Kuliah Akuntansi

Archive for September 2011

Menurut Munawir (2004:37) Analisis rasio adalah suatu metode analisa untuk mengetahui hubungan pos-pos tertentu dalam neraca atau laporan laba rugi secara individu atau kombinasi dari kedua laporan tersebut.

Menurut Mahmud M.Hanadie (2005:77) Analisis rasio adalah penggabungan yang menunjukkan hubungan antara suatu unsur dengan unsur lainnya dalam laporan keuangan, hubungan antara unsur laporan tersebut dinyatakan dalam bentuk matematis yang sederhana.

Analisis ratio merupakan bentuk atau cara umum yang digunakan dalam analisis laporan keuangan dengan kata lain diantara alat-alat analisis yang selalu digunakan untuk mengukur kekuatan atau kelemahan suatu perusahaan di bidang keuangan adalah analisis ratio keuangan (Financial Ratio Analysis)

Dalam Keown dkk (2002:60) tujuan dari analisis ratio adalah untuk membantu manager finansial memahami apa yang perlu dilakukan oleh perusahaan, berdasarkan informasi yang tersedia dan sifatnya terbatas.
Analisis ratio pada dasarnya tidak hanya berguna bagi kepentingan intern perusahaan saja melainkan juga pihak luar dan ini berbeda menurut kepentingan khusus dari analisis atau pihak yang berkepentingan.

Analisis ratio berguna bagi para analisis intern untuk membantu manajemen membuat evaluasi mengenai hasil-hasil operasinya, memperbaiki kesalahan-kesalahan dan menghindari keadaan yang dapat menyebabkan kesultan keuangan.

Iklan

Struktur kekayaan suatu perusahaan erat hubungannya dengan struktur modalnya. Dengan membandingkan elemen-elemen aktiva dengan elemen-elemen pasiva, kita dapat memperoleh suatu gambaran tentang keadaan keuangan suatu perusahaan. Salah satunya adalah keadaan likuiditas suatu perusahaan pada saat tertentu.

Dalam melaksanakan aktivitasnya, perusahaan harus melakukan evaluasi dan pengukuran terhadap apa yang telah dilakukannya sehingga perusahaan dapat mengambil keputusan yang lebih baik untuk masa yang akan datang yang dapat dilihat dari perhitungan rasio. Namun demikian, untuk dapat membelanjai aktivitas operasi perusahaan sehari-hari tersebut perusahaan selalu membutuhkan modal kerja dimana uang atau dana yang telah dikeluarkan itu diharapkan akan dapat kembali masuk ke dalam perusahaan dalam jangka waktu yang relatif pendek melalui hasil penjualan produknya.

Modal merupakan salah satu sumber daya yang terbatas, dan setiap badan usaha membutuhkan modal kerja untuk membelanjai operasinya sehari-hari, misalnya untuk membeli bahan baku, membayar upah buruh, gaji pegawai, dan sebagainya. Perusahaan secara umum harus mempertahankan jumlah modal kerja yang menguntungkan yaitu jumlah aktiva lancar yang harus lebih besar daripada jumlah hutang lancar.

Hal ini dimaksudkan sebagai jaminan kemampuan perusahaan untuk membayar kewajiban-kewajiban jangka pendeknya. Pernyataan ini diperkuat oleh Bambang Riyanto (2001;58) tentang pendefinisian modal kerja berdasarkan konsep kualitatif:
“ Oleh karenanya maka modal kerja menurut konsep ini adalah sebagian dari aktiva lancar yang benar-benar dapat digunakan untuk membiayai operasinya perusahaan tanpa menganggu likuiditasnya, yaitu yang merupakan kelebihan aktiva lancar di atas hutang lancar. Modal kerja dalam pengertian ini sering disebut modal kerja neto (net working capital).”

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa apabila perusahaan tidak dapat mempertahankan tingkat modal kerja yang memuaskan, maka kemungkinan sekali perusahaan akan berada dalam keadaan insolvent (tidak mampu membayar kewajiban-kewajiban yang sudah jatuh tempo) dan bahkan mungkin terpaksa harus dilikuidir (bangkrut).

Menurut Lukman Syamsuddin (2005;227):
“Net working capital ini seringkali digunakan untuk mengukur risiko “technical insolvency” (ketidakmampuan perusahaan untuk membayar kewajiban-kewajiban yang segera jatuh tempo). Semakin besar net working capital, semakin likuid keadaan suatu perusahaan dan semakin kecil kemungkinan perusahaan untuk tidak dapat memenuhi kewajiban-kewajiban yang segera jatuh tempo.”

Untuk dapat mengendalikan net working capital tersebut maka dapat dilakukan dengan membuat laporan sumber dan penggunaan modal kerja. Mengenai penggunaan modal kerja, semakin besar aktiva lancar dapat menutup hutang lancar berarti semakin besar kemampuan perusahaan untuk membayar hutang-hutangnya yang artinya perusahaan semakin likuid. Tingkat likuiditas perusahaan hendaknya diikuti oleh penggunaan dana secara efektif dan efisien, karena apabila terjadi kelebihan dana yang disebabkan oleh ketidakefektivan penggunaan dana ini menunjukkan adanya pengendapan dana yang disebut dengan idle money, dimana kelebihan dana ini bukannya menguntungkan perusahaan tetapi malah merugikan, sebab dana tersebut tidak bisa menambah keuntungan.

Kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangannya yang berhubungan dengan pihak luar perusahaan dinamakan “likuiditas badan usaha”, sedangkan apabila berhubungan dengan pihak dalam perusahaan atau proses produksi dinamakan “likuiditas perusahaan”.

Perusahaan yang mampu memenuhi kewajiban keuangan tepat pada waktunya berarti perusahaan tersebut dalam keadaan “likuid”, artinya perusahaan tersebut mempunyai alat pembayaran ataupun aktiva lancar yang lebih besar daripada hutang lancar. Sebaliknya, kalau perusahaan tidak dapat memenuhi pembayaran pada saat ditagih atau kewajibannya pada saat jatuh tempo, berarti perusahaan tersebut dalam keadaan “illikuid”.

Likuiditas suatu badan usaha akan mengalami perubahan jika unsur-unsur yang mempengaruhinya juga mengalami perubahan. Ada dua alat analisis yang digunakan untuk menganalisis penggunaan modal kerja yaitu analisis sumber dan penggunaan modal kerja dan analisis rasio keuangan. Laporan tentang perubahan modal kerja akan memberikan gambaran tentang bagaimana manajemen perusahaan mengelola modal kerjanya yang dapat dilihat dari peningkatan atau penurunan modal kerja untuk dua periode atau lebih.

Dengan melakukan analisis sumber dan penggunaan modal kerja selain dapat melihat perubahan modal kerja yang terjadi juga dapat berguna untuk mengetahui bagaimana cara perusahaan melunasi pinjamannya. Laporan perubahan modal kerja tersebut sangatlah penting karena beberapa ukuran kinerja perusahaan masih tetap menggunakan komponen modal kerja, yaitu likuiditas perusahaan. Apabila perusahaan dapat mempertahankan suatu kondisi dimana sumber lebih besar daripada penggunaan modal kerjanya, ini berarti akan diperoleh modal kerja yang cukup, maka diharapkan likuiditas perusahaan akan meningkat. Apabila perusahaan mengalami kekurangan modal kerja, keadaan ini akan mendorong perusahaan mengalami kredit pada bank, dimana dengan semakin lamanya waktu pinjaman tersebut maka beban bunga yang dipikul akan semakin besar pula sehingga bisa mengakibatkan mengurangi laba dan akhirnya akan mengurangi kemampuan perusahaan untuk melunasi kewajiban yang harus segera dipenuhi.

Laporan Keuangan
Menurut Baridwan (1997) laporan keuangan merupakan ringkasan dari proses pencatatan, yang merupakan ringkasan dari transaksi keuangan yang terjadi selama tahun buku yang b
ersangkutan.

Laporan keuangan ini dibuat oleh pihak manajemen dengan tujuan untuk mempertanggungjawabkan tugas yang dibebankan kepadanya oleh pemilik perusahaan.
Laporan keuangan yang lengkap terdiri atas komponen-komponen berikut ini: (1) Neraca; (2) laporan laba rugi; (3) laporan perubahan ekuitas; (4) laporan arus kas; dan (5) catatan atas laporan keuangan. Perusahaan dianjurkan untuk menyajikan laporan keuangan yang menjelaskan karakteristik utama yang mempengaruhi kinerja keuangan, posisi keuangan perusahaan dan kondisi ketidakpastian (IAI, 2007).

Menurut PSAK No. 1 (IAI, 2007) tujuan laporan keuangan adalah memberikan informasi tentang posisi keuangan, kinerja, dan arus kas perusahaan yang bermanfaat bagi sebagian besar kalangan pengguna laporan dalam rangka membuat keputusan-keputusan ekonomi serta menunjukkan pertanggungjawaban (stewardship) manajemen atas penggunaan sumber-sumber daya yang dipercayakan kepada mereka. Dalam rangka mencapai tujuan tersebut, suatu laporan keuangan menyajikan informasi mengenai perusahaan yang meliputi: (1) aset; (2) kewajiban; (3) ekuitas; (4) pendapatan dan beban termasuk keuntungan dan kerugian; dan (5) arus kas.

Accounting Principles Board Statement No. 4 (dalam Belkaoui, 2006, h.212) mengklasifikasi tujuan laporan keuangan menjadi tujuan khusus, tujuan umum, dan tujuan kualitatif, serta menempatkan mereka di bawah suatu kumpulan pembahasan. Tujuan-tujuan tersebut dapat diringkas sebagai berikut:
1. Tujuan khusus dari laporan keuangan adalah menyajikan secara wajar dan sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum, posisi keuangan, hasil operasi, dan perubahan-perubahan lainnya dalam posisi keuangan.
2. Tujuan umum dari laporan keuangan adalah sebagai berikut:
a. Untuk memberikan informasi yang dapat diandalkan mengenai sumber
daya ekonomi dan kewajiban dari perusahaan bisnis agar dapat:
1. Mengevaluasi kelebihan dan kekurangannya;
2. Menunjukkan pendanaan dan investasinya;
3. Mengevaluasi kemampuan dalam memenuhi komitmen-komitmennya;
4. Menunjukkan berbagai dasar sumber daya bagi pertumbuhannya.
b. Untuk memberikan informasi yang dapat diandalkan mengenai perubahan dalam sumber daya bersih dari aktivitas perusahaan bisnis yang diarahkan untuk memperoleh laba agar dapat:
1. Menyajikan ekspektasi pengembangan dividen kepada para investor;
2. Menunjukkan kemampuan operasi perusahaan dalam membayar kreditor dan pemasok, memberikan pekerjaan bagi karyawankaryawannya, membayar pajak, dan menghasilkan dana untuk perluasan usaha;
3. Memberikan informasi untuk perencanaan dan pengendalian kepada manajemen;
4. Menyajikan profitabilitas jangka panjang.
c. Untuk memberikan informasi keuangan yang dapat digunakan untuk
mengestimasi potensi penghasilan bagi perusahaan.
d. Untuk memberikan informasi lain yang dibutuhkan mengenai perubahan dalam sumber daya ekonomi dan kewajiban.
e. Untuk mengungkapkan informasi lain yang relevan terhadap kebutuhan pengguna laporan.
3. Tujuan kualitatif dari laporan keuangan adalah sebagai berikut:
a. Relevansi, yang artinya pemilihan informasi yang memiliki kemungkinan paling besar untuk memberikan bantuan kepada para pengguna dalam keputusan ekonomi mereka.
b. Dapat dimengerti, yang artinya tidak hanya informasi tersebut jelas, tetapi para pengguna juga harus dapat memahaminya.
c. Dapat diverifikasi, yang artinya hasil akuntansi dapat didukung oleh pengukuran-pengukuran yang independen, dengan menggunakan metode-metode pengukuran yang sama.
d. Netralitas, yang artinya informasi akuntansi ditujukan kepada kebutuhan
umum dari pengguna, bukannya kebutuhan-kebutuhan tertentu dari pengguna-pengguna yang spesifik.
e. Ketepatan waktu, yang artinya komunikasi informasi secara lebih awal, untuk menghindari adanya keterlambatan atau penundaan dalam pengambilan keputusan ekonomi.
f. Komparabilitas (daya banding), yang secara tidak langsung berarti perbedaan-perbedaan yang terjadi seharusnya bukan diakibatkan oleh perbedaan perlakuan akuntansi keuangan yang diterapkan.
g. Kelengkapan, yang artinya adalah telah dilaporkannya seluruh informasi yang secara wajar memenuhi persyaratan dari tujuan kualitatif yang lain.

Pelaporan Keuangan
Pelaporan keuangan tidak hanya memuat laporan keuangan namun juga cara-cara lain dalam mengkomunikasikan informasi yang berhubungan, baik secara langsung maupun tidak langsung, dengan informasi yang diberikan oleh sistem akuntansi yaitu informasi mengenai sumber daya, kewajiban, penghasilan perusahaan, dan lain-lain (Belkaoui, 2006, h.233).

Financial Accounting Standards Board (Hendriksen dan Van Breda, 2000, h.136) meringkaskan bahwa tujuan-tujuan pelaporan keuangan adalah sebagai berikut:
a. Pelaporan keuangan harus menyediakan informasi yang berguna bagi investor dan kreditor dan pemakai lain yang sekarang dan yang potensial mengambil keputusan rasional untuk investasi, kredit dan yang serupa.
b. Pelaporan keuangan harus menyediakan informasi guna membantu investor dan kreditor dan pemakai lain yang sekarang dan yang potensial dalam menetapkan jumlah, waktu, dan ketidakpastian penerimaan kas prospektif dari deviden atau bunga dan hasil dari penjualan, penarikan, atau jatuh tempo surat berharga atau pinjaman.
c. Pelaporan keuangan harus menyediakan informasi mengenai sumber daya ekonomi dari satuan usaha, tuntutan terhadap sumberdaya tersebut (kewajiban satuan usaha itu untuk mentransfer sumber daya ke satuan usaha lain dan modal pemilik), dan pengaruh transaksi, kejadian, dan situasi yang mengubah sumberdaya dan tuntutannya pada sumberdaya tersebut.

Pelaporan keuangan itu bukanlah merupakan sebuah akhir, tetapi ia dimaksudkan untuk memberi informasi yang berguna dalam melakukan pengambilan keputusan bisnis dan ekonomi. Tujuan dari pelaporan keuangan bukanlah suatu hal yang abadi, mereka akan dipengaruhi oleh lingkungan
ekonomi, legal, politik, dan sosial di mana pelaporan keuangan terjadi.

Tujuan juga dipengaruhi oleh karakteristik dan keterbatasan dari jenis informasi yang
dapat diberikan oleh pelaporan keuangan (Belkaoui, 2006, h.234). Pelaporan keuangan diharapkan memberi informasi mengenai kinerja keuangan perusahaan selama suatu periode dan bagaimana manajemen dari sebuah perusahaan menggunakan tanggung jawab pengurusannya kepada pemilik.
Pelaporan keuangan tidak dirancang untuk mengukur nilai dari perusahaan bisnis secara langsung, namun informasi yang disajikannya mungkin dapat membantu bagi mereka yang ingin memperkirakan nilainya.

Peraturan Penyampaian Laporan Keuangan di Indonesia
Pada Undang-Undang No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal dinyatakan dengan jelas bahwa perusahaan publik wajib menyampaikan laporan keuangan berkala dan laporan insidental lainnya kepada Bapepam. Bapepam mengeluarkan Lampiran Keputusan Ketua Bapepam Nomor: KEP-80/PM/1996, yang mewajibkan bagi setiap emiten dan perusahaan publik untuk menyampaikan laporan keuangan tahunan perusahaan dan laporan auditor independennya kepada Bapepam selambat-lambatnya pada akhir bulan keempat (120 hari) setelah tanggal laporan keuangan tahunan perusahaan. Namun sejak tanggal 30 September 2003, Bapepam semakin memperketat peraturan dengan dikeluarkannya Peraturan Bapepam Nomor X.K.2, Lampiran Keputusan Ketua Bapepam Nomor: KEP-36/PM/2003 tentang Kewajiban Penyampaian Laporan Keuangan Berkala.

Peraturan Bapepam Nomor X.K.2 ini menyatakan bahwa laporan keuangan tahunan harus disertai dengan laporan akuntan dengan pendapat yang lazim dan disampaikan kepada Bapepam selambat-lambatnya pada akhir bulan ketiga (90 hari) setelah tanggal laporan keuangan tahunan. Dalam Peraturan Bapepam Nomor X.K.2 disebutkan bahwa Laporan Keuangan yang harus disampaikan ke Bapepam terdiri dari:
1. neraca;
2. laporan laba rugi;
3. laporan perubahan ekuitas;
4. laporan arus kas;
5. laporan lain serta materi penjelasan yang merupakan bagian integral dari laporan keuangan jika dipersyaratkan oleh instansi yang berwenang sesuai dengan jenis industrinya; dan
6. catatan atas laporan keuangan.

Namun peraturan tersebut kemudian tidak berlaku bagi emiten atau perusahaan publik yang efeknya tercatat di Bursa Efek di Indonesia dan Bursa Efek di negara lain, dengan dikeluarkannya Keputusan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Nomor 40/BL/2007 tentang Jangka Waktu Penyampaian Laporan Keuangan Berkala dan Laporan Tahunan Bagi Emiten atau Perusahaan Publik yang Efeknya Tercatat di Bursa Efek di Indonesia dan Bursa
Efek di Negara Lain. Dalam lampirannya, yaitu Peraturan Bapepam Nomor X.K.7, disebutkan bahwa batas waktu penyampaian laporan keuangan tahunan kepada Bapepam dan LK dilakukan mengikuti ketentuan di negara lain tersebut.

Berkaitan dengan perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, persyaratan ketepatan waktu merupakan suatu keharusan, karena perusahaan yang tidak tepat waktu menyampaikan laporan keuangannya akan dikenakan sanksi administrasi dan denda sesuai dengan ketentuan pasal 63 huruf e Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 1995 tentang Penyelenggaraan Kegiatan di Bidang
Pasar Modal yang menyatakan bahwa :
”Emiten yang pernyataan Pendaftarannya telah menjadi efektif,dikenakan sanksi denda Rp 1.000.000 (satu juta rupiah) atas setiap hari keterlambatan penyampaian laporan dengan ketentuan jumlah keseluruhan denda paling banyak Rp 500.000.000 (lima ratus juta rupiah).”

Pasar modal di Indonesia memandang keterlambatan tersebut sebagai pelanggaran terhadap prinsip keterbukaan informasi di pasar modal. Ketepatan waktu juga turut mendukung kinerja pasar yang efisien dan cepat serta mengurangi kebocoran dan rumor di pasar saham (Ukago, 2004).

Ketepatan Waktu (Timeliness)
Salah satu cara untuk mengukur transparansi dan kualitas pelaporan keuangan adalah ketepatan waktu. Rentang waktu antara tanggal laporan keuangan perusahaan dan tanggal ketika informasi keuangan diumumkan ke publik berhubungan dengan kualitas informasi keuangan yang dilaporkan
(McGee, 2007).

Berdasarkan Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan Standar Akuntansi Keuangan, laporan keuangan harus memenuhi empat karakteristik kualitatif yang merupakan ciri khas yang membuat informasi laporan keuangan berguna bagi para pemakainya. Keempat karakteristik tersebut yaitu dapat dipahami, relevan, andal, dan dapat diperbandingkan. Untuk
mendapatkan informasi yang relevan tersebut, terdapat beberapa kendala, salah satunya adalah kendala ketepatan waktu.

Hendriksen dan Van Breda (2000, h.145) menyatakan bahwa informasi tidak dapat relevan jika tidak tepat waktu, yaitu hal itu harus tersedia bagi pengambil keputusan sebelum kehilangan kapasitasnya untuk mempengaruhi keputusan. Ketepatan waktu tidak menjamin relevansinya, tetapi relevansi tidaklah mungkin tanpa ketepatan waktu. Oleh karena itu, ketepatan waktu adalah batasan penting pada publikasi laporan keuangan. Akumulasi, peringkasan dan penyajian selanjutnya informasi akuntansi harus dilakukan secepat mungkin untuk menjamin tersedianya informasi sekarang di tangan pemakai. Ketepatan waktu juga menunjukkan bahwa laporan keuangan harus disajikan pada kurun waktu yang teratur untuk memperlihatkan perubahan keadaan perusahaan yang pada gilirannya mungkin akan mempengaruhi prediksi dan keputusan pemakai.

Dyer dan Mc Hugh (1975) dalam Hilmi dan Ali (2008) menggunakan tiga kriteria keterlambatan untuk melihat ketepatan waktu dalam penelitiannya: (1) preliminary lag: interval jumlah hari antara tanggal laporan keuangan sampai penerimaan laporan akhir preleminary oleh bursa (2) auditor’s report lag: interval jumlah hari antara tanggal laporan keuangan sampai tanggal laporan auditor ditandatangani, (3) total lag: interval jumlah hari antara tanggal laporan keuangan sampai tanggal penerimaan laporan dipublikasikan oleh bursa.

Sesuai dengan peraturan X.K.2 yang diterbitkan Bapepam, maka penyampaian laporan keuangan tahunan yang telah diaudit dikatakan tepat waktu apabila diserahkan sebelum atau paling lambat pada akhir bulan ketiga setelah tanggal laporan keuangan tahunan perusahaan publik tersebut. Keterlambatan penyampaian laporan keuangan bisa berakibat buruk bagi perusahaan baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara tidak langsung, para investor mungkin
menanggapi keterlambatan tersebut sebagai sinyal yang buruk bagi perusahaan.

Secara langsung, sebagai contoh di pasar modal Indonesia pada tahun 2009, perusahaan-perusahaan publik yang melanggar prinsip keterbukaan informasi dengan tidak menyampaikan laporan keuangan tahunan tepat waktu telah dikenakan sanksi administrasi dan denda.

Laporan Keuangan

Laporan keuangan merupakan kombinasi dari data keuangan suatu perusahaan yang menggambarkan kemajuan perusahaan dan dibuat secara periodik.
Ada beberapa pengertian laporan keuangan diantaranya sebagai berikut:

Menurut IAI (IAI, 2002 : 2) :
Laporan keuangan merupakan bagian dari proses pelaporan keuangan yang lengkap yang biasanya meliputi neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan posisi keuangan (yang dapat disajikan dalam berbagai cara, misalnya sebagai laporan arus kas atau laporan arus dana) catatan (notes) dan laporan lain serta materi penjelasan yang merupakan bagian integral dari laporan keuangan.

Menurut Munawir (2000 : 2), laporan keuangan adalah hasil dari proses akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi antara data keuangan atau aktivitas suatu perusahaan dengan pihak – pihak yang berkepentingan dengan dana atau aktivitas perusahaan tersebut.

Sedangkan menurut Harnanto (1998:3), laporan keuangan adalah keadaan keuntungan dan hasil usaha perusahaan serta memberikan rangkuman historis dari sumber ekonomi, kewajiban perusahaan dan kegiatan yang mengakibatkan perubahan terhadap sumber ekonomi yang dinyatakan secara kuantitatif dalam satuan mata uang.

Laporan keuangan menggambarkan dampak keuangan dari transaksi dan peristiwa lain yang diklasifikasikan dalam beberapa kelompok besar menurut karakteristik ekonominya.

1. Tujuan Laporan Keuangan
Laporan keuangan beserta pengungkapannya dibuat perusahaan dengan tujuan memberikan informasi yang berguna untuk pengambilan keputusan – keputusan investasi dan pendanaan, seperti yang dinyatakan dalam SFAC No. 1 bahwa laporan keuangan harus memberikan informasi :
1. untuk keputusan investasi dan kredit,
2. mengenai jumlah dan timing arus kas,
3. mengenai aktiva dan kewajiban,
4. mengenai kinerja perusahaan,
5. mengenai sumber dan penggunaan kas,
6. penjelas dan interpretif, serta
7. untuk menilai stewardship.

Ketujuh tujuan ini terangkum dengan disajikannya laporan laba rugi, neraca, laporan arus kas dan pengungkapan laporan keuangan.

Menurut PSAK No. 1 :
Tujuan laporan keuangan untuk tujuan umum adalah untuk memberikan informasi tentang posisi keuangan, kinerja dan arus kas, perusahaan yang bermanfaat bagi sebagian besar kalangan pengguna laporan dalam rangka membuat keputusan – keputusn ekonomi serta menunjukkan pertanggungjawaban (stewardship) manajemen atas penggunaan sumber – sumber daya yang dipercayakan kepada mereka dalam rangka mencapai tujuan tersebut, suatu laporan keuangan menyajikan informasi mengenai perusahaan yang meliput: 1) aktiva, 2) kewajiban, 3) ekuitas, 4) pendapatan, beban termasuk keuntungan dan kerugian, 5) arus kas.

2. Komponen Laporan Keuangan
Laporan keuangan yang lengkap terdiri dari komponen – komponen berikut ini:
a) Neraca
b) Laporan laba rugi
c) Laporan perubahan ekuitas
d) Laporan arus kas
e) Catatan atas lapoaran keuangan.

2.1 Neraca
Neraca perusahaan disajikan sedemikian rupa yang menggambarkan posisi keuangan suatu perusahaan pada saat tertentu maksudnya adalah menunjukkan keadaan keuangan pada tanggal tertentu biasanya pada saat tutup buku. Neraca minimal mencakup pos – pos berikut (IAI, 2004) :
a) Aktiva berwujud,
b) Aktiva tidak berwujud,
c) Aktiva keuangan,
d) Investasi yang diperlakukan menggunakan metode ekuitas,
e) Persediaan,
f) Piutang usaha dan piutang lainnya,
g) Kas dan setara kas,
h) Hutang usaha dan hutang lainnya,
i) Kewajiban yang diestimasi,
j) Kewajiban berbunga jangka panjang,
k) Hak minoritas,
l) Modal saham dan pos ekuitas lainnya.

2.2 Laporan Laba Rugi
Laporan laba rugi merupakan suatu laporan yang sistematis mengenai penghasilan, biaya, rugi laba yang diperoleh oleh suatu perusahaan selama periode tertentu (Munawir, 2000:26). Tujuan pokok laporan laba rugi adalah melaporkan kemampuan riil perusahaan dalam menghasilkan keuntungan. Laporan laba rugi perusahan disajikan sedemikian rupa yang menonjolkan berbagai unsur kinerja keuangan yang diperlukan bagi penyajian secara wajar. Laporan laba rugi minimal mencakup pos – pos berikut (IAI, 2004:) :
a) Pendapatan,
b) Laba rugi usaha,
c) Beban pinjaman,
d) Bagian dari laba atau rugi perusahaan afiliasi dan asosiasi yang diperlukan menggunakan metode ekuitas,
e) Beban pajak,
f) Laba atau rugi dari aktivitas normal perusahaan,
g) Pos luar biasa,
h) Hak minoritas,
i) Laba atau rugi bersih untuk periode berjalan.

2.3 Laporan Perubahan Ekuitas
Laporan perubahan ekuitas menggambarkan peningkatan atau penurunan aktiva bersih atau kekayaan selama periode yang bersangkutan. Perusahaan harus menyajikan laporan perubahan ekuitas sebagai komponen utama laporan keuangan, yang menunjukan (IAI, 2004) :
a) Laba atau rugi bersih perode yang bersangkutan,
b) Setiap pos pendapatan dan beban, keuntungan atau kerugian beserta jumlahnya yang berdasarkan PSAK terkait diakui secara langsung dalam ekuitas,
c) Pengaruh kumulatif dari perubahan kebijakan akuntansi dan perbaikan terhadap kesalahan mendasar sebagaimana diatur dalam PSAK terkait,
d) Transaksi modal dengan pemilik dan distribusi kepada pemilik,
e) Saldo akumulasi laba atau rugi pada awal dan akhir periode serta perubahan, dan
f) Rekonsiliasi antar nilai tercatat dari masing – masing jenis modal saham, agio dan cadangan pada awal dan akhir periode yang mengungkapkan secara terpisah setiap perubahan.
Laporan perubahan ekuitas, kecuali untuk perubahan yang berasal dari transaksi dengan pemegang saham seperti setoran modal dan pembayaran dividen, menggambarkan jumlah keuntungan dan kerugian yang berasal dari kegiatan perusahaan selama periode yang bersangkutan.

2.4 Laporan arus kas
Laporan arus kas dapat memberikan informasi yang memungkinkan para pemakai untuk mengevaluasi perubahan dalam aktiva bersih perusahaan, struktur keuangan (termasuk likuiditas dan solvabilitas) dan kemampuan untuk mempengaruhi jumlah serta waktu arus kas dalam rangka adaptsi dengan perubahan keadaan dan peluang (IAI, 2004). Informasi arus kas berguna untuk menilai kemampuan perusahaan dalam menghasilkan kas dan setara kas dan memungkinkan para pemakai mengembangkan model untuk menilai dan membandingkan nilai sekarang dari arus kas masa depan (future cash flow) dari berbagai perusahaan.

2.5 Catatan Atas Laporan Keuangan
Catatan atas laporan keuangan harus disajikan secara sistematis. Setiap pos dalam neraca, laporan laba rugi dan laporan arus kas harus berkaitan dengan informasi yang terdapat catatan atas laporan keuangan. Catatan atas laporan keuangan mengungkapkan (IAI, 2004) :
a) Informasi tentang dasar penyusunan laporan keuangan dan kebijakan akuntansi yang dipilih dan diterapkan terhadap peristiwa dan transaksi yang penting,
b) Informasi yang diwajibkan dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan tetapi tidak disajikan di neraca, laporan laba rugi, laporan arus kas, dan laporan perubahan ekuitas,
c) Informasi tambahan yang tidak disajikan dalam laporan keuangan tetapi diperlukan dalam rangka penyajian secar wajar.

3. Analisis Laporan Keuangan
Menurut Leopold A. Bernstein, analisis laporan keuangan merupakan suatu proses yang penuh pertimbangan dalam rangka membantu mengevaluasi posisi keuangan dan hasil operasi perusahaan pada masa sekarang dan masa lalu, dengan tujuan untuk menentukan estimasi dan prediksi yang paling mungkin mengenai kondisi dan kinerja perusahaan pada masa mendatang (Dwi Prastowo dan Rifka Juliaty, 2002 : 52 ).

Analisis laporan keuangan mencakup pengaplikasian berbagai alat dan tehnik analisis pada laporan dan data keuangan dalam rangka untuk memperoleh ukuran – ukuran dan hubungan – hubungan yang berarti dan berguna dalam proses pengambilan keputusan ( Dwi Prastowo dan Rifka Juliaty, 2002 : 52).

Tujuan analisis laporan keuangan sendiri menurut Dwi Prastowo dan Rifka Juliaty (2002 : 53) antara lain :
1. sebagai alat screening awal dalam memilih alternatif investasi atau merger
2. sebagai alat forecasting menenai kondisi dan kinerja keuangan di masa datang
3. sebagai proses diagnosis terhadap masalah – masalah manajemen, operasi atau masalah lainnya
4. sebagai alat evaluasi terhadap manajemen.

Tehnik analisis laporan keuangan dikategorikan menjadi dua metode, yaitu (Dwi Prastowo : 54):
1. Metode analisis horizontal, adalah metode analisis yang dilakukan dengan cara membandingkan laporan keuangan oleh beberapa periode sehingga dapat diketahui perkembangan dan kecenderungannya.

Metode ini terdiri dari 4 analisis, antara lain :
a. Analisis komparatif (comparative financial statement analysis)
Analisis ini dilakukan dengan cara menelaah neraca, laporan laba rugi atau laporan arus kas yang berurutan dari satu periode ke periode berikutnya.
b. Analisis trend
Adalah suatu metode atau teknik analisa untuk mengetahui tendensi daripada keadaan keuangannya, apakah menunjukkan tendensi tetap, naik atau bahkan turun. Sebuah alat yang berguna untuk perbandingan tren jangka panjang adalah tren angka indeks. Analisis ini memerlukan tahun dasar yang menjadi rujukan untuk semua pos yang biasanya diberi angka indeks 100. Karena tahun dasar menjadi rujukan untuk semua perbandingan, pilihan terbaik adalah tahun dimana kondisi bisnis normal.
c. Analisis arus kas (cash flow analysis)
Adalah suatu analisa untuk sebab – sebab berubahnya jumlah uang kas atau untuk mengetahui sumber – sumber serta penggunaan uang kas selama periode tertentu. Analisis ini terutama digunakan sebagai alat untuk mengevaluasi sumber dana penggunaan dana. Analisis arus kas menyediakan pandangan tentang bagaimana perusahaan memperoleh pendanaannya dan menggunakan sumber dananya. Walaupun analisis sederhana laporan arus kas memberikan banyak informasi tentang sumber dan penggunaan dana, penting untuk menganalisis arus kas secara lebih rinci.
d. Analisis perubahan laba kotor (gross profit analysis)
Adalah suatu analisa untuk mengetahui sebab – sebab perubahan laba kotor suatu perusahaan dari periode ke periode yng lain atau perubahan laba kotor suatu periode dengan laba yang dibudgetkan untuk periode tersebut.

2. Metode analisis vertikal, adalah metode analisis yang dilakukan dengan cara menganalisis laporan keuangan pada periode tertentu. Metode ini terdiri dari 3 analisis, antara lain :
a. Analisis common – size
Adalah suatu metode analisis untuk mengetahui prosentase investasi pada masing – masing aktiva terhadap total aktivanya, juga untuk mengetahui struktur permodalannya dan komposisi perongkosannya yang terjadi dihubungkan dengan jumlah penjualannya. Analisis common size menekankan pada 2 faktor, yaitu :
1. sumber pendanaan, termasuk distribusi pendanaan antara kewajiban lancar, kewajiban tidak lancar dan ekuitas.
2. komposisi aktiva, termasuk jumlah untuk masing – masing aktiva lancar aktiva tidak lancar.
b. Analisis impas (break-even)
Adalah analisa untuk menentukan tingkat penjualan yang harus dicapai oleh suatu perusahaan agar perusahaan tersebut tidak mengalami kerugian, tetapi juga belum memperoleh keuntungan. Dengan analisa break-even ini juga akan diketahui berbagai tingkat keuntungan atau kerugian untuk berbagai tingkat penjualan.
c. Analisis ratio.
Analisis ratio adalah suatu cara untuk menganalisis laporan keuangan yang mengungkapkan hubungan matematik antara suatu jumlah dengan jumlah lainnya atau perbandingan antara satu pos dengan pos lainnya.

Berikut ini akan di bahas lebih lanjut mengenai analisis ratio, karena penelitian ini akan menggunakan analisis ratio dalam menganalisis laporan keuangannya, guna memprediksi kondisi keuangan perusahaan yang tidak sehat.

Analisis rasio (ratio analysis) merupakan suatu alat analisis keuangan yang sangat populer dan banyak digunakan. Namun perannya sering disalah pahami dan sebagai konsekuensinya, kepentingan sering dilebih – lebihkan.

Kita harus ingat bahwa rasio merupakan alat untuk menyatakan pandangan terhadap kondisi yang mendasari, dalam hal ini adalah kondisi financial perusahaan. Rasio merupakan titik awal, bukan titik akhir. Rasio yang diinterpretasikan dengan tepat mengidentifikasikan area yang memerlukan investigasi lebih lanjut. Analisis rasio dapat mengungkapkan hubungan penting dan menjadi dasar perbandingan dalam menemukan kondisi dan tren yang sulit untuk dideteksi dengan mempelajari masing – masing komponen yang membentuk rasio (Wild, Subramanyan, Hasley, 2004:).

Rasio harus diinterpretasikan dengan hati – hati karena faktor – faktor yang mempengaruhi pembilang dapat berkorelasi dengan faktor yang mempengaruhi penyebut. Sebagai contoh, perusahaan dapat memperbaiki rasio beban operasi terhadap penjualan dengan mengurangi biaya yang menstimulasi penjualan. Pengurangan jenis biaya seperti ini, kemungkinan berakibat pada penurunan penjualan atau pangsa pasar jangka panjang. Dengan demikian, profitabilitas yang tampaknya membaik dalam jangka pendek, dapat merusak prospek perusahaan di masa depan. Kita harus menginterpretasikan perubahan tersebut dengan tepat. Banyak rasio memiliki variabel penting yang sama dengan rasio lainnya. Dengan demikian, tidaklah perlu untuk menghitung semua rasio yang mungkin untuk menganalisis sebuah situasi. Rasio, seperti sebagian besar teknik analisis keuangan, tidak relevan dalam isolasi. Rasio bermanfaat bila diinterpretasikan dalam perbandingan dengan 1) rasio tahun sebelumnya, 2) standar yang ditentukan sebelumnya, 3) rasio pesaing. Pada akhirnya, variabilitas rasio sepanjang waktu sama pentingnya dengan trennya.

Beberapa studi telah menguji penggunaan informasi analisis keuangan dengan menggunakan rasio keuangan yang dihitung dari informasi yang terdapat dalam laporan keuangan untuk menggambarkan keeratan hubungan antara rasio keuangan dengan fenomena ekonomi. Pada umumnya analisis terhadap rasio merupakan langkah awal dalam analisis keuangan guna menilai prestasi dan kondisi keuangan suatu perusahaan. Ukuran yang digunakan adalah rasio yang menunjukkan hubungan antara dua data keuangan. Beberapa rasio keuangan dapat dikelompokkan menjadi (Husnan, 1994; Machfoedz,1998 dalam Siddik,2003) :
1. Rasio Likuiditas, menunjukkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban financial jangka pendek. Rasio ini ditunjukkan pada besar kecilnya aktiva lancar.
a. Current Ratio, merupakan perbandingan antara aktiva lancar dengan hutang lancar.
b. Quick Ratio, dihitung dengan mengurangkan persediaan dari aktiva lancar, kemudian membagi sisanya dengan hutang lancar

2. Rasio Sensitivitas, menunjukkan proporsi penggunaan hutang guna membiayai investasi perhitungannya ada 2 cara, pertama memperhatikan data yang ada di neraca guna menilai seberapa besar dana pinjaman digunakan dalam perusahaan; kedua, mengukur resiko hutang dari laporan laba rugi untuk menilai seberapa besar beban tetap hutang (bunga ditambah pokok pinjaman) dapat ditutup oleh laba operasi. Rasio sensitivitas ini antara lain :
a. Total debt to total assets, mengukur presentase penggunaan dana dari kreditur yang dihitung dengan cara membagi total hutang dengan total aktiva.
b. Debt equity ratio, perbandingan antara total utang dengan modal.
c. Time interest earned, dihitung dengan membagi laba sebelum bunga dan pajak (EBIT) dengan beban bunga. Rasio ini mengukur seberapa jauh laba bisa berkurang tanpa menyulitkan perusahaan dalam memenuhi kewajiban membayar bunga tahunan.

3. Rasio produktivitas, mengukur seberapa efektif perusahaan menggunakan sumber – sumber daya sebagaimana digariskan oleh kebijaksanaan perusahaan. Rasio ini menyangkut perbandingan antara penjualan dengan aktiva pendukung terjadinya penjualan artinya rasio ini menganggap bahwa suatu perbandingan yang “layak” harus ada antara penjualan dan berbagai aktiva misalnya : persediaan, piutang, aktiva tetap, dan lain – lain. Rasio produksi meliputi : inventory turnover, fixed assets turnover, account receivable turnover, total assets turnover.

4. Rasio profitabilitas, digunakan untuk mengukur seberapa efekif pengelolaan perusahaan sehingga menghasilkan keuntungan,
a. Profit margin on sales, dihitung dengan cara membagi laba setelah pajak dengan penjualan.
b. Return on total assets, perbandingan antara laba setelah pajak dengan total aktiva guna mengukur tingkat pengembalian investasi total.
c. Return on net worth, perbandingan antara laba setelah pajak dengan modal sendiri guna mengukur tingkat keuantungan investasi pemilik modal sendiri.

5. Rasio pasar, diterapkan untuk perusahaan yang telah go public dan mengukur kemampuan perusahaan dalam menciptakan nilai terutama pada pemegang saham dan calon investor.
a. Price earning ratio, rasio antara harga pasar saham dengan laba per lembar saham. Jika rasio ini lebih rendah dari pada rasio industri sejenis, bisa merupakan indikasi bahwa investasi pada saham perusahaan ini lebih beresiko daripada rata – rata industri.
b. Market to book value, perbandingan antara nilai pasar saham dengan nilai buku saham, juga merupakan indikasi bahwa para investor menghargai perusahaan.

2.5 Prediksi Financial Distress
Salah satu aspek pentingnya analisis terhadap laporan keuangan dari sebuah perusahaan adalah kegunaannya untuk meramal kontinuitas atau kelangsungan hidup perusahaan. Prediksi kelangsungan hidup perusahaan sangat penting bagi manajemen dan pemilik perusahaan untuk mengantisipasi kemungkinan adanya potensi kebangkrutan.

Financial distress merupakan kondisi dimana keuangan perusahaan dalam keadaan tidak sehat atau krisis. Financial distress terjadi sebelum kebangkrutan. Kebangkrutan sendiri biasanya diartikan sebagai suatu keadaan atau situasi dimana perusahaan gagal atau tidak mampu lagi memenuhi kewajiban – kewajiban debitur karena perusahaan mengalami kekurangan dan ketidakcukupan dana untuk menjalankan atau melanjutkan usahanya sehingga tujuan ekonomi yang ingin dicapai oleh perusahaan dapat dicapai yaitu profit, sebab dengan laba yang diperoleh perusahaan bisa digunakan untuk mengembalikan pinjaman, bisa membiayai operasi perusahaan dan kewajiban – kewajiban yang harus dipenuhi bisa ditutup dengan laba atau aktiva yang dimiliki.

Model financial distress perlu untuk dikembangkan, karena dengan mengetahui kondisi financial distress perusahaan sejak dini diharapkan dapat dilakukan tindakan – tindakan untuk mengantispasi yang mengarah kepada kebangkrutan.

Prediksi financial distress perusahaan ini menjadi perhatian banyak pihak. Pihak – pihak yang menggunakan model tersebut meliputi :
1. Pemberi pinjaman. Penelitian berkaitan dengan prediksi financial distress menpunyai relevansi terhadap institusi pemberi pinjaman, baik dalam memutuskan apakah akan memberikan suatu pinjaman dan menentukan kebijakan untuk mengawasi pinjaman yang telah diberikan.
2. Investor. Model prediksi financial distress dapat membantu investor ketika akan menilai kemungkinan masalah suatu perusahaan dalam melakukan pembayaran kembali pokok dan bunga.
3. Pembuat peraturan. Lembaga regulator mempunyai tanggung jawab mengawasi kesanggupan membayar hutang dan menstabilkan perusahaan individu. Hal ini menyebabkan perlunya suatu model yang aplikatif untuk mengetahui kesanggupan perusahaan membayar hutang dan menilai stabilitas perusahaan.
4. Pemerintah. Prediksi financial distress juga penting bagi pemerintah dan antitrust regulation.
5. Auditor. Model prediksi financial distress dapat menjadi alat yang berguna bagi auditor dalam membuat penilaian going concern suatu perusahaan.
6. Manajemen. Apabila perusahaan mengalami kebangkrutan maka perusahaan akan menanggung biaya langsung (fee akuntan dan pengacara) dan biaya tidak langsung (kerugan penjualan atau kerugian paksa akibat ketetapan pengadilan). Sehingga dengan adanya model prediksi financial distress diharapkan perusahaan dapat menghindari kebangkrutan dan otomatis juga dapat menghindari biaya langsung dan tidak langsung dari kebangkrutan.

Akuntansi biaya penuh digunakan dalam perusahaan yang menghasilkan produk secara pesanan (Job Order) untuk menentukan Harga pokok dan Harga Jual dari produk yang dihasilkannya, yang dikenal dengan Metode harga Pokok Pesanan.

Hal-hal yang perlu diperhatikan :
– Pengumpulan biaya produksi didasarkan atas pesanan.
– Perhitungan harga pokok produksi persatuan dilakukan dengan cara membagi total biaya yang dikeluarkan dengan jumlah unit pesanan yang bersangkutan, yang dihitung setelah pesanan tersebut selesai diproduksi.
– Penggolongan biaya produksi harus dipisahkan menjadi biaya produksi langsung dan tidak langsung.

Biaya produksi langsung dibebankan kepada produk berdasarkan “biaya yang sesungguhnya terjadi”. Sedangkan biaya tidak langsung dibebankan kepada produk “berdasarkan tariff yang ditentukan di muka.

– Biaya Overhead Pabrik terdiri dari : Biaya Bahan penolong, biaya tenaga kerja tidak langsung, dan biaya produksi lain-lain selain biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung. BOP termasuk biaya produksi tidak langsung.

Perhitungan Harga pokok menurut Metode Full Costing

Biaya bahan baku Rp. xx
Biaya tenaga kerja langsung Rp. xx
Biaya overhead pabrik :
Variable Rp. xx
Tetap Rp. xx (+)
Harga pokok produk ……….. Rp. xx

Perhitungan Harga pokok menurut Metode Variabel Costing

Biaya bahan baku Rp. xx
Biaya tenaga kerja langsung Rp. xx
Biaya overhead variabel Rp. xx (+)
Harga pokok produk Rp. xx

Perbedaan kedua metode perhitungan tersebut di atas, terletak pada perlakuan terhadap Biaya Overhead Pabrik yang bersifat tetap, dimana pada metode full costing diperhitungkan sebagai harga pokok, sedang pada variable costing tidak diperhitungkan.

Alasannya adalah : BOP tetap tidak melekat pada persediaan produk yang belum laku dijual, oleh karena itu diperhitungkan sebagai “Biaya Periodik” yang akan dibebankan sebagai biaya pada periode terjadinya BOP tetap tersebut

Akuntansi Biaya
Akuntansi merupakan suatu aktivitas yang memiliki tujuan (purposive activity). Tujuan akuntansi diarahkan untuk mencapai hasil tertentu, dan hasil tersebut harus memiliki manfaat. Akuntansi digunakan baik pada sektor swasta maupun sektor publik untuk tujuan-tujuan yang berbeda. Dalam beberapa hal, akuntansi sektor publik berbeda dengan akuntansi pada sektor swasta. Perbedaan sifat dan karakteristik akuntansi tersebut disebabkan karena adanya perbedaan lingkungan yang mempengaruhi. (Mardiasmo, 2002)

Activity Based Costing
2.1 Pengertian Activity Based Costing
Activity Based Costing Yang selanjutnya disingkat menjadi ABC, merupakan suatu sistem informasi tentang pekerjaan (atau aktivitas) yang mengkonsumsi sumberdaya dan menghasilan nilai bagi konsumen

Definisi lainnya mengenai ABC, antara lain ABC adalah sistem akuntansi dan alokasi yang menelusuri biaya ke produk menurut aktivitas-aktivitas yang dilakukan terhadap produk, yang dimaksudkan untuk menghasilkan informasi biaya bagi keputusan strategis, perancangan dan pengendalian operasional.

Menurut Turney ABC sistem didefinisikan sebagai metodologi yang mengukur biaya dan kinerja aktivitas-aktivitas sumber daya dan obyek biaya. Sumber daya dibebankan ke aktivitas kemudian aktivitas dibebankan ke obyek biaya sesuai dengan penggunaannya.
Definisi tersebut mencakup suatu range informasi biaya dan informasi kinerja yang luas, tidak hanya tefokus pada product costing saja. ABC system dapat juga dijadikan alat manajemen dalam melahirkan continuous improvement.

Model ABC yang berbasis pada definisi tersebut diatas mempunyai 2 sudut pandang yaitu:
1. Cost Assignment View (sudut pandang pembebanan biaya)
Sudut pandang ini ABC merefleksikan kebutuhan organisasi untuk membebankan biaya ke aktivitas dan obyek biaya (baik produk, jasa maupun konsumen) dan untuk menganalisis keputusan-keputusan yang diambil (misalnya dalam hal penetapan harga, bauran produk, perencanaan produk, perancangan produk dan lainnya). Cost assignment view ini dibentuk dari bebrapa building block, tiga yang utama adalah:

a. Sumber daya, elemen-elemen ekonomi yang diarahkan ke kinerja aktivitas dan merupakan sumber biaya. Sumber daya dalam industri manufaktur meliputi tenaga kerja langsung, bahan baku langsung, pendukung produksi, biaya tidak langsung produksi dan biaya-biaya diluar produksi. Sumber daya mengalir keaktivitas yang merupakan proses atau prosedur yang menyebabkan kerja.

b. Aktivitas, yang saling berhubungan berada didalam activity center. Activity center merupakan kumpulan aktivitas yang biasanya terkumpul menurut fungsi/proses. Bermacam-macam faktor yaitu resource driver digunakan untuk membebankan biaya ke aktivitas. Faktor-faktor ini dipilih untuk memperkirakan konsumsi sumberdaya oleh aktivitas. Setiap sumber daya yang dilacak ke aktivitas menjadi suatu elemen biaya dalam suatu activity cost pool dilacak ke obyek biaya melalui activity drivers.

c. Obyek biaya, titik akhir pelacakan biaya. Suatu obyek biaya adalah mengapa suatu kerja dilakukkan dalam perusahaan, dan dapat berbentuk produk ataupun customer.

2. Process view
Sudut pandang ini ABC menyediakn informasi mengenai kerja yang telah dilakukan dalam suatu aktivitas dan hubungan antara kerja tersebut dengan aktivitas yang lain.
Biaya jasa berdasar ABC dapat memberikan dasar yang layak dalam pengambilan keputusan, diantaranya keputusan untuk membeli atau membuat keputusan.
2.3.2. Cost Driver
Cost driver adalah faktor-faktor yang menentukan besar kerja dan usaha yang diperlukan untuk melakukan suatu aktivitas. Pemicu biaya menjelaskan mengapa suatu aktivitas dikerjakan secara spesifik, aktivitas dilaksanaan sebagai reaksi atas kejadian yang sudah terjadi. Cost driver juga menjelaskan seberapa besar usaha yang mesti dikeluarkan untuk melaksanakan kerja tersebut. Pemicu biaya sangat bermanfaat karena pemicu biaya mengungkap akan kesempatan untuk perbaikan. Sistem akuntansi yang berbasis aktivitas merupakan sistem informasi yang menyimpan dan memproses data berdasarkan aktivitas yang dilakukan persahaan, ABC mengidentifikasi aktivitas yang dilakukan, menelusuri biaya aktivitas dan kemudian mengunakan berbagai cost driver untuk menelusuri biaya dari aktivitas le prodeuk. Cost driver merefleksikan konsumsi aktivitas oleh suatu produk.

ABC menggunakan jenis cost driver yang lebih banyak dibandingkan dengan sistem akuntansi biaya tradisional. ABC menggunakan cost driver non unit sebagai tambahan cost driver unit, termasuk activity level batch dan tahapan yang paling sulit bagi perusahaan yang akan mengimplementasika ABC. Biaya-biaya yang berperan dalam produksi begitu banyak dan seringkali tidak sekelas hubungannya dengan produk. Selain itu dalam pemilihan jenis dan jumlah cost driver, harus dipertimbangkan manfaat yang diperoleh (berupa keakuratan data dan informasi biaya) dengan biaya penggunaan ABC. Untuk menentukan jumlah cost drive perlu diperhatikan hal-hal berikut ini:
1. Biaya pengukuran, dengan kemudahan memperoleh data yang dibutuhkan oleh cost driver.
2. Tingkat korelasi, aktualisasi konsumsi aktivitas yang berhubungan dngan konsumsi yang ditimbulkan oleh cost driver.

2.2. Syarat- syarat Penerapan ABC
Persayaratan dasar yang membuat pertimbangan diterapkan ABC adalah:
1. Non unit based cost mempunyai prosentase yang signifikan dalam total overhead cost. Jika jumlah unit based cost tidak material, maka tidak menjadi masalah bagaimana pengalokasian ke individual cost.
2. Rasio konsumsi dari aktivitas unit based cost dan non unit based cost harus berbeda. Jika produk mengkonsumsi semua overhead activities dengan rasio yang kurang lebih sama, maka penggunaan unit based cost driver sebagai dasar pengalokasian biaya menjadi tidak masalah.

Jadi perusahaan dengan product diversity rendah dapat menggunakan sistem biaya tradisional tanpa masalah. Tetapi perusahaan dengan unit based cost signifikan dan product university tinggi pun belum tentu memerlukan ABC. ABC mensyaratkan 3 hal berikut agat pemanfataannya menjadi lebih optimal.
1. Diversifikasi produk yang dihasilkan perusahaan tinggi.
Perusahaan memproduksi berbagai macam produk atau lini produk yang diproses dengan menggunakan beberapa fasailitas manufaktur yang sama. Dengan demikian akan timbul masalah unutk mengalokasikan atau membebankan sumberdaya yang dikonsumsi masing-masing produk.
2. Perusahaan mengahapi persaingan yang ketat.
Informasi tentang harga pokok yang akurat akan lebih menduklung berbagai macam pengambilan keputusan manajemen untuk berkompetisi.
3. Biaya pengukuran relatif rendah.
Biaya-biaya pengukuran untuk menghasilkan informasi biaya aktivitas relatif rendah dibandinkan dengan manfaat yang akan diperoleh dari penerapan sistem tersebut di masa yang akan datang.

2.4. Konsep Dasar ABC Sistem
Anggapan yang mendasari konsep ABC adalah sebagai berikut:
1. Kegiatan menimbulkan biaya
ABC berangkat dengan anggapan bahwa sumber daya pembantu atau sumber daya tidak langsung menyediakan kemampuan untuk melaksanakan kegiatan, bukan sekedar menyebabkan timbulnya biaya yang harus dialokasikan.
2. Produk menyebabkan timbulnya permintaan dan kegiatan.
Untuk membuat produk diperlukakn berbagai kegiatan, dan setiap kegiatan memerlukan sumber daya untuk pelaksanaan kegiatan tersebut.
Dengan konsep dasar ABC tersebut, biaya merupakan konsumsi sumber daya (seperti bahan baku, sumber daya manusia, tekhnologi, modal) dihubungkan dengan kegiatan yang mengkonsumsi sumber daya tersebut. Dengan demikian hanya dengan mengelola dengan baik kegiatan untuk menghasilkan produk dan jasa, manjemen akan mampu membawa perusahan unggul dalam persingan jangka panjang. Untuk mampu mengelola kegiatan perusahaan, manajemen memerlukan informasi biaya yang mencerminkan konsumsi sumber daya dalam berbagai kegiatan perusahaan.

Pada awal penggembangannya ABC digunakan dalam perusahaan-perusahaan manufaktur yang memproduksi berbagai macam produk dengan biaya overhead tinggi. Dalam merancang ABC, kegiatan untuk memproduksi dan menjual produk dalam perusahaan yang menghasilkan berbagai macam produk dapat digolongkan ke dalam 4 macam kelompok besar yaitu:
1. Facility Sustaining Activity Cost
Biaya ini berhubungan dengan kegiatan untuk mempertahankan kapasitas yang dimiliki perusahaan. Biaya depresiasi dan amortisasi, biaya asuransi, biaya gaji karyawan kunci perusahaan adalah contoh jenis biaya yang termasuk dalam facility sustainining activity cost. Biaya dibebankan kepada produk atas dasar taksiran unit produk yang dihasilkan kapasitas activity cost.
2. Product Sustaining Activity Cost
Biaya ini berhubungan dengan penelitian dan pengembangan produk tertentu dan biaya-biaya untuk mempertahankan produk untuk tetap dapat dipasarkan. Biaya ini tidak terpengaruh oleh jumlah unit yang diproduksi dan jumlah batch produksi yang dilaksanakan oleh divisi penjual. Contoh biaya ini adalah biaya desain produk, desain proses pengolahan produk, pengujian produk, biaya ini dibebankan kepada produk atas dasar taksiran jumlah unit produk tertentu yang akan dihasilkan selama umur produk tertentu (product life cycle).
3. Batch Activity Cost
Biaya ini berhubungan dengan jumlah batch produk yang diproduksikan. Setiap cost yang merupakan biaya yang dikeluarkan untuk menyiapkan mesin dan peralatan sebelum suatu order prosuksi diproses adalah contoh biaya yang termasuk dalam golongan biaya ini, besar kecilnya biaya ini tergantung dari frekuensi order produksi yang diolah oleh fungsi produksi. Biaya ini tidak dipengaruhi oleh jumlah unit produk yang diproduksi dalam setiap order produksi. Pembeli dibebani batch activity cost berdasarkan jumlah batch actiity cost yang dikeluarkan oleh perusahaan dalam setiap menerima order dari pembeli.
4. Unit Level Activity Cost
Biaya ini dipengaruhi oleh besar kecilnya jumlah unit produk yang dihasilkan. Biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, biaya energi, biaya angkutan adalah contoh biaya yang termasuk dalam golongan ini, biaya ini dibebankan kepada produk berdasarkan jumlah unit produk dikalikan dengan jumlah produk yang sesunguhnya diperoleh.

2.5 Manfaat dan Kendala ABC
2.5.1 Manfaat ABC
ABC juga menekankan bahwa produk-produk atau jasa yang dihasilkan tidak secara langsung menyerap sumber daya, tetapi menyerap aktivitas-aktivitas. Aktivitas-aktivitas inilah yang secara langsung mengkonsumsi sumber daya. Menurut Cooper, ABC punya maksd sebagai berikut:
1. Memperbaiki mutu pengambilan keputusan.
Dengan informasi biaya produk yang lebih teliti, kemungkinan manajemen melakukan pengambilan keputusan dengan resiko yang lebih kecil, informasi biaya produk yang lebih teliti sangat penting artinya bagi manajemen jika perusahaan menghadapi persaingan yang sangat tajam.
2. Kemungkinan manajemen melakukan perbaikan terus menerus terhadap kegiatan untuk mengurangi biaya overhead.
ABC mengidentifikasi biaya overhead dengan kegiatan yang menimbulkan biaya tersebut. dengan demikian informasi biaya yag dihasilkan oleh ABC dapat digunakan oleh manajemen untuk memantau secara terus menerus bebagai kegiatan yang digunakan oleh perusahaan untuk menghasilkan produk dan melayani konsumen. Perbaikan berbagai kegiatan untuk menghasilkan produk dan penghilangan kegiatan yang tidak menambah nilai bagi konsumen dapat dipertimbangkan oleh manajemen bedasar informasi biaya yang disajikan dengan sistem ABC.
3. Memberikan kemudahan dalam penentuan biaya relevan.
Karena ABC menyediakan informasi biaya yag dihubungkan dengan berbagai kegiatan untuk menghaslkan produk, maka manajemen akan memperoleh kemudahan dalam memperoleh informasi yang relevan dengan pengambilan keputusan yag menyangkut berbagai kegiatan bisnis mereka. Misalnya manajemen mempertimbangkan untuk melakukan perbaikan dalam kegaiatan set up fasilitas produksi, ABC dengan cepat mampu menyediakan informasi batch related activities, sehingga memungkinkan manajer mempertimbangkan akibat keputusan mereka terhadap konsumsi sumber daya untuk kegiatan tersebut.

2.5.2 Kendala-kendala Penerapan ABC
Adanya kerancuan bahwa manajemen yang menggunaka ABC menganggap produknya bisa lebih bersaing karena informasi biaya lebih akurat. ABC memang merupakan alat yang dapat digunakan manajemn dalam memperbaiki daya saing. Ebenarnya yang harus dilakukan adalah memanage aktivitas, bukan biaya. Sebab jika hanya sekedar memanage biaya, bisa saja aktivitas yang tidak memberikan nilai tambah (non value added) yang biasanya tinggi, manajemen bukannya berusaha meniadakan aktivitas tersebut, tetapi malah memotong biaya secara kesluruhan, pandangan bahwa ABC dapat digunakan perusahan untuk memperoleh keunggulan kompetitif adalah hal yang berbahaya dan untuk menghindarinya sejak awal manajemen harus mengelola aktivitas bukannya biaya.

Manajemen perlu menyadari apakah sistem manajemen biaya denganABC ini memberikan informasi biaya yang benar-benar merupakan biaya produksi. Tiga kendala dari biaya produksi yang dilaporkan berdasar ABC adalah:
a. Alokasi
Walaupun data aktivitas penting diperoleh, tetapi beberapa biaya masih memrlukan alokasi biaya yang bersarkan volume. Misalnya biaya-biaya yang berhubungan dengan gedung yaitu biaya sewa, asuransi dan paja bangunan.
Usaha-usaha untuk menelusuri aktivitas-aktivitas penyebab biaya ini merupakan tindakan yang sia-sia dan tidak praktis.
b. Biaya pengukuran yang tinggi
ABC memerlukan baiya pengeluaran yang tinggi untuk mengoperasikan sistem ini. Kebanyakan perusahaan hanya punya sedikit activity center untuk memulainya yang sama untuk pengelompokan activity center.
c. Periode-periode akuntansi
Periode-periode waktu yang arbiter masih digunakna dalam menghitung biaya-biaya. Banyak manajer yang ingin mengetahui apakah produk yang dihasilkan mengunutnkan atau tidak. Tujuannya tidak saja untuk mengukur seberapa banyak biaya yang sudah diserap oleh produk tersebut, tetapi juga mengukur segi kompetitifnya dengan produk sejenis yang dihasilkan oleh perusahaan lain. Manajemen dalam hal ini memerlukan pengukuran dan pelaporan yang interim. Informasi untuk mengevaluasi perilaku aktivitas biaya tersebut dapat diberikan pada saat siklus hidup produk itu berakhir sehingga untuk pengukuran produk yang dimiliki siklus hidup lebih lama membutuhkan bentuk pengukuran yang interin (sementara).

Selain kendala-kendala tersebut diatas, kendala-kendala yang timbul dalam penerapan ABC adalah:
a. Banyak perusahaan yang belum secara ekstensif terotomatisasi sehingga manajer merasa belum perlu mangganti sistem akuntansi biaya tradisional untuk menyesuaikan dengan perubahan lingkungan manufaktur tersebut.
b. Pelaksanaan otomatisasi dilaksanakan secara bertahap sehingga para manajer hanya memusatkan perhatian pada proses produksi.
c. Kegiatan operasional secara otomatis dan manual dilakukan bersamaan tetapi sistem akuntansi biaya tradisional disediakan bagi keduanya.
d. Para manajer sering berpendapat bahwa yang utama adalah pelaksanaan produksi, urutan kertas kerja belakangan.
e. Kebutuhan, pelaporan eksternal mendorong akuntansi keuangan dipakai juga untuk tujaun akuntansi manajemen internal karena pusat pehatian sering diarahkan untuk mempersiapkan laporan keuangan eksternal, dengan demikian banyak manajer meras tidak ada waktu untuk mengubah bentuk laporan manajemen biaya dengan bentuk abru yang lebih relevan.
f. Keterbatasan sumber daya unutk melaksankan sistem akuntansi manajemen biaya yang baru.
g. Para manajer sering bertahan untuk tidak berubah karena konflik antar manajer.

2.5.3 Proses Pembebanan Biaya Pada ABC Sistem
Ada dua tahap prosedur pembebanan biaya pada ABC system, yaitu:
1. Prosedur tahap pertama
Pada tahap pertama ABC, aktivitas diidentifikasi, biaya dihubungkan dengan masing-masing aktivitas. Aktivitas dan biayanya dibagi menjadi kelompok-kelompok yang homogen. Suatu perusahaab dapat memiliki banyak aktivitas yang berbeda-beda. Setelah aktifitas diidentifikasim, baiya untuk menjalankan aktifitas juga ditentukan, dengan demikian perusahaan haru menentukan activity driver yangsesuai unutk tipe-tipe aktivtas dan menghitung tiap activity overhead rules. Untuk mengurangi jumlah rate overhead dan unutk menyederhankan prosesnya, maka aktivitas dikelompokkan ersama-sama dalam satu set yang homogen berdasar karakteristik yang sejenis, yaitu aktivitas tersebut saling berhubungan secara logis dan mempunyai rasio konsumsi untuk semua produk.
Kemudian langkah selanjutnya yang harus dilakukan adalah menjumlahkan biaya dengan semua set yang homogen itu, hal ini disebut dengan homogeneus cost pool mempunyai rasio konsumsi yang sama, variasi biaya untuk pool ini dapat dijelaskan dengan activit driver dihitung dengan menghasilkan tarif kelompok/pool rate. Pada akhir pembebanan biaya pada tahap pertama ABC menghasilkan:
a. Identifikasi aktifitas
b. Pembebanan biaya pada aktifitas
c. Pengelompokkan aktivitas terkait ke dalam suatu homogeneous cost pool
d. penjumlahan biaya pada suatu ativitas untuk mengidentifikasi homogeneous cost pool
e. penghitungan pool/overhead rates.

2. Prosedur Tahap kedua
Pada tahap kedua, biaya setiap kelompok dilacak ke produk. Hal ini dilakukan dengan menggunakan tarif kelompok yang sudah dihitng pada tahap pertama dan mengukur jumlah sumber daya yang dikonsumsi oleh setiap produk. Jumlah sumber daya dikonsumsi setiap produk dinyatakan oleh jumlah activity center yang digunakan setiap produk, oleh karena itu, biaya overhead yang dibebankan dari setiap kelompok biaya ke pada setiap produk dihitung dengan cara mengalikan tarif kelompok dengan penggunaan aktivitas.

Secara lebih rinci, langkah-langkah yang harus diambil dalam merancang sistem penentuan arga pokok berdasar aktivitas adalah sebagai berikut:
1. Mengumpulkan semua biaya yang dibebankan pada setiap departemen.
2. Memisahkan biaya-biaya ke dalam product driver cost dan customer driver cost.
3. Memisahkan departemen pendukung ke dalam fungsi utama, fungsi utama tersebut harus mempunyai biaya yang signifikan dan dipengaruhi aktivitas yang berbeda.
4. memindahkan biaya-biaya ke departemn ke dalam kelompok biaya fungsional (funsional cost pool).
5. mengidentifikasi pusat aktivitas
6. mengidentifikasi driver tahap pertama (proses yang homogen).
7. mengidentifikasi driver tahap kedua berdasarkan data yang tersedia, korelasi sumber daya dan pengaruh prilaku.
8. mengidentifikasi tingkat aktifitas.
9. memilih jumlah cost driver.

2.4 Activity-Based Costing Untuk Pemerintah Daerah
Activity-Based costing banyak diterapkan pada perusahaan manufaktur dan perusahaan jasa. Dalam penelitian ini akan dikembagkan penerapan ABC untuk organisasi sektor publik yang dalam hal ini diambil organisasi pemerintahan.
Pemerintah sebagai organisasi yang tidak berorientasi mengejar laba sebenarnya dapat menerpakna ABC. Penerpan ABC pada sektor publik berbeda dibandingkan penerapan ABC sektor privat, hal ini disebabkan karakteristik kegiatan pemerintah sedikit berbeda dibandingkan organisasi swasta pada umumnya. Karakteristik aktivitas pemerintah daerah sebenarnya hampir mirip dengan perusahaan yang begerak di bidang jasa yang kadangkala menimbulkan kesulitan, misalnya karakteristik output yang sulit didefinisi an tidak terwujud. Selain itu, biaya kapasitas gabungan mewakili sebagain besar proporsi dari total biaya dan sukar untuk dikaitkan dengan aktivitas yang menghasilkan output.
Menurut Mark D. Abrahams dalam tulisannya yang berjudul Activity Based Costing: Illustrations from the State of Iowa menyatakan bahwa Activity Based Costing dalam lingkungan pemerintahan telah dilakukan di negara bagian Iowa.

Konsep ABC serta langkah-langkahnya dianggap dapat diterapkan dalam lingkungan pemerintahan. Activity based costing telah membuktikan bahwa sistem ini merupakan alat manajemen yang handal pada kinerja sistem manajemen negara bagian Iowa dengan menyediakan informasi biaya yang penting. Manajer negara bagian Iowa menganjurkan mengunakan pendekatan ini untuk penentuan peleayanan pemerintah dengan menjalankan metode “keep it simple” untuk mencapai pembiayaan yang spesifik denagn pencapaian yang minimum dan kerumitan yang tidak terlalu banyak dalam metode penentuan biaya. Metode ini memungkinkan program secara tersendiri untuk dikerjakan dengan biaya tersendiri untuk menghubungkana antara biaya dan data program untuk tercapainya efisiensi dan efektifitas dalam penyampaian pelayanan masyarakat.

Ada 4 langkah dasar untuk mengimplementsikan sistem ABC. Pertama, sumber daya dan biaya harus terorganisasi dalam bentuk biaya unit kerja. Kedua, biaya perlud dikategorikan kedalam kategori berpengaruh secara langsung atau tidak langsung kah biaya tersebut terhadap aktivitas. Untuk biaya yang tidak dapat secara langsung dihubungkan dengan aktivitas, sebuah metode indirect cost perlu untuk dipilih, apakah dengan mengunakan KIS (Keep it simple) ataukah dengan metode full cost. Ketiga, direct cost dan indirect cost perlu untuk ditujukan atau dialokasikan kepada aktivitas yang spesifik. Dan terakhir, unit cost dihitung dengan memisahkan biaya aktivitas dengan activity output.

1.1. Penentuan Harga Pokok Proses

Penentuan harga pokok produk pada perusahaan yang memproduksi barang secara masal atau berkesinambungan, seperti perusahaan semen, perusahaan mie instant, perusahaan pengolah gandum, dan perusahaan pembuat sepeda motor, sangat cocok menggunakan sistem harga pokok proses. Dalam sistem harga pokok proses, biaya produksi dikumpulkan untuk setiap periode. Harga pokok produk ditetapkan pada akhir periode. Jika dalam sistem harga pokok pesanan digunakan buku pembantu kartu harga pokok pesanan (job order cost sheet) yang dibuat untuk setiap pesanan, maka dalam sistem harga pokok proses buku pembantu dibuat untuk setiap jenis biaya pada masing-masing departemen terjadinya biaya tersebut (pusat biaya). Departemen tempat terjadinya biaya, dapat merupakan departemen produksi atau departemen pembantu.

1.2. Laporan Harga Pokok Produksi

Untuk menentukan harga pokok produk disusunlah suatu laporan yang disebut laporan harga pokok produksi. Laporan harga pokok produksi berisi informasi tentang (1) kuantitas produksi, (2) unit ekuivalen (produksi ekuivalen), (3) perhitungan harga pokok per unit, dan (4) perhitungan harga pokok produk.

Informasi kuantitas produksi adalah informasi tentang jumlah unit yang dimasukkan proses (unit masukan) dan jumlah unit yang dihasilkan dari proses produksi (unit keluaran). Jumlah unit dimasukkan dalam proses produksi harus sama dengan jumlah unit yang keluar dari proses produksi.

Unit ekuivalen produk (produksi ekuivalen) yaitu unit setara produk jadi yang dihasilkan di departemen produksi dalam periode tertentu. Untuk itu, terhadap barang dalam proses akhir harus dilakukan taksiran tingkat penyelesaiannya. Tingkat penyelesaian menunjukkan kesetaraan dengan produk jadi. Tingkat penyelesaian ditentukan berdasarkan biaya yang sudah terserap.Umumnya tingkat penyelesaian dikelompokkan menjadi dua, yaitu (1) tingkat penyelesaian biaya bahan baku dan (2) tingkat penyelesaian biaya konversi. Oleh karena itu, unit ekuivalen untuk persediaan barang dalam proses akhir dihitung dengan mengalikan jumlah unit barang dalam proses akhir dengan tingkat penyelesaiannya.

Perhitungan harga pokok per unit dihitung untuk setiap elemen biaya produksi yang terjadi di departemen produksi. Biaya produksi yang terjadi di departemen produksi terdiri atas: biaya bahan baku dan atau harga pokok dari departemen sebelumnya, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik. Harga pokok per unit tersebut dihitung dengan membagi masing-masing biaya produksi dengan unit ekuivalennya. Total harga pokok per unit setiap elemen biaya produksi tersebut merupakan harga pokok barang jadi per unit di departemen produksi.
Perhitungan harga pokok merupakan perhitungan total harga pokok barang jadi yang selesai diproses di departemen produksi dan barang dalam proses akhir. Jumlah total harga pokok barang jadi dan barang dalam proses akhir harus sama dengan jumlah biaya produksi yang dibebankan.

1.3. Laporan Harga Pokok Produksi – Departemen Pertama

Dalam laporan harga pokok produksi departemen pertama informasi pertama adalah laporan tentang kuantitas produksi yang terjadi di departemen pertama yang melaporkan jumlah unit yang dimasukkan proses (unit masukan) dan jumlah unit yang dihasilkan dari proses produksi (unit keluaran). Jumlah unit dimasukkan dalam proses yang berupa barang dalam proses awal dan barang masuk proses periode ini harus sama dengan jumlah unit yang keluar dari proses produksi yang berupa barang jadi dan barang dalam proses akhir.
Informasi kedua adalah perhitungan unit ekuivalen produk yaitu unit setara produk jadi yang dihasilkan di departemen pertama pada periode tertentu. Unit ekuivalen di departemen pertama terdiri atas unit ekuivalen biaya bahan baku dan biaya konversi.
Informasi ketiga adalah perhitungan harga pokok per unit untuk setiap elemen biaya produksi yang terjadi di departemen pertama. Biaya produksi yang terjadi di departemen pertama terdiri atas: biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik. Harga pokok per unit tersebut dihitung dengan membagi masing-masing biaya produksi dengan unit ekuivalennya. Total harga pokok per unit setiap elemen biaya produksi ini merupakan harga pokok barang jadi per unit di departemen pertama.

Informasi keempat adalah perhitungan total harga pokok barang jadi yang selesai diproses di departemen pertama dan total harga pokok persediaan barang dalam proses akhir. Jumlah total
harga barang jadi dan persediaan barang dalam proses akhir harus sama dengan jumlah biaya produksi yang dibebankan


Blog Stats

  • 2,598,058 hits