Kuliah Akuntansi

Pemenuhan kebutuhan dana untuk membiayai aktivitas operasional perusahaan dapat ditempuh dengan berbagai upaya. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan menjual saham ke masyarakat umum melalui pasar modal. Disamping pasar modal merupakan sarana untuk menyerahkan dana masyarakat di luar perbankan, pasar modal juga merupakan sumber dana yang sangat potensial bagi perusahaan yang membutuhkan dana jangka panjang, sedangkan bagi masyarakat, pasar modal dapat dijadikan sebagai alternatif untuk berinvestasi, karena pasar modal merupakan mediator yang mempertemukan antara masyarakat yang mempunyai kelebihan dana untuk selanjutnya bertindak sebagai investor, dengan pihak yang membutuhkan dana yakni perusahaan yang melakukan initial public offering (IPO) atau penawaran saham perdana ke public sebelum status perusahaan tersebut berubah menjadi perusahaan public (go public).

IPO merupakan suatu cara bagi perusahaan yang sedang berkembang untuk mendapatkan tambahan dana dalam rangka pembiayaan ataupun pengembangan usaha seperti pelunasan hutang, perluasan usaha, maupun untuk memperkuat struktur permodalan perusahaan. Agar dana yang didapatkan dari IPO sesuai dengan yang diharapkan, maka saham-saham yang ditawarkan pada saat IPO harus diserap secara maksimal oleh investor. Investor akan merespon dengan baik jika perusahaan menunjukkan prospek yang baik di masa datang. Hal ini ditunjukkan dari informasi yang diperoleh dari perusahaan, baik informasi akuntansi maupun non akuntansi yang menunjukkan bahwa perusahaan tersebut mengalami pertumbuhan. Informasi merupakan suatu fakta, data, pengamatan, dan persepsi yang menambah pengetahuan. Informasi diperlukan investor untuk mengurangi ketidakpastian dalam pembuatan keputusan investasi. Para pemilik modal memerlukan informasi yang potensial yang dapat memberikan kontribusi langsung di dalam menentukan berbagai alternative tindakan yang bisa dijadikan pertimbangan di dalam perencanaan, pengendalian dan pengambilan keputusan. Apabila kinerja perusahaan terlihat baik yang tercermin dari informasi akuntansi dan non akuntansi yang dipublikasikan pada saat IPO, maka investor akan merespon dengan membeli saham-saham yang ditawarkan.

Pada saat perusahaan melakukan IPO yang dilaksanakan di pasar primer (primary market), tidak ada harga pasar saham sampai dimulainya penjualan di pasar sekunder. Pada saat tersebut umumnya investor memiliki informasi terbatas seperti yang diungkapkan dalam prospectus. Dengan demikian investor yang ingin menanamkan modalnya hanya memiliki informasi tentang perusahaan sebatas yang diinformasikan pada prospectus tersebut. Prospektus merupakan suatu laporan yang disyaratkan Bapepam kepada perusahaan yang ingin listing di pasar modal, yang berisikan gambaran umum perusahaan yang memuat keterangan secara lengkap dan jujur keadaan perusahaan dan prospeknya di masa mendatang serta memuat informasi-informasi yang diperlukan sehubungan dengan penawaran umum.

Dalam proses penawaran perdana, emiten membutuhkan keterlibatan penjamin emisi sebagai perantara dalam penjualan saham dengan investor. Harga saham pada penawaran perdana ditentukan berdasarkan kesepakatan antara perusahaan emiten dengan penjamin emisi, sedangkan harga di pasar sekunder ditentukan oleh mekanisme pasar atau permintaan dan penawaran. Permasalahan penting yang dihadapi emiten pada saat melakukan penawaran saham perdana adalah penutupan besarnya harga saham perdana. Sedangkan sebagai pihak yang membutuhkan dana, emiten menginginkan harga yang tinggi. Di sisi lain, harga yang tinggi akan mempengaruhi respon calon investor untuk membeli saham yang ditawarkan. Sebaliknya, penjamin emisi berusaha untuk meminimalkan resiko yang ditanggungnya. Tipe penjaminan yang berlaku di Indonesia adalah full commitment, dimana pihak penjamin emisi akan membeli saham yang tidak habis terjual saat penawaran perdana. Keadaan ini membuat penjamin emisi berupaya untuk meminimalkan resiko dengan melakukan negosiasi dengan emiten agar harga saham-saham tersebut tidak terlalu tinggi, bahkan cenderung underprice. Harga saham pada penawaran perdana yang relatif rendah, disebabkan adanya asimetri informasi di pasar perdana (Trisnawati, 1998). Informasi asimetri ini dapat terjadi antara perusahaan emiten dengan perusahaan penjamin (Baron, 1982), atau antara investor informed dengan uninformed (Rock, 1986).

Alasan inilah yang menyebabkan pada penerbitan saham perdana atau IPO sering dijumpai fenomena underpricing (Ernyan dan Suad Husnan, 2002). Underpricing adalah suatu keadaan dimana harga saham pada saat penawaran perdana lebih rendah dibandingkan ketika diperdagangkan dipasar sekunder. Underpricing bisa juga diartikan sebagai selisih positif antara harga saham dipasar sekunder dengan harga saham di pasar perdana pada saat IPO. Selisih harga inilah yang kita kenal dengan istilah initial return atau return positif bagi investor.

Laporan keuangan merupakan salah satu sumber informasi yang digunakan oleh investor/calon investor, dan underwriter untuk menilai perusahaan yang akan melakukan IPO. Agar laporan keuangan lebih dapat dipercaya, maka laporan keuangan harus diaudit. Salah satu persyaratan dalam proses IPO adalah laporan keuangannya telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik dan Keputusan Menteri Keuangan RI No. 859/KMK.01/1987. Laporan keuangan yang telah diaudit akan memberikan tingkat kepercayaan yang lebih besar kepada pemakainya. Adanya laporan keuangan yang dapat dipercaya pemakai tersebut, akan mengurangi terjadinya asimetri informasi.
Auditor yang berkualitas akan menerima premium harga terhadap kualitas pengauditannya yang lebih baik (Titman dan Trueman, 1986; Beatty, 1989).

Auditor yang berkualitas akan dihargai di pasaran dalam bentuk peningkatan permintaan jasa audit. Hasil pengujian auditor ini sangat dibutuhkan oleh pihak-pihak yang berkepentingan untuk pengambilan keputusan. Auditor yang mempunyai banyak klien berarti auditor tersebut mendapat kepercayaan yang lebih dari klien untuk membawa nilai perusahaan klien ke pasar modal (Kartini dan Payamta, 2002). Firth dan Liau-Tan (1998) mengungkapkan bahwa perusahaan yang melakukan IPO yang memiliki risiko khusus yang lebih tinggi, memilik insentip untuk memilih auditor yang dipersepsikan memiliki kualitas yang tinggi. Auditor yang berkualitas akan dihargai di pasaran dalam bentuk peningkatan permintaan jasa audit. Perusahaan yang akan melakukan IPO akan memilih auditor yang memiliki reputasi baik. Investment banker yang memiliki reputasi tinggi akan menggunakan auditor yang mempunyai reputasi pula. Investment banker dan auditor yang memiliki reputasi, keduanya akan mengurangi underprincing (Balver, et.al., 1988).

Beatty (1989) mengemukakan terdapat hubungan negatif antara reputasi auditor dengan initial return. Dikemukakan pula bahwa faktor-faktor yang disebutkan sebagai ex-ante uncertainty yang merupakan variabel control, yaitu reputasi penjamin emisi, prosentase penawaran saham, umur perusahaan, tipe penjamin emisi dan indikator perusahaan minyak dan gas mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap initial return. Carter dan Manaster (1990) mengemukakan bahwa reputasi penjamin emisi, prosentase penawaran saham, log offer-size, dan umur perusahaan berpengaruh secara signifikan terhadap initial return. Penelitian serupa di Indonesia dilakukan oleh Trisnawati (1999) dengan mengambil sampel di Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk pengamatan tahun 1994 dan 1995. Dari hasil penelitiannya ia tidak berhasil menemukan hubungan antara kualitas auditor dengan initial return. Akan tetapi, hasil penelitian tersebut mengungkapkan adanya hubungan yang signifikan antara umur perusahaan dengan initial return.

Konservatisme adalah prinsip dalam pelaporan keuangan yang dimaksudkan untuk mengakui dan mengukur aktiva dan laba dilakukandengan penuh kehati-hatian oleh karena aktivitas ekonomi dan bisnis yang dilingkupi ketidakpastian (Wibowo, 2002). Implikasi dari penerapan prinsip ini adalah pilihan metode akuntansi ditujukan pada metode yang melaporkan laba dan aktiva lebih rendah atau utang lebih tinggi. Peneliti lain, Basu (1997) mendefinisikan konservatisme sebagai praktik mengurangi laba (dan mengecilkan aktiva bersih) dalam merespons berita buruk (bad news), tetapi tidak meningkatkan laba (meninggikan aktiva bersih) dalam merespons berita baik (good news).

Praktik konservatisme bisa terjadi karena standar akuntansi yang berlaku di Indonesia memperbolehkan perusahaan untuk memilih salah satu metode akuntansi dari kumpulan metode yang diperbolehkan pada situasi yang sama. Misalnya, PSAK No. 14 mengenai persediaan, PSAK No. 17 mengenai akuntansi penyusutan, PSAK No. 19 mengenai aktiva tidak berwujud dan PSAK No. 20 mengenai biaya riset dan pengembangan. Akibat dari fleksibelitas dalam pemilihan metode akuntansi adalah terhadap angka-angka dalam laporan keuangan, baik laporan neraca maupun laba-rugi. Penerapan metode akuntansi yang berbeda akan menghasilkan angka yang berbeda dalam laporan keuangan.

Widya (2004) telah meneliti penerapan akuntansi konservatif di indonesia. Widya (2004) melaporkan 76,9 % dari 75 perusahaan di BEJ pada periode 1995-2002 menerapkan akuntansi konservatif. Faktor-faktor yang menjelaskan praktik akuntansi konservatif adalah konsentrasi kepemilikan di Indonesia, kontrak utang, kos potlitis dan pertumbuhan. Semua faktor secara signifikan menjelaskan praktik akuntansi konservatif kecuali kontrak utang. Dahlia Sari (2004) meneliti peran akuntansi konservatif dalam mengurangi konflik antara pemegang saham dan pemegang obligasi pada saat pengumuman deviden. Hasil penelitian mendukung hipotesis penelitian bahwa konservatisme berperan dalam perusahaan yang menghadapi konflik pemegang saham-pemegang obligasi.

Panman dan Zhang (2002) menjelaskan kualitas laba yang dihasilkan tergantung dari pertumbuhan investasi perusahaan. Pertumbuhan investasi yang temporer atau berfluktuasi akan menghasilkan tingkat pengembalian (rate of return) yang temporer atau berfluktuasi sehingga menghasilkan kualitas laba yang rendah. Penerapan akuntansi konservatif akan menghasilkan laba yang berfluktuasi (tidak persisten).

Studi determinan ERC diarahkan untuk mengidentifikasi faktorfaktor yang mempengaruhi ERC. Studi determinan diawali dengan model penilaian nilai sekarang dari aliran kas yang standar dalam literature ekonomi dan keuangan (Kothari, 2001). Didalam usaha untuk menghubungkan laba dan return sekuritas, diasumsikan terdapat hubungan antara revisi ekspektasi laba oleh pasar dan aliran kas. Perubahan harga dalam merespons satu rupiah laba yang dihasilkan adalah satu rupiah laba ditambah dengan nilai sekarang dari revisi ekspektasi laba masa depan. Beberapa faktor yang diidentifikasi dalam studi sebelumnya meliputi persistensi laba, daya prediksi laba, pertumbuhan, dan struktur modal.

Panman dan Zhang (2002) menemukan bahwa perusahaan yang menerapkan akuntansi konservatif dan pertumbuhan investasi temporer akan menghasilkan tingkat pengembalian yang temporer atau laba yang berfluktuasi. Penjelasannya adalah praktik akuntansi konservatif akan membebankan biaya mengakui rugi pada periode terjadinya, sebaliknya mengakui pendapatan dan keuantungan apabila benar-benar telah terealisasi, sehingga laba yang dihasilkan akan lebih rendah pada periode bersangkutan dibandingkan apabila perusahaan yang menganut prinsip yang lebih optimis. Apabila periode berikutnya tidak terjadi atau terjadi penurunan biaya, atau pendapatan telah terealisasi maka laba periode berikutnya akan dilaporkan lebih tinggi untuk perusahaan yang menganut prinsip konservatima. Sehingga laba yang dilaporkan untuk perusahaan yang menganut prinsip konservatisme cenderung lebih berfluktuatif dari pada perusahaan yang menganut prinsip akuntansi yang lebih optimis.

Laba yang berfluktuatif memiliki daya prediksi yang lebih rendah dari pada laba yang lebih stabil untuk memprediksi aliran kas masa depan. Sehingga laba perusahaan yang menerapkan prinsip akuntansi konservatif akan memilki daya prediksi yang lebih rendah dari pada laba perusahaan yang menerapkan prinsip akuntansi yang lebih optimis.

Prinsip akuntansi konservatif cenderung membuat laba lebih berfluktuasi (Zhang dan Panman, 2002). Laba yang berfluktuasi akan atau tidak persisten akan memiliki daya prediksi yang rendah. Penurunan daya prediksi laba dapat mengakibatkan informasi laba tahun berjalan menjadi kurang bermanfaat dalam memprediksi laba masa depan.

Pengukuran Koefisien Respon Laba

Variabel return abnormal kumulatif saham (CAR) yang digunakan dalam penelitian merupakan abnormal return sepanjang periode jendela.

Rumus penghitungan CAR:

CARi = S AR i,t

CARi = abnormal return kumulatif perusahaan i pada 5 hari sebelum dan 5 hari sesudah laporan keuangan dipublikasikan

AR i,t = jumlah abnormal return sekuritas perusahaan i selama periode jendela.

Variabel laba non ekspektasian dalam penelitian ini (UE) merupakan proksi laba akuntansi yang menunjukkan hasil kinerja perusahaan selama periode tertentu.

Dalam penelitian ini UE dihitung dengan metode random walk:

UEit = (Ei,t – E i, t-1) / | E i, t-1|

dengan,

UEit = laba non ekspektasian perusahaan i pada periode t

Ei,t = laba akuntansi perusahaan i pada periode t

E i, t-1 = laba akuntansi perusahaan i pada periode t-1

Koefisien respon laba merupakan koefisien yang diperoleh dari regresi antara proksi harga saham dan laba akuntansi. Proksi harga saham yang digunakan adalah CAR, sedangkan proksi laba akuntansi adalah UE. Besarnya koefisien respon laba (a1) dihitung dengan persamaan regresi atas data tiap perusahaan:

CARi(-5,+5) = a0 + a1UEit + a2RTit + eit

CARi = abnormal return kumulatif perusahaan i pada 5 hari sebelum dan 5 hari sesudah laporan keuangan dipublikasikan

UEit = laba non ekspektasian perusahaan i pada periode t

RTit = return saham tahunan

¨Pengukuran Persistensi Laba Akuntansi

Penelitian ini menggunakan koefisien regresi dari regresi antara laba periode sekarang dengan periode yang akan datang, sebagai proksi persistensi laba akuntansi. Hal ini mengacu pada penelitian Lipe (1990). Persamaan regresi yang digunakan untuk mengukur variabel ini adalah:

Eit+1 = a + bEit + e

dengan,

b = persistensi laba akuntansi selama satu tahun amatan penelitian (PERST)

Eit+1 = laba akuntansi perusahaan i pada tahun setelah t

Eit = laba akuntansi perusahaan i pada tahun t

¨Pengukuran Prediktabilitas Laba Akuntansi

Variabel prediktabilitas laba akuntansi diukur dengan menggunakan variansi goncangan laba akuntansi (variance of earnings shock) dari laba akuntansi selama runtut waktu tertentu (Lipe, 1990). Variabel ini diproksikan sebagai error dari persamaan regresi sebagai berikut:

Eit = a + bEit-1 + e

dengan,

e = variansi goncangan laba akuntansi dari laba akuntansi runtut waktu

Eit-1 = laba akuntansi perusahaan i pada tahun sebelum tahun t

Eit = laba akuntansi perusahaan i pada tahun t

¨Pengukuran Kesempatan Bertumbuh (Growth Opportunities)

Variabel kesempatan bertumbuh diukur dengan rasio nilai pasar ekuitas terhadap nilai buku ekuitas perusahaan pada awal tahun amatan (Collins dan Kothari, 1989). Nilai buku ekuitas diperoleh dari neraca akhir tahun, sedangkan nilai pasar ekuitas dihitung dengan mengalikan harga saham (harga penutupan) pada hari pertama perdangan dengan total saham beredar pada akhir tahun (kecuali terdapat perubahan jumlah saham beredar pada hari pertama perdagangan).

¨Pengukuran Ukuran Perusahaan

Penelitian ini menggunakan nilai pasar ekuitas sebagai proksi ukuran perusahaan (Collins dan Kothari, 1989; Easton dan Zmijewski, 1989). Nilai pasar ekuitas suatu perusahaan pada tahun tertentu dihitung dengan mengalikan harga saham perusahaan dengan jumlah saham beredar pada akhir tahun

¨Pengukuran resiko Kegagalan Perusahaan

Mengacu pada penelitian Dhaliwal dan Reynolds (1994) dan Kim et al. (2000), maka penelitian ini mengukur besarnya risiko kegagalan perusahaan dengan menggunakan tingkat leverage perusahaan. Leverage keuangan ini dihitung berdasarkan rasio dari nilai gbuku total dan aktiva total yaitu:

Lit = TUit/TAit

dengan,

Lit = leverage perusahaan i pada tahun t

TUit = total utang perusahaan i pada tahun t

TAit = total aktiva perusahaan i pada tahun t

¨ Pengukuran Risiko Sistematik Perusahaan

Untuk pasar modal yang berkembang seperti Indonesia yang transaksi perdagangannya sangat tipis sehingga kemungkinan transaksi perdagangannnya tidak sinkron,

Hubungan Aliran Dana Asing dan IHSG

Choe, Kho, dan Stulz (2001) menemukan bahwa sebelum krisis Asia, investor
institusional domestik di Korea cenderung melakukan perdagangan secara negative feedback artinya membeli saham-saham yang baru saja turun harganya dan menjual saham-saham yang baru saja naik. Investor asing, sebaliknya, melakukan positive feedback yaitu menjual saham yang turun dan membeli saham yang naik. Sedangkan Chen (2000) dalam kertas kerjanya
menyatakan bahwa di bursa Taiwan, investor asing adalah positive feedback traders.

investor asing, terutama investor institusi, mempunyai dampak besar terhadap pasar saham Indonesia. Pasar sangat sensitif terhadap
transaksi penjualan yang dilakukan investor asing kepada investor domestik.

Neal, Jones, Linnan, dan Neal (2002) juga menemukan bahwa identitas asing di BEJ sangat transparan pada setiap transaksi sehingga herding (ikut-ikutan) secara sengaja jauh lebih mudah. Mereka mendeteksi adanya herding dan perdagangan positive feedback oleh investor asing.

Froot dan Ramadorai (2001) menyatakan investor asing lebih unggul informasi daripada investor lokal.

Hubungan Kurs dan IHSG
Hubungan dinamis antara pergerakan nilai tukar (kurs) dan pasar modal sudah banyak diteliti. Kita ketahui bersama, untuk investor asing di BEI, perhitungan return dari investasi dalam portofolio saham di Indonesia tidak hanya dari kenaikan harga-harga saham dalam portofolionya. Mereka juga memperhitungkan nilai tukar atau kurs, biasanya kurs dolar AS,
dalam keputusan investasinya.

Secara umum, ada dua pendekatan untuk menganalisa hubungan kedua variabel itu (Novita dan Nachrowi, 2005). Menurut Novita dan Nachrowi, kedua pendekatan itu adalah pendekatan pasar barang tradisional, juga dikenal sebagai model kurs berorientasi aliran(flow-oriented) yang dikembangkan oleh Dornbusch dan Fischer (1980). Pendekatan lainnya adalah pendekatan portofolio atau stock-oriented yang dikembangkan Branson (1983) dan
Frankel (1983). Pendekatan tradisional menyatakan pergerakan kurs (nilai tukar) akan mempengaruhi daya saing internasional dan neraca pembayaran. Pengaruh ini pada akhirnya akan berimbas pada aliran kas perusahaan dan harga sahamnya.

Pendekatan portofolio berpendapat lain bahwa pasar modallah yang justru
mempengaruhi kurs melalui permintaan akan uang. Pendekatan ini menekankan adanya hubungan positif antara harga saham dan kurs, bahwa fluktuasi harga sahamlah yang mempengaruhi fluktuasi kurs. Harga saham yang turun akan membuat permintaan uang turun, yang pada akhirnya menyebabkan suku bunga juga turun. Mata uang yang suku bunganya turun selanjutnya akan mengalami depresiasi (pelemahan nilai tukar).

Hubungan Indeks Regional dan IHSG
Dengan semakin terintegrasinya perekonomian global dan menyatunya pasar uang beberapa negara dalam wilayah yang berdekatan, ketergantungan ekonomi suatu negara pada ekonomi dunia juga semakin besar. Demikian juga yang terjadi dengan pasar modal suatu negara.

Nachrowi dan Usman (2006) menjelaskan bahwa pasar modal yang kuat dapat
mempengaruhi pasar modal yang lemah. Sebagai salah satu pasar modal yang sedang berkembang, BEJ diduga sangat dipengaruhi indeks pasar saham dunia dan Asia yang berkapitalisasi besar yaitu Dow Jones Industrial Average (DJIA) dari bursa saham New York, Nikkei 225 (bursa saham Tokyo), dan Hang Seng (bursa saham Hong Kong). Indeks ketiga bursa itu dapat digunakan sebagai salah satu variabel independen yang menentukan
pergerakan IHSG.

Pengertian Reksa Dana
Secara umum Reksa dana yang dalam adalah wadah dan pola pengelolaan dana bagi sekumpulan investor untuk berinvestasi dalam instrumen-instrumen investasi yang tersedia di Pasar dengan cara membeli unit penyertaan Reksa Dana.

Dana ini kemudian dikelola oleh Manajer Investasi (MI) ke dalam portofolio investasi, baik berupa saham, obligasi, pasar uang ataupun efek atau sekuriti lainnya. Reksa Dana berasal dari kata “Reksa” yang berarti jaga atau pelihara dan kata “Dana” berarti uang. Sehingga Reksa Dana pada umumnya diartikan sebagai kumpulan uang yang dipelihara. Reksa dana yang dalam bahasa asalnya disebut mutual fund adalah salah satu investasi dmana oara investor secara bersama-sama melakukan investasi dalam suatu himpunan dana ntuk diinvestasikan dalam berbagai bentuk investasi seperti saham, obliasi, ataupun melalui tabungan atau sertifikat
deposito di bank-bank. Dengan demikian reksa dana adalah diversifikasi dalam portofolio yang dikelola oleh manajer investasi di perusahaan reksa dana (Asril Sitompul, 2002:2)

Di luar negeri, terdapat bermacam istilah yang digunakan untuk reksa dana.Misalnya di Amerika Serikat, reksa dana dikenal dengan istilah Mutual Fund, Di Inggris dikenal dengan sebutan Unit Trust, sedangkan di Jepang disebut sebagai Investment Trust.

Berdasarkan Undang-Undang Pasar Modal No. 8 Tahun 1995 pasal 1 ayat 27
telah diberikan definisi sebagai berikut : “Reksa dana adalah wadah yang
dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal untuk selanjutnya
diinvestasikan dalam portofolio efek oleh manajer investasi”.
Sesuai dengan definisi yang telah disebutkan reksa dana memiliki beberapa
karakteristik :
1) Kumpulan dana dan pemilik dimana pemilik adalah berbagai pihak yang
menginvestasikan dananya ke reksa dana dengan variasi tujuan.
2) Reksa dana diinvestasikan pada efek-efek yang dikenal dengan instumen investasi
seperti saham, obligasi, sertifikat deposito, future, dan lain-lain.
3) Manajer investasi dipercaya sebagai pengelola dana milik masyarakat investor.

Pengelolaan Reksa Dana
Terdapat dua pihak yang terlibat langsung dalam pengelolaan reksa dana (Pratomo,2009). Pertama adalah Manajer Investasi. Manajer Investasi merupakan pihak yang berperan penting dalam kegiatan investasi reksa dana. Manajer Invstasi yang dimaksud adalah sebuah perusahaan yang kegiatan usahanya mengelola portofolio efek milik investor.

Manajer Investasi harus memiiliki ijin dari Bapepam dengan memenuhi syaratsyarat yang diajukan. Salah satunya adalah (Pratomo, 2009) paling tidak ada seorang direksi dan seorang staf perusahaan yang telah mendapat ijin perorangan sebagai Wakil Manajer Investasi yang baru diperoleh setelah calon Wakil Manajer Investai tersebut mengikuti ujian
yang diadakan oleh Asosiasi Standar Profesi Pasar Modal.
Manajer Investasi memiliki beberapa hal yang harus diperhatikan meliputi kewajiban dan larangan yang dijabarkan sebagai berikut (Darmadji, 2001):
1. Kewajiban Manajer Investasi
Manajer Investasi selain memilii wewenang penuh dalam pengelolaan reksa dana,
memiliki kewajiban yang telah ditentukan Bapepam, antara lain:
a. Membuat catatan yang menyimpan segala pertimbangan dalam mengambil
keputusan dalam melakukan investasi dalam portofolio reksa dana seperti
yang telah ditetapkan dalam kebijakan investasi yang telah dimuat dalam
kontrak, sesuai dengan perundang-undangan pasar modal.
b. Memperhatikan dan mematuhi Pedoman Pengelolaan Reksa Dana
(peraturan nomor IV.A>3 dan nomor IV.B.!)
c. Menyampaikan hal yang sebenarnya kepada masyarakat menyangkut
kinerja dan informasi reksa dana yang dikelola.
d. Menghitung Nilai Pasar Wajar dari efek dalam portofolio reksa dana dan
menyampaikan kepada bank Kustodian esuai dengan peraturan nomor
IV.C.2 kerja selambat-lambatnya pada pukul 17.00 setiap hari kerja.

e. Mematuhi ketentuan kepemilikan Unit Penyertaan untuk setiap pemegang
Unit Penyertaan yang ditetapkan dalam kontrak, kecuali semata-mata untuk
kepentingan manajer Investasi sendiri.
f. Dengan intikad baik dan penuh tanggung jawab menjalankan tugas sebaik
mungkin semata-mata untuk kepentingan pemegng Unit Penyertaan Reksa
Dana serta bertanggung jawab penuh atas kerugian yang timbul karena
tidak melaksanakan kewajibannya.
g. Memisahkan harta kekayaan reksa dana dari harta kekayaan manajer
Investasi
h. Terus-menerus meningkatkan system pengawasan intern dengan mengevaluasi system prosedur kegiatan.
i. Mengutamakan dan mendahulukan kepentingan pemegang Unit
Penyertaan, sehubungan dengan pengelolaan reksa dana.
j. Menjaga kerahasiaan pemegang Unit Penyertaan, kecuali diwajibkan lain
oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku.
2. Larangan Bagi Manajer Investasi
a. Memilki saham/unit penyertaan untuk kepentingan dan atas nama pihak
lain.
b. Memungut komisi atau biaya dari reksa dana yang lebih tinggi dari
Perantara perdagangan Efek yang tidak terealiasi, dalam hal manajer
Investasi atau afiliasinya bertindak sebagai pengantara Perdagangan Efek.
c. Menerima imbabalan dalam benuk apapun, baik langsung maupun tidak
langsung, yang dapat mempengaruhi Manajer Investasi yang bersangkutan
atau pihak afiliasi untuk membeli atau menjual efek untuk reksa dana.
Apabila melanggar diancam dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu)
tahun dan denda paling banyak Rp 1 Miliar.
d. Membeli efek yang tidak melalui penawaran umum (IPO), kecuali untuk
efek pasar uang.
e. Membeli efek yang sedang ditawarkan dalam penawaran umum dimana
Manajer Investasi bertindak sebagai eisinya.
Pengelola reksa dana berikutnya adalah Bank Kustodian. Bank Kustodian merupakan salah satu fungsi yang dimiliki oleh Bank Umum sebagai tempat penyimpanan kekayaan serta administrator reksa dana, yang meliputi penyelesaian transaksi dengan broker atau
bank, registrasi dan pendaftaran efek, dan sebagainya, yang telah mendapat persetujuan dari Bapepam (Pratomo, 2009) dan tidak diperbolehkan terafiliasi dengan manajer investasi, artinya tidak boleh ada hubungan istimewa antara Bank Kustodian dengan Manajer

Investasi seperti yang dimaksud dalam pasal 25 ayat (2) Undang-undang Pasar Modal no. 8
tahun 1995.
Sebagai pengelola reksa dana, Bank Kustodian memiliki kewajiban yang harus
dipenuhi sebagai berikut (Darmadji, 2001):
1. Melakukan pembukuan sesuai dengan Pedoman Akuntansi Reksa Dana (Praturan Bapepam Nomor VIII.G.8).
2. Mengasuransikan seluruh portofolio reksa dana dengan biaya sendiri.
3. Menghitung Nilai Aktiva Bersih (NAB)/Unit Penyertaan setip hari bursa berdasarkan Nilai
Pasar Wajar dari efek yang termasuk dalam portofolio reksa dana dan
mengumumkannya.

4. Menyiapkan laporan kepada Bapepam dan Manajer Investasi sesuai dengan tata cara
pelaporan, sesuai dngan peraturan Bapepam nomor X.D.1.
5. Dengan itikad baik da penuh tanggung jawab menjalankan tugas sebaik mungkin untuk
kepentingan pemegang Unit penyertan reksa Dana serta bertanggung jawab penuh atas
kerugian yang timbul karena tidak melaksanakan kewajibannya.
6. Memisahkan harta kekayaan reksa dana dari harta kekayaan Bank Kustodian.
7. Mendaftarkan/mencatatkan portofolio efek reksa dana dalam daftar pemegang efek
emiten atas nama bank Kustodian untuk kepentingan pemegang Unit Penyertaan Reksa Dana.
8. Terus-menerus meningkatkan system pengawasan intern dengan mengevaluasi system
prosedur kegiatan.
9. Mengutamakan dan mendahulukan kepentingan para pemegang Unit Penyertaan,
sehubungan dengan pengelolaan kekayaan reksa dana.
10. Menjaga kerahasiaan pemegang Unit Penyertaan, kecuali diwajibkan lain oleh peraturan
perundang-undangan yang berlaku.

Jenis dan Karakteristik Reksa Dana
Pada umumnya semua reksa dana mempunyai kesamaan didalam struktur, tetapi
berbeda dalam tujuan. Membedakan reksa dana dapat dilakukan dengan melihat beberapa sudut pandang (Darmadji, 2001)

Reksa Dana Dilihat dari Segi Bentuknya

Sebagaimana diatur pada Undang-undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar
Modal pada pasal 18 ayat (1), reksa dana dapat diklasifikasikan dalam dua bentuk yaitu,
Reksa Dana Perseroan dan Reksa Dana Kontrak Investasi Kolektif. Kedua bentuk Reksa
Dana ini sama-sama menghimpun dana dan menginvestasrikan dananya pada berbagai
instrumen investasi baik yang diperdagangkan di pasar modal maupun di pasar uang.
1. Reksa Dana Berbentuk Perseroan (corporate type)
Dalam bentuk reksa dana ini, perusahaan penerbit reksa dana menghimpun
dana dengan menjual saham, dan selanjutnya dana dari hasil penjualan tersebut
diinvestasikan pada berbagai jenis efek yang diperdagangkan di pasarkan di pasar
modal maupun pasar uang. Reksa dana bentuk perseroan dibedakan lagi
berdasarkan sifatnya menjadi reksa dana Perseroan yang tertutup dan reksa dana Perseroan terbuka (Darmadji, 2001:149)
2. Reksa Dana berbentuk Kontak Investasi Kolektif (contractual type).
Reksa dana bentuk ini, merupakan kontrak antara Manajer Investasi
dengan Bank Kusodian yang mengikat Pemegang Unit Penyeraan, di mana
Manajer Investasi diberi wewenang untuk mengelola portofolio investasi
kolektif dan Bank Kustodian diberi wewenang untuk melaksanakan penitipan
kolektif. Bentuk inilah yang lebih populer dan jumlahnya semakin bertambah
dibandingkan dengan reksa dana yang berbentuk Perseroan (Darmadji,
2001:149), sebagaimana diatur dalam Penjelasan pasal 18 ayat (1) Undangundang
Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. Berdasarkan data Badan
Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan, seluruh reksa dana yang ada
di Indonesia saat ini berbentuk Kontrak Investasi Kolektif.

Reksa Dana Dilihat dari Sifatnya
Dilihat dari sifatnya, reksa dana dapat dibedakan menjadi:
1. Reksa Dana bersifat Tertutup(close-end fund)
Merupakan reksa dana yang tidak dapat membeli kembali saham-saham yang telah dijual kepada pemodal. Artinya, pemegang saham tidak dapat menjual kembali
sahamnya kepada manajer investasi. Apabila pemilik saham hendak menjual
sahamnya, hal tersebut harus dilakukan melalui Bursa Efek tempat saham reksa dana tersebut dicatatkan (Darmadji, 2001:150).
2. Reksa Dana bersifa Terbuka (open-end fund)
Merupakan reksa dana yang menawarkan dan membeli kembali saham-saham
menjualnya dari pemodal sampai sejumlah modal yang sudah dikeluarkan.
Pemegang saham jenis ini dapat menjual kembali saham/unit pentertaannya setiap saat. Manajer Investasi Reksa Dana, melalui Bank Kustodian, wajib membelinya sesuai dengan NAB per saham/unit pada saat itu (Darmadji, 20001:150).

Reksa Dana Dilihat dari Tujuan Investasi
Reksa dana dilihat dari tujuan investasinya dapat dibedakan atas (Darmadji, 2001:151):
1. Growth Fund
Reksa dana yang menekankan pada upaya mengejar pertumbuhan nilai dana. Reksa dana jenis ini biasya mengalokasikan dananya pada saham.
2. Income Fund
Reksa dana yang mengutamakan pendapatan konstan. Reksa dana jenis ini
mengalokasikan dananya pada surat hutang dan obligasi.
3. Safety Fund
Reksa dana yang mengutamakan keamanan daripada pertumbuhan. Reksa dana jenis ini
umumnya mengalokasikan danannya di pasar uang, seperti deposito berjangka,
sertifikan deposito dan surat hutang jangka pendek.

Reksa Dana Dilihat dari Portofolio Investasinya
Pembagian reksa dana ini didasarkan pada komposisi asset yang membentuk reksa dana tersebut, tingkat pengembalian yang dihasilkan, dan tingkat risiko yang dimiliki oleh masing-masing reksa dana (Pratomo,2009).
Jenis-jenis reksa dana berdasarkan Peraturan Bapepam Nomor IV.C.3 tentang
Pedoman Pengumuman Harian Nilai Aktiva Bersih Reksa Dana Terbuka diklasifikasikan
dalam empat kategori berdasarkan portofolio investasinya:
1) Reksa Dana Pendapatan Tetap
Merupakan reksa dana yang menginvestasikan dananya minimal 80% dari aktivanya
dalam bentuk efek bersifat utang (Darmadji, 2001:151). Bersifat lebih stabil. Yaitu
Reksa dana yang berinvestasi pada instrumen fixed income yang berkualitas baik seperti sertifikat deposito (CD), Commercial Paper (CP), dan sertifikat obligasi yang dikeluarkan oleh perusahaan swasta, BUMN, pemerintah, dll. instrumen-instrumen tersebut memberikan tingkat suku bunga yang lebih tinggi dibandingkan tabungan bank namun tetap bersifat konservatif. Reksa Dana berpendapatan tetap cocok untuk orang yang ingin berinvestasi jangka pendek atau yang tidak ingin mengambil resiko akan kehilangan sebagian nilai investasinya. Namun anda tidak dapat berharap akan mendapatkan keuntungan yang besar apabila anda mempertimbangkan tingkat inflasi pertahun.
2) Reksa Dana Saham
Merupakan reksa dana yang menginvestasikan dananya minimal 80% dari aktivanya
dalam bentuk efek bersifat ekuitas (Darmadji,2001). Bersifat lebih jangka panjang
Reksa dana saham biasanya menginvestasikan dananya pada saham-saham yang
dicatatkan dibursa, yang mewakili kepemilikan didalam perusahaan. Reksa dana saham paling cocok untuk orang yang ingin berinvestasi jangka panjang, untuk beberapa tahun bahkan mungkin beberapa dekade. Ide dibelakang reksa dana saham adalah harga-harga saham mengalami kecenderungan naik dan turun didalam jangka pendek, namun sejarah menunjukkan bahwa reksa dana saham menghasilkan keuntungan yang lebih besar dalam jangka panjang dibandingkan dengan investasi pada Fixed income. Jadi, sementara investasi anda pada reksa dana saham mengalami penurunan ataupun kenaikan nilai setiap harinya, dalam jangka panjang hasilnya akan lebih besar besar daripada anda menginvestasikannya dalam reksa dana pasar uang atau reksa dana campuran, khususnya juka
diperbandingkan dengan tingkat inflasi tiap-tiap tahun.
3) Reksa Dana Pasar Uang
Reksa dana jenis ini merupakan reksa dana yang hanya melakukan investasi pada efek bersifat utang dengan jatuh tempo kurang dari 1 (satu) tahun. Tujuannya adalah untuk menjaga likuiditas dan pemeliharaan modal (Darmadji, 2001:150)

4) Reksa Dana Campuran
Merupakan reksa dana yang melakukan investasi dalam efek bersifat ekuitas dan efek bersifat utang yang perbandingannya tidak termasuk dalam definisi reksa dana di atas. Reksa dana campuran berinvestasi baik pada instrumen fixed income jangka pendek maupun pada saham-saham perusahaan yang dicatatkan di bursa. Reksa
dana jenis ini mengoptimalkan keuntungannya melalui saham-saham dipasar modal, disisi lain sebagai penyangganya adalah melalui instrumen fixed income.

Biaya-biaya Dalam Reksa Dana
Dalam melakukan investasi, investor juga memperhatikan biaya yang dikenankan pada reksa dana. Biaya-biaya dalam reksa dana memiliki tiga komponen utama (Pratomo,2009), yaitu biaya yang menjadi beban Manajer Investasi, biaya yang menjadi beban Reksa Dana dan biaya yang dibebankan pada investor.
Beberapa jenis biaya yang timbul dalam mengelola reksa dana dibagi dalam beberapa
kelompok (Situmorang, 2010:61):
1) Biaya yang menjadi beban reksa dana
Biaya yang dibebankan pada reksa dana itu sendiri terdiri dari:
a) Imbalan jasa manajer investasi, misalnya sebesar 2% per tahun dihitung dari jumlah NAB reksa dana
b) Imbalan jasa bank kustodian, misalnya sebesar 0,20% per tahun dihitung dari
jumlah NAB reksa dana
c) Imbalan jasa untuk profesi akuntan publik, notaris, dan konsultan hukum
setelah pernyataan pendaftaran reksa dana tersebut dianggap efektif oleh
Bapepam.
d) Biaya operasional yaitu biaya transaksi efek (saham atau obligasi) dan juga
registrasi efek dan biaya administrasi pembuatan dan pengiriman prospektus
serta biaya pajak yang disebabkan oleh biaya-biaya yang disebutkan di atas.
2) Biaya yang menjadi beban manajer investasi
Tujuan pengelompokan biaya ini adalah supaya lebih jelas karena beban biaya
manajer investasi juga cukup besar yang terdiri dari:
a) Biaya administrasi pendirian reksa dana (biaya konsultasi jasa profesi dan
pembuatan dokumen dan kontrak hukum).
b) Biaya pemasaran dan biaya percetakan berbagai formulir administrasi.
3) Biaya yang menjadi beban pemilik unit penyertaan
a) Biaya pembelian (subscription fee) untuk membeli unit penyertaan reksa dana
tersebut ada yang berkisar sebesar 0,5%.
b) Biaya penjualan kembali (redemption fee) unit penyertaan reksa dana tersebut,
misalnya apabila kurang dari 1 tahun, ada yang berkisar sebesar 1,5% atau
maksimum Rp 25 Juta; antara 1 sampai 2 tahun berkisar sebesar 1% atau
maksimum Rp 15 Juta; apabila lebih dari 2 tahun, tidak dikenakan biaya
redemption fee.
c) Biaya pertukaran. Biaya ini timbul apabila pemegang unit penyertaan reksa
dana X milik manajer investasi Y, ingin menukarkan unit penyertaan reksa dana
X tersebut sebelum dilakukan penjualan ke jenis reksa dana lain yang masih satu produk reksa dana milik manajer investasi Y. Dalam hal ini bisa dikenakan biaya pertukaran, misalnya sebesar 0,2%.

Jenis pajak yang terdapat pada reksa dana
a) Deviden, akan dikenai pajak berdasarkan PPh Tarif Umum [Pasal 4 (1) UU PPh].
b) Bunga obligasi, masih dianggap sebagai bukan objek pajak (selama 5 tahun
pertama sejak reksa dana berbentuk Kontrak Investasi Kolektif/KIK menjadi
efektif), dasar hukumnya adalah Pasal 4 (3) huruf j-UU PPh jo. PP 139 tahun
2000.
c) Bunga deposito, akan dikenakan pajak sebesar 20% (PPh Final), dasar hukumnya
PP 131 tahun 2000.
d) Capital gain saham di Bursa, akan dikenakan pajak 0,1% atas dasar PPh Final (PP
41 tahun 1994 jo. PP 14 tahun 1997).
e) Surat utang (commercial paper), akan dikenakan PPh Tarif Umum.
f) Bagian laba, termasuk pelunasan kembali (redemption), dianggap bukan objek
pajak PPh [Pasal 4 (3) huruf h UU PPh].
Penentuan besaran pajak di atas berlaku stanrdar pada setiap produk reksa dana
yang ada di pasar modal Indonesia.

Keuntungan dan Risiko Berinvestasi Melalui Reksa Dana

Keuntungan Berinvestasi Melalui Reksa Dana
Menurut Jogianto (Jogianto, 2000 : 109) dalam bukunya yang berjudul “Teori
Portofolio dan Analisis Investasi”, return merupakan hasil yang diperoleh dari investasi. Return dapat berupa return realisasi yang sudah terjadi atau return ekspektasi yang belum terjadi tetapi yang diharapkan akan terjadi dimasa mendatang.

Pada Reksa Dana, manajemen investasi mengelola dana-dana yang ditempatkannya pada suatu surat berharga dan merealisasikan keuntungan ataupun kerugian dan menerima dividen atau bunga yang dibukukannya ke dalam ”Nilai Aktiva Bersih” (NAB) Reksa Dana tersebut.

Kekayaan Reksa Dana yang dikelola oleh manajer investasi tersebut wajib untuk disimpan pada bank kustodian yang tidak terafiliasi dengan manajer investasim, dimana bank kustodian inilah yang akan bertindak sebagai tempat penitipan kolektif dan administrator.
Nilai Aktiva Bersih (NAB) Nilai Aktiva Bersih (NAB) atau Net Asset Value (NAV) tidak dapat dipisahkan dari Reksa Dana karena istilah ini merupakan suatu tolak ukur dalam memantau hasil portofolio suatu Reksa Dana. Nilai aktiva bersih (NAB) wajib diumumkan di surat kabar setiap hari kerja. Berdasarkan informasi NAB yang transparan kepada umum, setiap orang dapat menghitung tingkat pengembalian reksa dana selama satu periode pengamatan.

Persistensi laba merupakan revisi laba yang diharapkan dimasa yang akan datang. Yang diimplikasikan melalui laba tahun berjalan.

Laba merupakan salah satu tujuan perusahaan selain untuk dapat bertahan hidup (going concern). Laba yang berkualitas adalah laba yang dapat mencerminkan kelanjutan laba dimasa depan (Djamaluddin, 2008: 55). Tujuan laporan keuangan adalah untuk menyediakan informasi yang berguna untuk pengambilan keputusan. Untuk memfasilitasi tujuan tersebut, Standar Akuntansi Keuangan (SAK) menetapkan suatu kriteria yang harus dimiliki informasi akuntansi agar dapat digunakan dalam pengambilan keputusan. Kriteria utama adalah relevan dan reliabel (Kusuma, 2006 : 5). Informasi akuntansi dikatakan relevan apabila dapat mempengaruhi keputusan dengan menguatkan atau mengubah pengharapan para pengambil keputusan, dan informasi tersebut dikatakan reliabel apabila dapat dipercaya dan menyebabkan pemakai informasi bergantung pada informasi tersebut.

Laba yang dilaporkan juga menjadi dasar dalam penetapan pajak. Sering kali terjadi perbedaan antara laba akuntansi dengan laba fiskal. Perbedaan ini disebabkan perbedaan tujuan masing-masing dalam pelaporan laba. Perbedaan antara laba akuntansi dan laba fiskal (book-tax differences) dapat memberikan informasi mengenai kualitas laba. Logika yang mendasarinya adalah adanya sedikit kebebasan akuntansi yang diperbolehkan dalam pengukuran laba fiskal. Menurut Djamaluddin (2008: 56) perbedaan antara laba akuntansi dan laba fiskal (book-tax differences) dapat memberikan informasi tentang management discretion akrual. Persistensi laba akuntansi adalah revisi dalam laba akuntansi yang diharapkan di masa depan (expected future earnings) yang diimplikasi oleh laba akuntansi tahun berjalan (Djamaluddin, 2008: 55). Besarnya revisi ini menunjukkan tingkat persistensi laba. Persistensi laba merupakan salah satu komponen nilai peridiktif laba, oleh karena persistensi laba merupakan unsur relevansi, maka beberapa informasi dalam book-tax differences yang dapat mempengaruhi persistensi laba, dapat membantu investor dalam menentukan kualitas laba dan nilai perusahaan. Namun masih banyak pendapat yang mendukung dan menentang pernyataan mengenai apakah book-tax differences dapat mencerminkan informasi tentang persistensi laba.

Informasi yang terkandung dalam laba (earnings) memiliki peran penting dalam menilai kinerja perusahaan. Laba yang berkualitas adalah laba yang dapat mencerminkan kelanjutan laba (sustainable earnings) di masa depan, yang ditentukan oleh komponen akrual dan kas dan dapat mencerminkan kinerja keuangan perusahaan yang sesungguhnya. Melihat betapa penting peran laba bagi investor maupun pihak lain sebagai pengguna laporan keuangan, tidak mengherankan pihak manajemen perusahaan melakukan manajemen laba demi menarik investor. Berbagai penelitian menggunakan bermacam-macam pendekatan (proksi) untuk menilai kualitas laba atau mendeteksi
manajemen laba.

1. Akuntansi Biaya Penuh (Full Cost Accounting)
Ialah jumlah seluruh biaya langsung yang berkenaan dengan item tersebut ditambah bagian yang layak dibebankan pada item tersebut dari biaya tidak langsung.
Full Cost bisa berbentuk :
a. Biaya Produksi Berdasarkan Full Costing + Biaya Pemasaranl + Biaya Administrasi
b. Biaya Produksi berdasarkan Variable Costing + Biaya Pemasaran Variabel + Biaya Administrasi Variabel + Biaya OHP Tetap + Biaya Pemasaran Tetap + Biaya Administrasi Tetap.
c. Unit Level Activity Cost + Batch Level Activity Cost + Product Level Aktivity Cost + Facility Level Activity Cost
2. Akuntansi Biaya Diferensial (Differensial Accounting)
Ialah informasi keuangan yang akan digunakan dalam membantu untuk menentukan alternatif mana yang dipilih, dimana biaya-biaya yang berbeda antara satu set kondisi/alternatif yang satu dengan kondisi yang lain dan merupakan biaya yang akan datang
Contoh :
• Informasi-informasi yang dibutuhkan untuk mengambil keputusan membeli atau membuat
• Informasi yang dibutuhkan untuk mengambil keputusan menjual atau memproses lebih lanjut
3. Akuntansi Pertanggung jawaban (Responsibility Accounting)
Ialah informasi keuangan dengan tujuan untuk pengendalian biaya, dimana setiap pusat pertanggungjawaban yang dipimpin seorang manajer (pimpinan) bertanggung jawab atas pelaksanaan perencanaan yang telah dibuat.
Contoh :
• Informasi menganai jumlah biay yang telah dikeluarkan dari suatu departemen/Divisi
• Informasi mengani Kentungan yang diperoleh Kantor Cabang di Jakarta

Perbedaan Akuntansi Manajemen Dengan Akuntansi Keuangan
1. Tidak mempunyai struktur (Formula) tunggal.
2. Tidak diatur oleh prinsip akuntansi yang diterima umum
3. Lebih bebas penyajiannya
4. Termasuk informasi non keuangan.
5. Lebih ditekankan untuk masa yang akan datang.
6. Memperhatikan bagian-bagian lebih penting dari keseluruhan.
7. Kurang menekankan pada kepastian.
8. Bukan penilaian terakhir.
:
Jenis-jenis Laporan Akuntansi
1. Laporan untuk manajemen.
2. Laporan untuk perhitungan pajak.
3. Laporan Khusus
4. Laporan keuangan yang diaudit.
:

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 94 pengikut lainnya