accounting)
2. Akuntansi biaya diferensial (differential accounting)
3. Akuntansi pertanggungjawaban (responsibility accounting)
Informasi akuntansi manajemen dapat dihubungkan dengan tiga hal objek informasi, altematif yang akan dipilih dan wewenang manajer. informasi akuntansi manajemen dihubungkan dengan objek informasi, seperti produk, departemen, dan aktivitas perusahaan maka akan dihasilkan konsep informasi akuntansi penuh. Jika informasi akuntansi manajeinen dihubungkan dengatl alternatif yang akan dipilih, maka akan dihasilkan konsep infonnasi akuntansi diferensial, yang sangat diperlukan oleh manajemen dalam pengambilan keputusan pemilihan altematif. Jika informasi akuntansi manajemen dihubungkan dengan wewenang yang dimiliki oleh manajer, maka akan dihasilkan konsep informasi akuntansi pertanggungjawaban, yang terutama manfaat untuk mempengaruhi perilaku manusia dalam organisasi.

BAB III
KAITAN AKUNTANSI MANAJEMEN DENGAN AKUNTANSI KEUANGAN

Secara garis besar ilmu akuntansi dibagi menjadi dua bagian yaitu akuntansi keuangan dan akuntansi manajemen. Akuntansi keuangan berorientasi pada penyajian laporan keuangan untuk pihak-pihak di luar perusahaan dan sebaliknya akuntansi manajemen berorientasi pada laporan untuk pihak-pihak di dalam/internal manajemen.
Dalam organisasi perusahaan, akuntan manajemen mempunyai posisi staf, artinya akuntan manajemen tidak secara langsung berfungsi di dalam bidang operasi untuk mencapai sasaran atau tujuan perusahaan. Jadi akuntan manajemen pada dasarnya merupakan bagian pelaksanaan fungsi-fungsi manajemen yaitu perencanaan, pengarahan, pengawasan dan pengambilan keputusan, agar manajemen dapat lebih mudah menjalankan fungsinya yang berhubungan dengan keuangan. Selain itu akuntansi manajemen juga bertanggung jawab terhadap tugas seperti perencanaan anggaran, bagian pelaporan, bagian studi khusus, bagian pengumpulan informasi, informasi keuangan dan informasi kuantitatif lainnya serta bagian-bagian lain yang menunjang.

Akuntansi Manajemen dan Akuntansi Keuangan Memiliki 8 Perbedaan :
Akuntansi manajemen memusatkan pada penyediaan data umum kegunaan intern manager.
Akuntansi manajemen lebih menitikbesarkan masa depan.
Akuntansi manajemen tidak diatur prinsif akuntasi yag diterima umum.
Akuntansi manajemen menitikbesarkan fleksibilitasi data.
Akuntansi manajemen kurang menekankan ketelitian dan lebih menekankan data non meneter.
Akuntansi manajemen menitik beratkan bagian organisasi, dari pada melihat organisasi sebagai keseluruhan.
Akuntansi manajemen.mengambil banyak sekali disiplin lain.
Akuntansi manajemen tidak bersifat keharusan.

Kesamaan Antara Akutansi Manajemen dengan Akuntansi Keuangan :
1. Keduanya bersandar kepada informasi akuntansi.
Mempunyai dua sisitem pengumpulan data berbeda yang berjalan berdampingan, akan merupakan pemborosan uang. Karena alasan ini, akuntansi manajemen memanfaatkan seluas – luasnya data akuntansi keuangan dihasilkan secara rutin, meskipun akuntansi manajemen memperluas dan menambah data tersebut.
2. Baik akuntansi keuangan dengan akuntansi manajemen sangat bersandar kepada konsep pertanggung jawaban dan konsep kepengurusan.
Akuntansi keuangan berkaitan dengan kepengurusan perusahaan sebagai suatu keseluruhan, sedangkan akuntansi manajemen berkaitan dengan kepengurusan bagian perusahaan dan kaitan ini meluas sampai pada orang terakhir dalam organisasi yang mempuyai tanggung jawab apapun atas biaya. Sesungguhnya dari sudut pandang akuntansi pertanggung jawaban, akuntansi keuangan dapat dipandang sebagai puncak, sedangkan akuntansi manajemen sebagai pengisi bagian terbesar dari piramid bagian bawah.

BAB IV
HUBUNGAN AKUNTANSI MANAJEMEN

Akuntansi Keuangan
Akuntansi Keuangan adalah bagian dari akuntansi Manajemen yang berkaitan dengan penyiapan laporan keuangan untuk pihak luar, seperti pemegang saham, kreditor, pemasok, serta pemerintah. Prinsip utama yang dipakai dalam akuntansi keuangan adalah persamaan akuntansi (Aktiva = Kewajiban + Modal). Akuntansi keuangan berhubungan dengan masalah pencatatan transaksi untuk suatu perusahaan atau organisasi dan penyusunan berbagai laporan berkala dari hasil pencatatan tersebut. Laporan ini yang disusun untuk kepentingan umum dan biasanya digunakan pemilik perusahaan untuk menilai prestasi manajer atau dipakai manajer sebagai pertanggungjawaban keuangan terhadap para pemegang saham. Hal penting dari akuntansi keuangan adalah adanya Standar Akuntansi Keuangan (SAK) yang merupakan aturan-aturan yang harus digunakan didalam pengukuran dan penyajian laporan keuangan untuk kepentingan eksternal. Dengan demikian, diharapkan pemakai dan penyusun laporan keuangan dapat berkomunikasi melalui laporan keuangan ini, sebab mereka menggunakan acuan yang sama yaitu SAK. SAK ini mulai diterapkan di Indonesia pada 1994, menggantikan Prinsip-prinsi Akuntansi Indonesia tahun 1984.
Hubungan akuntansi manajemen dengan akuntansi keuangan disebut akuntansi eksternal. Akutansi keuangan , bersifat masukan dan aturan serta konvensi yang mengatur berbagai proses didefinisikan oeh securities Exchange Commision (SEC) dan Finnancial Accounting Standart Board (FASB) di Indonesia dikenal dengan Badan pengawas Pasar Modal (BaPePam) dan Ikatan Akutansi.
Tujuannya adalah penyusunan laporan eksternal ( laporan keuangan ) bagi investor, kreditor, lembaga pemerintah dan pengguna eksternal lainnya. Informasi ini digunakan untuk keperluanseperti keputusan investasi, evaluasi, pemonitoran aktivitas, dan ukuran – ukuran peraturan.

Akuntansi Biaya
Akuntansi biaya ialah proses pengeditifikasian atau perangkuman dan penafsiran aneka informasi yang diperlakukan untuk :
Perencanaan dan pengendalian.
Pengambilan keputusan manajemen.
Penghitungan biaya atau harga pokok barang yang diproduksi.
Dilihat dari pihak yang menggunakan informasi akuntansi biaya digolongkan pula dalam 2 kelimpok, yaitu pihak eksternal dan pihak internal.
Akuntansi biaya merupakan bagian yang integral dengan financial accounting. Akuntansi biaya adalah salah satu cabang akuntansi yang merupakan alat manajemen dalam memonitor dan merekam transaksi biaya secara sistematis, serta menyajikannya informasi biaya dalam bentuk laporan biaya. Biaya (cost) berbeda dengan beban (expense), cost adalah pengorbanan ekonomis yang dikeluarkan untuk memperoleh barang dan jasa, sedangkan beban (expense) adalah expired cost yaitu pengorbanan yang diperlukan atau dikeluarkan untuk merealisasi hasil, beban ini dikaitkan dengan revenue pada periode yang berjalan. Pengorbanan yang tidak ada hubungannya dengan perolehan aktiva, barang atau jasa dan juga tidak ada hubungannya dengan realisasi hasil penjualan, maka tidak digolongkan sebagai cost ataupun expense tetapi digolongkan sebagai loss.

Manajemen Keuangan
Manajemen keuangan merupakan manajemen terhadap fungsi-fungsi keuangan. Fungsi-fungsi keuangan tersebut meliputi bagaimana memperoleh dana (raising of fund) dan bagaimana menggunakan dana tersebut (allocation of fund). Manajemen keuangan berkepentingan dengan penentuan jumlah aktiva yang layak dari investasi pada berbagai aktiva dan pemilihan sumber-sumber dana untuk membelanjai aktiva tersebut. Untuk memperoleh dana, manajemen keuangan bisa memperolehnya dari dalam maupun luar perusahaan. Sumber dari luar perusahaan berasal dari pasar modal, bisa berbentuk hutang atau modal sendiri.

Investasi
Investasiadalah suatu istilah dengan beberapa pengertian yang berhubungan dengan akuntansi manajemen, keuangan dan ekonomi. Istilah tersebut berkaitan dengan akumulasi suatu bentuk aktiva dengan suatu harapan mendapatkan keuntungan dimasa depan. Terkadang, investasi disebut juga sebagai penanaman modal.
Berdasarkan teori ekonomi, investasi berarti pembelian (dan berarti juga produksi) dari kapital/modal barang-barang yang tidak dikonsumsi tetapi digunakan untuk produksi yang akan datang (barang produksi). Contoh termasuk membangun rel kereta api, atau suatu pabrik, pembukaan lahan, atau seseorang sekolah di universitas. Untuk lebih jelasnya, investasi juga adalah suatu komponen dari PDB. Fungsi investasi pada aspek tersebut dibagi pada investasi non-residential (seperti pabrik, mesin, dll) dan investasi residential (rumah baru). Investasi adalah suatu fungsi pendapatan dan tingkat bunga, dilihat dengan kaitannya I= (Y,i). Suatu pertambahan pada pendapatan akan mendorong investasi yang lebih besar, dimana tingkat bunga yang lebih tinggi akan menurunkan minat untuk investasi sebagaimana hal tersebut akan lebih mahal dibandingkan dengan meminjam uang. Walaupun jika suatu perusahaan lain memilih untuk menggunakan dananya sendiri untuk investasi, tingkat bunga menunjukkan suatu biaya kesempatan dari investasi dana tersebut daripada meminjamkan untuk mendapatkan bunga.

Statistik
Pengujian staatistik yang menjelaskan mengenai sejauh mana eratnya hubungan tersebut terletak antara variabel dependen dengan independen. Dalam praktek statistik, akan sangat bermanfaat bagi manajemen untuk mendapat satu jarak (range) tertentu untuk variabel dependen, dengan demikian akan akan dapat dibuat probabilitas dimana nilai sesungguhnya akan berada pada jarak (range) tersebut.

Biaya Tetap (Fixed Cost)
Biaya ini berhubungan dengan kapasitas atau volume, karena pemahaman pemisahan biaya dan karakteristiknya diperlukan dalam membuat perencanaan, pengendalian biaya dan pembuatan atau pengambilan keputusan.

Biaya tetap mempunyai karakteristik sebagai berikut :
Biaya total yang tidak berubah atau tidak dipengaruhi oleh periode yang ditentukan atau kegiatan tertentu.
Biaya per unitnya berbanding terbalik dengan perubahan volume. Pada perubahan volume rendah fixed cost unitnya tinggi, sebaliknya pada volume yang tinggi fixed cost per unitnya rendah.
Contoh : Biaya Penyusutan.
Biaya Variable ( Variable Cost)
Biaya ini mempunyai pola sebagai berikut :
Total biaya variable berubah proposional dengan perubahan voume atau kapasitas. Makin besar kapasitas yang digunakan maka semakin besar pula biaya variable, demikina pula sebakliknya.
Per unit biaya berubah ( variable ) konstan atau tetap, misalnya biaya langsung.
Contoh : Biaya pemakaian langsung bensin, yang dihitung dan tergantung kilometer yang ditempuh.

Perilaku Biaya dalam Analisis Ekonomi
Perilaku dasar tersebut tidak terlepas dari karakteristik pasar yang terfokus pada 2 jenis pasar saja yaitu:
Pasar persaingan sempurna.
Pasar persaingan tak sempurna.
Pada pasar sempurna seperti telah diketahui dan sering juga disebut pasar persaingan sempurna dengan ciri – ciri sebagai berikut :
Terdapat sejumlah besar para penjual dan para pembeli sehingga individu – individu tidak dapat mempengaruhi harga barang.
Produk –produk dari seluruh perusahaan dalam pasar antara homogen.
Terdapat mobilitas factor – factor yang sempurna.
Para konsumen, para pemilik faktor – faktor didalam pasar mempunyai pengetahuan yang sempurna mengenai harga – harga yang sekarang dan yang akan datang.
Didalam persaingan tidak sempurna termasuk pengertian persaingan monopolitas yaitu jumlah produsen banyak dengan deferensial produk. Dalam sektor perdagangan eceran seperti makanan dan obat – obatan yang sedikit biasa mengendalikan harga.

Prilaku Organisasi
Perilaku organisasi juga dikenal sebaagai Studi tentang organisasi. Studi ini adalah sebuah bidang telaah akademik khusus yang mempelajari organisasi, dengan memanfaatkan metode-metode dari ekonomi (seperti Akuntansi Mnajemen dll), sosiologi, ilmu politik, antropologi dan psikologi. Disiplin-disiplin lain yang terkait dengan studi ini adalah studi tentang Sumber daya manusia dan psikologi industri serta perilaku organisasi.
Tinjauan umum
Studi organisasi adalah telah tentang pribadi dan dinamika kelompok dan konteks organisasi, serta sifat organisasi itu sendiri. Setiap kali orang berinteraksi dalam organisasi, banyak faktor yang ikut bermain. Studi organisasi berusaha untuk memahami dan menyusun model-model dari faktor-faktor ini.
Seperti halnya dengan Akuntansi Manajemen, perilaku organisasi berusaha untuk mengontrol, memprediksikan, dan menjelaskan. Namun ada sejumlah kontroversi mengenai dampak etis dari pemusatan perhatian terhadap perilaku pekerja. Karena itu, perilaku organisasi (dan studi yang berdekatan dengannya, yaitu psikologi industri) kadang-kadang dituduh telah menjadi alat ilmiah bagi pihak yang berkuasa. Terlepas dari tuduhan-tuduhan itu, Perilaku Organisasi dapat memainkan peranan penting dalam perkembangan organisasi dan keberhasilan kerja.

Komunikasi Bisnis
Komunikasi Bisnis (Business Communications) adalah komunikasi yang digunakan dalam Akuntansi Manajemen yang berhubungan dengan dunia bisnis yang mencakup berbagai macam bentuk komunikasi , baik verbal maupun nonverbal untuk mencpai tujuan tertentu.
Komunikasi bisnis memberikan keterampilan dasar bagi mahasiswa agar mampu berinteraksi dengan berbagai pihak dalam organisasi bisnis, seperti dalam menyampaikan kehidupan gagasan baik dalam lisan dan tulisan berbagai tehnik diskusi. Pemimpin diskusi dan negosiasi akan memberikan dasar bagi mahasiswa agar mampu berinteraksi dengan orang lain serta mengenal berbagai bahasa bisnis yang terkait dengan kepentingan bisnis.

Informatif Teknologi
Perkembangan informasi teknelogi membawa perubahan yang siginifikan, dalam dunia bisnis ada berbagai macam sistem informasi dengan menggunakan teknelogi yang muncul antara lain : Elektronik Data Processing System (EDPS, Data Proceessing System (DPS), Decision Support Sysytem (DSS), Manmajemn Informatif System (MIS), Executive Informatif System (EIS), dan Accaunting Information System (AIS).
Perkembangan teknologi juga berpengaruh terhadap bidang akuntansi manajemen selaku bidamng penghasilan informasi fdalm rangka perencanaan, pengendalian dan pengambila keputusan manajemen, pengaruh tersebut dapat bersifat menguntungkan maupun merugikan perusahaan.

SIA & SIM
Sistem Informasi Akuntansi (SIA) adalah sebuah Sistem Informasi yang menangani segala sesuatu yang berkenaan dengan Akuntansi Manajemen. Akuntansi Manajemen sendiri sebenarnya adalah sebuah Sistem Informasi.

Fungsi penting yang dibentuk SIA pada sebuah organisasi antara lain :
Mengumpulkan dan menyimpan data tentang aktivitas dan transaksi.
Memproses data menjadi into informasi yang dapat digunakan dalam proses pengambilan keputusan.
Melakukan kontrol secara tepat terhadap aset organisasi.
Sistem Informasi Manajemen merupakan sistem informasi yang menghasilkan hasil keluaran (output) dengan menggunakan masukan (input) dan berbagai proses yang diperlukan untuk memenuhi tujuan tertentu dalam suatu kegiatan manajemen.

Tujuan Umum
Menyediakan informasi yang dipergunakan di dalam perhitungan harga pokok jasa, produk, dan tujuan lain yang diinginkan manajemen.
Menyediakan informasi yang dipergunakan dalam perencanaan, pengendalian, pengevaluasian, dan perbaikan berkelanjutan.
Menyediakan informasi untuk pengambilan keputusan.
Ketiga tujuan tersebut menunjukkan bahwa manajer dan pengguna lainnya perlu memiliki akses ke informasi akuntansi manajemen dan mengetahui bagaimana cara menggunakannya. Informasi akuntansi manajemen dapat membantu mereka mengidentifikasi suatu masalah, menyelesaikan masalah, dan mengevaluasi kinerja (informasi akuntansi dibutuhkan dam dipergunakan dalam semua tahap manajemen, termasuk perencanaan, pengendalian dan pengambilan keputusan).

Penganggaran
Anggaran merupakan rencana terinci yang mennjukan bagaimana sumberdaya akan diperoleh dan digunekan selama jangka waktu tertentu. Anggaran menggambarkan rencana masa depan yang dinyatakan dalam bentuk kuantitatif formal.
Tindakan menyusun anggaran disebut pengganggaran (budgeting). Penggunaan anggaran untuk mengendalikan aktivitas perusahaan dikenal sebagai pengendalian bajeteri ( Badgetery control).
Anggaran induk merupakan ikhtisar segala bentuk rencana dan tujuan masa depan perusahaan. Anggaran induk menetapkan sasaran khususuntuk aktivitas penjualan, produksi, distribusi dan dan pembelanjaan serta umumnya mencapai puncaknya dilaporan laba rugi yang diproyeksikan dan dilaporan posisi kas yang diproyeksikan. Tegasnya, anggaran induk menggambarkan pernyatan yang komprehensif mengenai rencana manajemen masa mendatang dan bagaimana rencana ini akan dicapai.
Salah satu manfaat yang berharga dari menyusun anggaran addalah bahwa penyusun anggaran menghendaki manager merencanakan tugas yang sangat diprioritasan diantara tugas mereka. Lagi ppula, penyusun anggaran merupakan sarana menyampaikan rencana ini menurut cara yang teratur keseluruh organisasi tidak seorang pun meragukan apa yang ingiubn dicapai manajer aatua bagaimana manajer ingin rencana itu dicapai.

Faedah lain menyusun anggaran adalah :
a) Penyusun anggaran erupakan cara manajer merumuskan upaya perencanaan mereka.
b) Penyuun anggaran menetapkan tujuan dan sasaran secara pasti yang berfungsi sebagai standar untuk memnialai prestasi dikemudian hari.
c) Penyusun anggaran mampu menemukan hambatan yang potensial sebelum hambatan itu terjadi.
d) Penyusun anggaran dapat mengkoordinasikan aktivitas organisasi keseluruhan melalui penggabungn rencana dan sasaran berbagai bagian. Dengan demikian, anggaran menjamin bahwa renana dan sasaran berbagai bagian sudah sesuai dengan tujuanumum orgsanisais.

BAB V
PERSAMAAN DAN PERBEDAAN KONSEP BIAYA

(Full Costing dan Variabel Costing serta Activity Based Costing)
Full Costing
Full Costing adalah metode penentuan harga pokok produk dengan memasukkan seluruh komponen biaya produksi sebagai unsur harga pokok, yang meliputi biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, biaya overhead pabrik variabel dan biaya overhead pabrik tetap. Di dalam metode full costing, biaya overhead pabrik yang bersifat variabel maupun tetap dibebankan kepada produk yang dihasilkan atas dasar tarif yang ditentukan dimuka pada kapasitas normal atau atas dasar biaya overhead pabrik sesungguhnya. Oleh karena itu biaya overhead pabrik tetap akan melekat pada harga pokok persediaan produk selesai yang belum dijual, dan baru dianggap sebagai biaya (elemen harga pokok penjualan) apabila produk selesai tersebut tidak dijual. Variable Costing adalah metode penentuan harga pokok yang hanya memasukkan komponen biaya produksi yang bersifat variabel sebagai unsur harga pokok, yang meliputi biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik variabel. Menurut metode full costing, karena produk yang dihasilkan ternyata menyerap jasa BOP Tetap walaupun tidak secara langsung, maka wajar apabila biaya tadi dimasukkan sebagai komponen pembentuk produk tersebut. Sementara dipihak lain, variable costing beranggapan bahwa BOP Tetap tadi tidak secara langsung membentuk produk, maka tidak relevan kalau dimasukkan sebagai komponen harga pokok. Sebaiknya BOP Tetap dimasukkan dalam kelompok period cost ( biaya periode ).
Penggunaan konsep yang berbeda akan menghasilkan konsekuensi yang berbeda pula. Demikian halnya dengan kedua metode penentuan harga pokok ini. Laporan rugi – laba yang disusun berdasarkan kedua metode akan menghasilkan laba yang berbeda. Jika pada periode tersebut terdapat perbedaan persediaan awal dan akhir produk selesai. Hal ini disebabkan karena metode full costing memasukkan BOP Tetap sebagai komponen harga pokok, sehingga apabila diakhiri periode terdapat persediaan produk selesai maka akan terjadi penundaan pembebanan BOP Tetap ke periode
Variable Costing
Direct costing/variabel costing adalah penentuan harga pokok produksi, di mana hanya biaya variabel saja yang dibebankan sebagai elemen biaya produksi. Dengan penentuan seperti itu, maka akan mempengaruhi cara penyajian laporan laba/rugi, di mana laporan laba/rugi akan disajikan sebagai berikut:

Penjualan Rpxxx
Biaya variabel Rpxxx _
Marjin kontribusi Rpxxx
Biaya tetap Rpxxx _
Laba bersih Rpxxx
Keuntungan dari pendekatan variable costing adalah tidak menunda pembebanan biaya tetap produksi, karena biaya tetap dianggap biaya periode. Dengan pembebanan seluruh biaya tetap ke periode dikeluarkannya, maka laba bersih akan menunjukkan jumlah yang berfluktuasi secara proporsional dengan penjualan, sehingga bagi manajemen lebih informatif. Direct costing mempunyai beberapa manfaat sebagai berikut:
a. untuk perencanaan laba jangka pendek
b. untuk pengambilan keputusan
c. untuk penentuan harga jual
d. dan lain-lain.
Kelemahan dari direct costing yang utama adalah tidak bisa disajikan kepada pihak ekstern karena tidak sesuai dengan prinsip akuntansi yang berterima umum (PABU).

Konsep dan Penerapan Sistem ABC
Activity-based costing (ABC) adalah suatu sistem penetapan biaya yang membebankan biaya-biaya berdasar pada bagaimana pekerjaan dilakukan dalam suatu UKM dan didasarkan pada kebutuhan secara terus-menerus ketersediaan perangsang untuk peningkatan. Menggunakan rantai nilai untuk mengikuti aliran biaya-biaya dan aktivitas sehingga menyediakan suatu landasan yang bermanfaat dimana biaya-biaya dapat dikenali, digolongkan, dan dilacak. Secara khas, rantai nilai adalah satu kumpulan proses yang berhubungan yang mengalir didalam suatu urutan logis. Hal ini bermanfaat, didalam suatu sistem ABC untuk mebedakan proses ini ke dalam dua kategori- proses produksi dan proses bisnis.
Salah satu cara penentuan biaya produksi yang menggunakan teknologi tinggi adalah akuntansi biaya berbasis aktivitas (Activity Based Costing). Pada intinya akuntansi biaya berbasis aktivitas ini memberikan cara pembebanan biaya tidak langsung produksi berdasarkan aktivitas untuk menambah nilai dari suatu produk, tidak hanya berdasarkan pada satu cara pembebanan yaitu jam kerja. Sistem ABC ini seringkali diterapkan pada perusahaan-perusahaan manufaktur yang memproduksi berbagai macam produk dengan biaya overhead yang tinggi. Dengan menerapkan sistem ABC maka akan tersedia informasi biaya menurut aktivitas yang memudahkan manajemen dalam pengambilan keputusan sehingga manajemen dapat melakukan perbaikan terus-menerus dalam pengambilan keputusan sehingga manajemen dapat melakukan perbaikan terus-menerus terhadap aktivitas untuk mengurangi biaya overhead. Penerapan sistem ABC ini juga akan memberikan kemudahan bagi perusahaan dalam penentuan biaya relevan. Menurut pendekatan ABC, perusahaan akan diidentifikasi berdasarkan aktivitas utamanya, kemudian ditentukan biaya produksi langsung dan biaya produksi tidak langsungnya. Sebelum menentukan biaya produksi tidak langsung terlebih dahulu harus ditentukan tingkatan (level) biaya dan tempat biaya (cost pool).

Metode ABC membagi tingkatan pembebanan dan alokasi biaya overhead menjadi empat tingkatan biaya, yaitu:
1. Tingkatan biaya unit (Unit Level)
2. Tingkatan biaya batch (Batch Level)
3. Tingkatan biaya untuk mempertahankan produk (Product Level)
4. Tingkatan biaya fasilitas (Facility Level)
Sedangkan tempat biaya terdiri dari:
1. Tempat biaya persiapan
2. Tempat biaya persiapan
3. Tempat biaya teknik
4. Tempat biaya fasilitas.
· Persamaan Full Costing, Direct costing/variable costing, maupun Activity-based costing (ABC) adalah sama – sama merupakan metode penentuan harga pokok produk meliputi biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung.
· Perbedaan utama antara Variable Costing dan Full costing terletak pada perlakuan atas BOP Tetap.
Perbedaan Full Costing, Direct costing/variable costing, maupun Activity-based costing (ABC) adalah pada kategori pemprosesan produksi dan pemproses bisnis.

BAB VI
PERKEMBANGAN AKUNTANSI MANAJEMEN DENGAN KONTEMPORER

Perkembangan akuntansi manajemen dengan kontemporer yang cenderung mengintegrasikan pendekatan-pendekatan sebelumnya.
Pendekatan antara lain :
1) System approach (Pendekatan System)
2) Contingency approach (Pendekatan Kontengensi)
3) Neo human relation movement (Gerakan Hubungan Manusiawi Baru)

Akuntansi Manajemen Kontemporer/modern (AMK) diantaranya meliputi: Kaizan (Perbaikan Terus Menerus), Just-In-Time Inventory (JIT), dan Kanban dihasilkan oleh perusahaan-perusahaan Jepang. Kemunculan AMK sebagai respon kegagalan penerapan Akuntansi Manajemen Tradisional oleh perusahaan-perusahaan manufaktur (khususnya otomotif dan elektronika) di Amerika Serikat.
Kesuksesan perusahaan-perusahaan menerapkan AMK tidak lepas dari budaya bangsa Jepang. Oleh karena itu dalam menerapkan AMK perlu mengadopsi budaya Jepang diantaranya: disiplin, kerjasama, dan loyalitas. Tulisan ini berusaha menunjukkan pengaruh budaya Jepang terhadap timbulnya Akuntansi Manajemen Komtemporer.
Kita tahu bahwa kaizan, just-in-time iventory dan kanban merupakan beberapa pendekatan teori akuntansi manajemen kontemporer dihasilkan oleh perusahaan-perusahaan Jepang. Budaya Jepang memainkan peranan penting berkaitan dengan pengembangan akuntansi manajemen kontemporer. Sukses tidaknya penerapan kaizan, just-in-time inventory dan kanban terkait dengan budaya Jepang.
Peran utama akuntansi manajemen dalam organisasi sektor pulik adalah memberikan informasi akuntansi yang relevan dan handal kepada manajer untuk melaksanakan fungsi perencanaan dan pengendalian organisasi. Tuntutan mengenai perlunya pengendalian atas berbagai kegiatan pemerintah, khususnya yang berimplikasi uang, dari waktu ke waktu semakin meningkat. Hal ini terjadi akibat praktik KKN di waktu yang lalu tidak saja telah mengakibatkan berkurangnya percepatan pembangunan, melainkan juga telah menimbulkan kesenjangan baik antara wilayah, sektor dan golongan serta merugikan khususnya bagi lapisan masyarakat bawah. Peran fundamental akuntansi manajemen di organisasi sektor publik adalah membantu manajer/pimpinan dengan informasi akuntansi yang dibutuhkan agar fungsi perencanaan dan pengendalian dapat dilakukan. Secara rinci, tujuan umum tersebut dapat diturunkan menjadi:
1. Membantu manajemen memformulasi kebijakan organisasi.
2. Membantu manajemen dalam proses perencanaan organisasi.
3. Membantu manajemen dalam mengendalikan operasi/kegiatan organisasi.
Akuntansi manajemen mengalami masa perkembangan yang pesat dengan perannya sebagai pendamping akuntansi keuangan. Johnson dan Kaplan menuliskannya dengan indah dalam “Relevance Lost: The Rise and Fall of Management Accounting”.

THE CLASSICAL MANAGEMENT THEORIES (TEORI MANAJEMEN
KLASIK)
PendahuluTeori Manajemen Klasik
Sebelum zaman manajemen ilmiah muncul, telah terjadi revolusi industri di Inggris pada abad ke 19 (tahun 1800-an). Hal ini menyebabkan meningkatnya kebutuhan suatu pendekatan manajemen yang sistematis. Beberapa prinsip manajemen ilmiah yang mempunyai perhatian terhadap masalah-masalah manajemen akibat timbulnya revolusi industri itu adalah :
1) James Watt J dan Mathew Robinson Boulton

Mereka adalah putra dari pionir yang menemukan dan mengembangkan mesin uap. Mereka mengambil manajemen dan Soko Engineering Foundry di Inggris, yang didirikan ayah mereka pada tahun 1796.
Watt bertugas memimpin organisasi dan administrasi, dan Boulton memberi per-hatian khusus pada penjual-an dan aktivitas perdagang-an.
Teknik manajerial yang dikembangkan kedua orang itu antara lain adalah :
�� Penelitian dan peramalan pasar,
�� Perencanaan produksi,
�� Skema mesin, yang direncanakan sesuai dengan tuntutan proses pekerjaan,
�� Standar produksi dan
�� Standarisasi komponen-komponen produksi.
Dalam bidang akuntansi dan biaya, mereka mengembang-kan antara lain adalah :
�� Catatan-catatan statistik yang rinci dan
�� Memajukan system pengendalian, yaitu dapat memper-hitungkan biaya dan keuntungan untuk setiap mesin yang dibuat dan untuk setiap departemen.
Dalam bidang sumber daya manusia, mereka mengembang-kan antara lain adalah :
�� Pelatihan karyawan
�� Program pengembangan eksekutif,
�� Penelitian Kerja,
�� Program Kesejahteraan dll

2) Robert Owen (1771-1858)
Permulaan tahun 1800-an, awal revolusi industri Robert Owen, seorang Manajer Pabrik Pemintalan Kapas di New Lanark, Skotlandia. Owen menekankan pentingnya unsur manusia dalam produksi.
Pada zaman Owen ini terdapat praktek-praktek memperkerjakan anak-anak usia 5 atau 6 tahun dari standar 13 jam per hari. Tersentuh dengan kondisi kerja yang amat menyedihkan itu, Owen mengajukan satu perbaikan berupa :
⌦ Membangun perumahan karyawan dan membangun jalan dilingkungan tempat tinggal karyawan
⌦ Berusaha memperbaiki lingkungan hidup sehingga lingkungan hidup dan pabrik menjadi menariki
⌦ Koperasi konsumsi bagi karyawan, (Mendirikan took-toko untuk menjual keperluan hidup karyawan, menjual barang-dengan harga yang layak)
⌦ Menyediakan makanan bagi karyawan
⌦ Pembatasan pekerja anak dibawah umur (menolak mem-perkerjakan anak dibawah umur 10 tahun)
⌦ Menurunkan jam kerja yang semula 13 jam menjadi 10,5 jam perhari
Karena jasanya ini beliau disebut sebagai “Bapak Manajemen Personalia Modern”
Jika para manajer lainnya lebih banyak memperhatikan perbaikan teknik, maka Owen lebih banyak memperhatikan pekerja, karena menurut Owen, itulah investasi yang penting bagi manajer. Selain mengenai perbaikan kondisi kerja, beliau Owen mengajukan prosedur yang meningkatkan produktivitas, seperti prosedur penilaian kerja secara terbuka dan bersaing.juga secara terbuka.
3) Charles Babbage (1792 – 1871)
Babbage adalah seorang guru besar Matematika dan penemu Kalkulator serta Komputer pertama dari Inggris, yang tertarik pada usaha penilaian efisiensi operasi suatu pabrik, yaitu dengan menerapkan prinsip-prinsip ilmiah akan terwujud peningkatan produktivitas dan penurunan biaya.
Babbage mengusulkan pertama kali adanya pembagian kerja berdasarkan spesialisasi dari pekerja sesuai penguasaan keterampilan tertentu, pekerjaan dibuat rutin sehingga lebih mudah dapat dikendalikan dan dimekanisasi dengan alat kalkulator.
Pada tahun 1822 Charles Babbage menemukan Kalkulator mekanis, yang disebut Difference Machine (Mesin penambah dan pengurang). Prinsip-prinsip dasarnya digunakan pada mesin mesin hitung hampir seabad kemudian, kalkulator yang kini kita kenal. Babbage menyusun sebuah mesin analitis (Analysis Machine) pada tahun 1833, yaitu sebuah komputer yang otomatis dan mempunyai segala unsure dasar komputer modern, sehingga beliau sering dinamakan sebagai “Bapak Komputer”.
Dari sudut manajemen, Babbage dikenal karena bukunya “On Economy of Machinery and Manufactures” (1832), dia tertarik dan terkesan pada :

1. Prinsip efesiensi pembagian tugas dan perkembangan prinsip-prinsip ilmiah, untuk menentukan seorang manajer harus memakai fasilitas, bahan dan tenaga kerja supaya mendapat kan hasil yang sebaik-baiknya.
2. Prinsip efisiensi pembagian tugas, tidak hanya untuk pekerjaan manual saja, melainkan juga untuk aktivitas mental.
3. Sangat memperhatikan faktor manusia, disarankannya sebaiknya ada kerjasama dalam hal kepentingan bersama antara pekerja dan pemilik pabrik.
4. Menganjurkan adanya semacam system pembagian keuntungan, sehingga para pekerja memperoleh bagian keuntungan pabrik, apabila mereka ikut menyumbang dalam peningkatan produktivitas.
5. Menyarankan para pekerja menerima pembayaran tetap tergantung dari sifat pekerjaan mereka, ditambahkan dengan bagian keuntungan dan ditambahkan bonus untuk setiap saran yang mereka berikan untuk meningkatkan produktivitas.
Sumbangan terbesar beliau adalah dalam bidang biaya, keahlian teknik, dan insentif, berdasarkan keyakinan akan spesialisasi dan alokasi imbalan sesuai produktivitas.

SCIENTIFIC MANAGEMENT (MANAJEMENN ILMIAH)
1) Frederick Winslow Taylor (1856-1915)

Pada tahun 1903 menyusun buku dengan judul “Shop Management”, tahun 1911 menyusun buku dengan judul “The Principles of Scientific Management” dan pada tahun 1912 menyusun buku yang berjudul “Testimory Before Special House Committee” Ketiga buku tersebut tersebut digabungkan dalam sebuah buku dengan judul “Scientific Management” pada tahun 1947.
Bukunya disusun di Perusahaan Midvale & Betlehem Steel. Co di Pensilvania, Amarika Serikat. Di Perusahaan tersebut dia sebagai seorang insinyur mekanis. Karya besarnya itulah membuat dia dikenal sebagai Bapak Manajemen Ilmiah.
Taylor, yang terkenal dengan manajemen ilmiahnya berupa peningkatan produktivitas karena mahalnya biaya buruh trampil di Amerika Serikat pada awal abad ke 20. Gerakanya terkenal dengan gerakan efisiensi kerja. Untuk menjawab berbagai pertanyaan seperti apakah ada satu cara kerja terbaik “the one best way of doing job” dia mengajukan sekelompok prinsip-prinsip yang menjadi ininya manajemen ilmiah. Taylor terkenal dengan rencana peng upahan yang merangsang “differential rate system”, yang menghasil kan turunnya biaya dan meningkatnya produktivitas, mutu, pendapatan pekerja dan semangat kerja karyawan. Filsafat dibelakang konsep Taylor terletak diatas 4 prinsip yang dikenal dengan “Empat prinsip dasar Taylor” yaitu : �� Pengembangan Manajemen Ilmiah yang benar dapat di gunakan untuk menentukan metode terbaik untuk menjalankan setiap tugas. �� Seleksi karyawan dengan cara ilmiah, karyawan diberi tanggung jawab atas tugas yang sesuai dengan keterampilannya. �� Pendidikan dan pengembangan karyawan dengan cara ilmiah. �� Hubungan kerjasama yang erat antara Manajemen dan Karyawan. Untuk menerapkan keempat prinsip ini, Taylor mensyaratkan perlunya satu revolusi mental dikalangan manajer dan karyawan. Prinsip-prinsip dasar yang menurut dia mendasari pendekatan manajemen ilmiah adalah : ⌦ Menggantikan cara yang asal-asalan dengan ilmu (pengetahuan yang sistematis). ⌦ Mengusahakan keharmonisan dalam gerakan kelompok dan bukannya perpecahan. ⌦ Mencapai kerjasama manusia dan bukanlah individualisme yang kacau. ⌦ Bekerja untuk keluaran yang maksimum dan bukan keluaran yang terbatas. ⌦ Mengembangkan semua karyawan sampai taraf yang setinggi-tingginya, untuk kesejahteraan maksimum mereka sendiri dan perusahaan mereka. Pengikut Taylor yang menonjol adalah : Carl George Borth, Henry L Gantt, Frank & Lilian Gilbreth dan Edwar A. Filane.

2) Henry L. Gantt (1861-1919)
Gantt mempertimbangkan kembali system perangsang Taylor, dengan memperkenalkan system bonus harian dan bonus ekstra untuk para mandor. Setiap pekerja yang dapat menyelesailan tugas yang dibebankan kepadanya dalam sehari berhak menerima bonus. Dia juga memperkenalkan system “Charting” yang terkenal dengan “Gantt Chart” yang memuat jadwal kegiatan produksi karyawan supaya tidak terjadi pemborosan. Setiap kemajuan karyawan dicatat pada kartu pribadi, untuk menilai pekerjaan mereka. Gantt menekankan pentingnya mengembankan minat timbal balik antara manajemen dan karyawan, yaitu kerjasama yang harmonis. Dia menggaris bawahi pentingnya mengajarkan, mengembangkan pengertian tentang sistem pada pihak karyawan dan manajemen, serta perlunya penghargaan bahwa “dalam segala masalah manajemen unsur manusia yang paling penting”. Gantt paling terkenal karena mengembangkan metode grafis dalam menggambarkan rencana-rencana dan memungkinkan adanya pengendalian manajerial yang lebih baik. Dia juga menekankan pentingnya waktu maupun biaya dalam merencanakan dan mengendalikan pekerjaan. Hal ini menghasil kan

3) The Gilbreths (Frank B. Gilbreth : 1868-1924 dan Lilian Gilbreth : 1878-1972)
Pasangan suami istri ini bekerjasama mempelajari aspek kelelahan dan gerak (fatique and motion studies). Disamping itu Lilian juga tertarik dengan usaha membantu pekerja, menurut Lilian, sasaran akhir manajemen ilmiah adalah usaha membantu karyawan menampilkan kemampuannya yang penuh sebagai mahluk manusia. Konsep Gilbreth : Gerakan dan kelelahan saling berkaitan. Setiap langkah yang dapat menghasilkan gerak dapat mengurangi kelelahan, hal ini dapat meningkatkan semangat karyawan. Pasangan ini juga terkenal dengan konsep “Three position plan of promotion” (Rencana tiga kedudukan untuk suatu promosi), Menurut konsep ini setiap karyawan memiliki tiga peran yaitu sebagai pelaku, pelajar dan pelatih yang senantiasa mencari kesempatan baru. Pada saat yang sama karyawan melakukan pekerjaan saat ini, ia juga mempersiapkan diri untuk jabatan yang lebih tinggi dan sekaligus melatih penggantinya (be a doer, a learner and teacher). Perhatian Lilian Gilbreth tertuju pada aspek manusia dari kerja dan perhatian suaminya pada efisiensi yaitu usaha untuk menemukan cara satu-satunya yang terbaik dalam melaksana kan tugas tertentu. Dalam menerapkan prinsip-prinsip manajemen ilmiah, harus memandang para karyawan dan mengerti kepribadian serta kebutuhan mereka. Ketidak puasan diantara pekerja karena kurang perhatian dari pihak manajemen terhadap pekerja. Banyak manfaat dan jasa yang diberikan oleh Manajemen Ilmiah, namun satu hal yang dilupakan oleh manajemen ini, yaitu kebutuhan social manusia dalam berkelompok, karena terlalu mengutamakan keuntungan dan kebutuhan ekonomis dan fisik perusahaan dan karyawan. Aliran ini melupakan kepuasan pekerjaan karyawan sebagai manusia biasa.

1.1. Produk Bersama

Produk bersama adalah dua atau lebih produk yang dihasilkan dari pengolahan bahan dengan tenaga kerja dan fasilitas pabrik yang sama secara serentak. Nilai jual dari masing-masing produk bersama relatif sama. Contoh produk bersama adalah bensin, minyak tanah, dan minyak kerosin yang dihasilkan dari industri pengolahan minyak bumi.
Karakteristik produk bersama adalah:
1. Produk bersama mempunyai hubungan fisik satu dengan lainnya. Artinya jika satu produk bersama tertentu selesai diproses menjadi produk jadi maka pada saat yang sama juga telah selesai diproses produk bersama lainnya. Selain itu, jika dalam proses produksi kuantitas salah satu produk bersama ditambah maka produk bersama yang lain juga akan bertambah dengan jumlah yang proporsional.
2. Dalam memproses produk bersama selalu ada titik pisahnya (split-off point).
3. Setiap produk bersama mempunyai nilai yang relatif sama.

1.2. Biaya Bersama dan Titik Pisah

Biaya bersama adalah biaya untuk membuat produk bersama, yaitu berupa biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik. Biaya bersama ini dinikmati oleh produk-produk bersama tersebut secara bersamaan sehingga sulit untuk diidentifikasikan pada setiap produk bersama. Masalah utama yang dihadapi berkaitan dengan biaya bersama adalah pengalokasian biaya bersama pada setiap produk bersama.
Biaya bersama merupakan biaya produksi yang dikeluarkan dari awal proses produksi sampai dengan titik pisah. Titik pisah adalah saat dihasilkannya dua atau lebih produk bersama, dimana pada saat itu produk bersama bisa langsung dijual atau diproses lebih lanjut. Jika produk bersama akan diproses lebih lanjut maka dibutuhkan biaya untuk memproses lebih lanjut. Biaya yang terjadi setelah titik pisah ini umumnya dapat diidentifikasikan dengan produk bersama tertentu sehingga tidak menghadapi masalah pengalokasian biaya. Biaya setelah titik pisah dapat berupa biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik.

1.3. Akuntansi Produk Bersama

Biaya bersama harus dialokasikan pada setiap produk bersama. Ada tiga metode yang dapat digunakan untuk memisahkan biaya bersama, yaitu (1) metode satuan phisik (physical output method), (2) metode nilai pasar (market value at split-off method), dan (3) metode nilai realisasi neto (net realizable value method).
Dalam metode satuan phisik, alokasi biaya bersama didasarkan atas kuantitas produk yang dihasilkan. Kuantitas produk ini harus diukur dalam satuan yang sama, misal kg, ton, liter, atau galon. Jika satuan ukuran produk bersama yang dihasilkan berbeda maka harus ditentukan satuan ukuran yang ekuivalen. Karena metode satuan phisik hanya menerapkan syarat bahwa produk bersama harus mempunyai ukuran kuantitas yang sama maka kemampuan menghasilkan pendapatan (revenue-producing ability) menjadi terabaikan.
Dasar pertimbangan metode nilai pasar adalah terdapat hubungan yang nyata antara harga pokok dengan harga jual karena penentuan harga jual didasarkan atas harga pokoknya. Oleh karena itu, biaya bersama harus dialokasikan atas dasar harga jual masing-masing produk bersama. Kemampuan menghasilkan pendapatan menjadi pertimbangan di dalam mengalokasikan biaya bersama karena metode ini mengalokasikan biaya bersama atas dasar harga pasar. Dalam metode nilai pasar yang dimaksud dengan harga pasar adalah harga pasar pada titik pisah.
Jika harga pasar pada titik pisah tidak diketahui, karena untuk produk yang memerlukan proses lebih lanjut umumnya tidak mempunyai harga pasar pada titik pisah, maka untuk mengalokasikan biaya bersama digunakan metode nilai realisasi neto. Dalam metode ini alokasi biaya bersama didasarkan atas nilai realisasi neto, yaitu harga jual akhir setelah diproses lebih lanjut dikurangi tambahan biaya pemrosesan lanjutan dan biaya disposal.

1.4. Produk Sampingan

Produk sampingan adalah produk yang nilai jualnya relatif lebih rendah dibanding produk lain yang diproduksi bersama. Produk sampingan biasanya merupakan produk ikutan yang tidak bisa dihindari akan dihasilkan dari proses produksi dan produk sampingan ini bukan merupakan tujuan utama proses produksi.

1.5. Akuntansi Produk Sampingan

Masalah akuntansi terhadap produk sampingan adalah pengakuan terhadap adanya produk sampingan. Pengakuan adanya produk sampingan ini menyangkut perlakuan terhadap harga pokok produk sampingan, biaya untuk memproses produk sampingan, dan hasil penjualan produk sampingan. Ada dua metode (category) untuk mengakui keberadaan produk sampingan, yaitu (1) pada saat dijual dan (2) pada saat selesai diproduksi.
Jika digunakan category 1, produk sampingan akan diakui apabila produk sampingan tersebut sudah laku terjual. Pengakuan ini dilakukan karena nilai jual produk sampingan dianggap tidak material. Hasil penjualan dapat diakui sebagai (1) pendapatan: (a) penjualan lain-lain (other sales); atau (b) pendapatan lain-lain (other income), atau (2) pengurang harga pokok penjualan.
Jika digunakan category 2, produk sampingan diakui pada saat selesai diproses. Pengakuan produk sampingan pada saat selesai diproses karena nilai produk sampingan dianggap material. Dengan diakuinya produk sampingan pada saat selesai diproses maka pada saat itu dicatat adanya persediaan produk sampingan. Pengakuan persediaan produk sampingan ini mengakibatkan harga pokok produk utama berkurang. Ada dua metode untuk menentukan harga pokok produk sampingan, yaitu (1) metode nilai realisasi neto (net realizable value method) dan (2) metode biaya reversal (reversal cost method). Jika digunakan metode nilai realisasi neto, harga pokok produk sampingan dihitung sebesar taksiran harga jual produk sampingan dikurangi taksiran biaya produksi tambahan dan taksiran biaya administrasi dan pemasaran. Jika digunakan metode biaya reversal, harga pokok produk sampingan dihitung sebesar taksiran harga jual produk sampingan dikurangi taksiran biaya produksi tambahan dan taksiran laba kotor. Taksiran laba kotor adalah taksiran biaya administrasi dan pemasaran ditambah dengan taksiran laba bersih (laba setelah pajak).

Sumber: http://id.shvoong.com/business-management/accounting/1949691-penentuan-harga-pokok-produk-bersama/#ixzz1fo4KfLQA

Dwi Ermayanti
Lina Nasihatun Nafidah
STIE PGRI Dewantara Jombang
Abstract
Various crisis faced by Indonesian nation recently, can’t avoid the failure of government in developing governance management system which is relied on good governance principles. This is reflected on the organizational performance of public sector which is often depicated unproductive, inefficient, lower quality, impecunious of creativity and innovation, and various other criticsm. In this case, the government need to manage its area to have better governance. Therefore, the researcher is interest in analysis the implementation of good government governance at sub-province Jombang. The variable used in this research is commitment of beureucrate (X1), cultural of beureucrate (X2), quality of human resource (X3) and also implementation of good governance governmentat (Y), with overall population of laboring executive office are 896. The technics of withdrawal sample used is Simple Random Sampling and obtained by 277 respondent. These research uses primary source in the form of quitioners, and then analyses by using technics multiple linier regression. Results from this research is that the commitment of Bureaucracy ( X1 ) , Bureaucratic Culture ( X2 ) , and the Quality of Human Resources ( X3 ) effect on Implementation of Good Governance Government .
Keywords: Commitment Of Beureucrate, Cultural of Beureucrate, Quality of Human Resources and also Implementation Of Good Governance Government.

INTRODUCTION
Mencermati kondisi birokrasi pemerintah saat ini, pemikiran Peter Drucker dalam pernyataan Bappenas (2007) mesti digarisbawahi bersama, yakni ; “Sebenarnya tidak ada bangsa yang miskin atau terbelakang, yang ada adalah bangsa yang tidak terkelola (unmanaged) dengan baik”. Pemikiran Peter Drucker tersebut, dapat dijadikan sebagai pijakan hipotesis tentang faktor penyebab krisis yang melanda Indonesia khususnya citra (brand image) negatif yang melekat pada birokrasi pemerintah. Birokrasi merupakan instrument penting dalam masyarakat yang kehadirannya tak mungkin terelakkan, birokrasi adalah sebuah konsekuensi
2 Konferensi Regional Akuntansi (KRA) dan Doktoral Kolokium 2014
logis dari diterimanya hipotesis bahwa Negara mempunyai misi suci yaitu untuk mensejahterakan rakyatnya, karena itu Negara harus terlibat langsung dalam memproduksi barang dan jasa publik yang diperlukan oleh rakyatnya. Negara secara aktif terlibat dalam kehidupan sosial rakyatnya, bahkan jika perlu Negara yang memutuskan apa yang terbaik bagi rakyatnya, untuk itu Negara membangun sistem administrasi yang bertujuan untuk melayani kepentingan rakyatnya yang disebut dengan istilah birokrasi.
Good Governance merupakan semboyan yang sedang gencar-gencarnya dipromosikan oleh pemerintah, semboyan itu sekilas memang suatu hal yang sangat didambakan oleh semua sektor, baik publik maupun swasta mengingat efek domino yang dapat diwujudkan dari implementasi good governance. Response terhadap kebutuhan pembentukan sistem governance pada beberapa tahun ini adalah sangat tinggi, hal ini belajar dari pengalaman akibat banyaknya organisasi yang memiliki kinerja yang sangat tidak menggembirakan, di samping itu, tidak efektifnya perangkat hukum dan peraturan-peraturan yang berkaitan dengan organisasi adalah telah menjadi titik sentral perhatian banyak akademisi dan praktisi untuk melakukan penataan terhadap sistem governance.
Pembangunan Standar Akuntansi Sektor Publik diharapkan dapat menjadi pijakan hukum yang kuat dan jelas bagaimana pengelolaan sumber daya ekonomi Pemerintah harus dilaporkan secara adil, terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan, dengan demikian, pertanggungjawaban para eksekutif pemerintah dapat dinilai apakah mereka sudah mengelola sumber daya ekonomi secara efektif, produktif dan efisien dalam rangka memakmurkan dan mensejahterakan masyarakat.
Dalam waktu yang relatif singkat akuntansi sektor publik telah mengalami perkembangan yang sangat pesat. Saat ini terdapat perhatian yang lebih besar terhadap praktek akuntansi yang dilakukan oleh lembaga-lembaga pemerintah, perusahaan milik Negara/Daerah, dan berbagai organisasi publik lainnya dibandingkan dengan pada masa-masa sebelumnya. Terdapat tuntutan yang lebih besar dari masyarakat untuk dilakukan transparansi dan akuntabilitas publik oleh lembaga-lembaga sektor publik. Organisasi sektor publik saat ini tengah menghadapi tekanan untuk lebih efisien, memperhitungkan biaya ekonomi dan biaya sosial, serta dampak negatif atas aktivitas yang dilakukan. Berbagai tuntutan tersebut
3 Konferensi Regional Akuntansi (KRA) dan Doktoral Kolokium 2014
menyebabkan akuntansi dapat dengan cepat diterima dan diakui sebagai ilmu yang dibutuhkan untuk mengelola urusan-urusan publik. Akuntansi sektor publik pada awalnya merupakan aktivitas yang terspesialisasi dari suatu profesi yang relatif kecil. Namun demikian, saat ini akuntansi sektor publik sedang mengalami proses untuk menjadi disiplin ilmu yang dibutuhkan dan substansial keberadaannya. Seiring dengan hal tersebut maka makin marak tuntutan masyarakat terhadap penyelenggaraan dan penciptaan lembaga-lembaga sektor publik yang good public and corporate governance (Mardiasmo, 2004). Maksudnya adalah organisasi sector public dalam pengelolaanya juga harus dilakukan dengan transparansi dan akuntabilitas publik. Namun demikian, pengelolaan pemerintahan belum sesuai dengan harapan masyarakat. Masyarakat belum mendapatkan pelayanan yang optimal dari oemerintah serta transparansi dan akuntabilitas public masih rendah. Kondisi ini terjadi karena belum diimplementasikannya good governance secara optimal.
Permasalahan ini semakin rumit manakala tuntunan good governance mengharuskan perubahan berbagai aspek terkait dari semua sistem penyelenggaraan pemerintahan yang sudah tertanam lama, terlebih-lebih jika dihadapkan pada sistem pemeritahan yang sudah sangat patologis, perubahan yang diinginkan adalah meliputi aspek kinerja kepegawaian sampai dengan pertanggungjawaban penyelenggaraan pada level elite pemerintahan (Setyorini, 2004). Good governance dapat menjadi kenyataan dan berjalan dengan baik, maka dibutuhkan komitmen dan keterlibatan semua pihak yaiu pemerintah dan masyarakat. Good governance yang efektif menuntut adanya alignment (koordinasi) yang baik dan integritas, profesional serta etos kerja dan moral yang tinggi, dengan demikian penerapan konsep “good governance” dalam penyelenggaran kekuasaaan pemerintah Negara merupakan tantangan tersendiri (Sedarmayanti, 2004).
Belum teraktualisasikannya tata kepemerintahan yang baik juga dipengaruhi oleh budaya birokrasi serta masih rendahnya kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM) aparatur, rendahnya kompetensi ditandai dengan masih rendahnya komitmen dan integritas, rendahnya kemampuan atas tugas dan tanggung jawabnya, dan lemahnya inisiatif dan inovatif. Masih sedikitnya pegawai Pemerintah Kabupaten yang mempunyai tingkat pendidikan yang tidak sesuai dengan tugas dan tanggungjawabnya saat ini merupakan salah satu kendala bagi
4 Konferensi Regional Akuntansi (KRA) dan Doktoral Kolokium 2014
pemerintahan untuk menciptakan tata kelola pemerintahan yang baik. Hal tersebut salah satunya dapat dilihat dari penyusunan laporan keuangan pemerintahan kabupaten yang masih belum sesuai dengan Standar Akuntansi Pemeritah (SAP) yang telah ditetapkan.
Berdasarkan uraian di atas peneliti tertarik untuk mengetahui pencapaian / pelaksanaan good governance pada Pemerintahan Kabupaten Jombang. Agar dapat diketahui sejauh mana Implementasi Good Governance dalam Pemerintah Kabupaten Jombang serta adakah pengaruh Komitmen Birokrasi, Budaya Birokrasi serta Kualitas Sumber Daya Manusia terhadap Implementasi Good Governance pada Pemerintah Kabupaten Jombang. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh Komitmen Birokrasi, Budaya Birokrasi serta Kualitas Sumber Daya Manusia terhadap Implementasi Good Government Governance pada Pemerintah Kabupaten Jombang. Serta hasil dari penelitian ini diharapkan dapat membantu Pemkab. dalam implementasi Good Government Governance.
THEORETICAL FRAMEWORK AND HYPOTHESIS DEVELOPMENT
Komitmen Birokrasi
Komitmen adalah kesanggupan untuk melaksanakan tugas sebaik-baiknya. Komitmen birokrasi adalah kesanggupan birokrat untuk melaksanakan tugasnya dengan baik. Adapun salah satu bentuk dari komitmen birokrasi adalah memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat. Teori kelompok beranggapan bahwa supaya kelompok dapat mencapai tujuannya, maka harus terdapat pertukaran yang positif diantara pimpinan dan pengikutnya (Thoha, 2004). Teori keseimbangan yang berasal dari Theodore Newcomb yang menyatakan bahwa seseorang tertarik kepada orang lain didasarkan atas kesamaan sikap di dalam menanggapi suatu tujuan yang relevan satu sama lain (Thoha, 2004).
Dengan adanya kesamaan sikap tersebut diharapkan komitmen terhadap organisasi akan semakin tinggi karena komitmen organisasi merupakan suatu keadaan di mana seorang karyawan akan memihak pada suatu organisasi dan tujuan-tujuannya, serta berniat memelihara keanggotaan dalam organisasi itu. Adanya kepemihakan karyawan pada organisasi yang memperkerjakannya berarti ia akan bersikap dan berperilaku sesuai dengan
5 Konferensi Regional Akuntansi (KRA) dan Doktoral Kolokium 2014
sistem yang diterapkan oleh organisasi tersebut. Sehingga akan menguntungkan bagi perkembangan dan kesejahteraan kedua belah pihak.
Budaya Birokrasi
Budaya telah menjadi konsep penting dalam memahami masyarakat dan kelompok manusia untuk waktu yang lama. Stoner, dkk. (1995) dalam Susanto (2001), memberikan arti budaya sebagai gabungan kompleks asumsi, tingkah laku, cerita, mitos, metafora, dan berbagai ide lain yang menjadi satu untuk menentukan apa arti menjadi anggota masyarakat tertentu.
Budaya merupakan nilai-nilai, kebiasaan, ritual, mitos maupun praktek-praktek yang terus berkelanjutan dalam kehidupan bermasyarakat merupakan nafas yang menjiwai dan mengarahkan perilaku para anggota yang semestinya mendasari setiap gerak kehidupan bermasyarakat, dalam hal ini budaya tidak sekedar dasar, namun yang terpenting adalah budaya tersebut memiliki peran sebagai pemberi identitas dan “normative glue” (Robins, 2002).
Berasarkan berbagai uraian di atas, dapat ditarik benang merah bahwa budaya birokrasi adalah sistem nilai-nilai yang diyakini oleh semua pegawai pemerintahan dan yang dipelajari, diterapkan serta dikembangkan secara berkesinambungan, berfungsi sebagai sistem pelekat dan dapat dijadikan acuan berperilaku dalam birokrasi.
Terdapat beberapa teori utama budaya organisasi yang telah meluas dikenal di kalangan teoritisi dan praktisi organisasi. Pertama adalah teori yang dikemukakan oleh Kluckhon-Strodtbeck (dalam Robbins 2002) yang mengemukakan enam dimensi Budaya dasar. Masing-masing dimensi ini memiliki variasi yang membedakan antara budaya yang satu dengan budaya lainnya. Dimensi pertama adalah hubungan dengan lingkungan yang memiliki variasi dominasi terhadap lingkungan, harmoni dengan lingkungan, dan tunduk atau didominasi oleh lingkungan. Dimensi kedua adalah orientasi waktu yang memiliki variasi tentang orientasi pada masa lalu, masa kini, dan masa depan. Dimensi ketiga adalah kodrat atau sifat dasar manusia yang bervariasi tentang pandangan bahwa pada dasarnya manusia itu baik, atau buruk, atau campuran antara baik dan buruk. Dimensi keempat adalah orientasi kegiatan yang memiliki variasi adanya penekanan untuk melakukan tindakan, penekanan untuk menjadi atau mengalami sesuatu, dan penekanan pada upaya mengendalikan kegiatan.
6 Konferensi Regional Akuntansi (KRA) dan Doktoral Kolokium 2014
Dimensi kelima ialah fokus tanggung-jawab yang mempunyai variasi individualistis, kelompok, atau hierarkis. Dimensi terakhir yaitu konsep ruang yang tumpuan variasinya terletak pada kepemilikan ruang yang terbagi pada variasi pribadi, publik atau umum, dan campuran antara keduanya.
Teori lain yang melandasi budaya organisasi adalah Organisasi Klasik yang dikemukakan oleh Taylor dalam Hasibuan (1999) yang menyatakan bahwa untuk mencapai efisiensi intern organisasi dalam membagi tugas-tugas ke dalam peran spesialis, melengkapi dengan prosedur-prosedur dan peraturan-peraturan yang terinci, serta menetapkan suatu hirarki kekuasaan dengan pengawasan sangat ketat untuk menjamin agar peraturan dan prosedur terpenuhi.
Dari penjelasan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa budaya organisasi tidak lepas dari adanya interaksi antara lingkungan sekitar dengan manusia yang memiliki dasar sifat yang berbeda-beda. Sedangkan kinerja organisasi yang baik dapat dilakukan dengan membagi tugas-tugas ke dalam peran spesialis, melengkapi dengan prosedur-prosedur dan peraturan-peraturan yang terinci yang telah menjadi budaya dalam perusahaan.
Kualitas Sumber Daya Manusia
Dalam birokrasi sumber daya manusia merupakan factor yang teramat penting bagi jalannya roda pemerintahan. Ibarat sebuah kapal maka aparatur pemerintah adalah nahkoda kapal tersebut yang mesti harus tahu untuk apa kapal tersebut, bagaimana menjalankannya dan ke mana tujuan kapal tersebut ( Setyorini, 2004).
Sumber Daya Manusia (SDM) di pandang sebagai asset organisasi yang tak ternilai harganya. Bahkan khususnya untuk menyebut sosok SDM yang handal digunakan terminology human capital. Kendati SDM telah dipandang sebagai asset organisasi yang penting, akan tetapi masih membutuhkan pengelolaan yang baik (Setyorini, 2004).
Semakin tinggi kualitas SDM maka akan meningkatkan kinerja organisasi secara keseluruhan, karena SDM yang unggul mampu menerjemahkan misi dan visi organisasi yang cerdas. Implikasi dari unggulnya SDM akan meningkatkan nilai bagi suatu organisasi, sehingga kualitas layanan yang diberikan oleh organisasi tersebut meningkat (Munarti, 2003) dalam Zuhelmi (2004).
7 Konferensi Regional Akuntansi (KRA) dan Doktoral Kolokium 2014
Pada hakikatnya kapasitas individu terbentuk dari proses pendidikan secara umum, baik melalui pendidikan formal, nonformal maupun informal. Individu yang berkualitas adalah individu yang memiliki pengetahuan. GTZ dan USAID Clean (2001) menyatakan selain ditentukan oleh pengetahuan, ketrampilan dan kompetensinya, kapasitas individu dibentuk juga oleh factor etika (Yuhertiana, 2004).
Learning Curve Theory yang diungkapkan oleh Shu S Liao yang menyatakan bahwa Seorang karyawan memiliki tingkat pendidikan dan pengalaman yang tinggi atas suatu pekerjaan, maka waktu yang akan dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut makin singkat sehingga diharapkan juga dapat meningkat kinerjanya. (Hammer et. al, 1993).
Teori psikologi hubungan Stimulus-Respons (S-R) selalu menganggap bahwa pengalaman lama dapat memecahkan masalah baru. Maksudnya, apabila seorang pernah membuat kesalahan, dan kesalahan iu sudah diperbaiki, maka kesalahan yang sama tidak akan diperbuat lagi (Chaer, 2002).
Teori belajar menurut Faculty-psychology (Ilmu Jiwa Daya), menurut teori ini jiwa manusia terdiri dari berbagai daya seperti daya berfikir, mengenal, mengingat, mengamat dan lain-lain. Daya-daya ini dapat berkembang dan berfungsi apabila dilatih dengan bahan-bahan dan cara-cara tertentu (Ahmadi, 1990).
Dengan demikian, pendidikan, pengalaman serta pelatihan merupakan diantara faktor yang dapat meningkatkan sebuah kualitas diri seseorang dalam menjalani kehidupannya ke arah yang lebih positif atau dapat membantu seseorang dalam melaksanakan pekerjaannya.
Good Governance
Arti good dalam Good Governance mengandung dua pengertian sebagai berikut. Pertama, nilai yang menjujung tinggi keinginan atau kehendak rakyat, dan nilai yang dapat meningatkan kemampuan rakyat dalam pencapaian tujuan (nasional), kemandirian, pembangunan berkelanjutan dan keadilan sosial. Kedua, aspek fungsional dari pemerintahan yang efektif dan efisien dalam pelaksanaan tugasnya untuk mencapai tujuan tersebut (Sedarmayanti, 2003 ).
Menurut World Bank yang terdapat dalam pernyataannya Komite Pemberantasan Korupsi (KPK), Governance diartikan sebagai the way state power is used in managing economic and
8 Konferensi Regional Akuntansi (KRA) dan Doktoral Kolokium 2014
social resources for development society, dengan demikian governance adalah cara, yaitu cara bagaimana kekuasaan negara digunakan untuk mengelola sumber daya-sumber daya ekonomi dan sosial guna pembangunan masyarakat.
United Nation Development Program (UNDP) mengartikan governance sebagai the exercise of political, economic, and administrative authority to manage a nation’s affair at all levels’. Kata governance, diartikan sebagai penggunaan atau pelaksanaan, yaitu penggunaan kewenangan politik, ekonomi dan administrative untuk mengelola masalah-masalah nasional pada semua tingkatan.
Good governance diartikan sebagai tata cara penyelenggaraan pemerintahan yang baik dan benar yang didukung oleh tiga pilar / komponen utama yakni publik governance yang merujuk pada lembaga-lembaga pemerintahan, corporate governance yang merujuk pada pihak swasta / dunia usaha serta civil society yang merujuk pada masyarakat madani. Hubungan diantara ketiganya harus lahir dari kesepakatan dan cara-cara yang demokratis atau dalam posisi sejajar dan saling kontrol (checks and balance) (Hadisiswojo, 2006)
Good governance juga dapat diartikan sebagai tata kelola organisasi secara baik dengan prinsip-prinsip keterbukaan, keadilan dan dapat dipertanggungjawabkan dalam rangka mencapai tujuan organisasi.
Kerangka Konseptual
Komitmen politis dalam proses perubahan, adalah pra kondisi untuk setiap perubahan dalam tubuh pemerintahan (Sutmuller ; 2003). Seseorang tertarik kepada orang lain didasarkan atas kesamaan sikap di dalam menanggapi suatu tujuan yang relevan satu sama lain ( Teori keseimbangan oleh Theodore Newcomb dalam Thoha, 2004). Faktor-faktor budaya dan sistem politik yang belum kondusif hendaknya dapat diminimalisir pengaruhnya terhadap keinginan besar menegakkan good governance ( Syahkroza, 2003). Untuk mencapai efisiensi intern organisasi dalam membagi tugas-tugas ke dalam peran spesialis, melengkapi dengan prosedur-prosedur dan peraturan-peraturan yang terinci, serta menetapkan suatu hirarki kekuasaan dengan pengawasan sangat ketat untuk menjamin agar peraturan dan prosedur terpenuhi (Organisasi Klasik yang dikemukakan oleh Taylor dalam Hasibun, 1999). Seorang karyawan memiliki tingkat pendidikan dan pengalaman yang tinggi atas suatu pekerjaan,
9 Konferensi Regional Akuntansi (KRA) dan Doktoral Kolokium 2014
maka waktu yang akan dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut makin singkat sehingga diharapkan juga dapat meningkat kinerjanya. (Learning Curve Theory oleh Shu S Liao dalam Hammer et. al, 1993). Era globalisasi di satu pihak dan era otonomi daerah di lain pihak penuh dengan persaingan dan tantangan, sehingga membutuhkan SDM yang berkualitas (Harun,2001)
Gambar 1. Kerangka Pikir Penelitian
Hipotesis
H1 : Komitmen Birokrasi, Budaya Birokrasi serta Kualitas Sumber Daya Manusia berpengaruh terhadap Implementasi Good Governance pada Pemerintahan Daerah Jombang.
RESEARCH METHOD
Pada penelitian menjelaskan pengaruh antara variabel-variabel penelitian dan menguji hipotesis yang telah dirumuskan sebelumnya, dengan demikian jelas penelitian ini tergolong dalam jenis penelitian Explanatory Research atau penelitian penjelasan. Adapun pendekatan yang dipakai dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, di mana analisis data sangat dipengaruhi oleh variabel-variabel yang akan dianalisis. Penelitian ini bersifat kausal yang mencari hubungan antara sebab akibat, yaitu untuk mengetahui variabel yang menjadi variabel dependen, variabel independen, serta mengetahui pengaruh atau keterkaitan antara
Komitmen Birokrasi
(X1)
Budaya Birokrasi
(X2)
Kualitas
Sumber Daya Manusia
(X3)
Implementasi
Good Governance
(Y)
10 Konferensi Regional Akuntansi (KRA) dan Doktoral Kolokium 2014
variabel-variabel tersebut, hal tersebut sesuai dengan tujuan penelitian, yaitu untuk mengetahui dan menjelaskan pengaruh komitmen birokrasi, budaya birokrasi serta kualitas Sumber Daya Manusia terhadap Implementasi Good Governance.
 Komitmen Birokasi (X1)
Didefinisikan sebagai suatu kesanggupan dari diri birokrat untuk memberikan pelayanan dengan baik terhadap masyarakat sesuai dengan tuntutan profesionalisme yang ada.
 Budaya Birokrasi (X2) Didefinisikan sebagai sistem nilai-nilai yang diyakini oleh semua pegawai pemerintahan dan yang dipelajari, diterapkan serta dikembangkan secara berkesinambungan, berfungsi sebagai sistem pelekat dan dapat dijadikan acuan berperilaku dalam birokrasi.
 Kualitas Sumber Daya Manusia (X3)
Didefinisikan sebagai tingkat baik buruknya dari potensi manusia dalam hal ini pegawai pemerintah yang menjalankan sistem pemerintahan.
 Implemation Good Governance (Y) didefinisikan sebagai suatu penerapan tata kelola pemerintahan yang baik dalam hal pelayanan yang efisien serta pemerintahan yang bertanggung jawab pada publiknya.
Pengukuran variabel dilakukan dengan menggunakan skala interval yang mana angka atau bilangan merupakan lambang untuk membedakan dan mengurut peringkat berdasarkan kualitas yang ditentukan. Dengan teknik pengukuran Semantik Differential yakni skala yang tersusun dalam satu garis kontinum dengan jawaban sangat positifnya terletak di sebelah kanan, jawaban sangat negatif terletak di sebelah kiri atau sebaliknya (Sumarsono, 2002 : 25). Dalam Semantik Differential ini, responden diminta untuk menilai suatu obyek dengan menggunakan sejumlah skala dengan kata sifat yang mempunyai kebalikan yang ekstrim. Adapun skornya sebagai berikut :
Sangat tidak setuju 1 2 3 4 5 6 7 sangat setuju
Jawaban dengan nilai 1 berarti cenderung sangat tidak setuju, nilai 2 berarti tidak setuju, nilai 3 berarti kurang setuju, nilai 4 merupakan nilai tengah antara sangat tidak setuju dengan sangat setuju terhadap pertanyaan yang diberikan yaitu netral, nilai 5 berarti cukup setuju,
11 Konferensi Regional Akuntansi (KRA) dan Doktoral Kolokium 2014
nilai 6 berarti setuju dan nilai 7 berarti cenderung sangat setuju dengan pertanyaan yang
diberikan.
Populasi dalam penelitian ini adalah aparat pemerintah yang ada di bawah Sekretaris Daerah
Kabupaten Jombang Propinsi Jawa Timur yaitu Kepala Bagian dan Kepala Sub Bagian.
Pemilihan sampel pejabat (Kabag/Kasi/Setingkat) dan (Kasubag/Kasubbid/Setingkat)
didasarkan atas pertimbangan bahwa pejabat tersebut setingkat dengan low dan midle
manajer yang secara teknis terlibat dalam penilaian dan penentuan kebijakan-kebijakan di
pemerintahan. Pengambilan objek penelitian di pemerintah kabupaten Jombang disebabkan
adanya tuntutan yang lebih besar dari msyarakat agar pemerintah lebih efisien, transparan dan
akuntabel dalam implementasi APBD yang berasal dari uang rakyat. Pemilihan sampel
dilakukan secara random sampling berjumlah 277 Responden.
Mengacu pada tujuan dan hipotesis penelitian, maka model analisis yang digunakan adalah
analisis regresi linier berganda. Penggunaan model analisis ini dengan alasan untuk
mengetahui pengaruh antara variabel-variabel bebas, yaitu Pendidikan (X1), Pengalaman (X2)
dan Pelatihan (X3) terhadap pelaksanan sistem pengendalian intern (Y).
Sedangkan model regresi yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
Υ = b0 + b1X1 + b2X2 + b3X2 + e
Results
Berdasarkan hasil olah data dengan alat bantu komputer yang menggunakan program SPSS
15.0, maka hasil analisis regresi linier berganda dapar dilihat sebagai berikut :
Tabel 1 : Hasil Pengujian Regresi Linier Berganda
Coefficientsa
14.211 3.661 3.881 .000
.210 .064 .179 3.275 .001
.079 .038 .118 2.100 .037
.357 .051 .393 7.046 .000
(Constant)
Komitmen Birokrasi
Budaya Organisasi
Kualitas SDM
Model
1
B Std. Error
Unstandardized
Coef f icients
Beta
Standardized
Coef f icients
t Sig.
a. Dependent Variable: Good Governance
Berdasarkan tabel di atas dapat diperoleh model persamaan regresi sebagai berikut :
12 Konferensi Regional Akuntansi (KRA) dan Doktoral Kolokium 2014
Y = 14.211 + 0.210 X1 + 0,079 X2 + 0,357 X3
Untuk mengetahui seberapa jauh pengaruh satu variabel bebas secara individu dalam
memperngaruhi variabel terikat, maka dapat dilihat pada hasil pengujian uji t sebagai berikut
:
Tabel 2 : Hasil Pengujian Uji t
Coefficientsa
14.211 3.661 3.881 .000
.210 .064 .179 3.275 .001
.079 .038 .118 2.100 .037
.357 .051 .393 7.046 .000
(Constant)
Komitmen Birokrasi
Budaya Organisasi
Kualitas SDM
Model
1
B Std. Error
Unstandardized
Coef f icients
Beta
Standardized
Coef f icients
t Sig.
Dependent Variable: a. Good Governance
Berdasarkan tabel di atas, menunjukkan besarnya nilai thitung variabel Komitmen Birokrasi
sebesar (X1) 3,275 dengan tingkat signifikan sebesar 0,001 (lebih kecil dari 0,05). Dengan
demikian H0 ditolak dan H1 diterima yang berarti secara parsial variabel Komitmen Birokrasi
(X1) berpengaruh signifikan terhadap variabel Implementasi Good Government Governance
(Y). Sedangkan besarnya nilai thitung variabel Budaya Birokrasi sebesar (X2) 2,100 dengan
tingkat signifikan sebesar 0,037 (lebih keci dari 0,05). Dengan demikian H0 ditolak dan H1
diterima yang berarti secara parsial variabel Budaya Birokrasi (X2) berpengaruh signifikan
terhadap variabel Implementasi Good Government Governance (Y). Dan besarnya nilai thitung
variabel Kualitas Sumber Daya manusia sebesar (X3) 7,046 dengan tingkat signifikan sebesar
0,000 (lebih kecil dari 0,05). Dengan demikian H0 ditolak dan H1 diterima yang berarti secara
parsial variabel Kualitas Sumber Daya Manusia (X3) berpengaruh signifikan terhadap
variabel Implementasi Good Government Governance (Y).
Untuk mengetahui kesesuaian model regresi yang digunakan untuk memprediksi tingkat
signifikansi pengaruh Pendidikan (X1), Pengalaman (X2) dan Pelatihan (X3) terhadap
Implementasi Good Government Governance (Y), maka dilakukan uji kesesuaian model
dengan menggunakan alat bantu computer dengan program SPSS 15.0 dengan hasil sebagai
berikut:
13 Konferensi Regional Akuntansi (KRA) dan Doktoral Kolokium 2014
Tabel 3 : Hasil Pengujian
ANOVAb
1437.702 3 479.234 29.143 .000a
4291.936 261 16.444
5729.638 264
Regression
Residual
Total
Model
1
Sum of
Squares df Mean Square F Sig.
a. Predictors: (Constant), Kualitas SDM, Komitmen Birokrasi, Budaya Organisasi
b. Dependent Variable: Good Governance
Berdasarkan pada tabel di atas menunjukkan bahwa besarnya nilai Fhitung sebesar 29,143
dengan tingkat taraf signifikansi sebesar 0,000 (lebih kecil dari 0,05), maka H0 ditolak dan H1
diterima yang berarti model regresi yang dihasilkan cocok guna melihat pengaruh Komitmen
Birokrasi (X1), Budaya Birokrasi (X2) dan Kualitas Sumber Daya Manusia (X3) terhadap
Implementasi Good Government Governance (Y).
Dari hasil pengujian juga diperoleh nilai R square yang dapat dilihat pada tabel sebagai
berikut:
Tabel 4 : Hasil Pengujian
Model Summaryb
.501a .251 .242 4.055 .701
Model
1
R R Square
Adjusted
R Square
Std. Error of
the Est imate
Durbin-
Watson
Predictors: (Constant ), Kualitas SDM, Komitmen Birokrasi, Budaya
Organisasi
a.
b. Dependent Variable: Good Governance
Berdasarkan tabel di atas menunjukkan besarnya nilai koefisien Determinasi (R square / R2)
sebesar 0,251, hal ini menunjukkan bahwa perubahan yang terjadi pada variabel
Implementasi Good Government Governance (Y) sebesar 25,1% dipengaruhi oleh variabel
Komitmen Birokrasi (X1), Budaya Birokrasi (X2) dan Kualitas Sumber Daya Manusia (X3).
Dengan demikian berdasarkan hasil pengujian regresi baik secara Ujit maupun Uji F dengan
alat bantu analisis SPSS 15.0, dari pengujian kesesuaian model (Uji F) diketahui bahwa
model regresi yang dihasilkan cocok guna melihat pengaruh Komitmen Birokrasi (X1),
Budaya Birokrasi (X2) dan Kualitas Sumber Daya Manusia (X3) terhadap Implementasi Good
14 Konferensi Regional Akuntansi (KRA) dan Doktoral Kolokium 2014
Government Governance (Y). Sedangkan dari Uji t diketahui bahwa Komitmem Birokrasi (X1) berpengaruh secara signifikan terhadap Implementasi Good Government Governance (Y). Budaya Birokrasi (X2) berpengaruh secara signifikan terhadap Implementasi Good Government Governance (Y) dan Kualitas Sumber Daya Manusia (X3) berpengaruh secara signifikan terhadap Implementasi Good Government Governance (Y).
Berdasarkan hasil pengujian terhadap beberapa hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini, diperoleh hasil sebagai berikut : Hipotesis Pertama (H1) yang menyatakan Variabel Komitmen Birokrasi (X1), Budaya Birokrasi (X2) dan Kualitas Sumber Daya Manusia (X3) berpengaruh Terhadap Implementasi Good Governance (Y) terbukti kebenarannya.
CONCLUSION, IMPLICATION AND LIMITATION
Dari hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan pada bab sebelumnya, maka dapat ditarik kesimpulan dari hipotesis-hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini yakni berdasarkan Hipotesis Pertama (H1) yang menyatakan Variabel Komitmen Birokrasi (X1), Budaya Birokrasi (X2) dan Kualitas Sumber Daya Manusia (X3) berpengaruh Terhadap Implementasi Good Governance (Y) terbukti kebenarannya.
Dengan demikian Bagi pemerintah kabupaten Jombang disarankan untuk lebih memperhatikan, mempertahankan serta meningkatkan Komitmen birokrasi, hal ini harus dipertahankan dan ditingkatkan ke arah yang lebih baik demi tercapainya visi dan misi yang telah ditetapkan. Hal tersebut, salah satunya dapat dilakukan melalui pemberian pelayanan kepada semua lapisan masyarakat yang membutuhkan secara profesional (pelayanan yang baik). Budaya birokrasi diharapkan untuk dipertahankan dan ditingkatkan, hal tersebut salah satunya dapat diimplementasikan melalui perilaku para pegawai dalam menghargai dan menghormati pegawai lainnya. Pengembangan kualitas sumber daya manusianya (aparat pemerintahan) perlu untuk ditingkatkan, di mana salah satunya dapat diimplementasikan melalui pengadaan pelatihan-pelatihan yang sesuai dengan instansi masing-masing sehingga hasil dari pelatihan tersebut benar-benar dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia (Aparat Pemerintahan) yang pada akhirnya dapat membantu aparat pemerintah dalam menyelesaikan kinerjanya dengan baik.
15 Konferensi Regional Akuntansi (KRA) dan Doktoral Kolokium 2014
Di samping itu Pemkab. Jombang juga harus memperhatikan faktor-faktor lain yang mempunyai pengaruh terhadap implementasi Good Government Governance. Hasil penelitian ini mendukung beberapa teori yang dijadikan sebagai landasan dalam penelitian ini. Di samping itu, hasil penelitian ini juga bertentagan dengan beberapa teori yang dijadikan sebagai landasan penelitian ini. Teori-teori tersebut adalah sebagai berikut : Teori kelompok dan Teori keseimbangan oleh Theodore Newcomb, kedua teori tersebut melandasi komitmen serta Organisasi Klasik yang dikemukakan oleh Taylor dan teori yang dikemukakan oleh Kluckhon-Strodtbeck, yang melandasi budaya. Hasil dari penelitian ini mendukung teori-teori tersebut. Learning Curve Theory oleh Shu S Liao, Teori psikologi hubungan Stimulus-Respons (S-R) serta Teori belajar menurut Faculty-psychology (Ilmu Jiwa Daya). Ketiga teori tersebut melandasi kuaitas sumber daya manusia yakni pelatihan, pengalaman dan pelatihan. Hasil dari penelitian ini bertentangan dengan ketiga teori tersebut.
Hal tersebut, diharapkan dapat dijadikan sebagai reverensi yang bermanfaat guna pengembangan penelitian ke depan. Untuk peneliti selanjutnya diharapkan untuk dapat menggunakan faktor-faktor lain yang mempengaruhi implementasi Good Government Governance di samping faktor-faktor yang ada dalam penelitian ini, hal tersebut, harus disesuaikan dengan permasalahan yang ada, karena masing-masing daerah mempunyai kendala-kendala atau permasalahan yang berbeda dalam implementasi Good Governance, dan untuk penelitian tentang implementasi Good Governance agar dapat hasil yang lebih optimal dapat dilakukan dengan penelitian jenis kualitatif dikarenakan dengan penelitian kualitatif peneliti akan lebih mengetahui sebatas mana implementasi Good Governance serta kendala-kendala yang dihadapinya.
Dalam penelitian ini terdapat keterbatasan penelitian, yakni, Penelitian ini merupakan penelitian persepsi yang dilakukan dengan cara menilai diri sendiri sehingga lebih cenderung subjektif. Hasil penelitian ini dilakukan pada pemerintah kabupaten Jombang, sehingga hasil temuan ini hanya berlaku untuk implementasi Good Government Governance pada pemerintah kabupaten Jombang (tidak dapat digeneralisasikan). Hal tersebut dikarenakan setiap daerah mempunyai kondisi yang berbeda-beda sehingga kendala-kendala yang dihadapi dalam implementasi Good Government Governance berbeda pula.
16 Konferensi Regional Akuntansi (KRA) dan Doktoral Kolokium 2014
REFERENCES
Bappenas, 2007, Indikator-Indikator Good Governance, Badan Pengawas Nasional, Jakarta
Basri, Yesi Mutia, 2008, Pengaruh Pemahaman Prinsip-Prinsip Good Governance terhadap Kinerja Pemerintah daerah : Komitmen Organisasi Sebagai Mediasi, Jurnal Akuntabilitas Vol. 1, No. 1, Februari.
Bawono, Leuk Rangga, 2004, Problematika Penerapan Good Governance Di Indonesia, Jurnal Akuntansi dan Keuangan Sektor Publik, Yogyakarta
Chear, Abdul, Psikolinguistik Kajian Teoritik, 2003, Penerbit Rineka CIPTA, Jakarta
Hardjapamekas, Erry Riana, 2003, Reformasi Birokrasi Sebagai Syarat Penegakan dan Pemberantasan KKN, Transparency International Indonesia, Denpasar
Harun, Cut Zahri, 2003, Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia Melalui Pendidikan Merupakan Kunci Keberhasilan Suatu Lembaga di Era Globalisasi dan Otonomi Daerah, http://www.Depdiknas.go.id
Kurnia, Intan Alice, 2004, Pengaruh Variabel-Variabel Karakteristik Individu, Karakteristik Pekerjaan dan Karakteristik Organisasi Terhadap Komitmen Serta Kinerja Karyawan, Tesis, Program Pasca Sarjana Universitas Airlangga, Surabaya
Mardiasmo, 2009, Akuntansi Sektor Publik, Penerbit ANDI Offset, Yogjakarta
Rahmasari, Anggraini, 2008, Penerapan Good Governance dan Perubahan Budaya Organisasi Pegawai Pemerintah Kota Blitar, Jurnal, Vol.2, No. 2, Juni, 2008
Sedarmayanti, 2004, Good Governance ( Kepemerintahan yang Baik), Penerbit Mandar Maju, Bandung
Setyorini, Th., Dewi, 2004 Peran Pemimpin dalam Pengejawantahan Budaya, Jakarta
Syakhroza, Achmad, 2003, Arah dan Perkembangan Organisasi Profesi Sektor Publik : dalam Prespektif Reformasi Keuangan dan Good Government Governance, Jurnal Akuntansi dan Keunangan Sektor Publik
Thoha, 2004, Perilaku Organisasi Konsep Dasar & Aplikasinya, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta
Umar, Husein, 2003, Metode Riset Akuntansi Terapan, Penerbit Ghalia, Jakarta.
17 Konferensi Regional Akuntansi (KRA) dan Doktoral Kolokium 2014
Yuhertina, Indrawati, 2004, Kapasitas Individu dalam Dimensi Budaya, Keberadaan Tekanan Sosial dan Keterkaitannya dengan Budgetary Slack ( Senjangan Anggaran), Proceeding SNA VII, Udayana, Denpasar 1-2 Desember 2004
Appendix
Sponsorship by:
Supported by:
Universitas Brawijaya, Universitas Surabaya, Universitas Negeri Surabaya, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Malangkucecwara, Universitas Jember, Universitas Muhammadiyah Surabaya, Universitas Gajayana Malang, UPN “Veteran” Jawa Timur, Universitas Trunojoyo, Universitas Katholik Widyamandala Surabaya, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, Universitas Kanjuruhan Malang, Universitas Ciputra, Universitas Kristen Petra, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Perbanas Surabaya,
Universitas Negeri Malang
Sekretariat KRA 2014:
Departemen Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga
Jl. Airlangga No. 4 Surabaya, Jawa Timur, 031-5033642, ext. 120, Fax. 5026288
E-mail: depakfeua@gmail.com
IAI KAPd Wilayah Jawa Timur
Jl. Ngagel No. 143 D – Surabaya 60246. Telp.: (031) 502 1125 ; Fax.: (031) 503 4633
E-mail: iaikapdjatim@gmail.com

 


Blog Stats

  • 2,231,583 hits